
fahriza
》》》》》
sejak meninggalkan rumah perasaanku terus gelisah
apalagi saat kutinggalkan tadi lufita lagi sakit kepala pikiran ku kacau banget hingga tak satupun pekerjaan ku yang selesai
yang ada dalam fikiranku sekarang hanya lufita aku takut terjadi sesuatu padanya
tok tok tok...
" masuk " ucapku pada seseorang yang mengetuk pintu ruangan ku
" maaf pak, apa bapak memanggil saya? " ujar dara sekertarisku yang tadi mengetuk pintu
" iya, tolong batalkan semua pertemuan dengan klien hari ini karena saya pulang lebih awal "
" baik pak, apa bapak menginginkan sesuatu? "
aku hanya menggeleng lemah mendengar pertanyaan dara
" kalau gitu saya permisi dulu pak " ucapnya berbalik badan ingin keluar tapi belum sampai dia didepan pintu
braaggkkkk
pintu ruanganku dibuka dengan kasar terlihat pria dengan memakia stayle dokter masuk ke dalam dengan wajah kesal
" maaf pak saya sudah mencoba melarangnya tapi...."
" saya kesini karena dokter lufita istri anda " ucapnya tegas memotong kalimat satpam kantor
mendengar nama lufita disebut sontak aku berdiri dan berjalan mendekatinya ku tatap tajam pria itu dia juga menatapku dengan tajam
" apa maksudmu "
" istri mu di culik " ucapannya seakan menghantam ku ku tarik kerah jas dokternya
" jangan pernah becanda denganku " ujarku dengan nada tinggi
dia menepis tanganku yang memegang kerah jas dokternya
" jangan banyak kalimat lagi cepat ikuti saya "
tanpa aba aba darinya lagi aku langsung turun kebawah dia juga mengikutiku dari belakang
saat sampai di parkiran aku menuju mobilku namun dicegah olehnya dia mengajak ku pergi bersama mencari lufita menggunakan mobilnya pikiran ku benar benar kacau yang aku tau sekarang aku harus menyelamatkan lufita dia pasti ketakutan saat ini
" bagaimana kalian begitu teledor tidak bisa menyelamatkan istriku " bentaku padanya sambil mengusap kasar wajahku
" kejadiannya bukan dirumah sakit melainkan dikedai sup buah " ucapnya datar sambil terus melajukan mobilnya
apa, sejak kapan lufita suka sup buah
" kenapa kamu tidak menolongnyaa... arggh " ucapku dengan kesal
" saya sudah mencoba mengejarnya tapi dia lolos dilampu merah "
ku ambil ponsel ku yang berada disaku celana aku mencoba menelfon lufita tapi tidak diangkat berpuluh puluh kali sudah ku coba menelfonnya hingga ujung jempol ku terasa pegal
" apa kamu tidak mendapatkan info tentang penculiknya? "
" saya tidak tau siapa dia tapi saya tidak sengaja mendengar dokter lufita menyebut laki laki itu vino "
" vino " ujarku memastikan nama mantan lufita yang baru saja dia sebut
" iya saya yakin dokter lufita menyebut nama itu "
aku manjadi semakin naik pitam ketika tau kalau vino yang melakukannya kembali
kuhidupkan ponselku dan menelpon tania lumayan lama menunggunya mengangkat telfon dari ku
" halo Assalammualaikum, kamu dimana? "
" saya kesana sekarang " ucapku kembali menutp telfon dan meminta pria ini melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat tania bekerja
saat mobil pria itu sudah diparkiran rumah sakit aku langsung turun dan menemui tania yang ada diruangannya
aku tak pedulu saat kurasakan semua mata tertuju padaku ketika aku masuk kedalam rumah sakit dengan berlari mungkin karena ekspresiku yang menakutkan membuatku jadi pusat perhatian
" tan ruma vino dimana " tanyaku tegas saat sudah berada dihadapan tania
sontak dia kaget mendengar pertanyaanku apalagi nada bicaraku yang tinggi aku sampai lupa mengatur nafas akibat berlari aku tak pedulikan itu lagi yang aku tau aku harus menemukan lufita sekarang
" ha apa terjadi sesuatu pada fifi? "
" vino menculiknya "
" APA??? "
