
mataku masih terus mengeluarkan mutiara bening itu dan tanganku menggenggam kemeja berwarna navi ini pandanganku kosong mencoba mencerna semuanya dengan positif
hingga akhirnya pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok pria yang selama ini selalu menuruti permintaanku tatapa tajamnya langsung mendapatkan diriku yang terduduk disamping kasur
" disini ternyata saya ngasi salam kok nggak dijawab " tanya nya tanpa kujawab dia berjalan mendekatiku yang memalingkan wajah darinya
" yuk turun pesenan kamu saya letakin didapur " ajaknya memegang jemariku namun dengan cepat aku menghempaskan tangannya secara kasar
" kamu kenapa? " dia bingung melihat perilaku ku yang tidak biasanya kutatap tajam wajahnya dengan air mata yang terus bergulir membasahi pipiku
" loh fi kamu kenapa kok nangis? " dia makin khawatir melihatku yang beruraian air mata dan tak menjawab pertanyaan pertanyaan yang ia lontarkan
" jelasin semuanya " ucapku dengan lirih dengan penuh penekanan dan menatapnya tajam sambil memberikan kemeja nya itu
semulanya dia bingung tapi kemudian wajahnya seperti ingin tersenyum namun dengan cepat dia merubah ekspresinya menjadi panik aku yang melihat perubahan perubahan dari ekspresinya mengernyitkan dahi dengan tanya kenapa ekspresinya beruba ubah seperti itu
" fi saya bisa jelasin semuanya " dengan nada yang terdengar gugup dia menatapku dengan tatapan tajamnya yang serasa menusuk huh dapat dipastikan kalau seperti ini bahwa dia bersalah
" bau parfum dan lipstik milik siapa yang ada dibaju kamu yang jelas itu semua bukan milikku " aku memalingkan wajahku tak ingin melihat ekpresi nya yang bersalah itu
" fi sebenarnya........ "
" SURPRIIIIIIIISE..................... "
kalimat fahriza terhenti dengan suara teriakan dari arah pintu kamar yang terbuka aku sempat kaget melihat tania, kak rere, acil ada disana mereka berdiri dan tersenyum bahagia melihatku
aku menghampiri dan memeluk mereka aku menangis dipelukan mereka dengan keras hingga membuat mereka bingung tania mengelus punggungku sedangkan kak rere mencoba menenangkan ku
dan dibelakang fahriza mungkin menatap kami aku tak mempedulikannya aku terus memeluk tania karena kak rere menggendong acil jadi aku tak mungkin memeluknya
" loh kok nangis kamu kesenengan karena kita dateng atau nangis sedih nih? " tania menyelidiku dan menghapus air mataku yang meleleh setelah aku melepas pelukannya
" fi " panggil fahriza dibelakang namun masih kuabaikan
tania dan kak rere saling tatap lalu tertawa terpingkal pingkal acil yang ada di gendongan kak rere aja bingung melihat mamanya ngakak kayak gitu apalagi aku
aku menatap kak rere dan tania secara bergantian dengan heran kenapa mereka bisa tertawa disaat aku sedang sedih bahkan aku belum menceritakan pada mereka kenapa aku menangis seperti ini
kak rere berjalan memdekati fahriza dan kembali lagi mendekatiku sambil menenteng kemeja miliknya fahriza yang menjadi penyebab aku menangis seperti ini
" kamu pasti nangis karena ini kan? " tanya nya sambil membentangkan kemeja itu aku memperhatikannya dengan mengernyitkan dahi bagaimana dia bisa tau
" ini kemeja ak lutfi " ujarnya membuatku makin bingung maksudnya apa bahwa kemeja itu milik kak lutfi padahal jelas jelas kemaja itu milik fahriza
" ini wangi parfum sama bekas lipstik punya aku yang nempel dibaju ak lutfi "
" ha? maksudnya ini gimana? dan kok bisa baju kak lutfi ada disini? " aku memburu dengan rentetan pertanyaan dengan penjelasan kak rere yang sulit dinalar
" kita turun dulu yuk kasian kak lutfi sama lufian nungguin dibawah " ajak fahriza sambil menggamit tanganku aku yang menatapnya dengan bingung tak melakukan perlawanan apapun hanya saja aku tak mengikuti langkahnya yang mau keluar dari kamar
" loh kok makin ngebingungin gini sih? sejak kapan kak lutfi sama kak lufian ada dibawah trus tania sama kak rere kapan datangnya dan itu tolong jelasin dulu yang dimaksud kak rere tadi " aku makin penasaran dan tidak sabaran hingga memberondong fahriza banyak pertanyaan yang ada didalam otakku
