LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
CACA



" kita kemana dulu nih? " fahriza terus menggamit tanganku menenuntunku masuk ke dalam mall yang selalu padat oleh lautan manusia ini ditambah lagi hari ini akhir pekan sudah dipastikan saat nya mereka berlibur merefreshingkan diri


" emm... kita nonton dulu yuk "


hari ini aku dan fahriza menghabiskan waktu bersama karena udah lama banget kita nggak keluar bareng kayak gini


akhir akhir ini kerjaan dikantornya lumayan menguras tenaga sebab itulah membuatnya tak menghiraukan akhir pekan


aku juga nggak bisa keluar tanpa ada fahriza disisiku, jika dia bersamaku aku merasa aman jadi kalau hang out kayak gini mau sama siapapun aku bisa bisa saja asal fahriza free nggak ada kerjaan karena biar pun aku free tapi kalau fahriza nggak bisa ikut aku juga nggak akan keluar


dia sih ngizinin aja aku pergi sama siapapun asal dia tau sama siapa aku pergi dan nggak lupa banyak petuah yang akan ia sampaikan terlebih dahulu sebelum aku pergi


" emang kamu tahan duduk lama dibiosokop nanti? " dia mencoba memastikan keadaanku


" ya kalo nggak mampu kita keluar "


" ya udah mau nonton film apa? "


" terserah kamu aja yang penting romantis "


setelah mendengar jawabanku fahriza mengusap tengkuknya dengan raut gelisah bisa kutebak kalau dia lagi kebingungan dengan mau pilih film apa yang mau kita tonton. secara fahriza mana suka film film romantis hahaha lihat ekspresinya melihatku rasanya aku ingin tertawa sekarang tapi tahan dulu


" terserah ya? " ulangnya memastikan jawabanku


aku menganggukan kepala pertanda kalau jawabanku tidak berubah


" huh yuk " ajaknya dengan senyuman manis terukir di bibirnya


setelah membeli tiket dia pergi lagi beli beberapa camilan dan minuman yang pasti bukan minuman kaleng ya


aku hanya duduk dengan tersenyum di kursi dekat penjual pop corn sambil memperhatikan fahriza yang mengantri


kadang aku suka berfikir pernikahan ku yang terpaut umur yang cukup jauh membuat aku merasa kalau fahriza lebih dari suami bagiku


aku tidak bisa bayangkan kalau waktu itu fahriza membatalkan pernikahan kami karena kebohonganku.


mungkin saat ini aku hanya akan menjadi lufita penyendiri yang selalu menunggu seorang lelaki yang sudah lama pergi dan aku pun juga tidak akan pernah tau sampai kapan aku menunggunya


dia benar benar sosok pria yang penuh tanggung jawab tidak peduli dengan sikap kasar ku dan kebohongan kebohonganku dia mau mendampingiku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang


kalau boleh jujur aku ingin membuang kalimat kalimat burukku untuknya dahulu. inilah yang dinamakan takdir mubram, takdir yang tidak bisa diubah karena sudah ketentuan Nya.


30 menit berlalu kami sudah keluar dari bioskop, aku tidak mau melanjutkan film itu dasar si fahriza romantis sih romantis tapi ya nggak usah film yang nguras air mata juga kali.


kalian tau mataku bengkak gara gara terlalu banyak menangis dan fahriza kalian tau apa yang dia lakukan, dia menertawakanku rasanya ingin ku lakban mulutnya sabar lufita dia suamimu


oke tadi sebelum masuk bioskop aku memujinya sekarang aku ingin memukulnya, aduh rasanya air mataku nggak mau berhenti keluar


" hiks hiks, ngapain sih pilih film kayak gitu tau gak hidungku mampet nih " umpat ku kesal, aduh hidungku pake acara mampet segala lagi, mana air mataku masih mau keluar. lengkap sudah dia mempermalukanku disini


