
kurasakan hari hari ku tak seperti dulu, aku merasa tak memiliki tenaga untuk melakukan aktivitas apapun. mataku terus menatap senja yang perlahan mulai pergi, aku terus meratapi keajaiban dunia itu dengan sesekali berkedip tanpa beranjak dari tempatku.
Hari ini adalah hari terakhirku menggunakan status sendiri karena besok aku akan menyandang status sebagai seorang istri. saat aku terus menikmati senja tiba tiba sebuah tangan mengusap rambutku tanpa melihatnya pun aku sudah tau bahwa pelakunya pasti papa aku sangat kenal belaian tangannya.
papa duduk disamping ku seraya memegang bobo yang dari tadi ku letakkan di pangkuanku. "fi, kamu ingat tidak saat kamu nangis waktu papa mau berangkat tugas keluar negri?" tanya papa yang masih memegang bobo dan mengikuti ku memperhatikan senja dari balkon kamarku
sejak pertunangan dengan fahriza tiga hari yang lalu aku tak pernah lagi bicara dengan papa, bahkan ketika ia mencoba membuat lelucon hanya karena ingin melihat senyumku aku meninggalkannya begitu saja dan pergi kekamarku. kalian tau rasanya berhenti berbicara dengan orang yang paling kalian sayangi? hahahaha SAKIT. bahkan lebih sakit dari sebuah goresan luka. aku bukan membenci papa aku hanya kecewa dengan keputusannya pada hidupku. mama sudah berapa kali mencoba membujukku tapi ya aku masih belum bisa memaafkan papa.
papa tertawa kecil melihat sifat keras kepalaku" seperti itulah perasaan papa sekarang nak" ujarnya sambil melirik kearahku " papa harus melepas mu besok rasanya papa belum siap"
"kalau boleh aku jujur aku juga tidak siap pergi meninggalkan papa aku masih ingin bermanjaan dengan papa aku masih ingin dipeluk oleh papa dan hal lainnya yang biasa kita lakukan bersama" teriak batinku
"maaf telah membuatmu kecewa nak, papa nggak mungkin selamanya bisa ngejaga kamu dan terus berada disismu suatu saat papa juga harus kembali menghadap sang illahi" tukas papa sambil membelai rambutku " papa lakukan ini karena papa tak ingin melihat gadis kecilnya menderita dengan pemimpin yang salah" sambungnya lembut.
setelah bermenit menit bersamaku tak mendapatkan respon apapun dari ku papa berdiri dan pergi maninggalkan ku dengan kecupan hangat dikeningku.
dan yah air mataku kembali terjun bebas tanpa disuruh kalian tau perasaanku benar benar hancur melihat papa terus berusaha meminta maaf padaku, kadang aku kecewa dengan diriku sendiri bagaimana bisa kau memiliki sifat batu seperti ini. saat papa sudah berjalan mendekati pintu kamarku aku berlari memeluk tubuh tua itu dari belakang aku menangis sejadinya di belakang papa. papa berbalik dan memelukku sangat erat hingga aku mendengar dia terisak.
setelah papa meninggalkan kamarku aku merebahkan diriku di kasur rasanya aku tak percaya akan meninggalkan kamarku ini sambil sesekali melirik gaun pengantin yang akan ku pakai besok tergantung cantik di dekat dekat pintu kamar. triing..... sebuah notif WA masuk. sebenarnya aku malas mengecek ponselku aku tau pesan yang masuk pasti ucapan selamat dari teman temanku, tapi tak lama masuk lagi beberapa pesan hingga membuatku kesal dan membaca isi pesannya. " tanbby" nama yang tertera di layar ponselku.
" masih ingat kamu sama aku?" balasku ku ketus pada sang pengirim pesan yang tak lain adalah tania sudah berapa hari ia menghilang tanpa kabar hingga membuatku kesal padanya, bukannya membalas pesan dari tania malah menelfonku. dia sudah tau jika balasan ku ketus maka pertanda buruk segera datang " assalammualaikum" sapanya. tanpa menunggu jawaban salam dari ku dia langsung menjawab pertanyaan pesanku tadi " ya Allah fi... masa iya aku lupa sama kamu aku masih sehat tau"
"huh masa sih tan, kemana aja kamu saat aku butuhkan kemaren"
"astaghfirullah" ucapnya kaget "aku kemaren pulang kampung fi, aku nggak sempet ngabarin kamu soalnya ibuku sakit jadi aku buru buru, kamu kan tau di kampungku nggak ada sinyal kalo nggak ke bukit dulu"
" kamu tau nggak kemaren aku benar benar butuh orang buat ngadu, pemikiranku buntu aku nggak tau harus cerita sama siapa"
" iya fi, aku minta maaf, aku benar benar nggak tau kalau kamu akan nikah dengan cara dijodohkan kayak gini aku tau perasaan mu sekarang"
"kamu nggak akan tau tan bagaimana perasaan ku sekarang, karena kamu tidak di posisiku"
"hufftt fi, aku kan sudah pernah bilang sama kamu, ketika kamu merasakan keresahan dalam hati sholat lah, segarkan hati dan pikiranmu dengan air wudhu, mengadu lah pada sang maha pencipta" ujarnya panjang lebar " Dia yang lebih tau perasaan mu pasti akan memberikan kedamaian dalam dirimu" sambungnya
"hufffttt" terdengar tania mengehela nafas di seberang sana " fi jangan kayak anak kec....." tanpa mendengarkan penjelasan darinya lagi aku langsung menutup telepon secara sepihak, aku tau pasti dia akan mengatakan aku jangan seperti anak kecil, kalimat itu akan selalu keluar ketika aku bertengkar dengannya. dari pada aku memperpanjangnya lebih baik ku tutup saja telpon darinya.