" ya udah kita kerumahnya sekarang "
kami bergegas menuju mobil yang ada di parkir dan pria itu masih didalam tidak ikut turun denganku
" loh dokter dimas " panggil tania ketika masuk kedalam mobil
" dia yang melihat kejadinnya tapi nggak bisa ngejar mobil yang membawa tania " tukasku mobil pun melaju
aku baru tau namanya dimas padahal dibajunya juga ada nama dia dan aku juga baru tau itu sekarang mungkin karena pikiranku kacau aku tak melihatnya
" tapi aku nggak yakin mereka ada disana, soalnya terakhir fifi bilang kalau dia ketemu vino diapartemen dekat ku "
" kita coba aja dulu " ujar dimas memberi saran
aku kembali mengusap wajahku dengan kasar aku tidak becus menjaganya aku juga tidak becus sebagai seorang suami dan ini kali kedua dia dalam bahaya setelah pristiwa di lift kemaren
tania terus menuntun jalan kami hingga kami tiba didepan sebuah rumah mewah tapi terlihat sepi seperti tidak berpenghuni
tanpa aba aba lagi aku langsung turun mencoba memencet bel rumahnya tapi berkali kali belnya berbunyi tak ada tanggapan dari dalam
hingga aku berniat memanggil pekerja teknis untuk memotong pagar besi rumahnya ini namun ditahan oleh tania dia berinisiatif untuk bertanya ke beberapa tetangga setelah ditanya ternyata keluarga vino sudah pindah kepalaku rasanya makin ingin meledak amarahku sudah tidak bisa lagi ditahan aku memulukul pagar besi itu hingga beberapa titik darah mengucur dari jari ku
" bang iza tangan kamu " pekik tania
" kita masuk mobil dulu sambil terus menyusuri jalan mencari petunjuk didalam mobil ada kotak p3k kamu obati lukanya " printah dimas pada tania
" tunggu, tania kau tidak tau lagi tempat atau rumah yang biasa didatangi vino maupun fifi? " tanyaku tiba tiba dan tania mengernyitkan dahi
" aku ingat satu tempat tapi cukup memakan waktu samapai kesana "
" dimana? "
" villa milik vino di dekat puncak, tapi aku nggak yakin mereka disana soalnya kalau tidak salah villa itu sudah dijual "
aku baru ingat untuk melacak keberadaan fifi lewat ponselnya kembali kuambil ponselku dan mencari keberadaannya melalui GPS ponsel fifi
benar saja dia berada villa itu tanpa menunggu lagi aku masuk kedalan mobil diikuti dimas dan tania tapi kali ini aku yang mengambil alih kemudi
" tanganmu masih berdarah kau duduk saja di sini biar aku yang menyetir " ujar dimas padaku
" kita tidak bisa pergi bertiga seperti ini aku yakin disana pasti banyak penjaga " lanjutnya
" trus gimana ini? " tanya fifi khawatir
" aku akan telfon polisi "
aku tak memperdulikan ucapan mereka aku terus melajukan mobilku diluar batas pokoknya aku harus samapai disana juga sekarang bagaimana pun caranya " bang iza hati hati " tegas tania ketika aku membelokkan mobil dengan gas yang terus naik
ya Allah aku mohon lindungi fifi, aku tidak mau terjadi apapun padanya
••••••••••
ntah berajam saja perjalanan yang aku tempuh hingga akhirnya tiba disebuah villa megah
tania masih pusing karena ulahku menyetir dia turun dengan sempoyongan dengan berlari aku masuk kedalam villa itu tanpa mengetuk pintu terlihat beberapa pria berbadan kekar menghadangku
dengan diliputi amarah aku menghajarnya tanpa ampun dibantu oleh dimas yang melawan pria lainnya
" fahrizaaa..... " teriak seorang wanita disebuah ruangan depanku
aku yakin itu fifi aku kenal suaranya
kucoba membuka pintu itu namun sayangnya terkunci amarahku semakin memuncak sekuat tenaga aku mendobrak pintu itu hingga akhirnya terbuka dan aku masuk
mataku semakin berapi saat melihat pria itu mencoba menodai fifi
" BIADAP KAU " teriakku membuatnya menoleh