tapi sebelum aku melanjutkan pertanyaanku lagi tania sudah menarik tanganku dan menuntunku kebawah untuk ikut bergabung dengan kak lutfi dan kak lufian " nanti kita jelasin satu persatu masalahnya " ujarn tania sambil terus menuntunku kebawah
" haduh lamanya nungguin surprise kalian selesai " cerocos kak lufian saat aku sudah duduk disamping nya karena tania menuntunku untuk duduk disana dan fahriza juga kak rere baru juga sampai tapi fahriza langsung kedapur pasti bikin minuman dia
semula aku berdiri ingin mengikutinya karena banyak pertanyaanku yang belum dia jawab tapi tanganku ditahan sama tania
" hehehe.... sebelumnya maaf dulu nih ya, sebenarnya ide nempelin lipstik sama parfum disana itu ide nya aku " tutur kak rere sambil nyengir kuda
" ha? "
" itu baju kakak fi kak rere mu itu sengaja ngerjain kamu supaya kamu mikir fahriza selingkuh dan rencana kejutanyaan berhasil " jelas kak lutfi sambil mengambil acil dari gendongannya kak rere sang pelaku hanya cengar cengir nggak jelas
" lah kok bisa ada dikamarnya fifi? " aku masih mengajukan pertanyaan pada mereka
" jadi gini sore kemaren fahriza kerumah karena kakak telfon kebetulan kak lutfi sama keluarga kecilnya ini udah dateng trus ngobrol dan katanya mau bawa kamu kesana mau nemuin mereka yang baru datang dari bandung tapi kak rere ngelarang dia bilang mau ngasi kamu kejutan dan yah dia ngasi kemeja milik kak lutfi yang udah dikasi bekas lipstik sama parfum buat kamu " jelas kak lufian yang duduk didepanku sambil menatapku dengan tersenyum mengejek seolah olah aku udah masuk jebakan mereka
" tapi fifi kan nggak ulang tahun "
" ya emang dan kejutan itu buat kamu dan adiknya acil " jawab kak rere sambil mengerling kearah perutku
ha jadi aku dikerjain sama mereka karena mau liat aku cemburh disaat aku hamil dasar ya
" jadi aku udah salah faham dengan ngembek ke bang za " aku menyesali kelakuan ku tadi yang menangis didepannya dengan meratapi seakan akan dia yang bersalah padahal kalau di flashback lagi ekpsresi fahriza tertangkap jelas diingatan ku ketika wajahnya sempat mengukir senyum namun kembali dengan wajah bersalah yang datar
tak lama fahriza datang dengan menenteng napan yang berisi dengan minuman dan kue
setelah dia meletakkan napan diatas meja dia ingin kembali kedapur tapi dengan cepat aku langsung berdiri dan menghambur kedalam pelukannya " maafin fifi bang za " ujarku dengan membenamkan wajahku didadanya dia terdengar menghela napas lalu membelai lembut kepala ku
" ehem, haduh kita jadi obat nyamuk sekarang " ucapan tania membuatku melepas pelukan ku dan kembali mendekati mereka sambik menggandeng lengan fahriza
" kamu duduk disini aku yang harus bertugas ngelayanin tamu bukan kamu " aku menatap manik mata fahriza yang tersenyum datar sambil mencubit lembut ujung hidungku
rasanya malu banget kalau inget tingkah kenak kanakan ku tadi saat nangis depan fahriza makanya aku lari kedapur huh dasar tuh kakak kakak diluar ngeselin untung aku nggak jantungan dengan kejailan mereka setelah selesai mengambil beberapa makanan didalam kulkas aku kembali ke depan bergabung bersama mereka yang asik ngobrol dan bercengkrama
" aduuhh kamu ngapain bawa makanan banyak kaya gini ntar kecapean " tania segera mengambil alih nampan yang kubawa dan meletakkanya ke meja
" lebay banget sih tan orang cuma bawa kue doang kok " balasku pada tania yang berlebihan mengkhawatirkanku itu
tania kemudian duduk dikursi samping kak rere dan aku duduk diantara fahriza dan kak lufian fahriza yang masih ngobrol dengan kak lutfi melirikku sedangkan kak lufian yang disamping kiriku asik dengan dunianya sambil memainkan ponsel
" kak kok dadakan datangnya? " tanyaku pada kak rere yang sibuk dengan kenakalan acil
