LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
TERBONGKAR



fahriza


》》》》》


permainan yang semula ku ikuti pada akhirnya aku juga yang terjebak didalamnya. aku masih belum bisa membagi semua bebanku dengan lufita aku masih belum sanggup membiarkannya juga ikut memikul keluhku. wanita yang kucintai itu cukup tau saja bahwa aku akan membahagiakannya.


perjalanan pengobatan fifi di london ternyata awal mulanya bencana yang harus kami terpa. bermula dari masalah kantor aku fikir cuma masalah tender tapi dugaanku meleset masalahnya kali ini cukup serius.


korupsi besar besaran terjadi begitu saja di perusahaan, bahkan menyebabkan harga saham merosot. dan itu semua memojokkanku. aku yang diduga melakukan penggelapan uang perusahaan, dan itu semua ditunjang dengan kepulanganku dari luar negeri.


jadwalku benar-benar padat setelah perusahaan mengalami kekacauan para pemilik saham memojokkanku, tapi mereka masih belum memiliki bukti yang cukup untuk membawaku keranah hukum. dan ini kesempatanku untuk mengungkap pelaku yang sebenarnya.


hampir semua waktuku, kuhabiskan dikantor bahkan terkadang aku tidak memiliki waktu untuk sekedar sarapan. aku tidak perduli dengan itu semua yang aku tau, aku harus mengungkap semuanya sebelum mereka kembali menjebakku.


dengan bantuan ardi dan ayah aku mengetahui pelakunya tapi sayangnya permainanya sangat bersih hingga tak meninggalkan jejak sekecil apapun sampai sulit untukku menyeretnnya kedepan publik.


ya ayah tau masalahku, dialah yang mendorongku untuk terus mengalahkan sainganku, dia yang banyak bergerak membantuku menemukan siapa dalangnya. ditambah dengan ardi yang selalu berdiri diposisiku membuatku merasa harus maju lebih dulu dari sainganku.


aku sengaja tidak memberitahu lufita, kondisnya yang sekarang tidak memungkinkan ku menceritakan semuanya pada lufita. sudah banyak kesedihan yang dia alami dan dia tapaki, aku tidak mungkin menambah beban kesedihannya dengan masalahku biarlah aku menagggung sendiri semuanya tanpa melibatkan lufita didalamnya. keselamatannya lebih berharga dari pada keselamatan nyawaku.


setelah aku mencurigai salah satu petinggi perusahaan, kecurigaan ku terhadapa pria paruh baya yang menawarkan kerja sama dengan perusahan membuatku sedikit bertambah. pasalnya sudah banyak perusahaan yang membatalkan kerja samanya dengan kami.


tapi sekarang sebuah perusahaan asing yang berpusat disini dengan berani menawarkan kerja sama dengan kami.


baiklah aku mencoba mengikuti alur permainannya hingga aku menemukan sebuah fakta jika perusahaan yang baru saja mengajukan kontrak kerja dengan kami ini merupakan sebuah perusahaan yang cukup berpengaruh besar didunia bisnis, dengan dipegang oleh seorang Abraham Vicky Ristan. pria yang terkenal dengan mafianya dalam berbisnis.


dan yang membuatku tak habis fikir ternyata dia ayahnya Vino Ristan mantan lufita yang aku masukkan dalam jeruji besi karena perbuatannya.


oke aku mengambil resiko dengan menjebloskan diriku kedalam permainanannya. hanya ini satu satunya cara untuk menumpas mereka


ya dengan memberikan umpan pada mangsa


setelah menerima tawaran kerja samanya, dia mulai sedikit bertingkah dengan memintaku memperkenalkan keluargaku. sebenarnya aku enggan membawa lufita waktu itu, tapi aku ingin melihat reaksinya ketika melihat lufita. dugaanku tepat dia tidak memojokkan lufita bahkan dia mengeluarkan candaan untuk mencairkan suasana diantara kami dia fikir aku tidak tau apa niat busuknya.


tapi perlu kalian ketahui anak perempuannya sendiri datang padaku menawarkan bantuan untuk menumpas kejahatan ayahnya. ya dia Varadanika Ristan adiknya vino. aku langsung menyetujuinya karena aku tau itu pasti jebakan dari ayahnya agar menyeretku lebih jauh dalam permainannya.