kutarik tubuh laki laki itu dan menghantamnya tanpa ampun aku terus menyerangnya tanpa berhenti hingga aku tersadar isak tangis fifi
setelah melihat vino terkulai lemah aku mendekati fifi bajunya robek kulepas jasku dan menutupi tubuhnya aku memeluknya tubuhnya yang masih gemetar takut matanya tidak henti mengeluarkan mutiara bening itu
tak lama dimas dan tania masuk bersama beberapa orang polisi yang meringkus vino yang bercucuran darah akibat pukulanku
" maaf pak kami terlambat, kami akan menindak lanjuti kasus ini dan setelah ini kami akan minta keterangan dari istri anda " ujar salah satu polisi yang memborgol lengan vino
aku hanya menatap tajam vino
" teima kasih, saya minta jatuhkan hukuman seberat beratnya pada pria ini " tegasku
" baik pak kalau gitu kami permisi dulu " sahutnya dan berlalu meninggalkan kami dengan membawa vino
" sampai kapan pun aku nggak bakal biarin kalian bahagia " ujar vino lirih tersenyum licik kearahku
dengan keadaan seperti itupun dia masih belum bisa mengakui kesalahannya dan malah mengancam kami aku tidak habis fikir dengan isi otaknya itu
aku tak memperdulikan ucapan laki laki itu biarkan saja apa yang ingin dia lakukan didalam jeruji besi disana
tania mendekati lufita dan memeluknya sambil menangis " maaf " ucapnya lirih
" ya udah kalau gitu kita pulang sekarang dokter lufita butuh perawatan dia masih sangat syok " ujar dimas
kugendong tubuh lufita menuju kedalam mobil dia menenggelamkan wajahnya didadaku dia masih menangis tanpa sepatah katapun kutatap wajahnya sudut bibirnya mengeluarkan darah dan pipi kanannya merah sepertinya lelaki gila itu memukul fifi
kupeluk tubuh lufita mencoba menenangkanya padahal aku sendiri masih belum bisa tenang sesekali tania menoleh kebelakang mencoba menenangkan lufita sekarang tania duduk didepan karena aku harus disamping lufita dia masih memelukku dan tangisnya belum kunjung reda kurasakan kemejaku basah oleh air matanya
" aa..bang zz za aku ** takut " ucapnya terbata bata
" sekarang kamu nggak usah takut lagi saya disini bersamamu, saya janji kejadian seperti tadi tidak akan terulang lagi "
" bagaiman k k kalau v v vino balik lagi dan mencelakai mu "
" syuutt... dia sudah dipenjara jadi dia nggak akan bisa menyetuh kamu atau pun saya "
" sstt.... " desis lufita sambil memegangi sudut bibirnya
" nggak aku mau pulang " ujarnya melepas pelukan dariku
" tapi luka kamu harus diobati "
" aku mau pulang " ucapnya tegas dan kembali diiringi air mata terkadang aku harus mengalah dengan sikap keras kepalanya ini
" ya udah, dokter dimas tolong antar kami pulang kerumah saja " sambil mendekap kembali tubuh lufita
aku seolah olah membuat dokter dimas seperti supir ya mau bagaimana lagi aku tidak bawa mobil mau pesan taksi online tidak memungkinkan karena jarak yang lumahan jauh ini tania kembali menoleh kebelakang dan menatapku sendu " maaf aku jarang punya waktu untuk fifi hingga aku tak pernah lagi menjaga dirinya " ujarnya lirih
" ini bukan salahmu tapi vino " balas fifi lembut sembari menggenggam jemari tania
setelah lumayan lama diperjalanan akhirnya kami sampai dirumah hari juga sudah gelap ketika kami masuk lufian sudah ada didepan rumah dengan wajah khawatir lalu memeluk fifi
" kamu nggak pa.... fi wajah kamu? " tukasnya pada fifi yang terlihat sendu
" kurang ajar laki laki gila itu, berani beraninya dia memukulmu "
" maafin kakak fi kakak telat " ucap lufian lirih sambil membelai lembut wajah fifi
" fifi nggak apa apa kak " balasnya sambil tersenyum tegar
" kita masuk dulu ngobrol didalam aja " aku langsung membuka pintu rumah
" maaf saya harus pulang sekarang " ujar dokter dimas menghentikan langkahku
