
perlahan aku membuka mataku karena telingaku menangkap suara orang sedang berbincang.
setelah kelopak mataku terbuka sempurna aku mencoba mengedarkan pandangan untuk meneliti ruangan ini, pandangan pertama yang kutangkap adalah fahriza yang berbaring sambil menatapku tanpa berkedip dengan posisi tubuhnya yang juga ikut miring. jadi dapat disimpulkan aku ada diruangan yang sama dengan fahriza namun beda brankar
sebuah senyum terukir dibibirku kala fahriza juga melempar senyum lembutnya.
" huh, sadar juga nih anak. gimana perasaan kamu sekarang apa masih mual? " sebuah pertanyaan dari seorang wanita yang berhasil membuatku berpaling dari wajah fahriza
" agak pusing " jelasku sambil mencoba untuk duduk
" kapan terakhir kali kamu makan? " tanya tania dengan jas dokternya masih melekat dibadannya pertanda jika ia sedang bertuga dan duduk disampingku
" ha? " pertanyaan macam apa nih kok nanya kapan terakhir kali makan emang aku roh yang nggak butuh asupan nutrisi. aku memberikan tatapan sinis pada tania karena pertanyaannya.
" huh.... asam lambung kamu tuh naik makanya kamu tadi muntah " jelasnya seraya menempelkan diafragma stetoskop ke area dada kiriku.
setelah selesai memeriksa denyut jantungku tania menarik tanganku sedikit menekan pergelangan tanganku untuk memeriksa denyut nadiku.
" emm.. kayaknya dari malam tadi sampai siang ini aku belum makan "
perkataanku sukses membuat tania menghentikan aktivitasnya lalu menatapku tajam
" kamu tuh kenapa sih bandel banget kalo dibilangin " ketusnya sembari terus menatapku.
" ini yang nggak kita mau fi kamu juga ikut sakit gimana kalau sampai kamu kenapa napa. jangankan aku semua yang ada disini juga bakalan balik khawatir ke kamu. " ujarnya panjang lebar membuatku melipat bibir dan memperhatikan ke sekelilingku melihat reaksi keluarga yang ada disini dan sekarang aku baru sadar disini juga ada kedua mertuaku dan kak lufian.
aku seperti anak kecil dihadapan mereka dengan tania yang mengomeliku, perlahan aku menarik selimut rumah sakit ini dan menutupi tubuhku sampai kepala. aduh malu banget
iss tania kayak emak emak yang lagi marahin anaknya.
tak lama terdengar suara tawa mereka yang ada dalam ruangan ini setelah aku menutupi diriku dengan selimut
" eh nggak usah ngehindar buka selimutnya " titah tania masih dengan nada kesalnya
" makan dulu " lanjutnya setelah aku membuka salimut yang menutupi kepalaku.
" kamu nggak kerja? " tanyaku setelah menerima suapan pertama dari ibu yang entah kapan tibanya disini. dan ini rasanya masakan ibu bukan makanan rumah sakit
" ini jam istirahat lufita " jawab tania yang sudah duduk disofa setelah mempersilhkan ibu duduk di bibir brankar ku tadi
" makanya jangan bandel " ejek fahriza yang masih menatapku dengan senyum
aku langsung meleparkan tatapan membunuh padanya
" kakak kira kamu hamil fi "
ucapan kak rere sukses membuatku tersedak
" ya karena kamu tadi muntah-muntah ditambah lagi badanmu yang lemas " sambungnya setelah melihat tatapan ku yang seakan bertanya ' kok bisa? '
" tunggu aja. kabarnya akan segera datang " ucap fahriza ikut nimbrung membuat semua orang disana menatapnya dan yang ditatap hanya tersenyum
▪︎▪︎▪︎
huh bosen setelah makan dan minum obat tadi aku tertidur pulas dan akhirnya setelah bangun tinggal aku, fahriza, dan ibu yang sedang memainkan ponsel pintarnya disofa.
dan karena aku sudah bangun ibu pamit keluar dulu jadilah sekarang tinggal aku dan fahriza yang sedang menutup matanya. entahlah dia tidur atau tidak
" bang "
" sayang "
panggilku dan fahriza bersamaan
aku melipat bibirku menahan senyum mendengar panggilannya
seketika aku memiringkan tubuhku untuk bisa menatap fahriza tanpa membuat leherku pegal, tadinya aku diinfus tapi sudah dilepas sebelum aku tidur jangan tanya kenapa. karena aku benci berjalan jika harus membawa infus kemana-mana merepotkan. jadi mau tidak mau tania menurutiku karena sikap keras kepalaku yang tidak hilang dengan paksaan aku terus merengek padanya.
