
bentar lagi keluarga calon suami pilihan papa akan bertamu kerumah dan membicarakan perjodohan kami lebih lanjut. sampai saat ini aku tidak terima perjodohan yang hanya disetujui oleh orang tuaku, karena akumasih mengingat bang ija laki laki yang berjanji akan menemui ku setelah ia menyelesaikannya sekolahnya di London. dia adalah laki laki yang membuatku nyaman ketika didekatnya walaupun hanya dua hari ntah kemana ia sekarang aku yakin ia tak mungkin mengingkari janjinya padaku.
waktu sudah menunjukan pukul 18.40 dan aku masih menutupi diriku dengan selimut saat mama masuk ke kamarku ia langsung membangunkan ku dan menyuruhku untuk segera mandi karena keluarga laki laki sebentar lagi akan tiba dirumah kami.
setelah selesai mandi dan berpakaian mama yang merias diriku di depan cermin ia memoleskan bedak, eyeshadow listik dan lainnya dan ia juga yang menata rambutku.
sebenarnya mama sudah beberapa kali menyuruhku mengenakan hijab namun selalu aku abaikan hingga akhirnya aku terpaksa berjanji didepannya dan tania bahwa aku akan menggunakan jilbab ketika aku menikah nanti.
"wah cantiknya" sapa sebuah suara dari sampingku. ketika aku menoleh kulihat kak rere sedang menatapku langsung ku peluk tubuh mungil kaka rere
"kapan kakak datang?" tanyaku pada kakak ipar ku itu. kak rere adalah istri kakak sulung ku kak lutfi sedangkan kakak ku yang tengah kak lufian belum berkeluarga saat ditanya oleh papa mengenai pendamping hidup jawabannya selalu sibuk ia belum ingin ada yang menganggu kesibukannya, dan sekarang ia masih di Makassar bekerja di sebuah perusahaan ternama di sana
" tadi saat kamu masih di dandan sama mama" jawabnya
"acil mana?" tanyaku saat tau kak rere tidak bersama acil anak pertamanya yah otomatis keponakan ku
"dia sama ak lutfi" jawabnya lembut, aku suka saat mendengarnya bicara intonasinya terdengar sangat enak di telinga maklum dia orang sunda jadi wajar kalau bahasanya sangat halus.
tanpa terasa air mataku kembali meleleh dan membuatnya jadi bingung
" loh kenapa?" tanyanya bingung
aku hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepala ku
" jangan nangis atuh kan kasian mama udah dandanin anaknya yang cantik ini trus luntur cuma gara gara air mata" ucapnya tersenyum sambil menghapus air mataku dengan sponge foundation. mama sudah dari tadi keluar meninggalkan kamarku ketika kak rere ke kamarku dan menyampainkan bahwa keluarga calon suamiku sudah ada diruang tamu. aku hanya tersenyum mendengar kalimat kak rere sebenarnya batinku ingin meraung mengingat perjodohan ku ini.
terdengar ketukan di daun pintu kamarku ketika kak rere membukanya ternyata kak luti yang memberitahukan bahwa papa menyuruhku turun untuk bertemu laki laki yang akan menjadi suamiku. tak menunggu lagi kak rere langsung menggandeng tanganku dan membawaku turun menyusuri anak tangga dan menemui keluarga yang sudah sedari tadi mengobrol dan menunggu kami.
saat tiba di ruang tamu papa langsung menyambut ku dengan senyuman dan menyuruhku duduk disampingnya.
kulihat sekilas satu persatu orang yang berada di sana setelah itu aku langsung menundukkan pandanganku ini bukan karena larangan atau apapun ya aku menundukkan pandanganku karena aku tak ingin melihat wajah orang yang membuat senyum ku hari ini hilang.
" fi" sapa papa memecah keheningan diruang tamu. aku menoleh pada papa dengan wajah datar tanpa ekspresi, tapi papa tetap tersenyum padaku
" perkenalkan ini om ruli dan tante sinta " tutur papa menunjukan seorang laki laki paruh baya sepertinya dan seorang wanita muslimah paruh baya seperti mama mereka tersenyum sangat ramah padaku." dan ini nak Fahriza calon suamimu" lanjut papa
aku tak bergeming atau menoleh orang yang namanya barusan disebut papa. yang aku tau aku tak menginginkan dirinya apalagi bersanding dengannya
tak lama setelah perbincangan kami selain aku karena dari tadi tak ingin berbicara dengan siapapun, papa mengajak om ruli dan tante sinta juga fahriza untuk makan bersama dimeja makan awalnya mereka sedikit sungkan lagi pula sebelum kesini mereka juga sudah makan tapi karena telah dibujuk papa akhirnya mereka mengiyakan ajakan papa untuk dinner bersama.
