LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
MASIH SAMA



" morning " sapa pria disampingku yang masih bergelut dengan selimut


" udah ah jangan liatin saya terus, saya tau saya tampan " ujarnya masih dengan mata tertutup


" ge er udah sana mandi " sarkasku dengan memukul pelan lengannya


" ntar aja masih ngantuk "


" emang nggak kerja? "


" lah fi baru juga kemaren pulangnya masa udah disuruh kerja. " ujarnya semakin menaikkan selimut sampai menutupi kepalanya


" kalo nggak kerja kamu mau ngapain? "


" nemenin kamulah "


" eh nggak ada nggak ada kerja sana " perintahku tak terima dengan kemauannya


aku nggak mau dia terus terusan nemenin aku trus kerjanya terbengkalai aku nggak mau ngerusak reputasinya


" besok saya kerja " ucapnya setelah membuka selimut sampai dada lalu menghadap kearahku


" bang kamu itu harus nunjukkin sikap profesional ke karyawan karyawanmu. udah lebih dari sebulan kamu jarang kekantor hanya karna aku. aku nggak mau dibilang manja, karna terus terusan minta bantuan kamu. aku mau belajar mandiri dengan kondisiku yang baru, "


dia diam mencerna kata kataku


" kamu mau aku nggak bisa ngapa ngapain gara gara aku lumpuh trus selalu dibantu sama kamu. kamu harus bisa ngertiin posisi aku bang, aku itu istri kamu, aku mau belajar ngelayanin kamu walau dengan kondisi kayak gini. kamu bisakan percaya sama aku? "


" percuma dibantah " tukasnya seraya mengusap lembut rambutku


" udah sana mandi "


" morning kissnya mana? "


" paan sih, genit banget "


tumben tumben dia manja kayak gini


" ya udah nggak usah ngantor " kekeuh nya lalu menarik selimut kembali dan melingkarkan tangannya di leherku


cup


dari pada rusuh


" kok dikening sih? " protesnya tak terima karena aku mendaratkan morning kissnya dikening, bukannya terima kasih malah protes


" sama ajalah kan intinya dicium "


" kalau nyium tuh disini " ujarnya menarik tengkuk ku


cup


kecupan lembut mendarat dibibirku


" makin hari makin mesum ya " ujarku setelah dia berdiri lalu berjalan menuju kamar mandi


" sama istri sendiri mah ngga pa pa ya " ejeknya lalu menutup pintu kamar mandi aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah manjanya


setelah dia berlalu kekamar mandi aku membentulkan posisi kakiku dengan tangan memindahkannya agar aku bisa membereskan tempat tidur walau aku beberapa kali kesulitan meraih bantal yang jaraknya agak jauh dariku.


karena kondisiku yang udah membaik jadi kemaren kita udah dibolehin pulang kerumah. bebas rasanya terlepas dari selang infus dan alat medis lain yang menempel ditubuhku


sebulan lebih aku disana rasanya suntuk apalagi aku yang tidak bisa bergerak bebas tanpa bantuan kursi roda.


setiap bangun tidur aku selalu berharap bahwa kakiku kembali seperti biasa, namun setiap bangun tidur pula aku selalu menelan kenyataan pahit bahwa semua itu nyata. akhirnya aku pasrahkan semuanya pada sang pencipta sampai dimana batas ujianku,


aku hanya bisa berdoa semoga aku bisa mandiri tanpa nyusahin orang lain.


tepat saat aku mau meraih kursi roda disampingku fahriza keluar dari kamar mandi. dia berjalan menujur kearahku, mengerti akan niatku dia menggendongku lalu mendudukkanku dikursi roda


bukannya langsung memakai pakaian dia memilih jongkok didepanku sambil mengusap pelan tanganku


" kalau mau duduk disini, panggil saya aja " ujarnya menepuk kursi roda


" tadi itu bahaya tau nggak, gimana kalo tangan kamu nggak nyampe trus kamu jatuh dari kasur lalu ditindih sama kursi roda yang kamu senggol kayak barusan " sambungnya menatap manik mataku meminta agar aku mengerti akan kesalahanku barusan


" fifi harus belajar bang, mulai sekarang fifi harus bisa ngelakuin semuanya sendiri karena abang nggak akan selalu barada disisi fifi setiap detik " sanggahku


" kalo saya bersama kamu, apa salahnya kamu minta bantuan saya, saya ini suami kamu kalau kamu kanapa napa saya nggak akan pernah maafin diri saya sendiri karena saya sudah lalai dalam menjaga kamu."