" hahaha..... oke oke saya minta maaf " masih aja ketawa


" saya nggak tau film romantis apa yang kamu maksud " lanjutnya sambil mengusap air mataku " udah dong nangisnya " pujuk rayumu nggak mempan air mataku sudah terlanjur berderai susah untuk dihentikan


aih aku punya ide dikerjain aja dia sekalian, aku makin menjadikan tangisku membuat dia panik membawaku duduk di bangku yang tersedia diluar beberapa orang yang berlalu lalang heran memperhatikan kami


sekarang giliranku yang ingin tertawa melihat kepanikannya


karena susah menenangkanku akhirnya dia membawaku kedalam pelukannya hahaha panik dia " jangan nangis lagi dong. kita pulang aja ya "


ku lepas pelukkanku menatap tajam matanya, dia malah narik nafas trus dibuang perlahan lalu lanjut menghapus air mataku yang masih nempel dipipi juga pelupuk mataku


" mau cake coklat " ujarku tiba tiba membuatnya mengernyitkan dahi lalu tersenyum sedetik kemudia dia tertawa kecil


" saya kira nangisnya kenapa, ternyata pengen cake coklat " imbuhnya menggamit jari jariku lalu menarikku berdiri dan membawaku ke sebuah resto


baru saja kami menuruni eskalator tiba tiba tubuhku terhunyung


seorang anak kecil menabrakku membuatkan hampir saja terjengkak kalo tidak cepat ditarik fahriza


" mm.. maaf tante " ucapnya gugup sambil terus menautkan jemari jemari kecilnya


" lain kali hati hati ya " ujar fahriza sambil berjongkok mengusap kedua bahunya


" maaf.... om " sekali lagi dia menautkan jari jarinya dan menggenggamnya erat kelihatan sekali kalau dia sedang takut . wajar saja dia pasti ketakutan kalau aku dan fahriza akan memarahinya


dia mengangkat kepalanya mencoba melihat wajahku dan fahriza lalu tatapannya beralih menetap pada fahriza


" om, bisa tolong bantu aku nggak? " tadi jari sekarang bibirnya sendiri yang ia mainkan, dia menggigit bibir bawahnya seperti seseorang yang sangat butuh kebingungan


" baiklah, katakan kamu mau minta tolong apa hem? " tanya fahriza lembut suaranya terdengar sangat bersahabat saat bersama anak anak


" aku kehilangan mama aku om, disini ramai banget. aku minta tolong bantuin aku cari mama om " ujarnya memelas seraya memandangku dan fahriza secara bergantian


mata yang bulat mirip kucing itu memelas menatapku penuh makna mengisyaratkan agar aku mau menolongnya. bibir tipis nan kecil itu terus bergerak ke kanan dan kekiri seperti sedang berharap


" baiklah, kalau gitu katakan dulu siapa namamu " aku juga sedikit menunduk sambil mengusap lembut kepalanya


" caca tante " ujarnya ragu


aku melirik fahriza yang menarik caca dan menggendongnya menggunakan sebelah tangan lalu setelah itu tangan kanannya menggamit tangan kiriku


" terakhir kamu kehilangan mama kamu dimana? "


" disana om, " tunjuknya pada sebuah pusat perbelanjaan pakaian "


" oke, kita masuk kesana dulu siapa tau mama kamu masih disitu "


kami melangakahkan kaki memasuki pusat perbelanjaan pakaian sesuai instruksi dari caca mulai dari pakaian dewasa sampa pakaian anak anak namun belum juga menemukan mamanya caca, kaki ku juga rasanya sudah pegal karena terlu banyak berkeliling karena bukan hanya pusat perbelanjaan pakaian saja yang kami datangi


" bang za.... pegel " rengekku pada fahriza yang asik berbincang dengan caca yang berada dalam gendongannya


" ya udah kita duduk dulu disana " ajak fahriza sambil menunjuk sebuah barisan kursi dekat penjual eskrim


