
tling.....
sebuah notif chat masuk di ponselku. tanpa ku buka pun aku sudah tau siapa pengirimnya jika di jam seperti ini, siapa lagi kalau bukan fahriza yang akan memberikan petuah-patuahnya padaku disela jam istirahat.
tapi setelah kuhidupkan ponselku bukan pesan dari fahriza melainkan nomor baru. siapa ya? apalagi dia mengirimkan sebuah foto rasanya tidak mungkin jika kerabat dekat yang mengirimi ku pesan tanpa embel-embel nama pengirimnya.
deg
jantung ku berpacu cepat setelah fotonya terbuka, apa ini? kenapa fahriza....
sebulir air bening jatuh begitu saja tanpa perintahku ketika mataku masih terus tertuju pada ponsel ditanganku ini yang memperlihatkan posisi fahriza yang melingkarkan tangannya di pinggang seorang wanita diruang kantornya. dan posisi tangan wanita itu berada dibahu fahriza bahkan terlihat dengan jelas kepalanya bersandar didada fahriza
air mataku mengalir begitu saja tanpa mau berhenti ya Allah apa ini, semoga ini cuma kesalah pahaman fahriza tidak mungkin berbuat seperti ini. ya ini pasti cuma kesalah pahaman, kamu harus berfikir positif lufita, mungkin saja wanita ini tidak sengaja tersandung lalu fahriza menolongnya.
ishtighfar
huft...
huft...
huft...
saat aku mulai bisa mengatur emosiku sebuah notif kembali masuk diponselku ternyata pengirim yang sama.
fikiranku kembali kacau setelah membaca isi pesannya, air mataku sudah seperti hujan yang terus bergulir membasahi pipiku.
' kamu istrinya fahriza? ah iya maaf ya sepertinya aku sudah tidak tahan ingin memberitahumu siapa aku. kau pasti menerka nerka bukan. baiklah tanpa membuang waktu lagi.... perkenalkan aku pacarnya fahriza. maaf ya jika menyakitimu tapi aku hanya ingin memperingatkan posisimu agar wanita lumpuh seperti mu segera bersiap diri sebelum ditendang. '
tling...
' satu lagi jika kau ingin tahu namaku tanyakan saja pada calon suami ku. ya taukan namanya.... hahaha... maaf aku terlalu bahagia. karena dia ingin melamarku. '
begitulah isi dua buah pesan yang di kirim padaku, aku tidak tau dia siapa
tanpa pikir panjang aku langsung menelfon nomor yang baru saja mengirimku pesan itu. ditemani tubuh yang bergetar dan air mata yang terus berjatuhan aku terus menelfon nomor itu walaupun beberapa kali tidak dijawab.
dan pada akhirnya usahaku berhasil orang itu menjawab telfonku.
" hallo " sapa ketus suara wanita disebrang sana
" ha-hallo " ucapanku tersendat karena dadaku terasa sangat sesak.
" k-kamu siapa?" lanjutku sebisa mungkin aku menetralkan suara detak jantungku
" masih kurang jelas isi chat yang barusan aku kirim? " jawabnya ketus
aku diam tak menjawab pertanyaannya
" sebernarnya aku tipe orang yang benci mengulang perkataan, tapi baiklah kali ini aku ulang sekali lagi. aku pac-carnya fahriza " sambungnya menekankan kata pacar disana membuat air mataku mengalir lebih deras
" kamu pasti bohong, fahriza nggak mungkin ngehianatin aku. jika kamu menyukai suamiku aku minta tolong sama kamu jauhin dia. dia sudah punya istri. tidakkah kamu malu dicap sebagai perebut suami orang. " sarkasku dengan emosi yang mulai naik.
terdengar gelak tawa wanita itu diseberang sana
" haduh... denger ya aku nggak peduli dengan julukan apapun yang mereka berikan untukku. yang aku tau fahriza akan menjadi milikku. ck kamu tuh sadar diri dong, udah lumpuh juga. emang apa yang bisa kamu berikan untuk fahriza, ngasi anak aja kamu nggak mampu cih. " cercanya membuat dadaku seperti ditusuk.
" kamu... "
" udah ya, aku nggak ada waktu ngeladenin orang lumpuh, lagi pula aku mau menemani calon suamiku makan siang. by by "
" hallo... "
tut tut tu
dia menutup telfonnya secara sepihak
ya Allah ini tidak mungkinkan dia pasti bohong ini nggak mungkin.
secepat kilat aku mendial nomor fahriza aku akan memastikan jika wanita itu pasti bohong.
namun sudah beberapa kali aku menelfonnya, dia tidak menjawab telfonku. tak ingin berputus asa aku mengiriminya pesan sebanyak mungkin tapi cuma centang dua abu abu yang kudapatkan. bermenit menit aku menunggu centang dua itu tak kunjung berubah warna jadi biru.
aku masih pantang menyerah untuk menelfonnya hingga akhirnya fahriza menjawab telfonku membuatku sedikit lega.
" assalammualaikum " sapanya
" waalaikumsalam, kamu dimana? kenapa dari tadi telfon aku nggak diangkat? trus wa aku kenapa nggak kamu balas? " aku memburunya dengan terus bertanya tanpa jeda ditambah butiran bening itu masih menggenang dipelupuk mataku.
" maaf saya tadi lag..... "
" siapa? " suara seorang perempuan memotong pembicaraan fahriza
suara itu suara perempuan yang tadi jadi dia tidak bohong
" habisin dulu makanannya " ujarnya lembut entah pada siapa tapi jika didengar dari suasananya hanya ada suara mereka berdua
" nanti saya telfon lagi assalammualaikum " balas fahriza memutuskan sambungan telfonnya tanpa mendengarkan aku menjawab salamnya
air mata yang dari tadi mennggenang itu tumpah sudah ntah untuk yang berapa kalinya
ya Allah sakit, ini sakit. ya Allah tunjukkan pada hamba ini pasti cuma mimpi, ini pasti cuma khayalan.
aku terus memukul dadaku yang terasa sesak. fahriza?
dia pasti ingin memberiku kejutan. iya pasti ini semua dia lakukan untuk memberiku kejutan seperti waktu itu dimana noda lipstik yang nempel dibaju kak lutfi. dia tidak mungkin melakukan ini
positif thingking lufita teruslah berfikir positif ingat suamimu selalu percaya padamu sekarang giliran kamu yang harus percaya padanya.
kuhapus air mataku yang masih meleleh membasahi pipiku. aku terus menyemangati diriku, tunggulah sampai dia pulang nanti baru aku bertanya. aku harus percaya padanya.