" loh masuk dulu kita istirahat didalam " balasku membujuknya agar mau masuk kedalam aku kasihan padanya dia pasti lelah seharian menemaniku mencari fifi
" nggak usah, saya mau istirahat dirumah saja "
" sekali lagi terima kasih atas bantuannya karena kamu saya bisa menemukan istri saya "
" sama sama "
" kalau suatu saat kamu membutuhkan sesuatu atau bantuan lainnya hubungi saya, tidak perlu sungkan sungkan anggep aja saya membalas kebaikanmu "
" baiklah. kalau gitu saya permisi Assalammualaikum "
" Waalaikumsalam "
setelah mobil dimas tidak kelihatan lagi kami masuk kedalam serta mengobrol panjang
dan Alhamdulillah kondisi lufita sedikit membaik sekarang tania mengompres pipinya membuat lufita beberapa kali menjerit karena sentuhan air dingin yang menyentuh kulit wajahnya yang memar tania juga membersihkan darah disudut bibir lufita
" kamu tau dari mana lufita disekap sama vino? " tanyaku penasaran pada lufian karena aku tidak pernah memberitahunya
aku bukannya egois tidak mau memberitahunya tapi tidak sempat untuk menelfonnya
" dari tania, aku benar benar geram dengan laki laki itu jika aku disana dia tidak akan bernyawa lagi " ujarnya geram sambil menyeruput kopi buatan ku
" hus nggak boleh gitu biar bagaimana pun kita tinggal di negara hukum dimana semua kejahatan seperti itu pihak berwajib yang berhak memberikan hukuman padanya" timpal tania yang sudah selesai mengompres pipi fifi dan membawa baskomnya kedapur
kalian tidak usah bingung tania sudah pernah kesini sebelum dia bekerja, jadi dia tau arah dapur dimana tak lama dia kembali duduk menghadap fifi sambil menyodorkan segelas air putih hangat ke fifi
dengan pelan dia membantu fifi memegangnya untuk minum
mereka sudah seperti kakak adik aku hanya tersenyum memperhatikan mereka lalu mengambil cangkir kopi didepanku " abang za " panggil fifi mengangetkan kami bagaimana tidak intonasinya memanggil seperti mengajak berkelahi
" tangan kamu kenapa? " tanya nya dan mendekatiku
" ah ini tidak pa pa tadi aku nggak sengaja mukul pager rumah orang "
" kok bisa? "
dia meraih tanganku dan membersihkan darah yang mulai kering dijariku akibat memukul pagar rumah vino tadi
aku hanya mengelus kepalanya tanpa menjawab pertanyaannya dia kemudian mengoleskan betadin pada lukaku lalu menutupinya dengan perban
" ehem, kita jadi nyamuk tan " ucap lufian melihatku dan fifi yang asik dengan dunia kami
" iya kak, dunia serasa milik berdua yang lain ngungsi " balasnya sambil terkekeh diikuti oleh lufian yang juga tertawa sedangkan fifi menatapku kesal duh salahku dimana coba ketawa juga enggak
setelah sekian lama mengobrol lufian pamit pulang dia juga sudah mulai mengantuk diikuti tania yang juga pulang nebeng dengan lufian
ketika aku kembali kedalam kulihat fifi kembali murung kudekati dia dan membelai lembut kepalanya
" dia mencoba menodaiku " ucapnya dengan diiringi tangis
" hemh, dia tidak akan bisa menyakitimu selama saya bersamamu "
" aku takut "
kupeluk tubuhnya dan beberapa kali mengecup keningnya aku benar benar tidak bisa melihatnya seperti ini apalagi tadi dia hampir celaka jika aku tidak cepat datang
" kamu bersihkan dulu dirimu saya akan siapkan bajumu "
perlahan dia berdiri dan menuju kamar sedangkan aku menyiapkan pakaiannya
" abang za "
panggilnya setelah keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian
" hem "
" fifi laper "
" mau makan apa? "
" mau nasi goreng tapi abang za yang bikinin "
" ya udah kalau gitu saya mandi dulu "
