LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
DIMULAINYA HAL ROMANTIS



sore ini aku sudah berada di mobil kami, ehem ralat maksudku mobilnya fahriza aku duduk di bangku penumpang depan bersampingan dengan fahriza yang sedang fokus menyetir.


mobilnya terus melaju menembus jalanan kota metropolitan yang tidak pernah sepi itu, kulihat fahriza sedang fokus menyetir. dari awal kami pergi hingga sekarang tak ada percakapan diantara kami berdua aku hanya diam sembari menolah kearah luar kaca mobil.


kulihat orang orang disekeliling kami melintasi mobil dengan tenang serasa tanpa beban hidup. aku terus termenung mengingat saat aku menghampiri papa untuk acara sungkeman.


aku masih mengingat saat aku menghampiri papa untuk memohon restu dan doanya, papa langsung memelukku sambil terisak di bahuku. baru kali ini aku melihat papa menangis seperti itu.


yang tak kalah membuatku lebih sedih, papa terus saja meminta maaf padaku atas keputusan yang ia pilih untuk hidupku disela sela isak tangisnya. rasanya aku tak ingin melepas pelukan laki laki paruh baya yang selalu membuatku bahagia ini. papa tersenyum padaku sambil mengusap air matanya yang masih tersisa dipipinya.


dan aku masih mengingat dengan jelas saat fahriza menghampiri papa dan papa malah mentapnya sendu sambil memegang kedua pundak fahriza " di pundak ini kau akan memikul tanggung jawab mu sebagai seorang suami, sebagai seorang pemimpin, dan sebagai seorang ayah nantinya" ujar papa pada fahriza


"hari ini aku serah kan tanggung jawabku atas putriku padamu, tolong jaga dia baik baik, sayangi dia setulus hatimu. karena sampai saat ini bagiku dia tetap gadis kecilku yang manja" sambung papa yang kembali menitik kan air matanya


"isya Allah pa, saya akan membahagiakan dan menjaga lufita, doa kan saya agar bisa memikul tanggung jawab yang papa berikan" balas fahriza pada papa. papa tersenyum mendengar ucapan fahriza ia langsung memeluk fahriza sambil menepuk pundak fahriza.


sedangkan aku, aku langsung beralih menuju mama yang sedari tadi terus mengeluarkan mutiara beningnya itu. mama langsung memelukku dengan erat seakan ia tak ingin melepas ku pada siapapun mama menasehati ku agar aku selalu patuh dan berbakti pada fahriza, aku hanya mengiyakan nasehat mama karena aku tak ingin membuatnya lebih sedih. kalau boleh sebenarnya aku ingin lebih lama memeluk mama tapi aku juga harus sungkeman dengan mertuaku dan kakak kakak ku.


kulihat mertuaku tersenyum sangat ramah padaku mereka terlihat bahagia menyambut kedatangan ku.


dan kalian tau apa yang membuatku seakan benar benar tak ingin pergi meninggalkan rumahku, yaitu ketika kak lutfi dan lufian memelukku secara bersama mereka menangis bersama dipundak ku, aku merasa seakan aku benar benar seperti berlian diantara mereka berdua. orang orang yang melihat kami bertiga menangis bersama saat itu juga ikut terharu bahkan ku lihat ada beberapa yang menitikkan air mata.


secara bersamaan kak lutfi dan kak lufian mengecup kening dan pipiku. aku tersenyum melihat tingkah kedua kakak ku itu.


aku terlalu egois selama ini hingga aku tidak sadar bahwa orang orang yang menyayangiku juga ingin melihatku bahagia. aku terlalu sibuk melihat mereka yang tidak peduli padaku dan sekarang aku sadar sesibum sibuknya mereka ternyata mereka juga memikirkan ku.


dan pagi tadi kak lufian sudah kembali ke Makassar hanya kak lutfi dan kak rere juga acil yang bertahan di rumah papa.


sebenarnya ia juga ingin pulang tapi mama menahannya untuk pulang besok saja karena mama belum siap untuk ditinggal oleh ketiga anaknya hari ini dan sore ini aku juga ikut meninggalkan mama dan papa untuk ikut bersama fahriza.


entah sudah berapa lama aku melamun hingga aku baru menyadari bahwa kami. sudah memasuki sebuah perkomplekkan elit.


kenapa aku katakan elit, karena isi didalam komplek ini semuanya rumah - rumah yang berdiri megah bak istana. dan tak berapa lama kami sudah memasuki sebuah pekarangan rumah yang begitu besar.


setelah memarkirkan mobilnya di garasi fahriza membukakan pintu untukku dan membawa barang barang ku yang berada di bagasi belakang mobilnya. aku masih mematung disamping mobil fahriza sedangkan fahriza sudah membuka pintu rumahnya. aku hanya tak habis fikir kenapa dia mengajakku untuk tinggal disini bukan dirumah ayah dan ibunya.