" ak lutfi ada tugas dijakarta besok ke kantor pusat dan sorenya kita udah pulang lagi tapi sebelum pulang kita mampir dulu ke makam mama sama papa "
" yah kok cepet banget acil kan masih pengen main sama ucu² ya kalo fifi si kemaren udah kesana " ujarku beralih pada acil yang tersenyum padaku karena gemas aku mendekatinya dan menggendong acil
" oh yah semula kita ajak bareng besok "
" hehehe..... eh kakak nggak tinggal dulu disini? "
" kita mah ikut pimpinan ya cil mau pulang kebandungnya sebulan lagi juga nggak pa pa " balas kak rere sambil melirik kak lutfi yang cuek
" hehehe.... maklum lah orang sibuk ya nggak? "
" kalo rere mau tinggak juga nggak pa pa nanti a ak jemput rere telfon aja pulangnya kapan " kak lutfi ikut nimbrung mungkin karena obrolan kami yang sengaja kami nyaringkan intonasinya biar kedengeran sama para lelaki sibuk itu
" yah ngambek becanda doang ak lagian acil kan juga nggak bisa jauh dari a ak " balas kak rere manja huh bikin iri aja udah tiga tahun nikah hubungan mereka masih tetap harmonis
" a ak nggak ngambek re kalau rere emang mau tinggal disini dulu nggak pa pa nanti kan bisa vidio call an "
" nggak kok ak rere juga nggak bisa jauh dari a ak " rayuan kak rere berhasil membuat satu kecupan dari kak lutfi mendarat dikening nya
kak rere kalau diliat liat kayak perempuan manja
tapi beda banget loh sama aslinya kepribadian yang sopan dan dewasanya lah yang mampu meluluhkan hati sorang lutfi khairan hermansyah itu
untung tania dan kak lufian sibuk sama ponsel mereka jadi nggak liat adegan tadi kalau liat kan kasian mereka bakalan baper sendiri
" bang za... " rengekku pada fahriza yang cuek bebek sama pasutri yang kayak pengantin baru disebelahnya
yang dipanggil hanya tersenyum datar lalu melirik ponselnya aku cuma bisa mendengus kesal karena sang pria dingin itu tiba tiba kembali ke sikap dinginnya itu
" eh mau makan apa nih mumpung masih awal masih bisa masak dulu? " tanyaku membuyarkan mereka dari dunia fantasi mereka
" kita makan diluar aja fi kayaknya seru deh kalau kita hangout rame rame " ujar kak rere memberi saran dan langsung disetujui oleh para pengikutnya yah aku juga setuju sih sekali sekali kapan lagi kan kita keluar bareng
acil yang ada digendonganku mulai rewel mungkin ngantuk aku langsung memberikan acil ke kak rere yang sedang berbincang bincang dengan fahriza dan kak lutfi
" berangkat sekarang atau gimana? "
" sekarang aja aku udah laper banget nih " tukas kak lufian yang dari tadi diam dan asik dengan ponselnya kini membuka suara mungkin baru sadar akan lapar
" ya udah fifi siap siap dulu " ujarku lalu dibalas anggukan oleh kak rere
aku pergi kekamar berganti pakaian untung pagi pagi tadi aku udah mandi jadi tinggal pake lotion dan parfum coklatku hah kalau nyium aroma coklat moodboster ku langsung bagus banget
8 menit kemudian aku kembali ke bawah mereka juga udah pada mau keluar nuju mobil aku membuntuti belakang mereka hingga aku bingung karena cuma ada satu mobil yang terparkir halaman depan dan itu mobil kak lutfi lalu tania kesini pake apa
" tan kamu nggak bawa mobil? " karena penasaran aku bertanya ke tania yah karena jarak apartemen tania dengan rumah ku lumayan juga trus dia kesini naik apa tania itu jarang banget pake taksi atau ojol semenjak udah ada mobil sendiri
" ha? nggak fi tadi dijemput sama kak lufian "
aku mengernyitkan dahi mendengar jawaban tania sejak kapan kak lufian sudi sudian jemput perempuan pria yang anti cewek kayak gitu
" maksudnya sama kak lutfi sama kak rere juga pas mau kesini " ralatnya terlihat canggung
" oh gitu ehm ada yang mau nebeng nggak nih? " karena aku dan fahriza bawa mobil sendiri jadi menawarkan tumpangan kan nggak mungkin kita dempet dempetan di mobik kak lutfi
tak ada jawaban dari mereka hanya gelengan kepala dari tania tanda kalau dia sama kak rere juga di mobil kak lutfi