mendengar permintaan lufita aku segera membersihkan diriku di kamar mandi sekian lama berganti pakaian aku turun kebawah ku lihat lufita sedang menonton tv aku segera membuatkan makanan yang dia minta tadi
setelah sekian lama didapur nasi gorengnya jadi segera kumasukkan dalam piring dan membawanya kedepan tv dia pasti sudah lapar banget sekarang
tapi ketika aku sampai ternyata dia tidur
dia sangat lelah apalagi kejadian hari ini membuat tubuh dan perasaan nya sangat butuh istirahat
" fi, makan dulu " kubelai lembut pipinya rambutnya yang panjang tergerai membuatnya terlihat sangat cantik
setelah memenuhi permintaan ku melepas jilbab kemaren, sekarang dia tak lagi menutupi rambut indahnya itu saat didepanku
" sstt... kepalaku pusing " ujarnya lirih saat membuka mata
aku membantunya duduk dan mememijit kepalanya
" makan dulu ya "
" nggak mau fifi ngantuk "
" makan dulu setelah itu baru tidur nanti kamu bisa sakit kalau nggak makan "
dia menatapku sendu perlahan membuka mulutnya
aku tersenyum melihatnya bertingkah seperti anak kecil " abang udah makan? "
" setelah ini saya baru makan " dia mengambil alih sendok yang ditanganku dan menyodorkannya kemulutku
ya mau tidak mau aku harus melahapnya dari pada nanti ngembek " coklat fifi masih nggak? "
" masih "
setelah mendengar ucapanku dia pergi kedapur dan mengambil coklat kesukaanya dari lemari pendingin
nasinya saja belum abis tapi coklat ditangannya sudah tidak tersisa apa coklat bise mengenyangkan
" kenapa kamu sangat suka coklat? "
" nggak tau suka aja manis "
" saya heran banyak orang suka makanan kesukaannya tapi nggak pernah sampe semua jadi dia suka "
" maksudnya? "
" kamu itu nggak cuma suka kue coklat aja, semunya yang berbaur ada coklatnya kamu suka kayak parfum, warna "
" emang kenapa? "
" nggak pa pa sih ya saya heran aja gitu "
" aku juga nggak tau, abang za peluk aku mau tidur "
mendengar perintahnya aku langsung memeluknya
" kamu kekamar dulu saya mau beresin ini " ujarku sambil menatap piring nasi goreng yang tak bersisa karena aku habisin lufita hanya makan coklat hingga bungkusnya berserakan kemana mana
" iya " sahutnya lalu naik keatas
aku benar benar nggak ngerti kenapa sikapnya seperti anak kecil sekarang
setelah membereskan semuanya aku segera menemuinya dikamar kulihat dia sudah berbaring aku kaget ketika aku merebahkan diriku dikasur dia langsung memelukku dengan erat " abang za peluk dong " rengeknya seperti anak kecil padahal aku sudah membalas pelukanny
" ini udah dipeluk sayang "
" katakan itu sekali lagi "
aku menarik nafasku perlahan lalu membuangnya dia kenapa ya apa traumanya sangat berat hingga menyebabkan dia seperti ini
" iya sayang "
" peluk dong " perintahnya tegas ya Allah ini udah dipeluk hingga rasanya aku susah bernafas saking eratnya " ini udah saya peluk fifi "
" abang za kok marahin aku sih "
astaghfirullah sabar huftt...
" saya nggak marah sayang, tidur ya sekarang kamu pasti capek "
dia masih memelukku hingga tertidur
huh seharian ini aku juga lelah tapi aku harus menyelesaikan pekerjaan ku yang numpuk ketika aku ingin bangun dia langsung mengeratkan pelukannya sepertinya dia belum tidur " fi saya harus menyelesaikan pekerjaan saya dulu "
" nggak mau, abang za pasti mau keluarkan trus ninggalin aku "
ya Allah ada apa dengannya hingga jadi posesif kayak gini
tak ingin membuat dia ribut aku kembali memeluknya hingga aku juga tak bisa menahan kantuk dan tertidur semoga besok dia kembali baik seperti biasa
💕maaf ye jike up nye sering lambat soalnye saye masih banyak tugas dan makasih banyak buat yang masih setia menunggu kelanjutannya💕 and sorry jike banyak terdapat typo maklum sahaje ye... see you