" aku kira kamu tidur " ujarku sambil menatap fahriza yang sedang menatap plafon ruangan karena gerak lehernye terbatas akibat cervical collar yang masih tertenteng dilehernya.
terlihat fahriza tersenyum " gimana keadaan kamu? udah baikan? "
" alhamdulillah lebih baik dari tadi "
" syukurlah " ujarnya datar
" abang za? " panggilku
" hem? "
" abang kenapa? "
" maksudnya? "
" abang kenapa dingin kayak gini sejak tadi? "
" sejak kapan? "
" ya pokoknya setelah aku ikut baring dibrankar bersebelahan dengan bang za "
setelah mendengar pertanyaanku dia diam membuat suasana diantara kami jadi hening.
" bang? " panggilku setelah beberapa saat tak mendapat jawaban darinya
" maaf " satu kata terlontar dari bibirnya setelah lama diam
akhirnya kutupuskan untuk turun dari brankar dan menghampiri fahriza yang masih belum bergeming dari plafon putih ruangan ini
" karena saya kamu jadi harus sakit, karena saya kamu ikut dalam bahaya, karena saya kamu harus sakit hati untuk kedua kalinya sebab kebohongan saya. saya menutup rapat semuanya agar kamu cuma tau kalau saya hanya akan membahagiakan kamu, saya membohongi kamu agar kamu tidak khawatir pada saya tapi nyatanya saya malah menyakiti kamu secara batin. " ucapannya terhenti karena dia menatapku
" pada akhirnya saya disini dan membuatmu juga ikut sakit, saya tidak bisa menjaga kamu dengan baik, saya tidak menjalankan amanah almarhum papa dengan benar, saya tidak..... "
ungkapannya terhenti karena telunjukku sudah menempel dibibir tipisnya membuatnya menatapku dalam. air mataku seketika bergulir mendengar dia menyalahkan dirinya sendiri
" jangan salahin diri kamu sayang " aku mengusap tulang pipinya yang masih terdapat warna kebiruan
dan luka yang mulai mengering disudut bibirnya
" kamu nggak salah " lanjutku
" jika saja saya becus jadi kepala rumah tangga kamu nggak akan pernah ngerasain itu semua. saya bukan laki-laki yang baik untuk kamu "
" nggak. kamu laki-laki yang menyempurnakan hidup aku bang, kamu berhasil bimbing aku sampai saat ini "
" saya udah berkali-kali buat kamu nangis fi, gara-gara saya kamu hampir..... "
" semua bukan gara gara kamu. tapi sudah jalan sekenario kita yang udah tertulis " sanggahku memotong ucapannya
" apa saya harus lepas kamu? " tanya nya dengan berlinang air mata
deg
ada apa denganya, apa dia sudah tidak memiliki perasaan padaku
" kamu udah nggak cinta sama aku ya sampai kamu ngomong kayak gini " ujarku tercekat mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkannya
dia menggeleng kecil menjawab pertanyaanku
" i really love you fi, bahkan sangat. tapi.... "
dia menghentikan ucapannya lalu menarik tanganku untuk dia genggam
" berada didekat saya membuat kamu dalam bahaya. " lirihnya mengusap pelan pipiku
" banyak yang mencoba menghancurkan posisi saya, dan karena mereka tidak bisa memangsa saya pada akhirnya kamu juga ikut dijadikan sasaran kedua. dan saya tidak bisa melihat itu terjadi sama kamu, saya nggak bisa " ini kali pertama aku melihat fahriza menangis didepanku.
