LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
DIA LAGI



karena ini masih pagi jadi kuputuskan untuk membelikan lufita bubur dulu diluar mumpung dia juga masih tidur. dedaunan masih basah akibat tetesan embun yah masih sangat pagi untukku keluar, aku pikir nggak apa apalah ninggalin dia sebentar,


proses beli buburnya juga nggak memakan waktu karena tidak perlu antri mungkin masih terlalu pagi jadi peluang beli nya cepat.


saat aku sedang berjalan di lorong menuju ruangan lufita samar kudengar suara benda pecah segera kupercepat langkahku. suaranya terdengar dari ruangan lufita


saat aku sudah membuka pintunya kulihat lufita jatuh dari ranjang, dan pecahan gelas berserakan dilantai


" bang kenapa kaki fifi nggak bisa digerakin? " matanya menatapku tajam


tanpa memperdulikan pertanyaanya, ku gendong tubuhnya untuk kembali keranjangnya. ku putuskan untuk tak memberitahunya perihal kondisi kakinya, aku tidak tega melihatnya harus kembali berurai air mata meratapi keadaan yang sebenarnya


" seharusnya kamu nggak perlu turun, kalau perlu sesuatu pencet aja tombol diatas ranjang. maaf saya tadi ninggalin kamu. makan dulu ya saya udah beliin kamu bubur "


" jangan alihkan pembicaraan. jawab bang? " tanya tegas matanya sudah mulai tergenang air


" bang jawab, kenapa kaki aku nggak bisa digerakin? " teriaknya


" kamu lumpuh "


dua kata yang berhasil membuatnya mematung. " nggak mungkin " itulah yang terus dia ucapkan sampai membuatnya membimbing kembali kakinya turun dari ranjang untuk menyentuh lantai. berulang kali aku mengehentikannya sampai pada akhirnya dia mendorongku


bugh


kesekian kalinya tubuhnya jatuh karena kakinya tak mampu menopang


" fi.... "


" nggak, aku nggak mungkin lumpuh " sergahnya tajam dengan deraian air mata yang mulai membasahi pipinya


bugh


sekali lagi tubuhnya jatuh tanpa bisa kucegah.


karena tak tahan melihat dia menyiksa dirinya sendiri dengan terus memaksan kakinya untuk berdiri.


akhirnya kuangkat tubuhnya untuk berbaring diranjang walaupun aku harus menerima dengan berbagai pukulan dan pekikan dari lufita agar aku menurunkannya.


" JANGAN PEGANG " pekiknya saat aku mencoba untuk memeluknya


" keluar "


" fi saya.... "


" KELUAR "


seiring dengan teriakan lufita dokter tara masuk keruangan diikuti beberapa suster dibelakangnya " sebaiknya anda keluar dulu " saran dokter tara didepanku


sebelum aku menutup kembali pintunya, kulihat lufita masih memberontak tak mau dipegang karena susah ditenangkan akhirnya dokter menyuntikkan obat penenang pada selang infus lufita. pedih rasanya melihat lufita seperti ini, semoga suatu saat dia bisa ikhlas.


setelah menunggu lama diluar akhirnya dokter tara keluar dari ruangan dan memperbolehkan ku untuk menemui lufita


bukan deraian air mata lagi yang kulihat saat aku masuk dalam tapi mata yang teduh dan tenang sedang tertutup sempurna. membuat sedikit kedamaian yang selama ini sirna datang kembali.


jika boleh berandai aku ingin memutar waktu, aku tak akan meninggalkannya hari itu, sebesar apapun kerugian yang aku dapatkan karena tak menemui klienku aku tak peduli. keluargaku lebih penting dari semua itu. jika boleh menangis aku ingin menangis saat ini jika boleh rapuh mungkin aku sudah rapuh.


" tapi tak ada gunanya menyesal atau saling menyalahkan, semuanya sudah diatur, dan jalan takdir yang sudah ditentukan lewati tantangan walau dengan berjalan diduri tajam semua akan berlalu dengan indah "


seketika kata kata rija terlintas di ingatanku ketika aku menangis melihatnya akan melakukan kemotrapi waktu itu.


ya semua akan indah pada waktunya


aku tak berani membuka suara hanya untuk menyapanya, aku tau sekarang dia butuh sendiri untuk menenangkan hati dan pikirannya untuk menetralisir kesedihan akan kenyataan pahat ini. biarlah dulu dia tenang


setelah bermenit menit hening akhirnya ponselku bergetar menciptakan sebuah suara namun masih tak membuat lufita bergeming,


" ya? "


"........ "


" saya kesana sekarang " tegasku dengan rahang yang mulai mengeras


tak lama aku kembali mengetik kontak telfon untuk menghubungi ibu, agar menunggui lufita lagi karena aku perlu mengurus sesuatu. beruntungnya ibu sudah berada di koridor dekat ruangan lufita.


