
" sayang dengerin saya dulu kamu salah paham " fahriza mencoba menarik lengaku yang berjalan mendahuluinya tanpa mengucap sepatah katapun setelah pulang dari acara penikahannya frans
bahkan aku tak menyapa ayah mertuaku yang sedang berada diruang tamu. kali ini rasanya aku ingin mencincang fahriza yang berani menyentuh wanita lain didepan mataku apalagi itu mantan wanita yang pernah disukainya
" bu " aku masuk dalam kamar ibu setelah mendapat jawaban dari dalam.
aku memperhatikan wajah ketiga anakku yang sedang terlelap dengan damai
" mereka baru aja tidur. tumben kalian pulang awal? "
" kangen sama mereka aja bu "
jadi hari ini si kembar aku titipin sama mertuaku karena aku sama fahriza mau pergi ke acara pernikahannya frans dan sekalian aja kita nginep disini mumpung akhir pekan. mereka juga milih buat jagain si kembar jadi hanya aku dan fahriza aja yang pergi
empat bulan yang lalu tepat dimana kami berkumpul dirumah waktu itu frans bilang dia akan menikahi ima dalam waktu dekat, dan tibalah hari ini.
namun tak kusangka setiba disana aku malah bertemu izumi yang notabennya mantan wanita yang pernah disukai fahriza. ternyata kakeknya izumi itu sepupuan sama kakeknya ima yang artinya ima sama izumi masih keluarga. aku juga baru tau setelah izumi berbincang dengan kami, dalam bahasa inggris. dia nggak bisa bahasa indonesia jadi dia pakai bahasa internasional dalam berkomunikasi sama kita.
semula aku nggak kenal sama dia tapi karena ada fahriza otomatis aku jadi tau. pertama sih aku nggak pa pa ya soalnya dia santai-santai aja dan bener kata fahriza izumi itu muslimah banget dari ujung kepala sampai ujung kakinya tertutup semua kecuali wajah dan kalau dilihat sekilas agak mirip ima juga.
ya mungkin karena mereka keluarga jadi ada mirip-miripnya.
tapi yang bikin aku naik pitam si fahriza malah hampir peluk dia saat mau ngambil minum kalian tau posisinya? dimana siwanita hampir terlentang dan si pria melingkarkan tangan dipunggung sama pinggang siwanita
aku nggak terima penjelasan apapun emang dasar aja fahriza yang ganjen ngapain coba pegang pegang biarin aja izumi jatoh. toh lakinya juga ada
" sayang... "
" fifi permisi dulu bu " pamitku pada ibu karena fahriza berdiri disampingku.
" fi kamu salah paham, dia itu hampir jatoh dan... "
" dan apa ha? dan kamu peluk dia gitu? " tanyaku ketika kami sudah berada dikamar
" nggak gitu sayang, itu semua tuh refleks aja saya juga nggak mungkin nggak nolong dia sedangkan saya disampingnya. "
" bilang aja kamu masih ada rasa sama dia. "
" ya Allah sayang... ya udah saya minta maaf tapi tolong jangan kayak gini dong. "
" kenapa kamu nggak biarin aja dia jatuh ha? kamu suka kan pegang-pegang dia. kamu suka kan bisa pegang tubuh mantan wanita yang kamu sukai itu. lagian lakinya juga ada ngapain kamu bela belain nolong dia keliatan banget kamu memang tertarik dengannya " ucapku sakartis
dia mengusap kasar wajahnya lalu melempar tatapan tajam padaku " saya nggak tau lagi saya harus jelaskan ke kamu kayak gimana. kamu nggak pernah ngehargain penjelasan saya. saya terima kamu nuduh saya yang nggak-nggak. tapi kamu juga harus tau saya paling nggak suka kamu berasumsi saya suka memegang tubuhnya. "
" silahkan kamu cemburu saya nggak marah itu hak kamu. tapi tetap jaga tuduhanmu yang diluar batas pada saya "
deg
kok dia yang marah beneran padahalkan dia yang salah apa ucapanku keterlaluan ya?
dia melepas jas yang melekat ditubuhnya lalu keluar dari kamar.
iiiihh...
dia kenapa sih? disinikan aku yang tersakiti kenapa solah olah dia yang benar. sinetron nggak sih.
tau ah
terserah dirimu fahriza.
