
aku menatap nanar jalanan dibalik kaca jendela ini, mobil kami melaju menembus hiruk pikuk lalu lintas ibu kota pagi ini.
perlahan air mata menggenang di pelupuk mataku, dadaku terasa nyeri setiap mengingat percakapan ku dengan fahriza malam tadi.
" non " panggil bik nini disampingku
" non kenapa? " lanjutnya seraya mengusap bahuku
" aku nggak papa bik " bohongku seraya mengulas senyum padanya
pagi ini aku ingin menenangkan pikiranku ke taman kota, ditemani bik nini, bik wari dan pak maman. supir dirumah ibu yang ku telfon pagi tadi agar bisa mengantarku ke taman kota.
aku tak terbiasa menggunakan transportasi online makanya hari ini aku meminta ibu agar mengizinkan pak maman mengantarku ke taman. sebenarnya tadi ibu juga ingin ikut tapi hari ini dia ada urusan jadi tidak bisa ikut denganku.
jangan tanyakan fahriza, pagi ini bahkan dia berangkat kekantor sebelum aku bangun.
" maaf non kalau bibik lancang, tapi jika non ada masalah bibik siap menjadi pendengar setia untuk non. " ucapnya yang duduk disampingku
sedangkan bik wari duduk didepan disamping pak maman.
lagi lagi aku hanya mengulas senyum menjawab pertanyaannya
▪︎
▪︎
▪︎
hamparan danau didepanku membuatku sedikit tenang, ku tutup mataku merasakan sengatan sang surya pagi. ku lupakan sejenak apa yang terjadi padaku akhir akhir ini. biarkan sengatan sang mentari pagi mensterilkan saraf-sarafku, biarkan cahayanya membuatku lupa ingatan walaupun cuma sebentar.
namun seberapa banyak pun aku mencoba melupakan apa yang barusan terjadi padaku maka putaran memori itu semakin menari diingatan ku.
masih terekam jelas bagaimana percakapan ku dan fahriza malam tadi perihal wanita itu.
dia sama sekali tidak menjawab semua pertanyaan yang kulontarkan. bahkan sebelum aku memulai pembicaraan inti, aku sempat memancingnya dengan beberapa pertanyaan yang menjurus kesana. tapi apa yang kudapat fahriza seolah tidak peka akan arah pembicaraanku. hatiku seperti diiris setipis mungkin ketika aku bertanya tentang perempuan itu. tapi sayangnya aku hanya mendapatkan jawaban dari angin. tau maksudnya jawaban dari angin? ya fahriza bungkam seribu bahasa hanya semilir angin malam yang terdengar menjawab pertanyaanku.
hingga kami selesai makan dia yang membersihkan meja makan juga mencuci piring. setelah selesai dia berlanjut mendorong kursi rodaku masuk kedalam kamar.
tak ada percakapan apapun diantara kami hingga dia mengangkat ku dan meletakkan ku secara perlahan keatas kasur. dia terus bungkam sampai nafasnya terdengar teratur.
ntah perasaanku saja atau memang benar adanya, ketika aku mulai terlelap akan kantuk yang menyerang setelah bermenit menit menangisi sikap fahriza samar aku mendengar dia berbicara padaku
" trust me, i'm promise secepatnya akan segera saya selesaikan " hanya inilah yang bisa kutangkap dari pendengaranku atas perkataan fahriza malam tadi aku juga merasakan sebuah kecupan dikeningku sangat lama entahlah apa itu nyata atau hanya mimpi.
hatiku benar benar ditusuk melihat sikap dingin fahriza. apakah semua yang dikatakan perempuan itu benar. bahkan sampai saat ini aku tidak tau siapa nama perempuan itu fahriza tidak mau menjelaskan semuanya padaku.
" non " panggil bik wari dibelakangku sembari menepuk bahuku
perlahan kubuka mataku untuk menyudahi kegiatan meditasi yang kulakukan.
" makan dulu yuk " ajaknya melempar senyum khas wanita paruh baya padaku
kujawab pertanyaannya dengan anggukan kecil. perlahan dia mendorong kursi rodaku mendekati bik nini yang sedang menyiapkan makanan di atas sebuah kain. aku sengaja mengajak dua wanita paruh baya ini untuk menemaniku ke taman ini untuk menetralkan pikiranku yang masih kalut yang terlalu menyerangku. anggap saja ini piknik walau ditemani dengan hati yang tak karuan.
