LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
LUFITAKU



fahriza


》》》》》


sekian lama aku duduk dipesawat akhirnya tiba juga dijakarta. aku sengaja mencegah lufita menjemputku aku yakin dia pasti capek karena pulang kerja jadi aku tak ingin membuatnya tambah lelah.


jemputanku sudah datang dari tadi, sebelumnya aku ingin mengantar dara pulang tapi dia bilang sudah dijemput sama tunangannya jadi aku putuskan untuk langsung pulang saja menemui lufita. aku merindukannya walau aku jarang mengungkapkannya pada lufita tapi yakinlah bahwa setiap detikku disana selalui dibumbui rindu akan pelukan dan tawa dari wanita cerewet itu.


saat aku keluar dari bandara tiba tiba perasaanku jadi tidak enak, aku mencoba berfikir positif aja mungkin aku lagi nggak enak badan. disepanjang perjalanan pulang kerumah fikiranku hanya tertuju pada lufita


akhh.. wanita cerewet itu benar benar menguasai hati dan fikiranku


cukup lama kami dijalan karena terjebak macet, kota metropolitan memang tidak pernah absen dari kemacetan aku berharap semoga suatu saat bisa ditemukan solusi untuk meminimalisir kemacetan di ibu kota


setelah tiba dirumah aku buru buru masuk kedalam, aku ingin cepat menemui lufita dan anakku rasanya aku semakin merindukan mereka


tapi saat masuk kerumah suasananya terlihat sepi aku tak mendengar suara lufita. hanya bik wari yang ketemui karena dia membukakan pintu rumah untukku


" bik orang rumah kemana kok sepi? " tanyaku pada bik wari yang melewatiku.


" nyonya dikamar karena kurang enak badan " jawabnya


" lalu lufita? " aku makin heran kok suasananya sepi banget biasanya lufita akan duduk diruang keluarga menunggu kedatanganku


" non lufita belum pulang den "


aku mengernyitkan dahi mendengar jawabannya, kok tumben dijam segini dia belom pulang biasanya nggak pernah telat bahkan sebelum orang pulang duluan, dia udah lebih dulu pulang dengan alasan rindu denganku


setelah mendengar jawaban dari bik wari aku bergegas menemui ibu dikamar melihat keadaannya


" assalmmualikum bu " salamku sambil mecium punggung tangannya ibu yang semulanya tidur kini terbangun karena ulahku, aku tak memiliki niat untuk membangunkannya aku hanya khawatir dengan keadaanya


" waalaikumsalam, eh za kapan nyampe nya? " tanya ibu sambil memposisikan dirinya untuk duduk dengan sedikit bantuanku


" baru aja bu. ibu kenapa? "


" ibu nggak pa pa za cuma nggak enak badan kayaknya masuk angin "


" apa perlu kerumah sakit? "


" ah kamu za, bentar lagi juga sembuh tadi udah dibuatin wedang jahe sama bik nini "


" baiklah. oh iya kok lufita belum pulang ya bu, saya telfonin juga nggak diangkat? "


" sebelumnya ibu mau minta maaf karena nggak bisa jemput lufita hari ini, jadi ibu suruh pak maman sendiri.... "


" tadi lufita udah pulang, tapi dia bilang mau mampir kepasar dulu. semula ibu nggak bolehin, hemh kamu tau sendirilah za istrimu itu bisa mengambil hati orang lain dengan rayuannya. jadi ibu nggak tega makanya ibu kasih izin " jelas ibu membuatku khawatir


aduh lufita bisa nggak sih dikit aja dengerin aku, aku takut dia kenapa kenapa kalo pergi ke tempat terbuka yang ramai seperti itu maklum dia sedikit ceroboh.


" maafin ibu za, udah nggak amanah " ucap ibu lirih sepertinya ibu merasa bersalah karena mengizinkan lufita pergi tanpa ada dirinya


" nggak pa pa bu, saya coba telfon lufita dulu " ujarku lalu beranjak dari kamar sembari menelfon lufita tak berapa lama telfonku diangkat tidak seperti tadi


" kamu dimana? " tanyaku setelah mengucapkan salam padanya


" dipasar " jawabnya singkat


" kamu ngapain dipasar kan saya udah bilang jangan ketempat ramai kayak gitu dulu kalo saya nggak ada " cerocosku kesal akan sikapnya yang suka tidak mendengarkan larangan ku. aku melakukan ini juga demi kebaikannya dan bayiku