▪︎▪︎▪︎
malam makin larut tapi mataku masih belum mau terpejam. aku sudah terbiasa tidur disamping fahriza dan sekarang rasanya hambar tanpa dia apalagi ini bukan kamarku.
ku tatap poster CR7 dan Mesut ozil yang berdampingan di dinding kamar, seketika senyum terbit dibibirku mengingat kejutan ini yang dia berikan. fikiranku kembali menerawang mengingat beberapa keping kenangan ketika kami beradu teriakan dirumah saat menonton piala dunia kemaren.
dan selalu berakhir aku yang kalah. pada akhirnya memasak makanan kesukaaan fahriza.
selama ini dia nggak pernah marah sama aku kalaupun aku salah paling dinasehatin. tapi tadi keliatan banget kalo dia marah akan ucapanku. apa aku berlebihan ya?
tapi aku nggak suka dia pegang-pegang wanita lain dan lagi itu mantan wanita yang disukainya.
arrghhh....
kenapa aku merasa bersalah.
emangnya aku salah ya
ck palaku pusing
" fi... " panggil wanita paruh baya dari luar pintu
seketika aku mendudukkan tubuhku " masuk aja bu nggak dikunci " aku berdiri dari ranjang menghampirinya.
" anak-anak bangun ya bu? "
di tersenyum lembut lalu mengusap pelan lenganku " mereka masih tidur? "
" kalau ibu kesini mereka sama siapa? "
" opanya yang jagain " balasnya kemudian menuntunku untuk duduk di sofa
" ibu liat fahriza masih nonton tv diluar padahal disini juga ada " ucapnya menatap layar hitam pipih berukuran 55-inch didepan kami
aku menatap kearah lain karna tak mau bersitatap dengan ibu dia pasti bisa baca situasiku lewat tatapan mataku
aku menggigit bibir bawahku mendengar pertanyaanya
" kalau kalian punya masalah coba selesaikan dengan kepala dingin jangan diem dieman. masalah nggak akan selesai kalau kalian ngehindar " dia menepuk pelan punggung tanganku
" kesalah pahaman dalam rumah tangga itu biasa, karna pada dasarnya keharmonisan rumah tangga tidak tercipta begitu saja tanpa bumbu pertikaian antara suami dan istri. tapi... "
aku memberanikan diri menatap ibu yang menggantung kalimatnya
mengertikan akan ekspresi tanya diwajahku dia tersenyum
" jika sudah terlibat percekcokan diantara kalian cobalah selesaikan secara bersama bicarakan baik-baik. jangan pakai teriakan atau kata-kata kasar. kesampingkan dulu ego kita, tidak usah perdulikan dulu siapa yang benar siapa yang salah yang penting coba selesaikan apa permasalahannya dan cari titik tengahnya. ibu rasa meminta maaf dulua bukan berarti derajat kita turun walaupun kita benar "
" gimana caranya bu fifi takut dia makin marah ke fifi "
" kamu istrinya, ibu yakin kamu lebih mengenal dia dari pada ibu " ujarnya seraya berdiri lalu keluar dari kamar meninggalkanku sendiri ditemani fikiran yang mulai bergelayut dan perasaan bersalah yang menyerangku.
ku putuskan untuk meminta maaf padanya, disini aku juga salah tidak seharusnya aku menuduhnya dengan hal yang tidak-tidak
tapi pas aku sampai diruang keluarga sofanya kosong dan tv nya juga udah dimatiin. aku beralih keruang tamu mungkin dia main ponsel disana tetep nggak ada, dia nggak mungkin liat sikembar yang lagi dikamar ibu apalagi udah jam segini
ku coba kembali ke kamar dan masih kosong.
haaahh.....
