
Hari ini adalah hari yang dinanti oleh keluarga ku tapi tidak denganku. semua orang terlihat sangat bahagia terdengar dari canda tawa mereka diluar sana sedangkan aku yang ku lakukan sekarang menatap kosong diriku di cermin.
kebaya yang ku pakai ini benar benar membuatku frustasi belum lagi jilbab yang menutupi rambutku, aku muak dengan semua ini. aku sudah siap lima menit yang lalu dan sebentar lagi keluarga fahriza pasti akan segera tiba dirumah.
saat aku masih menatap diriku dicermin mama masuk tanpa mengetuk pintu kamarku, kulihat mama tidak sendiri, mama bersama kak rere dan acil tapi sepertinya ada satu orang lagi yang akan masuk ke kamarku dan dia tania.
saat sudah berada disamping kursi riasku tania langsung memelukku hingga membuat hujan di mataku kembali turun.
"loh, kok nangis duh jangan nangis dong. sayang nanti make up nya rusak" celoteh tania padaku setelah ia melepas pelukannya
" satu kata buat kamu" ujarnya sambil membelai lembut pipiku " subhannallah" sambungnya sambil tersenyum membuat mama dan kak rere juga ikut tersenyum
"kapan kamu tiba disini?" tanyaku pada tania
" ba'da isya" jawabnya lembut
"kok nggak langsung kesini?"
"awalnya sih gitu tapi setelah dengar kamu marah sama aku jadi aku mengurungkan niatku untuk kesini, takut nanti kamu ngambek sama aku" jawabnya yang masih menatapku
" mama kebawah dulu ya, soalnya kasian papa mama tinggal buat nganter tania sama rere " ujar mama sambil mengambil acil dari gendongan kak rere dan membawanya turun menemui papa aku hanya mengangguk.
"hemh, liat kamu pake baju penganten kayak gini, aku jadi keinget waktu aku nikah sama a' lutfi" ujar kak rere membuyarkan lamunanku.
"ah, kak rere jangan ngomong ngomong nikah gitu dong kan aku jadi iri dengernya" balas tania pura pura iri
"hehehe abis gimana ya liat fifi cantik luar biasa kayak gini bikin aku jadi jadi inget aja pas pernikahan ku setahun yang lalu"
"kalo aku jadi laki laki nih kak, tatapan aku nggak akan berpaling dari wajah cantiknya fifi" ujar tania sambil terkekeh.
aku yang sedari tadi diam hanya tersenyum mendengar celotehan kak rere dan tania mereka berdua sangat akrab setelah kak rere resmi jadi kakak iparku, apalagi kampung tempat tinggal kak rere tidak jauh dari kampungnya tania.
"aku bilang juga apa fi, kamu itu cantik plus banget kalo pake hijab" ucap tania sambil menjawil dagu ku seperti lelaki masum yang menjawil dagu wanita.
" paan sih tan lebay banget" balasku ketus
"yah aku serius fi, tapi aku juga sedih lo karena setelah kamu nikah nanti kita nggak bisa kayak dulu yang keman mana selalu bersama" balas tania haru. bukan hanya dia yang akan merasakannya aku juga lebih akan merindukan kebersamaan dengan dirinya.
aku hanya tersenyum membalas ucapan tania sedangkan diluar kamar terdengar suara kak lutfi memanggil kak rere untuk membawaku turun ke bawah karena mempelai pria sudah dibawah dan acara juga akan segera dilangsungkan.
saat turun menyusuri anak tangga kak rere menggandeng tangan kanan ku dan tania menggandeng tangan kiri ku gaun pengantinku yang berwarna cream ini benar benar mempersulit jalan ku karena bawahannya yang panjang dan menutupi kaki ku apalagu jilbab yang ku kenakan ini benar benar membuatku gerah.
setibanya aku di meja ijab qobul aku dapat merasakan semua mata tertuju padaku hingga membuatku risih diperhatikan seperti itu. tak lama aku duduk penghulu langsung memulau prosesi sakral itu. ku lihat papa menjabat tangan fahriza dan menatapku sekilas sambil tersenyum lalu kembali fokus pada fahriza.
" ananda Ahmad Fahriza Jaelani bin Ruli Jaelani" ucap papa memulai akad
"iya saya" jawab fariza
"aku nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri ku Lufita Khairunissa Hermansyah binti Bandi Hermansyah dengan mas kawin sebentuk cincin berlian dan seperangkat alat sholat dibayar tunai" ucap papa lantang menyebutkan kalimat ijab qobul itu
" saya terima nikah dan kawinnya Lufita Khairunissa Hermansyah binti Bandi Hermansyah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" jawab fahriza tak kalah lantang dengan satu tarikan nafas mantap mengucapkan kalimat itu.
" bagaimana para saksi SAH? tanya penghulu kepada para saksi
setelah mendengar pernyataan dari para saksi pak penghulu langsung memanjatkan doa.
dan diikuti pula pemakaian cincin antara aku dan fahriza. Dan untuk pertama kalinya seorang laki laki mencium keningku selain papa dan kak lufian yah fahriza mencium keningku setelah menyematkan cincin pernikahan dijari manisku. kalian tau bagaimana perasaanku hahaha HANCUR bagai beling yang pecah, rasanya aku ingin lari dari sana tapi apa daya semua sudah terjadi yah aku harus belajar menerima semuanya mulai sekarang.
•••••••••••
sekarang sudah pukul 20.30 sedang berjalan acara resepsinya pernikahanku sudah sekitar 2 jam yang lalu acara resepsinya dimulai dan aku hanya menatap nanar para tamu undangan tanpa senyum yang terukir di wajahku.