" pak maman mana? " aku baru menyadari ketidakhadiran pria paruh baya itu diantara kami.
" katanya mau cari warung kopi dulu non, soalnya dia belum ngopi pagi ini " jelas bik nini.
" oh, em kita makan duluan atau tunggu pak maman nih? " tanyaku
" duluan aja yuk non, bibik udah laper. " balas bik nini membuat kedua sudut bibirku sedikit tertarik
" hus kamu nih ni, nggak boleh gitu biar non aja yang nentuin " sanggah bik wari memperingati bik nini
aku hanya memakan roti dengan olesan selai coklat saja. aku tidak memiliki nafsu makan saat ini. sampai bik nini dengan bik wari selesai makan saja rotiku masih setengah. dengan susah payah aku menghabiskan roti ditanganku ini.
orang yang ditunggu akhirnya datang, pak maman datang dengan sekantong buah ditangannya. ternyata bik wari yang memintanya membeli buah, dia tau jika setelah makan apapun aku pasti selalu mengakhiri makanku dengan buah. karena terburu buru tadi dia lupa mengambil buah dilemari pendingin.
.
.
.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
aku masih belum puas melihat taman ini, akhirnya aku minta tolong dengan bik nini agar mendorong kursi rodaku ke tepi danau disebelah kiri, disana lebih nyaman sepertinya.
setelah mengantarku aku memintanya untuk meninggalkanku sendirian.
" lufita " sapa sebuah suara mengalihkan atensiku dari hamparan danau didepanku
" ah, saya memang tidak salah orang. ternyata mata saya masih berfungsi dengan baik " ujarnya lalu mendaratkan bokongnya di hamparan rumput swiss yang menghijaukan sekeliling taman.
" om vicky " agak sedikit terkejut juga karena bertemu dengannya seperti ini, aku tiba tiba teringat akan pesan fahriza malam itu dimana aku harus menghindari om vicky.
" selamat pagi " ucapnya ramah.
aku hanya mengangguk kecil menjawab pertanyaannya.
semula aku ingin menggerakkan roda kursi ini namun perkataanya membuatku mengurungkan niat. pria ini ramah bahkan tidak terdeteksi oleh mataku atas gerak geriknya untuk mencelakaiku. lalu kenapa fahriza melarangku untuk sekedar bertegur sapa dengannya.
" bagaimana kabarmu hari ini? " tanya nya memecah keheningan beberapa saat yang lalu
" alhamdulillah baik " aku sedikit mengulas senyum
" saya fikir kamu yang bersama fahriza tadi " ujarnya tiba tiba
" maksud om " aku sedikit mengernyitkan dahi mendengar penuturannya
" saya tadi mampir kekantornya, hanya ingin sekedar menyapa saja tapi saat tiba didepan ruangannya saya ingin meminta izin dengan sekertarisnya tapi meja sekertarisnya kosong " jedanya lalu melempar pandangan padaku
" lalu tak sengaja saya mendengar suara tawa perempuan saya kira itu kamu jadi saya mengurungkan niat saya untuk bertemu dengannya. saya tidak ingin mengganggu kalian " sambungnya lalu kembali menolehkan wajahnya kedanau didepan kami
setahuku dara sudah mengundurkan diri karena setelah menikah suaminya melarangnya untuk bekerja dan yang menggantikan dara menjadi sekertarisnya fahriza itu mas ardi. tapi kenapa om vicky mendengar suara perempuan, siapa perempuan itu. mungkinkah perempuan yang sama.
" tapi ternyata kamu disini, mungkin rekan kerjanya kali. tidak usah kamu fikirkan ucapan saya tadi. " lanjutnya
" om vicky sendiri kenapa bisa ada disini? "
" saya hanya ingin jalan saja sebelum kekantor dan digeluti dengan setumpuk pekerjaan yang membosankan " candanya sembari tertawa kecil
" kalau gitu saya permisi dulu. nanti saya bisa di kasi sp sama karyawan saya sendiri. " lanjutnya kemudian berdiri seperti biasa percakapanna selalu diakhiri dengan candaan
" duluan yah "
aku hanya tersenyum tipis menjawab perkataanya.
ya Allah apalagi ini. apa semua yang dikatakan om vicky benar.
fahriza aku berharap semoga semua perkataan dari om vicky bohong.
tidak bisa dipungkiri air mata sudah memupuk pandanganku. orang cengeng seperti ku hanya bisa mengandalkan air mata untuk melawan rasa sakit.