
lufita
》》》》》
hembusan angin pagi serasa menerpa kulitku, sebenarnya aku masih malas untuk bangun tapi akibat dingin yang menembus kulitku membuatku mau tidak mau membuka kelopak mata.
ini pasti fahriza yang buka pintu balkon padahal kan ini masih jam lima pagi ngapain dia nongkrong disana jam segini. lagian semalam dia pulang udah malam banget, seharusnya dia lanjutin tidur lagi buat istirahatin tubuhnya yang rentan terterpa lelah bekerja itu.
dengan sedikit mengalami kesulitan aku mendudukan tubuhku dan bersandar pada kepala kasur, aku mencoba merenggangkan otot-ototku yang kaku. ku usap pelan perutku lalu berpindah ke pinggangku yang terasa sedikit pegal mungkin akibat tidur tidak banyak berpindah posisi makanya agak pegal gitu.
perlahan aku menurunkan kaki ku untuk menginjak lantai. huh, mirisnya nak kaki bunda bengkak kayak gini karena kurang gerak. semakin besarnya perutku maka gerak ku semakin terbatas hingga membuatku malas untuk berjalan.
setelah dengan sedikit paksaan akhirnya aku nyampai di pintu balkon dan benar saja fahriza sudah berdiri disana dengan menenteng cangkir yang berisi minuman hangat dengan asap yang terlihat mengepul ditangannya.
sebenarnya aku ingin memeluk fahriza dari belakang namun aku sadar akan perutku yang besar ini tidak akan memungkinkan aku melingkarkan tanganku diperutnya. jadi aku berdiri disampingnya dengan tangan kiriku melingkar dipinggangnya.
" eh, kok udah bangun? " tanya nya sembari meletakkan cangkir yang berada ditangan kirinya ke meja kecil yang ada disampingnya itu
" gimana nggak bangun orang pintu balkon kamu buka. kan anginya masuk " jawabku dengan menyenderkan kepala dibahunya
" maaf "
" lagian kamu ngapain matahari belum naik nangkring disini? nggak dingin? mana cuma pakai kaos lengan pendek lagi nanti kalo kamu sakit gimana? "
" cerewetnya... tunggu disini bentar " dia berbalik masuk kedalam kamar namun tak lama dia kembali mendekatiku sambil membawa selimut tebal kemudian melekatkan selimut itu menutupi tubuhnya
" eh cuma dia doang yang selimutan " seruku tak terima ku fikir dia bawa selimut mau menyelimuti tubuhku ternyata hanya dirinya sendiri
dasar bapak-bapak tidak pengertian
dia terkekeh mendengar ucapanku lalu menarik tanganku dan membawaku dalam dekapannya, detik berikutnya dia membungkus tubuhku dengan selimut yang sudah menutupi tubuhnya. alhasil kami satu selimut tapi dengan posisi saling mendekap
hangat
itulah yang kurasakan ketika berada dalam dekapannya
" jadi orang itu jangan suka su'udzon duluan, selesaikan dulu penglihatan kita terhadap aktivitas yang dilakukan orang lain baru komentar " nasehatnya yang kubalas dengan deheman kecil.
aku terlalu malas menanggapi ucapannya karena aku lebih senang menikmati kehangatan dan aroma dari tubuhnya.
aroma tubuh fahriza benar-benar membuatku ingin kembali terlelap. wanginya memang tidak menciri khas kan aroma mint atau maskulin seperti wangi kesukaan pria pada umunya, tapi wangi lembut dari parfum yang dipakainya itu selalu membuat indra penciuman ku nyaman. dia lebih suka wewangian yang beraroma lembut seleranya kayak selera perempuan.
nggak usah sebutin merek parfumnya karena lagi nggak endorse ya.
" kamu ngapain disini pagi pagi kayak gini? " aku kembali mengulang pertanyaanku tadi karena belum mendapat jawaban darinya
" saya nggak ada kerjaan setelah sholat subuh tadi. jadi ya lebih baik saya nikmatin suasana pagi aja sambil nikmatin secangkir coklat hangat " dia mengelus perutku dengan lembut.
ini salah satu kebiasaan baru fahriza setelah aku hamil, itu juga berawal dari permintaanku pada bulan kedua kehamilanku dimana aku nggak bisa tidur sebelum perutku dielus. jadinya kebiasaan sampai sekarang.
kadang kalau lagi nonton plus gabut nggak ada kerjaan dia mengusap-usap perutku ditemani kecupan bertubi tubi yang dia berikan sambil sholawatan atau kalo nggak dia ngajak mereka ngomong ntah hal apa saja yang mereka bahas aku juga nggak terlalu perduliin karena fokus ku hanya pada televisi didepan ku yang sedang menayangkan film favoritku
" abang.. "
" ya? "
hening..