" acil sama fifi aja ya biar dimobil fifi ada temenya " mendengar permintaanku kak rere langsung memberikan acil kegendonganku kemudian mereka berlalu menuju mobil kak lutfi dan aku mengikuti fahriza yang membukakan pintu mobil untukku aku tersenyum sangat manis pada suamiku yang super dingin itu yang disenyumin juga balik senyum
selama diperjalanan aku hanya bermain dengan acil yang kelihatan ngantuk dan mulai tertidur di pangkuanku usianya yang baru 14 bulan masih membuatnya sering mengantuk dan tidur dijam seperti ini
perjalanan masih lama menuju restoran favorit keluargku waktu mama sama papa masih ada hem jika di flashback lagi rasanya mama sama papa masih ada deh sampe sekarang
fahriza hanya fokus nyetir dan sesekali melirkku dan tersenyum
" bang za " panggilku membuka suara memecah keheningan saling lirik diantara kami
" hem " seperti biasa jawaban seadanya
" kalau anak kita cowok dikasih nama apa ya bagusnya bang za punya usul nggak? "
aku mulai menepuk pelan punggung acil yang sudah tertidur nyenyak didekapanku
" ehm belum sih fi, nanti saya carikan deh nama yang baik buat laki laki dan perempuannya sekalian siapa tau anak kita perempuan "
" kalau perut fifi udah besar nanti berat badan fifi pasti naik deh duh gimana dong bang za fifi nggak mau gemuk "
" mau kondisi kamu gemuk atau nggak kamu harus siap yang penting kamu dan anak kita sehat "
" nanti bang za ilfil lagi liat pipi aku chubby dan badan aku gemuk "
" haha.... kamu itu ada ada aja kalau pipi kamu chubby baguslah makin tambah seru nyiumnya " godanya membuatku mendarat kan sebuah pukulan ke lengan kirinya yang berada di setir
" cih maunya "
" eh bang za tau gak tadi pas aku liat ada bekas lipstik nempel dibaju kak lutfi yang semula aku kira baju bang za rasanya aku pengen nabok bang za saat itu juga "
" makanya banyakin istighfar biar nggak salah sangka terus sama suami sendiri "
" ih perempuan mana pun pasti mikir yang sama kayak aku kalau liat dibaju suaminya ada lipstik perempuan lain"
" iya dan sekarang udah tau kan srmuanya? "
" hehehe..... maaf ya " sedikit malu malu aku menepuk pelan bahunya
dia memegang tanganku yang menepuk bahunya lalu menggenggam jemariku membuat senyum terukir dibibirku
" namanya azril bagus gitu kok dipanggil acil " tanya fahriza ternyata dia penasaran dengan nama acil
" itu panggilan kesayangan almarhum papa buat acil "
" oh kalau kamu panggilan kesayangan papa buat kamu apa? "
" ha? cuma fifi aja kok kenapa nanya nanya kayak gitu? "
" nggak pa pa emang nggak boleh? "
" nggak juga sih cuma ya nggak biasa aja bang za nanya kayak gitu selama kita nikah "
" te amo " ( sama kayak i love you ) ucapanya membuatku mengernyitkan dahi lalu tersenyum senang
" tumbenan pake bahasa spanyol kayak gini "
" nggak mau? "
" me gustas " ( aku suka kamu ) balasku tak kalah cepat
" hahaha..... saya fikir kamu nggak tau "
" hey apa sih yang lufita hermansyah nggak tau ha? "
" iya iya " ujarnya masih tertawa kecil
" bisa saya meminta sesuatu dari kamu? " lanjutnya
" oke jangan yang aneh aneh ya "
" tetaplah disamping saya sampai kapanpun jadilah ratu dalam hidup saya dan jadilah penyempurna hidup saya " lagi lagi kata kata romantisnya meluluhkanku tanpa sadar aku meneteskan air mataku
" aku siap sangat siap rusuk mu yang hilang itu akan kusempurnakan dan bimbing aku menjadi wanita yang berbakti padamu "
dia tersenyum menatapku lalu tangannya menghapus sisa air mata yang menempel di pipiku dan tanpa terasa mobil kami sudah memasuki parkiran restoran acil yang dari tadi diam tertidur kini terbangun tau aja dia kalau udah nyampe tujuan
fahriza semoga semuanya yang kamu ucapkan bukan cuma sekedar kata tapi juga kamu buktikan dan i believe you every time, everywhere, and i hope you don't betrayed
ucu²: panggilan bibi untuk anak bungsu
hellooooo readers aduh maaf banget ya kalau up nya lama maafffff banget oh iya ada beberapa bahasa asing yang saya masukin jadi maklumin aja ya kalo salah maklum baru belajar hehehe💕💕 see you eh lupe makasih belonggok buat yang udah bace same like ny