" bentar doang jengan kesel dulu dong. emang kamu udah pulang? " jawabnya dengan suara yang dibuat sangat lembut ditangkap oleh indra pendengaran ck lufita lufita bisa aja bikin mode kesalku menurun mau nggak mau aku mencoba menetralkan pikiran dan emosiku


" udah. huh kamu tunggu disana saya jemput "


" yah nggak jadi dong kejutannya, tapi nggak pa pa deh walau nggak jadi kejutan lagi kamu harus anggap ini kejutan ya " pintanya membuatku mengernyitkan dahi kejutan? kejutan apa hingga segitu pentingnya sampe dia harus kepasar ah sudahlah mau kejutannya gagal aku nggak peduli


yang penting dia harus dihadapanku sekarang


" iya. tunggu jangan kemana mana " titahku


" iya iya aku tunggu "


setelah memantikan panggilan dengan lufita aku segera pergi mengendarai mobil perasaanku dari tadi tidak enak terus seperti ada yang sedang mengusik pikiranku tenang dia pasti baik baik saja


sepanjang perjalanan hanya doa yang bisa kupanjatkan hingga membuatku sedikit merasakan ketenangan tapi kekesalanku datang lagi ketika mobil ku berhenti karena macet yang berkepanjangan arrggh... sesore ini pun jalanan masih macet


setelah dua kali terjebak macet akhirnya aku bisa keluar juga dari sana dengan menambah kecepatanku tak lama aku sudah sampai diparkiran pasar. aku segera turun dan mencari lufita didalam pasar tapi langkahku terhenti saat tak sengaja melihat seorang perempuan disebrang jalan sedang berbicara dengan seorang wanita yang sudah cukup tua


ck kenapa dia bisa disebrang jalan sana apa yang dia lakukan, tak lama kulihat wanita yang berbicara dengan lufita itu pergi dengan sesekali tersenyum dan berbicara entah apa yang mereka bicarakan. setelah nenek itu meninggalkannya lufita memutar tubuhnya menhadap kearahku.


kalau ingin segera melepaskan rindu ini hanya saja terhalang oleh jalan yang terbentang didepan ini. tanpa kusadari ternyata lufita berjalan kearahku arrgghhh wanita ini memang tidak bisa berhati hati, sadar apa yang dilakukan lufita bisa membuatnya dalam bahaya aku juga bergerak menghampirinya tapi sayang..........


BRAAAKKKHHH


satu hentakan benda keras disampingnya membuatku terpaku " LUFITAAA...... " aku tidak memperdulikan apapun disekelilingku baik mobil atau sepeda motor yang hampir menabrakku


aku melihat lufita melambung jauh dari tempatnya tertabrak setelah itu terhempas dengan keras dijalan aku terus berlari hingga tiba disampingnya kubawa kepalanya yang mulai mengeluarkan cairan merah nan kental itu ke pahaku, jilbab nya yang semula berwarna putih kini berubah menjadi mereh. darah terus mengalir dari kepalanya " fi.. lufita bangun sayang lufita " aku terus memanggilnya, tempat yang semulanya sepi kini mulai ramai melihat peristiwa yang baru saja terjadi didepan mata " fi ini saya bangun, saya sudah kembali fi sadar " aku masih mengelus pipinya kulihat dia mencoba menggerakkan bibirnya ingin mengucapkan sesuatu tapi perlahan namun pasti dia menutup matanya


••••••••••


.


.


.


" dok tolong selamatkan istri dan anak saya " ucapku gemetar ketika sampai di ruangan ICU


" tolong berikan yang terbaik untuk mereka " sambungku dengan tersengal menahan sesak di dada rasanya pasokan oksigen habis


" tenanglah pak, kami akan memberikan yang terbaik untuk istri dan anak bapak. " ucapnya lalu masuk kedalam ruangan


rasanya aku ingin menerobos ruangan itu menemani lufita disana, ya Allah aku mohon selamatkan dua nyawa ada didalam sana aku mohon ya Allah kuatkan istri dan anakku semoga mereka bisa melewatinya.


tubuhku bergetar menahan tangis yang sedari tadi ingin keluar apa yang harus kulakukan aku tidak tau bagaimana nasib anak juga istriku disana.


perlahan tubuhku melorot kakiku rasanya tak kuat lagi menopang hingga membuatku terduduk dengan bersender di dinding ditemani air mata yang lolos dari kedua pelupuk mataku.


aku teringat akan ucapanya yang mengatakan kalau dia akan memberiku kejutan. kejutan? apakah ini yang ia maksud kejutannya sungguh fi jika ini kejutan yang kamu maksud aku akan marah padamu aku mohon sekarang sadarlah kamu wanita sekaligus ibu yang kuat buktikan padaku kamu wanita yang tangguh dibalik kecengenganmu.