mungkin dia keluar nenangin fikirannya. biasanyakan dia gitu kalo lagi tengkar sama aku pasti keluar nenangin fikirannya dulu kalo udah tenang baru pulang. tapi yang pasti dia nggak pernah ngelampiasin kekesalanya ke hal hal negatif.
rasanya perutku lapar karna tadikan nggak sempat makan akibat terlalu emosi lalu lupa buat ngisi perut.
aku tertegun ketika nyampe dapur ternyata fahriza lagi makan pantesan dicari di luar diruang keluarga nggak ada.
rasa canggung menguasaiku ketika aku makan tanpa sepatah katapun keluar dari mulut fahriza untuk sekedar menyapaku
huaaaa aku nggak bisa diginiin fahriza
dan yang kulakukan hanya memekik dalam hati
setelah selesai dengan acara makannya dia berlalu menuju wastafel untuk mencuci piringnya.
bruk..
kupeluk erat tubuh fahriza dari belakang, aku benar-benar tidak tahan didiamkan olehnya bahkan nasi dalam piringku saja belum habis.
ku rasakan dia menghentikan pergerakan tangannya yang mencuci piring.
" aku minta maaf " lirihku dibalik punggung kokohnya, sekuat tenaga aku menahan air mataku karena aku tau dia tidak suka melihatku menangis
" aku salah nggak seharusnya aku ngomong kayak gitu ke kamu. aku minta maaf udah buat kamu marah "
" bisa nggak kamu lepasin tangan kamu " ujarnya setelah dari tadi diam
" bang za.. fifi minta maaf fifi salah udah..... "
" saya lagi cuci piring nanti lengan baju kamu basah keciprat air " jelasnya memotong ucapanku yang sedari tadi nyerocos
" kamu udah selesai makannya? " dia menatap kearah piringku yang masih berisi nasi didalamnya.
aku mengangguk menjawab pertanyaanya.
" kenapa nggak diabisin? " ucapnya lembut
" kenyang "
dia berjalan kearah piringku lalu memakannya hingga abis baru setelah itu dia cuci.
kenapa sih dia harus bikin aku merasa kagum akan sikapnya trus ujung ujungnya aku bakalan ngerasa bersalah karena selalu menyusahkannya.
grep
" k-kamu ngapain " gimana aku nggak kaget orang belum dapet jawaban sekarang malah digendong
" kita tidur ini dah malam " ku lingkarkan tanganku dilehernya
" abang nggak mau marahin fifi? " tanyaku setelah kami berada didalam kamar dan aku juga udah duduk diatas kasur
" emang kamu mau saya marahin? "
" bukan gitu tapi... "
" kamu udah minta maaf berarti semuanya udah selesai " jelasnya mendengar kalimatku tergantung
" cemburu boleh, tapi jangan berlebihan. semua yang sifatnya berlebihan itu nggak bagus. baik itu buat diri kamu atau untuk orang lain " sambungnya lalu mengecup pucuk kepalaku.
" aku hanya takut abang berpaling dariku "
" haaahh... sampai akhir hayat saya cuma kamu yang akan selalu dihati saya. kamu dan si kembar adalah sumber kebahagiaan dan penyemangat bagi saya " jelasnya lembut lalu menurunkan tangannya dari wajahku yang tadi dia usap saat menjelaskan
ketika dia berbalik hendak turun dari ranjang aku langsung menarik tangannya kuraih tengkuknya lalu dengan cepat ku tempelkan bibirku dibibirnya. hingga akhirnya aku menyudahi ciuman ini ketika aku mulai kehilangan nafas.
namun tak lama tubuhku didorong berbaring, aku mengerjapkan mataku mencoba mencerna hal yang akan terjadi
" kamu harus tanggung jawab " putusnya kemudian ******* habis bibirku
arrghhh.... bodoh banget sih lufita fahriza tuh laki-laki otomatis kalau kamu pancing duluan dia bakel makan umpan kamu dan parahnya kamu bisa berbalik jadi umpannya.