aku terus mengikuti alurnya hingga akhirnya aku terjebak dengan anaknya yang menyatakan perasaanya padaku, oke sebisa mungkin aku menghindarinya dengan bantuan ardi tapi pada akhirnya aku tak bisa lari karena dia mengancam akan bunuh diri. aku pikir itu hanya sekedar ancaman tapi dugaanku salah dengan beraninya dia menyayat pergelangan tangannya didepanku.


aku panik bukan kepalang melihat darah mengucur deras dari tangannya. baiklah untuk saat ini aku menuruti kemauanya agar menemaninya makan siang atau dia yang jalan jalan kekantorku.


disinilah aku menjadi lebih dingin pada lufita aku merasa bersalah padanya, hingga aku tak berani memulai percakapan dengannya. ya ini salahku yang membiarkan diriku mengikuti permainannya hingga aku terjebak dengan tantanganku sendiri.


sedikit demi sedikit aku berhasil mengumpulkan bukti berkat bantuan Vara sebut saja aku memanfaatkannya, mau bagaimana lagi aku terpakasa memanfaatkan cintanya agar aku bisa mengungkap semuanya dengan cepat dan terbebas darinya. sebutan yang pantas untukku saat ini adalah egois, ya aku egois karena ulah mereka.


jangan salah paham, aku tidak pernah berpacaran dengannya dia saja yang selalu mengatakan itu tapi tidak denganku.


diluar pengawasanku dia berani berbicara terang terangan pada lufita hari itu. dan itu membuatku benar-benar terpojokkan. satu sisi aku tak ingin mengecewakan lufita, disisi lain ada nyawa yang sedang menunggu aksiku.


aku tak ingin dicap sebagai pembunuh karena kebodohanku jadi aku membiarkan dulu semuanya berjalan dengan menjadikan air mata lufita korbannya.


tanpa dia sadari aku juga mencoba tegar melawan semuanya sendiri. hingga hari ini dengan lancangnya vara menyatakan kalau dia sedang mengandung anakku didepan lufita.


obsesinya padaku membuatnya menghalalkan segala cara. dia memiliki sifat yang sama dengan vino yaitu ambisi. dia rela melakukan apapun untuk mencapai ambisinya. karena itulah aku semakin mengikuti alurnya karena jika aku membantahnya bisa kupastikan nyawa istriku taruhannya.


lebih baik aku mengumpan diriku sebagai mangsa dari pada harus membuat istriku santapannya, dunia akhirat aku tidak rela.


ku pikir dengan perintah lufian agar dia meninggalakanku akan diikuti lufita. ternyata dia memilih berada disampingku memilih mendampingi walau harus tersakiti. aku tak kuasa menahan rasa bahagia mendengar jawabanya hingga tanpa sadar air mata menetes begitu saja dari pelupuk mata sebelah kiriku.


aku tidak berjanji tapi akan kubuktikan tangisanya hari ini akan menjadi tawanya besok


.


.


.


aku masih enggan menutup mataku setelah kejadian tadi, aku masih menelisik wajah damai yang sedang terlelap didepanku ini. sapuan nafas yang teratur menerpa wajahku karena aku yang mengikis jarak diantara kami.


dering ponsel membuyarkan kegiatanku


dengan malas aku menjawab telfon seseorang disebrang sana.


" iya "


" ...... "


" saya segera kesana sekarang " finalku memutuskan sambungan telfon.


sebelum aku meninggalkan rumah aku sudah menelfon tania agar menemani lufita dirumah.


dengan kecepatan tinggi aku memacu mobilku membelah jalanan tengah malam dijam seperti ini semuanya sudah terbawa mimpi. tidak denganku yang harus menyelesaikan masalahku dulu.


 


prok prok prok


sebuah tepukan terdengar menggema diruangan para petinggi perusahaan. tanpa melihat pun aku sudah tau siapa pelakunya.


dengan malas aku membalikkan tubuhku menghadapi musuhku yang sudah didepan mata.


" bagaimana game kita asik bukan " sapa pria paruh baya menyambut kedatanganku.


baru saja aku ingin menjawab pertanyaanya sebuah benda keras memukul kepala bagian belakangku membuatku perlahan kehilangan kesadaran.


aku mencoba mengerjabkan mata mencoba menyesuaikan cahaya yang menerobos masuk kedalam retinaku. kurasakan kaki dan tanganku seperti diikat.


dan benar saja bukan tali yang mengikat tangan dan kakiku dikursi ini melainkan sebuah rantai.


byuuurr.....


ku rasakan tubuhku disiram dengan se ember air entahlah itu se ember atau bukan. dingin langsung menyerang tubuhku setelah pakaianku basah akibat siraman tadi


aku mencoba melihat sekelilingku, aku tersenyum melihat tempat ini.