" za " panggil seorang wanita dengan bergetar kuangkat kepalaku untuk melihat siapa yang memanggilku


" bagaimana keadaan lufita " sambungnya yang tak lain adalah ibu disusul ayah yang mendekatiku. ibu merangkulku deraian air mata terasa di bahuku


aku hanya menggeleng pelan menjawab pertanyaan dari ibu


" maafkan ibu za kalau saja ibu juga ikut menjemput fifi tadi semuanya tidak akan seperti ini. ini tidak akan terjadi " ucapnya dengan terus terisak dibahuku perlahan aku melepas pelukkan ibu sembari mengusap air mata yang berjatuhan membasahi pipinya. walaupun bukan orang tua kandungku melihatnya seperti ini juga membuatku sakit.


" ini bukan salah ibu, ini sudah menjadi takdir saya yakinlah lufita dan anak saya baik baik aja, dia wanita yang kuat " balasku


" kamu harus sabar za, berdoalah agar mereka baik baik saja " sambung ayah menepuk pundakku.


ya Allah kenapa kau mengujiku lewat lufita kenapa harus dia yang menanggung semua ini sendiri, aku tidak menyalahkan apapun dan siapapun tapi aku mohon padamu ya Rabb tolong istriku dan anakku.


aku sudah banyak kehilangan orang yang kusayangi kali ini jangan biarkan orang yang kusayangi didalam sana kenapa napa.


dengan mata kepalaku sendiri aku melihatnya tergelatak tak berdaya, suami macam apa aku yang tak bisa melindungi istri sendiri. ayah macam apa aku yang tak bisa menolong anakku yang bahkan belum melihat dunia


tak berapa lama tania dan lufian berjalan didepan kami dengan tergesa gesa dia menghampiriku. kulihat tania manangis dengan sesegukan


" bagaimana ini semua bisa terjadi pada adikku za " ucap lufian bisa dilihat pipinya mulai basah akan air mata yang mengalir


lagi lagi aku hanya menjawab dengan gelengan kepala, aku tak mampu menjawab pertanyaan darinya aku tak tau kata kata seperti apa yang akan kurangkai untuk memberi jawaban pada lufian.


tak lama pintu ruangan terbuka aku segera berdiri menghampiri dokter yang berusaha menolong lufita didalam sana " bagaimana keadaan anak dan istri saya dok? " tanyaku pada dokter perempuan di depanku ini


" bapak bisa iku keruangan saya sebentar " ujarnya


tanpa penolakan aku mengekorinya


" kondisi pasien sangat kritis jika dipaksakan harapan hidup keduanya sangat kecil "


Deg


jantungku rasanya berhenti berdetak mendengar penuturannya tidak tidak dokter bukan Allah yang bisa menentukan nasib manusia dia hanya perantara peneyembuhan " maksudnya? "


dia memejamkan mata lalu membukanya kembali " jika kita memaksakan menyelamatkan kedunya maka kemungkinan besar keduanya tidak akan selamat jadi saya minta bapak untuk memilih salah satu dari istri atau anak bapak untuk kita selamatkan " jelasnya membuat air mataku kembali lolos


" *jika suatu saat terjadi sesuatu denganku, aku minta sama bang za tolong selamatin anak kita "


" bang za maukan janji sama aku*? "


seketika perkataan lufita sebelum keberangkatanku ke jogja berputar dikepalaku apakah aku harus memenuhi permintaanya nggak nggak apapun yang terjadi istriku juga harus selamat


dengan langkah gontai aku kembali menemui keluargaku didepan ruangan lufita " gimana za, lufita baik baik aja kan? " tanya lufian saat aku duduk dikursi. aku tidak menjawab pertanyaan dari lufian aku hanya menatapnya sendu apakah ini akhir dari kebahagiaanku hatiku terus menangis ini seperti mimpi. semoga ini hanya mimpi burukku


ya Allah semoga keputusan yang kuambil ini yang terbaik untukku untuk lufita juga untuk keluargaku