Fahriza tidak ingin menunda acara resepsinya karena ia tidak mau kalau nanti ditunda maka takut resepsinya tidak jadi jadi, ditambah lagi ia seorang direktur utama di perusahaan papanya maka semakin membuatnya menjadi orang yang sibuk.
dari sifatnya seperti itu aku sudah bisa menebak kalau dia tidak suka sesuatu yang ditunda - tunda. berbeda denganku aku benci sesuatu yang menyusahkan ku makanya aku selalu menunda nunda apapun itu.
aksesoris yang ada di kepalaku dan make up yang menempel di wajahku ini merupakan pelengkap sakit kapalaku. sedari tadi kepalaku terus berdenyut denyut mungkin karena aku tidak biasa berpenampilan dan berdandan seperti ini, aku bukannya munafik bilang kalau aku tidak suka berdandan, aku bisa berdandan memoleskan make up diwajahku cuma masalahnya aku tidak terbiasa dengan make up up yang tebal nempel diwajahku ditambah lagi bulu mata palsu yang nempel di mataku membuat mataku terasa berat, aku tidak terbiasa memakai bulu mata palsu seperti ini. yah sebenarnya pakaian adat melayu yang ku pakai ini tidak begitu membuatku merasa gerah hanya saja aksesoris yang nempel sebagai pelengkap pakaian adat ini membuatku pusing, ayahku yang mengusung tema melayu ini mengikuti adat tradisi turun temurun dari pihak kami yang asli dari melayu pontianak kalimantan barat, sedangkan keluarga fahriza hanya mengikuti saja.
rasany aku benar benar tidak tahan untuk lebih lama bersanding seperti ini tapi mau bagaimana lagi acaranya masih sekitar setengah jam lagi baru selesai.
untuk mengurangi sakit di kepalaku, aku hanya memijat mijat tengkuk ku dengan tangan kananku sedangkan tangan kiriku sudah berkeringat. rasanya aku ingin muntah sekarang, kurasakan keringat dingin mengalir di pelipisku " ahhh bodoh banget sih seorang dokter tidak bisa menyembuhkan penyakitnya sendiri" rutuk ku dalam hati. aku benar benar merasa kesal karena pijitan tanganku tak berhasil mengurangi sakit kepalaku.
baru saja aku mengomel diriku sebuah tangan tiba tiba saja menghentikan kegiatan ku memijit tengkuk.
sontak membuatku kaget kulirik tangan pelaku itu, dan yang benar saja fahriza yang melakukannya tanpa perintah dariku dia menyentuhku tanpa aba aba dariku, dan lebih parahnya dadaku seketika bergemuruh kurasakan jantungku memompa lebih cepat, "astaga ada apa denganku" umpat batinku entah kenapa aku tidak memberontak saat fahriza memijit telapak tangan ku. dan kalian tau seperti sebuah keajaiban sakit kepalaku tiba tiba reda dan menghilang entah kemana. ya aku tau mungkin ini kedengarannya berlebihan tapi itulah kenyataannya aku juga tidak tau kenapa sakit kepalaku tiba tiba hilang.
"umbar terosss" teriak seseorang mengagetkan ku yang tengah menatap fahriza. dengan cepat aku manarik tanganku dan mengalihkan pandangan ku. kurasakan pipiku panas" oh my god, what happened to me" ujar batinku jika aku tidak menggunakan make up pasti wajah ku sudah terlihat seperti kepiting rebus, argh.......
aku menatap para tamu undangan yang akan bersalaman dengan kami, aku tidak tau kenapa aku jadi kikuk begini padahal tadi aku biasa biasa saja.
ku lihat tania juga naik ke pelaminan untuk bersalaman dengan ku dia tersenyum saat sudah tiba didepan ku tan ba bi bu lagi dia langsung memelukku sambil menitikkan air mata.
"cepet banget sih pulangnya?" tanyaku pada tadi yang sedang mengelap air matanya
" hehehe udah malem ini lagian besok aku juga harus balik ke kampung lagi ibuku masih belum sehat" jawabnya
" trus kalo ibu mu belum sehat kenapa kamu disini?" tanyaku ketus karena masih tidak bisa melepas kepergian tania untuk pulang ke kampungnya lagi
" sayang, aku gak mungkin melewatkan hari bersejarah dalam hidup sahabatku dan aku nggak mungkin nggak ngedampingin kamu disaat hari bahagiamu ini" balasnya sambil tersenyum
" ingat ya jilbab nya nggak boleh dilepas lagi dan mulai sekarang kamu kemana mana harus pakai jilbab" ujarnya mengingatkan janjiku
"iya tan" jawabku datar
"oh iya, bang iza aku titip sahabtku ya jaga dia baik baik, soalnya fifi ini anaknya bawel susah dibilangin" sambungnya pada fahriza dan tersenyum padaku dan fahriza
" insyaAllah aku akan menjaga fifi sampai akhir hayatku" jawab fahriza
"ouch romantisnya.... dah ah aku pulang dulu ya, kalau liat kalian aku makin tambah iri" ujar tania lalu memelukku dan mencium pipi kananku dan pergi bersalaman dengan fahriza dan ayah ibuku lalu turun meninggalakan pelaminan.
aku masih berfikir tentang panggilan tania pada fahriza bagaimana bisa dia memanggilnya abang Iza, aku bukanya cemburu hanya saja akibat panggilannya itu membuatku teringat pada sosok laki laki yang selama ini aku tunggu kehadirannya.
😘hai readers makasih sangatlah ye yang udah bace karya saye ni banyak banyak terima kasihlah, love you😘😘semoga novel saya yang pertama ini bisa mengurangi rasa bosan kalian ya, maaf banget sebelumnya kalau tulisan tulisan saya banyak yang kurang huruf harap bisa memaklumi ya hehhehe soalnya ngetiknya cepet cepet soalnya udah nggak sabar masukin episode selanjutnya😍😚