" ternyata, dia mencoba untuk tersenyum terakhir kalinya. ck kasihan sekali pemuda ini " ujar seorang pria tua yang duduk dipojok depan ruangan seraya menuangkan air kedalam gelas sepertinya alkohol.


" masih ingat denganku pak fahriza " ucap yang satunya lagi yang tak lain adalah om vicky


" huh, menyedihkan sekali bukan aku yang korupsi dia yang kena getahnya. " sahut pak feri orang yang sudah menggelapkan uang perusahaan dan tanpa merasa bersalah dia melimpahkan semua kekacaunnya padaku.


" adakah kata - kata terakhir yang ingin kau ucapkan pak direktur? " tanya om vicky seraya meniupkan asap rokonya dihadapanku.


" apa kau akan membunuhnya tuan vicky?" tanya pak feri ragu


" kau meragukan kemampuanku feri? "


" ah, bukan seperti itu hanya saja apa alasan kita mengungkapnya pada publik "


" ck otakmu cetek sekali. "


" aku akan buat kematiannya seolah dia bunuh diri karena kasus korupsi yang kau lakukan itu " lanjutnya dengan tampilan smirk dibibirnya


" saya hanya berdoa semoga Allah mengampuni kalian " sarkasku


tampak raut emosi tertera diwajahnya setelah mendengar ucapanku


sebuah pukulan menghampiri pipi kiriku


" jangan pernah menceramahiku " bentaknya tajam


" saya hanya mendoakan yang terbaik untuk anda bukankah itu bagus? "


" baiklah berdoalah untuk yang terakhir kalinya, karena kejahatanmu yang memenjarakan putraku juga akan dihitung tuhan sebagai dosa bukan "


" saya hanya menuntut keadilan "


" keadilan katamu " ucapnya tajam


bugh


satu pukulan telak mengenai perutku hingga membuatku terbatuk


" keadilan yang kau sebut itu. telah membuat putraku masuk rumah sakit jiwa. susah payah aku membesarkannya agar menjadi penerusku. dengan entengnya kau merusak semua rencanaku dengan membuat jiwa putraku terguncang "


" maaf sebelumnya jika saya membuat harapan seorang ayah pupus. tapi saya juga harus menuntut keadilan untuk istri saya atas perbuatan putra anda " nafasku sedikit tercekat akibat pukulannya.


" putraku tidak akan senekat itu jika saja kau tidak merebut kekasihnya "


" sekali lagi maaf tuan vicky, saya tidak pernah merebut kekasihnya. saya bertemu dengan istri saya jauh setelah hubungan vino dan istri saya selesai. dan dia memang ditakdir untuk saya "


" jangan berbicara takdir padaku. " ujarnya tajam


" bukankah anda masih memiliki seorang putri untuk menjadi penerus anda? " pancingku


" putri? huh anak tidak guna itu. karena dia kau mengetahui semuanya, dengan mudahnya dia hampir menggagalkan semuanya hanya karena cinta tololnya itu. "


aku terdiam memperhatikan raut wajah seorang ayah yang memilih untuk merawat anaknya dihapanku. ntah apa salah mereka


" karena takdir aku memiliki seorang anak perempuan yang tidak ada gunanya. kenapa takdir tidak menjawab permintaanku bahwa aku hanya menginginkan anak laki laki. dia yang sudah membuat istriku tiada. dan karena dia aku harus merawat anakku sendiri, dan dengan entengnya kau membuat putraku jadi gangguan saraf *****. " tudingnya tidak terima akan kenyataan takdir


" itu yang sudah tertulis untuk anda tuan vicky, tidak seharusnya anda menyalahkan takdir "


" argghhh "


bugh..


pukulan selanjutnya dia layangkan tepat didadaku, setelah teriakannya membuat cairan merah keluar dari mulutku


" jangan menceramahiku *****. " pekiknya seraya mengeluarkan sebuah benda berpelatuk itu. ujungnya tepat berada dikeningku.


" ucapkan selamat tinggal untuk dunia mu, dan sembutlah nerakamu " ujarnya dengan smirk yang tak lepas dari bibirnya


perlahan dia menarik pelatuknya


DORRRR......


sebuah timah panas melesat menggema diseluruh ruangan sunyi di tengah malam ini.