LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
IZINKAN



Bruk


sebuah pelukan menghampiriku ketika aku sedang melipat mukena. aku tau siapa yang memelukku tapi yang jadi pertanyaanku ada apa dengannya kenapa tiba-tiba dia seperti ini.


apa karena rasa bersalahnya?


tak lama kurasakan bahuku basah. tunggu, apa dia menangis tapi kenapa? kenapa dia menangis. aku masih berdiam diri tak menanggapi tangan kekar yang melingkar di dadaku ini, ku biarkan apa yang ingin dia lakukan. aku masih enggan untuk membalasnya.


" doakan saya agar segera menyelesaikannya " ucapnya membuat ku hanya bisa menghela nafas, aku nggak ngerti sama perkataanya akhir akhir ini. dia selalu mengatakan akan menyelesaikan, menyelesaikan apa?


" kamu udah sholat? " perlahan aku menurunkan egoku sebuah hubungan semakin keruh jika ego setiap pasangan tinggi. maka dari itu aku mencoba mempercayainya


hanya gelengan yang kudapatkan atas pertanyaanku.


" kalau gitu abang sholat dulu, aku mau nyiapin makan malam " ujarku segera meletakan mukena ke kasur.


bukannya melepaskanku dia malah mempererat pelukkannya aku masih tidak habis fikir ada apa dengannya. " bang? " panggilku agar dia melepaskan pelukkannya.


tak lama mendengar panggilanku dia melepaskan tautan tangannya dari dadaku. aku berbalik menuju pintu kamar segera menuju dapur tanpa menoleh kearahnya aku masih belum mampu untuk menatapnya, entah kenapa hatiku diliputi rasa bimbang yang mulai menyerang.


aku seakan ragu untuk membencinya, kejadian tadi siang membuatku takut akan kenyataan.


tapi tak bisa dipungkiri jika perkataan tania juga mempengaruhi otakku jadi sekarang aku akan mengikuti kata hatiku yang berkata jika fahriza tidak bersalah. aku meninggalkan dulu putaran logikaku kata hati akan selalu benar jika menyangkut perasaan, hanya ini yang bisa ku lafalkan untuk membuatku mencoba kembali menaruh kepercayaan untuk fahriza.


disaat kami selesai makan pintu rumah kembali diketuk, kali ini siapa lagi yang akan memberiku kejutan pahit. aku harus mempersiapkan mata dan hatiku agar tegar.


brugh


sebuah pukulan menghantam wajah fahriza ketika pintu sudah terbuka, aku tak bisa percaya atas apa yang kulihat saat ini. kak lufian memukul fahriza, ku percepat gerakan rodaku untuk menghampiri fahriza yang sudah tersungkur ke lantai. aku mencoba meraih tubuh fahriza dengan diiringi deraian kristal bening.


apalagi ini kenapa semuanya semakin runyam


brugh


" KAK LUFIAN STOP " pekikku tak tahan melihat suamiku kembali tersungkur tanpa mau membalas pukulan kak lufian


" brengsek, setelah adik ku lumpuh kamu bisa semena mena gitu nyakitin dia ha " sentaknya dengan rahang yang mengeras


" ya Allah ada apa ini? " pekik ibu yang tiba tiba masuk kedalam rumah ditemani ayah dibelakangnya


" lufian ada apa? " tanya ayah mencoba mengendalikan emosi kak lufian yang sudah tersulut


" ceraikan lufita " titahnya tegas dihadapan semuanya yang ada disini.


semua yang sedang digandrungi rasa khawatir dan kesal dalam ruangan ini kembali dibuat terkejut dengan ucapan kak lufian barusan. bahkan aku masih mencoba kembali mencerna ucapan kak lufian barusan.


kak lufian berjalan kearahku lalu menarik kursi rodaku menjauh dari fahriza " kalo kamu tidak bisa membahagiakan adikku, biar aku sendiri yang membahagiakannya. " sarkasnya tajam


" enggak, sampai kapanpun saya nggak akan melepaskan lufita. " tegas fahriza membuat rahang kak lufian kembali mengeras.


dia kembali berniat melayangkan pukulan pada fahriza namun niatnya gagal karena cengkalan dari tanganku.