" kenapa? " tanya nya sekali lagi karena aku tak melanjutkan ucapanku
" nggak lama lagi fifi bakalan lahiran "
" trus? "
" fifi takut " aku ingin mengutarakan isi hatiku yang mengganjal beberapa hari ini semenjak kandunganku memasuki usia sembilan bulan kemaren
cup
" kamu takut apa? " tanya nya dengan lembut setelah memberikan kecupan dipucuk kepalaku
" nggak tau juga. entah kenapa akhir-akhir ini fifi diserang rasa takut menghadapi hari kelahiran anak kita nanti. fifi takut nggak bisa kayak gini lagi sama abang "
dia menghela nafasnya lalu melepaskan dekapannya. tanpa mengatakan sepatah kata pun dia menatap lekat kearah mataku, tatapan tajam yang diberikan fahriza untukku benar benar membius.
manik coklatnya membuatku mabuk, seakan candu yang tak mampu aku tinggalkan. bulu mata yang lentik bak memakai Eyelash Extension huh kok bisa sih cetakan yang diberikan Allah pada fahriza tuh sebagus ini
ya sih aku harusnya bersyukur dapet pendamping hidup kayak begini, tapi asal kalian tau itu juga merupakan ancaman ya karna wajah fahriza yang rupawan ini menjadikan dia diinginkan oleh banyak wanita diluar sana.
" saya ngerti kamu takut walaupun bukan kehamilan yang pertama tapi melahirkan adalah hal yang baru untuk kamu apalagi tiga nyawa sekaligus yang harus kamu keluarkan dan ketakutan kamu hal yang wajar. "
dia mengusap pelan pipiku
" tapi perlu kamu ketahui kalau kamu selalu takut menghadapi kenyataan dan takut untuk melawan kejadian maka itu juga yang bisa bikin kamu kalah. kamu nggak sendirian saya yang akan menemaniku, saya akan berada disamping kamu menggenggam tangan kamu. "
" walaupun kita tidak bisa melawan takdir, tapi Allah selalu berada disisi umatnya. kamu harus yakin dan percaya jika sang penguasa langit dan bumi pasti akan selalu membantumu " kata-katanya membuatku sedikit lebih tenang. tatapannya seakan menyiratkan bahwa aku pasti bisa
ya aku harus bisa
dengan sedikit menarik tengkuknya aku meninggalkan kecupan di keningnya, walau tinggi badan kita beda tipis tapi itu juga menyulitkanku untuk menjangkaukan bibirku ke dahi fahriza apalagi kondisiku yang tak memungkinkan untuk berjinjit
" aku nyesel tau nggak udah nyuruh kamu potong rambut " sungutku sambil memainkan rambut fahriza yang sudah rapi karena perintahku apalagi kumisnya juga udah bersih
haiss kalau kayak gini sih bisa makin memikat
" kok nyesel? bukannya kemaren kamu bilang takut saya dapat gelar hot daddy ya? " dia mencondongkan tubuhnya memposisikan wajahnya tepat berada depan wajahku
" iya sih, tapi kamu makin memikat perempuan lain tau nggak dengan rapi kayak gini apalagi model rambut kamu ini kan lagi banyak digemari perempuan-perempuan ganjen diluar sana " cetusku terbayang bagaimana mereka melirik fahriza dengan tatapan memuja oh atau tatapan lapar
ah enggak enggak itu nggak boleh terjadi
hais kalau si fahriza boneka udah aku sekap dalam lemari dari pertama ketemu
bukannya menjawab atau membalas ucapanku dia malah tertawa, tuh kan ketawa ngakak kayak gini aja masih aja tampan gimana aku nggak selalu cemburu coba
" ck bisa nggak, kamu nggak usah ketawa makin sebel aku liatnya "
" saya kira kamu manis-manis kayak tadi ke saya cemburu kamu udah ilang eh ternyata makin parah " tukasnya disela tawa yang masih terdengar kecil
" aku patahin ya ginsul kamu! "
" nih patahin aja demi kamu saya rela " serunya sambil menyebikkan bibir atasnya makin keatas hingga menampilakn gigi-giginya yang putih juga rapi. dan jangan lupakan ginsulnya fahriza yang makin membuatnya manis ketika senyum lebar atau ketawa
huaa... kalau kayak gini aku yang bakalan nggak kuat iman
" heh, kamu tuh ya bis.... " ucapanku terhenti kala dia mengecup bibirku
sedetik berlalu namun tautan yang baru saja diberikan fahriza belum lepas bahkan dia ******* bibir atasku. aku bisa merasakan manisnya coklat yang tadi di minum fahriza lewat bibirnya.