" amanah yang almarhum papa berikan ke saya itu merupakan tanggung jawab fi, saya nggak mau gagal untuk yang kedua kalinya dalam menjalankan amanah dari almarhum orang tua kamu " aura kekhawatiran tersirat jelas diwajahnya mata tajamnya menyapu bersih tatapan mataku


" iya, lain kali fifi bakalan bilang ke bang za kalau fifi perlu sesuatu " aku mengerti kenapa dia selalu over protektif padaku karena tanggung jawab yang dia pikul sebagai seorang suami.


seharusnya aku lebih faham kenapa dia seperti ini, aku juga salah, dari dulu aku sering ngelanggar larangannya, sering nggak perduliin perintah dari dia, terkadang kalo marah aku sering ngomong kasar.


entah sudah berapa banyak dosa yang ku dapatkan atas sikapku pada fahriza.


" maaf " ujarnya seraya membawaku dalam pelukannya


" maaf buat apa? "


" maaf kalo selama ini saya terlalu mengekang kamu, saya terlalu posesif, saya terlalu overprotektif saya ter.... "


" bang za nggak salah kok, sebagai seorang suami semua yang abang lakuin ke fifi itu hal yang wajar dan dosa kalo fifi langgar " ucapku memotong kalimatnya yang bakal berujung pada maaf lagi selanjutnya


sejak kecalakaan itu menimpaku setiap dia menasehatiku pasti selalu berujung pada maaf seolah olah musibah yang menimpaku ini adalah kesalahnnya. jadi aku nggak mau dia selalu nyalahin diri dia sendiri atas apa yang terjadi padaku, biarlah ini jadi ujian buatku.


perlahan waktu mulai menyadarkanku atas takdir yang selalu memberikan hidayah, mungkin selagi aku sehat terlalu banyak dosa yang kulakukan hingga Allah menegurku dengan cara seperti ini. aku harus bisa tabah.


manik mata tajam itu kembali menusuk retina mataku secara lembut, tatapan tajamnya yang selalu hadir disetiap dia melihat kearah obejeknya membuatku selalu ingin tersenyum, alasan terbesarku untuk selalu bersemangat adalah dia.


tiada hentinya dia mensupport ku untuk terus bangkit dari keterpurukan, dia selalu mengajarkanku arti dari sebuah kesabaran, dia juga sering mengatakan hikmah dibalik sebuah ujian. segala untaian kata yang dia ucapkan padaku merupakan motivasi semangatku untuk terus berada disisinya, mendampinginya, bersamanya, menua dengannya.


" yuk sarapan dulu " ajaknya padaku setelah selesai berpakaian dengan setelan kantor tapi kok kayak ada yang kurang ya


" bang? "


" hem? " sahutnya tanpa menoleh kearahku karena dia masih asik memakai jam tangannya


" nggak pakai ini? " ujarku sambil menenteng dasi berwarna navi ditanganku


pertanyaanku membuatnya mengalihkan atensi hingga akhirnya dia tersenyum sambil berjalan kearahku setelah sampai didepanku dia berjongkok mensejajarkan tinggiku yang duduk dikursi roda


setelah mendengar perintahnya aku langsung mengalungkan dasi dikerah kemejanya dengan canggung karena dia terus menatapku walaupun aku pura pura tidak tau tapi pipiku rasanya udah panas diliatin kayak gitu sama dia apalagi jarak kita deket banget


setelah selesai memasangkan dasi padanya sebuah kecupan mendarat dikeningku " ucapan terima kasih karena udah masangin dasi " tuturnya membuat senyum simpul hadir di bibirku


aku nggak tau sejak kapan dia hobi bikin aku malu saat dihadapannya


••••••••••


sepi banget rasanya berdiam dirumah kayak gini ya walaupun ada ART tapi nggak kayak ada kehadiran fahriza yang selalu berhasil mengusir kesepianku


sekarang masih jam tiga sore masih lumayan lama nunggu fahriza pulang


bosan banget berdiam diri kayak gini jangankan jalan keluar rumah pergi kedapur aja kadang aku minta bantuan sama bik nini. berada diposisi seperti ini benar benar sulit apalagi aku belum terbiasa alhasil aku lebih sering minta bantuan sama bik nini atau bik wari