" oh iya ca, ngomong ngomong umur kamu berapa? " tanya fahriza ketika kami sudah duduk di kursi, dia mendudukkan caca ditengah tengah antara aku dan dirinya sendiri, segitu senengnya fahriza sama anak kecil sampai sampai posisi duduk caca berada diantara aku dengan dia seakan caca adalah putrinya


aku bukannya cemburu aku cuma nggak abis fikir segitu istimewanya dia memperlakukan anak kecil walaupun itu bukan dia.


aku aja kalo sama anak kecil yang nggak aku kenal cuek bebek aja


" em... " terlihat caca sedang menghitung umurnya sendiri menggunakan jari tangannya


" 5 tahun om " akhirnya sesi berhitungnya selesai dan memberi tahu hasilnya pada fahriza


" kamu tuh pinter tau gak " ujar fahriza sambil mencubit pelan pipi chubby caca


" kenapa om? " tanya caca polos


" kamu nggak nangis ketika kamu kehilangan mama kamu, kamu berani banget " celoteh fahriza yang dijawab caca dengan antusias


setiap orang yang melintas dan melirik kearah kami pasti berfikir kalau caca anak pertama kami. bagaimana tidak fahriza terlihat akrab dengan caca apalagi caca sangat senang menjawab setiap pertanyaan dari fahriza terlihat dari raut wajah antusias caca, sesekali mereka terlihat tertawa bersama bak seorang ayah dan anak.


aku dapat melihat sikap bersahabat fahriza pada anak anak tapi pada caca sangat berbeda dia terasa seperti bebas mengungkapkan lelucon atau pertanyaan apapun pada caca, mungkin caca adalah seorang anak perempuan yang jenaka yang ramah dan dapat diajak berbicara sehingga fahriza dengan mudah melupakan aku yang disampingnya. saking asiknya mereka bahkan tak mengajakku berbicara


" caca mau es krim? " tanya fahriza setelah lelah berbicara dan tertawa bersama dengan caca


" caca nggak bawa uang om, mama caca belum ketemu " jawabnya polos


" om traktir yuk "


" beneran om " ulangnya meyakinkan pendengarannya dibalas fahriza dengan anggukkan raut wajah caca yang semula murung terlihat ceria kembali setelah mendengar fahriza akan membelikannya eskrim


" sayang, kamu mau nggak? " tanya fahriza membuat ku terperangah ada apa dengannya tiba tiba panggilannya padaku berubah biasanya hanya memanggil namaku


efek kehadiran caca benar benar berdampak pada suasana hati fahriza " nggak ah, aku lagi nggak mau makan es krim " ucapku sembari tersenyu pada fahriza dan caca yang berdiri disampingnya sambil menggamit tangannya.


" ya udah saya tinggal bentar ya " setelah mendapat anggukan kepala dariku pertanda memberikan izin padanya dan caca, fahriza pergi menuju tempat penjualan eskrim saat mengantri es krim aku masih bisa melihat caca yang tertawa bersama fahriza entah apa yang mereka bicarakan hingga tertawa lepas seperti itu. sesekali fahriza dan caca melirikku dan melambaikan tangan dan tersenyum, aku hanya membalas dengan senyuman


" tante, dedeknya cewek atau cowok? " tanya caca yang masih memakan es krim


beberapa menit yang lalu mereka sudah kembali dan duduk disampingku


" belum tau ca, om fahriza pengen ada kejutan saat dedeknya lahir nanti " jawabku ramah


" semoga cewek ya om biar nanti caca punya temen, trus nanti caca bakalan sering kerumah om dan tante buat main sama dedeknya " ucap caca fahriza yang disampingnya mengusap lembut bibir caca karena eskrimnya belepotan diujung bibir caca


jan lupa votenya ya para reades yang baik hati


biar makin semangat lanjutin tiap partnya see you💕💕