" hengh, bibir tipis kamu tuh ya ternyata mesum juga kayak tuannya " sinisku saat tautan kami lepas
" dan bibir mungil kamu itu harus banyak dikasih pelajaran karna kalo ngomong suka ngegas " balasnya
" ck, minggir aku mau masuk " sarkasku karena sudah terlalu pegal untuk berdiri lebih lama di balkon
" mau langsung mandi? " tanya fahriza yang membingku berjalan. dengan hati-hati dia menuntunku seraya melingkarkan tangannya dipundak ku
" emm,, boleh deh. nanti kalo nggak mandi sekarang aku nggak akan pake mandi lagi. " balasku
setelah sampai di dalam kamar mandi fahriza langsung menyiapkan air hangat dan mengambilkan handukku yang tergantung di rak handuk dekat pintu kamar mandi.
" kamu hari ini nggak kerja kan? " tanyaku setelah dia meletakan handuk di dekat bathtub
" kenapa? " cih ini nih kekurangan fahriza nggak suka basa basi. jawab iya dulu kek atau apalah ini malah to the poin aja gemesss... pen nabok tapi sayang
" mang asep? " dia menaikkan sebelah alisnya mencoba mengingat tempat yang aku sebutkan mungkin.
" ih itu loh yang didepan jalan komplek kita yang rumah makannya udah kayak kebon bunga " jelasku
" komplek kita? sejak kapan kita bikin komplek ini? " lama-lama emosiku juga bisa meledak ngadepin sikap fahriza yang ini
" ck iss... udah sana beliin udah pagi gini pasti udah buka dia, jangan sampe antri aku nggak mau nunggu ya pokoknya setelah aku selesai mandi tuh bubur udah harus ada dimeja dalam kamar. " titahku bak seorang raja yang memerintahkan prajuritnya
" iya iya... makin hari makin galak aja untung cinta " gerutunya yang sudah menjauh dariku
" kamu ngomong apa?? " pekikku setelah mendengar fahriza ngedumel
" kamu cantik sayang " tuturnya lemah lembut lalu menutup pintu kamar mandi
aku terkekeh mendengar bohongannya padahal aku mendengar jelas gerutuannya itu.
▪︎▪︎▪︎
hampir 20 menit setelah mandi aku belum juga menemukan batang hidung fahriza dia beli bubur atau ikut bantu mang asep jualan bubur sih
ck ih mana udah laper banget lagi, mataku juga udah lelah rasanya baca novel tebal kayak gini karangan siapa sih sampe empat ratus halaman gini apa nggak capek tuh orang ngetik trus muter otak buat bikin lika liku ceritanya. ah bodo ah
sebenarnya males banget buat turun kebawah tapi mau gimana lagi diam dalam kamar juga nggak ada kerjaan. " huufftt... "
setelah menghelas nafas beberapa kali aku membawa kaki ku untuk bergerak menuruni tangga, aku menaruh tangan kananku di pinggang untuk membantu kakiku menopang berat badan yang ku bawa ini, dan tangan kiriku mencekram pegangan tangga dengan erat
ck dia benar belum datang ternyata " bik " panggilku pada bik wari yang baru saja melintas sambil menenteng keranjang sayuran sepertinya balik dari pasar
" iya non, ada yang bisa bibik bantu? "
" liat fahriza nggak bik? "
" emm... setelah keluar pake motor non tadi saya belum liat aden non "
" ah.. ya udah makasih ya bik "
" sama-sama non kalau gitu bibik pamit kedapur dulu non "
aku hanya membalas ucapan bik wari dengan senyuman. sebenarnya fahriza kemana sih, beli bubur apa gimana sih jam segini belum balik.