aku pernah dengar jika seorang pria menangis artinya beban yang dia tanggung itu berat, dan dia sudah mencapai titik terlemahnya
" aku nggak butuh lelaki sempurna tanpa beban hidup untuk mendampingku. yang aku butuhkan seorang imam yang mencintaiku sehidup se-surga. "
" aku nggak butuh laki-laki dengan penuh keromatisan, aku nggak butuh laki-laki yang memberiku banyak hartanya. yang aku butuhkan adalah lelaki yang setia, mampu membimbingku kejalan yang benar, mampu menuntunku untuk memperbaiki diri, mampu memimpin shalatnya hanya untukku, mampu memberikan kebahagian padaku hanya dengan kesederhanaannya "
" dan itu semua udah kamu berikan dari awal kita nikah, walau kamu seperti es balok "
dia melihatku dengan senyuman namun air matanya masih bergulir keluar dari kelopak matanya
" seseorang pernah bilang sama aku, jika kita terlampau mencintai ciptaan-Nya maka Allah akan cemburu padanya. cintai mahkluk-Nya dengan sewajarnya tanpa membuat sang penciptanya cemburu. " aku kembali mengulang kata kata yang pernah diucapkan fahriza dulu ketika aku menangis kehilang papa sama mama.
" jadi cintai aku karena Allah. " aku langsung menelusupkan wajahku diceruk leher fahriza dengan lengan kiriku yang ku selipkan di antara lengan fahriza dan badannya. dan lengan kananku kulingkarkan dilehernya walau tak bisa erat seperti biasa. tangan kananku tak bisa mengambil posisi yang sama dengan tangan kiriku sebab tangan fahriza yang masih di gips
" ana uhibbuka fillah ya zaujy " bisikku ditelinga fahriza.
dia mempererat lingkaran tangannya dipunggungku dapat kurasakan dia sedikit meremas gamisku
" wa ana uhibbuka fillah ya zaujaty " balasnya lembut tepat ditelingaku yang tertutup oleh jilbab, dia mengatakan itu tanpa melepas pelukannya hingga aku juga meraskan dia mengecup pundakku
" oh iya, gimana keadaan vara? " tanya nya setelah melepas pelukanku dan mengusap air mata dipipiku
" kenapa? "
" sayang, dia kecelakaannya sama saya jadi saya juga perlu tau keadaanya " jelasnya lembut
°°°
setelah mendengarkan pertanyaan fahriza mengenai vara tadi akhirnya aku putuskan untuk membawa dia keruangan vara tentunya dengan persetujuan dokter.
dan disinilah kami sekarang, diruang rawat vara yang dalam keadaan koma
" dia yang paling parah " tukasku memperhatikan vara dengan tatapan sedih. mungkin kemaren dia berulah hingga berhasil membuatku seperti mati rasa, tapi setelah melihatnya terbaring tak berdaya seperti ini membuatku juga ikut larut dengan apa yang dialami vara karena aku pernah diposisinya
" sebuah benturan keras yang dialami vara pada bagian kepala menyebabkan dia geger otak. dan dia juga kehilangan janinnya. menurut medis harapan sembuhnya vara sangat kecil " jelasku yang berdiri dibelakang fahriza sembari memegang handle bar pada kursi rodanya
" semoga jika dia sadar nanti dia bisa menerima kenyataan perihal keluargannya " timpal fahriza
aku mengusap pelan pundaknya
" jangan pernah berfikir jika ini semua salah kamu " aku sengaja mengucapkan ini agar dia tidak terus terusan menyalahkan dirinya
" iya "
" kita doakan saja semoga vara baik-baik aja dan segera pulih "
" amiin "
" ya udah yuk balik, nanti dicariin ibu "
sebuah usapan lembut pada punggung tanganku yang berada dipundak fahriza merupakan sebuah jawaban darinya jika dia mengiyakan ajakanku.
Aku berharap semoga kedepannya kami bisa menghadapi semua tantangan dari sang pencipta.
semoga apa yang menjadi doaku selama ini merupakan kekuatanku dan fahriza untuk mengikuti aluran goresan indah di sebuah kertas sekenario kami.
Amiin