"ini rumah saya, baru saya beli kemaren setelah pertunangan kita, saya sengaja memilih rumah sendiri karena saya tidak ingin kamu canggung jika tinggal bersama ayah dan ibu" ujarnya padaku mungkin melihat ku masih mematung tanpa reaksi apapun. "jika kamu keberatan kita bisa tinggal dirumah ayah dan ibu" lanjutnya


sebenarnya aku risih tinggal berdua dirumahnya yang sebesar istana ini tapi mau bagaimana lagi sekarang aku ini istrinya, aku juga tidak ingin membuat papa marah jika tidak mengikuti kemauan fahriza.


setelah lama berdiam diri, aku masuk kedalam rumahnya fahriza, sebelumnya pintu rumah nya ini sudah ia bukakan untukku.


saat aku sampai diujung anak tangga terakhir tiba tiba kakiku tak sengaja menginjak bajuku yang besar ini hingga membuatku kehilangan keseimbangan dan.... Bugh aku terjatuh tapi bukan jatuh mencium lantai porselen ini melainkan jatuh di pelukkannya fahriza. entah bagaimana dia bisa dengan cepat menangkap tubuhku jika tidak mungkin wajahku sudah lebam akibat mencium lantai.


saat aku melepaskan pelukan nya dariku mata kami tak sengaja bertemu. mata tajam nya menatapku khawatir.


"apa kamu baik baik saja?" tanya nya padaku dari suara nya terdengar khawatir.


" aku nggak pa pa " jawabku datar, sebenarnya aku sangat malu tadi bagaimana tidak untuk pertama kalinya fahriza memelukku


" ada apa?" tanyanya lembut


" aku mau ngambil tasku di mobil tadi lupa dibawa" jawabku


"baiklah tunggu disini akan ku ambilkan" tukasnya seraya bejalan keluar menuju mobil. jujur ini pertama kalinya aku berbicara dengannya setelah menikah. selama pertunangan kami hingga pernikahan kami kemaren aku tak pernah mau berbicara dengannya. tapi entah kenapa hari ini aku bisa berbicara dengannya.


fahriza kembali denga membawa tas mungilku yang hanya berisi ponsel dan dompet. semenjak aku menikah aku memutuskan untuk tidak berdandan, bukannya karena hijrah tapi aku tidak ingin mempercantik diriku hanya untuk fahriza walaupun aku tau mempercantik diri didepan suami itu mendapat pahala tapi aku tidak mau melakukannya aku tidak mau kalau fahriza mencintaiku.


••••••••••


suara azan sudah berkumandang diseluruh penjuru komplek, tapi aku masih belum membuka mataku rasanya mataku masih ngantuk. saat aku ingin melanjutkan tidurku


seseorang menarik selimutku dan sontak saja aku kaget dan langsung duduk kulihat fahriza melipat selimut yang ku pakai untuk tidur tadi.


" ngapain?" tanyaku ketus, kesal karena dia mengganggu tidurku


" sekarang udah masuk waktu sholat" jawabnya datar


"trus?..." tanya ku kesal


"ya kamu wudhu sana, kita sholat berjamaah" ujarnya lembut.


"what? sholat? huh selama ini aku nggak pernah tuh sholat kenapa sekarang malah dipaksa?" umpat batinku tapi tak berani mengucapkannya. aku bukannya takut pada fahriza hanya saja aku takut ia ngadu ke papa kalau aku tidak patuh padanya.


aku menatapnya malas lalu berjalan ke kamar mandi.


setelah selesai berwudhu aku kembali duduk di pinggir kasur. mataku masih sangat ngantuk. saat aku ingin menutup kembali mataku tiba tiba fahriza mendekatiku dan memasangkan mukena pada ku. disaat ia ingin memakaikan rok mukenanya dengan cepat aku menahan tangannya. nggak mungkinkan aku biarin dia nyentuh kaki ku yang ada aku yang dosa.


dengan cepat ku ambil rok mukena dari tangannya lalu memakainya setelah selesai, dia memulai gerakan sholat di atas sajadah yang tadi sudah ia sediakan. mataku yang semulanya ngantuk kini tiba tiba hilang begitu saja aku merasa ada sebuah energi yang membuatku larut didalam sholat tanpa sadar air mataku menetes membasahi pipiku.