" maaf om jika saya tidak sopan, tapi saya tidak bisa mentoleransi pria yang berani menghianati kepercayaan adik saya. apalagi wanita itu sampai hamil "


sudah kuduga berita ini pasti sampai ditelinganya, apa tania yang memberitahunya? tapi kurasa tidak mungkin. dia tidak akan seberani itu memberitahu kak lufian tentang masalahku tanpa persetujuan dariku.


tapi jika bukan tania lalu siapa, cuma dia yang tau akan masalah ini dan wanita itu. apa mungkin wanita berbisa itu yang memberitahu kak lufian tapi bagaimana bisa dia mengenal kak lufian.


ketika aku sedang bergelut dengan fikiranku aku tersentak sadar kalau kak lufian sudah menarik kembali kursi rodaku untuk keluar dari rumah ini


" tunggu " ucapanku membuat kak lufian menghentikan dorongannya


aku memutar kursi rodaku menghadap semua orang disana yang sedang menatapku menunggu perkataanku selanjutnya.


" aku nggak akan ninggalin fahriza, nggak ada yang bercerai, aku akan tetap disini bersamanya. " ucapku membuat mereka tercengang bahkan bisa kulihat raut keterkejutan dari fahriza tapi tak lama kulihat setitik air mata jatuh dari pelupuk mata sebelah kirinya.


" fi, kamu sadar apa yang sudah kamu ucapkan ha? " sanggah kak lufian tidak terima akan keputusanku


" dia udah nyakitin kamu fi, bahkan... " ucapannya terhenti ketika aku menatap dalam manik matanya.


" kak. izinin fifi jadi istri yang berbakti sama suami fifi ya. fifi akan kasi izin ke fahriza jika memang dia akan menikah lagi "


" ayolah fi. kakak nggak bisa liat kamu kayak gini "


" nggak kak, fifi bakalan baik baik aja. fifi yakin fifi akan bahagia dengan keputusan fifi. "


.


.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


ku usap pelan sudut bibir yang robek milik pria didepanku ini, pukulan kak lufian berhasil membuat lebam wajah tampannya. perlahan ku kompres lebam di tulang pipi kanannya itu. dia tidak meringis sama sekali ketika aku menyetuh lukanya dengan air, bahkan yang dia lakukan hanya menatap wajahku.


permasalahan tadi ditengahi oleh ayah yang mencoba memecahkannya, sampai saat ini fahriza masih bungkam mengenai alasannya yang belum mengonfirmasi siapa wanita itu. sudahlah tidak perlu bahas itu


" aku hanya butuh kepastian dari kamu secepatnya, mengenai siapa wanita itu " ucapku sembari mengoleskan salab pada lukanya


ternyata kak lufian tau itu dari vara dia benar-benar nekat untuk memisahkan ku dari fahriza. dari sini aku semakin yakin jika tindakan ku tidak salah jika aku memilih masih menetap disamping fahriza.


perkataan tania bisa jadi benar mungkin wanita itu memojokkan fahriza agar mau menanggung jawabi hasil dari perbuatan tercelanya itu.


baiklah aku akan menunggu fahriza mengonfirmasi alasannya padaku, kenapa dia tidak menyangkali tuduhan wanita itu. saat ini aku hanya bisa menunggunya.


" saya sayang kamu fi, " lirihnya tiba-tiba membuatku menghentikan gerakanku menyimpan kotak p3k ke laci nakas.


aku mencoba menghalau emosiku, ingin sekali aku memeluknya menumpahkan tangisku tapi entah kenapa aku merasa harus menahan diriku untuk melakukannya. aku juga sayang bang sama kamu tapi sebelum kamu mengatakan yang sebenarnya padaku maka selama itu juga aku akan mengacuhkanmu.


kenapa kita selalu dihadapkan dengan masa yang sulit bang, kenapa takdir selalu berhasil memojokkan kita, kenapa jalannya harus berliku padahal kita mendaki puncak yang sama. lika liku bahtera diantara kita berdua terus diuji. begitu banyak pertanyaan bergelung diotakku yang bahkan tak bisa ku lontarkan karena aku tak tau siapa yang bisa menjawabnya.


baiklah, sepertinya aku memang harus mengikuti tunjuk arah yang diberikan takdir.