baru saja aku memejamkan mataku, tiba tiba pintu kamar ku diketuk "aarrgghhh" umpatku kesal, aku tak habis pikir tidak bisakah mereka membiarkan ku tenang "masuk" ujarku pada seseorang yang tadi mengetuk pintu kamarku. seorang pria bertubuh atletis dengan mata teduhnya masuk ke kamarku.
"kak lufian" ujarku tak percaya melihat orang yang ada dihapanku sekarang. dia tersenyum padaku lalu duduk di tepi kasurku
"gimana kabar mu?" tanya kak lufian membuat ku seakan dalam dunia mimpi, bagaimana aku tidak heran orang yang selama ini tak pernah bicara padaku dan tidak pernah tersenyum hangat padaku kini duduk disampingku dan bertanya keadaanku huh, this is impossible.
"kamu sudah makan?" ujarnya kembali bertanya dia membuatku semakin bingung bahkan membuat ku susah mencerna pertanyaannya
"apa kak lufi sakit?" tanyaku tanpa menjawab pertanyaan dari kak lufi. bukanya menjawab pertanyaanku dia malah tersenyum dan memebelai rambutku
"ehem, aku tau selama ini aku terlalu cuek sama kamu, aku seakan menganggap mu tak pernah ada dalam hidupku, aku tau selama ini aku bukan kakak yang baik buatmu" ucapanya lirih
"tapi perlu kamu ketahui aku sangat menyayangi mu, sama seperti seorang kakak yang selalu menyayangi dan mencintai adiknya,"
aku masih termenung menatapnya heran apa yang terjadi padanya dan bingung apa yang akan aku lakukan padanya setelah sekian dia membenciku.
"besok adalah hari yang bersejarah dalam hidup mu tapi tidak denganku aku malah merasa akan kehilangan pembawa keceriaan dan kedamaian rumah ini."
"setiap kali aku pulang ke rumah ini aku akan selalu melihatmu tertawa dan bercanda dengan papa dan sekarang semuanya akan hilang ketika kau sudah tidak lagi disini" tambahnya sembari tersenyum padaku ntah angin apa yang membawanya kesini yang pasti aku sangat bahagia melihatnya duduk dan berbicara seperti kakak dan adik pada umumnya saat ini. tanpa perintah aku langsung memeluk kakak tengah ku itu, aku menenggelamkan wajahku di dada bidangnya dan kalian tau dia jug membalas pelukanku bahkan sangat erat dari ku. kami seakan terlihat seperti sepasang kekasih yang tak ingin kehilangan satu sama lain. dan seperti biasa mutiara bening itu kembali meluncur bebas dari pelupuk mataku hingga membasahi kaos hitam yang dikenakan kak lufian. " kapan kakak sampai dirumah?" tanyaku ketika ia sudah melepaskan pelukannya
" sore tadi. mama bilang akhir akhir ini kamu jarang menyentuh makanan bahkan kamu pernah tidak makan seharian " tuturnya lembut. " aku gak nafsu makan kak" jawabku
dia mengambil piring makanan yang baru saja di antar oleh bik surti dan menyuapiku
mulanya aku tak ingin membuka mulutku setelah di bujuk olehnya ya mau tidak mau aku makan suapan darinya " bagaimanapun perasaanmu sekarang kamu harus jaga kesehatanmu" ujarnya saat sedang menyuapkan suapan ke empat dan di suapan kelima aku menyudahi makan ku karna aku sudah tak sanggup perut ku rasanya sudah di isi oleh berkilo kilo makanan.
setelah memberi kan minum padaku dia keluar membawa nampan piring dan gelas tadi juga mengecup ubun - ubun ku yah aku terpaku dan tersenyum bahagia "apakah pernikahan bisa merubah sifat dan sikap orang yang akan kita tinggalkan " tanyaku dalam hati "ah sudahlah yang penting kak lufian peduli padaku sekarang."
menurut kalian apakah pernikahannya fifi masih tetap dilanjutkan hemhh penasaran juga hehehe 😍selamat membaca ya...😘