••••••••••


BUGH


satu pukulan mendarat di pelipis laki laki gila didepanku ini, bukan permintaan maaf atau wajah bersalah saat didepanku melainkan seringai licik yang muncul seakan dia berhasil menyiksa istriku


BUGH


" maaf pak ini kantor polisi tolong jaga sikap " ujar seorang polisi yang menarik pria gila didepanku untuk menjauhkan kami


" sabar za, ini kantor polisi jangan buat keributan " ujar lufian manjauhkan ku dari laki laki tidak waras didepanku ini


" emosiku juga sama kayak kamu, kalau ini bukan kantor polisi udah abis dia " sarkas lufian disampingku seraya menenangkanku


emosiku rasanya meledak saat itu juga ketika melihat dia masih bisa tersenyum mengejek setelah dua pukulan mendarat di wajahnya kalau bukan karena dikantor polisi bisa kupastikan bahwa dia sudah kehilangan kesadaran atau bahkan juga lumpuh saat ini menggantikan posisi lufita. setelah apa yang dia lakukan pada lufita rasanya sudah tak ada lagi toleransi untuknya


" hehe... gimana hadiah dari gue menarikkan? " ujarnya disela ringisan kecil menahan perih disudut bibirnya akibat pukulan dariku tadi


" ah, tapi sayang kenapa bukan lu aja ya yang gue lenyapin kan kalo lu udah nggak ada gue bisa ambil lufita " sambungnya seraya melampirkan mimik penyesalan karena bukan aku yang jadi sasarannya


" BRENGSEK " teriakku didepan wajahnya tapi keburu ditarik lufian sebelum aku kembali mendaratkan pukulan di tubuh pria gila itu


" hahaha.... santai men, perasaan gue udah pernah bilang deh sama lufita tapi kayaknya nggak dia sampe in ke elu. mungkin dia lupa kali ya? " tukasnya cengengesan


" kalo gue nggak bisa milikin lufita, maka lelaki manapun juga nggak bisa milikin dia. lagian gue juga udah kasi tau lu kalo gue nggak akan biarin kalian bahagia " ujarnya tajam membuat dadaku naik turun amarahku memuncak mendengar perkataan bodohnya itu.


karena tak dapat menahan amarah lagi, aku mendaratkan pukulan bertubi tubi diwajah maupun perutnya hingga membuat beberapa polisi juga lufian kewalahan melerai kami. dia juga sempat melayangkan sebuah pukulan diwajahku untuk membuatku menyudahi pukulan diwajahnya


" HUKUM DIA SEBERAT BERATNYA ATAU SAYA SENDIRI YANG AKAN MENJATUHKAN HUKUMAN PADANYA "


bentakan ku diruangan introgasi itu meninggalkan gema membuat suasana yang semulanya gaduh karena ulahku kini hening dengan naunganku yang tertinggal disana


" bapak tenang saja, kami akan memberikan hukuman sesuai dengan kejahatan yang dia lakukan " ujar seorang polisi paruh baya didepanku dengan wajah tegasnya


selepas mengatakan itu beberapa polisi disana segera meringkus vino yang babak belur.


aku terduduk dilantai dengan diiringi air mataku yang juga ikut turun, aku menangis bukan karena perbuatan pria gila itu tapi bagaimana nasib lufita kedepannya apalagi jika dia tau bahwa orang yang pernah singgah dihatinyalah yang membuatnya harus duduk dan bergerak menggunakan kursi roda


" kenapa dia bisa bebas kemarin? " tanyaku pada lufian yang juga ikut duduk disampingku dengan bersandar di dinding belakan kami


" orang tuanya yang ngeluarin dia " jawab lufian seraya menghela nafas


" kali ini pastikan orang tuanya nggak bisa nolong dia. dia harus dihukum setara dengan keadilan untuk istriku "


" kamu tenang aja. "


" ini salah aku za, seharusnya dulu aku bisa jagain lufita, seharusnya aku tau siapa saja orang yang dekat dengannya. jadi aku bisa jauhin dia dari laki laki brengsek kayak vino. bahkan nyebut namanya aja bikin emosiku kembali naik" lanjutnya


" aku nyesel za, selama ini aku sibuk ngebenci adikku sendiri sampai akhirnya dia jadi kayak gini. "


" udahlah yan, nggak ada yang perlu disesali seiring berjalannya waktu akan ada hikmahnya " tukasku menenangkannya padahal aku sendiri belum tenang bagaimana takdir akan membawaku dan keluargaku kedepannya


aku sama lufita harus bisa ngelewatin ini semua. aku yakin dia bisa kembali seperti semula aku percaya Allah pasti punya rencananya sendiri untuk memberikan hikmah pada keluargaku


♡♡♡♡♡


.


.


.


maaf baru bise up ye lorr


maklum nak ngadep ujian jadi banyak fokus kebuku dahulu


thanks buat yang masih setia nunggu dan yang udah mampir di novel saye


jike ade keringanan hati jan lupa klik vote dan like nya


tinggalkan komentar positive supaye saye maken semangat


thanks again for you all


i like


i love


and i miss you my readers😂


jan marah e kalo saye lamak up nye


dan maaf banget saye tak balas komen korang satu persatu


tapi tenang aje saye bace kok komen korang semue satu persatu


one more thanks for you all ☺️