"saya ingin bicara dengan fahriza berdua"kata ku ketika mereka hendak pergi ke meja makan dan lebih kerennya lagi semua menatapku heran sekaligus tak percaya "huh
apa seburuk itukah permintaan ku kepada mereka" umpat batinku
" apa kamu sudah yakin dengan perjodohan ini" ujar ku tanpa basa basi
"insya Allah" jawabnya singkat tanpa menoleh kearah ku dia hanya memperhatikan ponselnya yang masih menyala di genggamannya
" apa kamu tau aku orang yang seperti apa" tanyaku menyudutkannya
"seperti apa pun dirimu, jika kamu telah ditakdirkan Allah untuk bersamaku maka aku harus menerimanya" jawaban yang tak kuduga kukira manusia kutub ini akan terpojok dengan pertanyaan ku jika begini malah aku yang terpojokkan
"i'm not a virgin" ucap ku tegas. entah dari mana asalnya datang kata kata itu tapi yang pasti aku telah membuat manusia kutub itu diam dan dingin menjadi es seperti semula
rasanya aku ingin tertawa penuh kemenangan melihatnya terdiam tanpa kata dan ekspresi yang jelas. dan aku yakin 100% manusia kutub itu pasti akan membatalkan perjodohan ini. masalah penjelasan ucapan ku tadi akan ku atasi setelah ia membatalkan perjodohan kami. setelah puas melihatnya mematung aku segera mengajaknya menemui yang lainnya di meja makan.
selama dimeja makan hanya suara garpu dan sendok yang beradu di atas piring selain itu kami menikmati makanan dengan begitu tenang apalagi diriku rasanya aku ingin terbahak bahak melihat ekspresi datar fahriza setelah mendengar penuturan ku.
saat aku akan memasukan suapan terakhirku ke mulut aku tak sengaja menoleh ke papa dan papa mentap ku heran mungkin karena senyumku yang selalu mengembang saat dari ruang tamu tadi.
saat ini kami sudah di ruang tamu karena sudah selesai makan jadi yah lanjut ngobrol lagi tapi tak lama setelah itu om ruli pamit karena hari juga sudah pukul 21.50 yah sudah cukup lama juga mereka bertamu tapi sebelum mereka pulang fahriza membuka mulut dan bicara " eh kok aku jadi dag dig dug gini ya," ujar batinku " ah bodo amat kalau dia bicara ke papa apa yang aku omongin tadi gampang aku sudah punya jawabanya" sambung batinku dengan tersenyum getir
"ehm om tante boleh saya bicara sebentar" tambahnya lagi setelah semua mata tertuju padanya
papa tertawa kecil mendengar permintaan fahriza " bicaralah nak tak perlu sungkan"
"saya ingin melamar lufita dalam dalam tiga hari ini dan ahad nanti saya ingin pernikahan ini segera dilangsungkan" ungkapnya pada papa sontak keluarga yang mendengarnya tercengang bagaimana tidak si manusia kutub itu kini membuat pernyataan mengejutkan tanpa diduga. jangan tanyakan bagaimana keadaan ku sekarang aku yang lebih syok dari pada mereka semua aku rasa oksigen tiba tiba saja menghilang hingga aku susah untuk mencari nafas.
" baiklah nak om akan segera melangsungkan pertunangan dan pernikahan kalian secepatnya" balas papa bahagia dan yang lainnya hanya tersenyum mendengar pernyataan dari dua orang lelaki ini
"hemh,saya jadi penasaran apa yang mereka bicarakan tadi" ujar papa menggoda fahriza
"iya di, aku juga penasaran apa yang membuat mereka menyepakatinya secepat ini" balas om ruli membuat manusia kutub itu hanya tersenyum getir
sedangkan aku hanya bisa berdiam diri dengan ekspresi kecewa namun tak berani mengungkapkan aku tak mungkin menolaknya dan membuat papa malu dihadapan teman masa kecilnya itu. setelah keluarga om ruli membelakangi kami untuk keluar menuju mobil tanpa ba bi bu lagi aku berlari menuju kamar dan menangis sejadi jadinya aku kecewa sama mereka semua aku sangat kecewa.
bagaimana bisa mereka menyetujuinya tanpa persetujuan dari ku dan papa aku sangat kecewa pada papa diluar mama terus menggedor gedor pintu kamarku tanpa ku hiraukan "PERGIII.... aku pengen sendiriiii" pekik ku dari kamar yah kalau kalian bilang aku kenak kanakan aku setuju inilah sifat asliku tapi bagaimana jika kalian di posisiku menikah dengan orang yang tidak kalian impikan ini alasan kenapa aku tidak percaya takdir dan aku tidak percaya doa merubah segalanya, buktinya aku malah dapat kejutan yang sangat aku benci dari sebuah doa dan harapan.
"arrggghhhh...." teriak batinku.
dan lebih membuatku tidak habis fikir bagaimana bisa fahriza berpura pura seakan ia tidak tau dengan kebohonganku tadi dan bagaimana bisa ia mengambil keputusan secepat ini apa ia ingin mempermainkanku,jika aku memang harus menikah dengannya aku tak sudi untuk mencintainya, akan kubuat ia tidak tahan denganku dan men ceraikanku. rutuk ku sambil terus menyucurkan air mata.
😘makasih banget buat yang udah nyempetin diri baca novel saya, hehehe kalian baca karya saya aja saya udah seneng banget. sekali agik makaseh sangatlah ye..😁love you💕💕