baru saja aku mau melangkahkan kakiku kedapur tapi ucapan salam dari pintu depan mengalihkan perhatianku. senyum manis tercetak dari bibir sang empu yang menenteng kresek putih berisi pesananku
" dari mana? " ketusku setelah dia tiba dihadapanku
tanpa memperdulikan pertanyaanku dia membimbingku menuju dapur dan menuntunku untuk duduk dikursi meja makan
" abis beliin pesanan kamu sayang " jawabnya setelah menuangkan bubur kedalam mangkuk
" kok lama banget? macet? " nada bicaraku makin tidak bersahabat mendengar jawabannya
" fiuuh, maaf ya kalau nunggu lama tadi keburu udah antri makanya saya nunggu bentar eh taunya ketemu ardi bawa keluarganya makan disana ya sekalian ngobrol aja sama mereka sambil nunggu pesenan kamu jadi " tuturnya
" ngapain ardi disana? " aku masih belum puas dengan jawaban fahriza
" ya makan buburlah sayang. nggak mungkin kan numpang nambal ban "
" nggak lucu. lagian jauh banget makan bubur sampe kesitu. nyasar? "
" ssss... mereka abis nginep di rumah kakak sepupunya lidya, yang komplek rumahnya tetanggaan sama komplek disini " jawabnya lembut
" awas kamu kalau bohong " sarkasku tajam dengan sorot mata elang
dan bisa aku dengar fahriza lagi lagi hanya menghelas nafas beratnya
" suapin! " titahku ketika bubur ayamnya sudah mulai hangat akibat ditiup terus sama dia saat kami adu mulut tadi
" seriusan? "
" kenapa? nggak mau? oohh... kamu lebih suka nyuapin selingkuhan kamu gitu. atau jangan-jangan tadi kamu nemuin selingkuhan kamu ya makanya lama, ketemu ardi itu hanya kamu buat sebagai alibi " sinisku menjawab tanggapan fahriza yang kurasa seperti enggan menuruti kemauan ku
" ya Allah nggak gitu fi... biasanyakan kamu malu kalau saya mau nyuapin kamu dimeja makan takut diperhatiin sama bik nini atau bik wari lah. " ujarnya mulai menyedokkan bubur kearah mulutku
" emang kenapa kalau aku minta disuapin sekarang? salah? kalau aku udah nggak malu sama mereka itu salah gitu? "
" enggak sayaaaangg.... kamu mana pernah salah. saya yang salah. udah ini makan dulu nanti keburu dingin " wajahnya terlihat lelah menghadapi sikapku yang pencemburu kayak gini
" ck ini kenapa pake daun bawang sih. nggak kamu pisahin? " seruku saat melihat daun bawang berenang dalam buburku liatnya aja udah eneg apalagi kalo aku makan
" kayaknya mbak mbak tadi lupa deh buat pisahin daun bawangnya " ujarnya sembari memisahkan daun bawang dari dari dalam sendokku ke plastik bubur yang masih tergeletak dimeja makan
aku menyuap kasar sendok yang berisi bubur didepan bibirku
baru empat sendok buburnya masuk kedalam mulutku tiba tiba aku merasakan perutku mulas
sebisa mungkin aku menahan sakit pada perutku tapi lama kelamaan semakin menjadi. aku mencekram kuat daster yang kupakai ini " aakhhh... "
eranganku sukses membuat fahriza mengangkat pandangannya dari mangkuk bubur ditangannya karena aktivitas memisahkan daun bawang dari dalam bubur membuat dia tak memperhatikan ku yang kesakitan dari tadi
" fi, kamu kenapa? " tanya nya panik lalu meletakkan mangkok bubur keatas meja
" aakkhhh... sakit bang... " teriakanku membuat seisi rumah berlari mendekatiku dimeja makan
" aduh den, non fifi kayaknya mau lahiran " ujar bik nini juga panik
aku tak dapat lagi melihat sekelilingku karena rasa sakit yang menguasaiku membuatku rasanya ingin kehilangan kesadaran. tak lama aku merasa tubuhku melayang, aku mencoba membuka mata dan mendapati raut khawatir fahriza yang membopongku.
ini benar-benar sakit
melebihi sakitnya saat haid
" abang.... hikss.... sakiiit.... " erangku karena tak tahan dengan rasa sakit dari perutku
" sabar ya sayang, bentar lagi kita nyampe rumah sakit " balas fahriza yang sedang menyetir mobil
" hiksss.... bang fifi nggak kuat hikss... sakiiit bang hah hah.... ngeeh... "
" non, jangan ngedan dulu non!! " ucap bik nini panik yang mengusap pelan perutku
aku baru nyadar kalau ada bik nini disampingku
" kamu tahan bentar ya sayang ini kita udah nyampe parkiran " sambung fahriza dari depan
tak lama aku merasakan mobil sudah berhenti bergerak detik berikutnya tubuhku kembali melayang kemudian berbaring pada sebuah tempat.
dapat kurasakan genggaman erat di tanganku dan iringan beberapa orang yang berlari menyeret tempat yang ku baringi ini.
" bang za... sakiit... " suaraku makin melemah
" kamu harus kuat sayang. tahan ya.. "
tak lama pandangaku makin buram dan kekuatanku makin melemah
hingga akhirnya pandanganku berubah jadi gelap tapi aku masih bisa mendengar suara fahriza dan seorang pria entah siapa yang memanggilku namun lambat laun makin mengecil dan hilang
♡♡♡♡♡
oke jan buly ane yak soal beginian
ini juga hasil introgasi sama emak gimane sakitnye melahirkan hehehe....