" bik? " panggilku pada bik nini saat dia mendorong kursi rodaku menuju dapur


" ya non "


" waktu kemaren fifi dirumah sakit kenapa bik nini sama bik wari nggak jengukin fifi? "


" sebenernya kita pernah jengukin non, waktu non masih koma "


" kok pas aku udah sadar bik nini sama bik wari nggak jengukin aku lagi


" kita nggak enak sama den fahriza non soalnya semenjak non dirawat kan den fahriza jarang pulang, kalaupun pulang paling cuma beberapa menit ngambil barang barang diperlukan trus pergi lagi kerumah sakit. jadi rumah diwakilin sama saya dan mbak wari " jelasnya saat kami tiba didapur


senyumku kembali terukir ketika bik nini bilang kalau waktu fahriza hanya dia habiskan menungguku dirumah sakit. benar benar setia aku nggak tau gimana ekspresi dia nunggu aku sadar waktu itu.


oh iya usia bik nini memang lebih muda dari bik wari tapi kurasa tidak beda jauh kalau dilihat dari wajah mereka


" bibik punya anak? "


" alhamdulillah punya non "


" berapa orang? "


" dua non "


" masih sekolah? "


" yang paling tua kelas 3 SMA , yang nomor dua masih kelas 2 SMP "


" emm.... bibi kan kerja disini trus mereka tinggal sama siapa? "


" sama neneknya non "


" maaf sebelumnya suami bibi kemana? "


" suami saya udah nggak ada non " ujarnya sambil tersenyum, senyum tegar khas seorang wanita


" maaf ya bi "


" nggak pa pa non "


" jadi.... sekarang bibi jadi tulang punggung keluarga ya? "


" seperti itulah non, demi keluarga saya harus siap "


" saya doain semoga anaknya bibi jadi orang sukses "


" amiiin maksih non, saya juga bakal selalu doain buat kesembuhan non. saya beruntung banget non punya majikan kayak non sama den fahriza " ujarnya antusias


" jangan sebut majikan bi fifi nggak nyaman dengan sebutan itu anggep aja fifi sama bang za itu ponakannya bibi "


" tapi non... "


" assalammualaikum " sapa sebuah suara dibelakang kami membuat aku dan bik nini menoleh untuk melihat sang pemilik suara


" walaikumsalam "


" eh lagi pada ngobrol ya " ujar fahriza sambil menghampiri kami


aku hanya menjawab pertanyaannya dengan senyuman


" em non, den saya permisi beres beres yang lain dulu " ujar bik nini canggung


kubalas ucapan bik nini dengan anggukan kecil. ternyata apa yang kita fikirkan negatif itu belum tentu sepenuhnya buruk, buktinya punya dua ART dirumah malah menyenangkan ku jadi ada temen ngobrol trus rumah tamabahan orang dirumah


" tumben pulangnya cepet bang? " tanyaku sesudah mencium punggung tangan fahriza


" biar bisa nemenin kamu " sahutnya santai lalu mendorong kursi rodaku kearah ruang keluarga


setelah sampai diruang keluarga dia menyakan tv lalu memilih duduk lesehan disampingku sambil melepaskan jas dan melonggarkan dasinya.


" jangan diliatin terus, saya risih ditatap wanita cantik kayak gitu " ujarnya karena sadar akan gerakan bola mataku yang menetapkan pandangan selama beberapa detik untuk melihatnya


" cih, jangan suka gombal deh "


dia menarik nafasnya sebentar lalu menghembuskannya secara kasar sedetik kemudian manik matanya menatap manik mataku kemudian tangannya mengusap lembut punggung tanganku


" ada apa? " tanya nya seraya mengangkat keatas sedikit alis sebelah kirinya


" aku bosen diam dirumah terus " jujur semenjak pulang kerumah rasa bosan datang menghampiriku karena aku tak melakukan aktivitas apapun.


" ya udah siap siap dulu " titahnya kemudian beridiri lalu mendorong kembali kursi rodaku menuju kamar tapi sampai depan tangga dia menghentikan dorongannya.


dilanjutkan dengan menggendongku satu persatu anak tangga kita lewati tanpa sepatah kata, kami semua sibuk dengan fikiran masing masing


" kita mau kemana? " akhirnya aku memecah keheningan saat kita sampai didepan pintu kamar


" ketempat yang bisa hilangin bosen kamu "


...............


segini dulu aja ya


tenang,


dilanjutin kok


selamat membaca semoga suka