LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
KHAWATIR



hari demi hari berlalu, menit demi menit berganti, detik demi detik bertukar. seiring berjalannya waktu usia kandunganku juga terus bertambah membuat fahriza makin rewel mengenai kegiatanku. selalu khawatiran sama kondisiku dengan perut yang makin besar ya secara usia kandunganku sekarang masuk bulan ketujuh


ya aku faham dia protektifan kayak gitu nggak mau aku dan bayiku kenapa napa


" nanti pulangnya jangan kemana mana tunggu saya " pesan sang sepuh setelah aku mencium punggung tangannya


dan aku hanya mengangguk menjawab pesannya


" ingat jangan sampai kecapean, jangan lupa makan siang, kalo ada apa apa langsung telfon saya " sang sepuh kembali berpetuah padaku setelah mencium pucuk kepalaku haduh makin dah over protektifnya tuh


" ada lagi? "


yang ditanya hanya menjawab dengan senyuman manis yah ginsul mu bang za - bang za beneran bikin aku meleleh


kubalas senyumannya dengan senyum andalan ku yang kubuat semanis mungkin


" saya berangkat dulu, assalammualaikum "


" waalaikumsalam "


setelah memastikan mobilnya benar benar menghilang dari pandanganku barulah aku masuk kedalam rumah sakit waktu masih masa masa ngidam berat aku selalu pake masker kerumah sakit. eh ini masker yang aku maksud makser rumah sakit loh ya bukan masker yang bikin shining, shammering, spelendid. waktu itu aku selalu mual tiap nyium bau obat


tapi alhamdulillah mulai kandungan ku berusia 5 bulan pobia itu hilang sudah


" pagi dokter fifi " sapa suster lia yang berpapasan denganku


" pagi suster lia "


" gimana kabarnya hari ini? "


" alhamdulillah baik sus " jawabku sambil merapikan jilbabku yang sedikit terangkat


" yang sehat ya sayang " sambungnya sambil mengusap perutku


" makasih tante " balasku sambil menirukan suara anak kecil


" kalau gitu saya permisi dulu dok " ujar suster lia yang kubalas anggukan


setelah bertegur sapa dengan suster lia aku juga berlalu menuju ruanganku yang sudah tinggal beberapa langkah lagi huh makin hari makin berat aja bawa badan sendir eh salah sekarangkan bunda berdua sama kamu ya sayang


selama usia kandunganku makin tua pekerjaanku disini tidak banyak


bahkan aku beberapa kali membantu dokter nayra supaya aku tidak bosan ya walaupun melalui berbagai penolakan darinya


tanpa terasa sekarang udah masuk waktu istirahat saja. seperti biasa kegiatanku dan dokter nayra adalah kantin rumah sakit


ketika aku keluar dari ruangan tiba tiba frans, salah satu dokter kandungan dirumah sakit ini melintasi kami setengah berlari menuju ruang operasi sepertinya ada proses persalinan yang darurat kelihatan dari raut wajah keluarga pasien yang panik bercampur khawatir yang sedang menunggu didepan pintu ruangan


semoga pasien dan bayinya selamat dan sehat


aku hanya bisa bantu dengan doa


" dokter fifi " teriak dokter nayra di depan telinga ku


" astaghfirullah dokter nay bikin kaget aja " cerocosku kesal untung rumah siputku nggak bolong dengan teriakan toa dokter nayra


" hehehe.... maaf, abisnya dipanggilin dari tadi nggak nyaut. mikirin apasih "


" nggak mikirin apa apa. emangnya dokter nay mau curhat apa? "


" bukan mau curhat fifi koh, ini aku mau nanya kamu mau pesen apa buat makan siang kita ini "


" emm.... samain dengan dokter nay aja " pilihku dengan nyengir kuda


entah kenapa aku merasa khawatir pada bayiku setelah melintasi ruang operasi yang sedang mempertaruhkan dua nyawa tadi.


ya Allah berikanlah kesehatan dan keselamatan untuk keluargaku semoga kami semua selalu dalam lindunganmu


brugh


seorang pria bertubuh tinggi berpakaian dokter lengkap menghempaskan bokongnya ke kursi yang berhadapan depanku. dia menelungkupan wajahnya ke meja dengan beralaskan lengan kanannya.


" ada apa dokter frans, kok keliatannya kusut banget? " tanya dokter nayra yang duduk disampingku


dokter frans hanya menggelengkan pelan kepalanya, ya dia dokter kandungan yang tadi berlari melintasi kami dengan tergesa gesa.


dia mengangkat wajahnya pandangannya sayu terlihat raut kesedihan dari wajahnya


" saya gagal " ucapnya lirih membuatku dan tania menatapnya bingung


" maksud dokter? " tanyaku penasaran


" saya gagal nyelametin kedua pasien saya " terdengar helaan nafas lelah dari mulutnya


" tadi hampir aja saya ditonjok sama suaminya " sambungnya seraya menenggak mineral water yang tersedia di meja


" kok bisa? " dokter nayra yang nanya maklum dia mah selalu kepo


" jika saya diposisi dia mungkin saya juga melakukan hal yang sama. suami mana yang tahan melihat istri dan anaknya gagal diselamatkan " sahutnya lirih bisa dilihat raut kecewa dan kesal bercampur diwajah dokter frans


" maksud dokter ibu dan bayi itu meninggal? " aku masih tak percaya pasien itu telah tiada entah kenapa kekhawatiran tiba tiba menyelimuti perasaanku. aku tidak tau dari mana datangnya perasaan itu hingga membuat kaki tanganku dingin, aku merasa takut terjadi sesuatu pada bayiku


dia hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaanku


" ibu dan bayinya banyak kehilangan darah " tambahnya diiringi hembusn nafas


" entah kenapa hati saya juga ikut teriris melihat pasien saya yang tidak bisa saya selamatkan " lagi lagi dia menghembuskan nafas lelahnya diikuti gelengan pelan dari kepalanya


" kamu sudah bekerja dengan baik " tambahku menyemangatinya.


mungkin sekarang ekspresi wajahku memberinya semangat tapi tidak dengan hatiku kekhawatiran masih terus menyelimuti ku


ya Allah aku memohon ketenangan untukku dan bayiku


•••••••••••


sejak mengetahui dokter frans bilang kalau proses persalinan pasiennya gagal ketakutan menelusup memasuki diriku. aku takut terjadi sesuatu pada bayiku didalam sana, dadaku terus naik turun tak beraturan perkataan dokter frans yang mengatakan bahwa pasiennya banyak kekurangan darah, terus berputar dikepalaku.


hingga sebuah tangan menepuk bahuku, aku menoleh pada pelakunya yang sedang menatapku.


segera kupeluk tubuhnya yang membuatku sedikit tenang, kupererat pelukanku hingga kurasakan ketakutanku berganti dengan kedamaian


" hei, ada apa? " tanya nya khawatir


aku menggelengkan kepalaku yang masih tenggelam didadanya


" saya ngasi salam berkali kali nggak dijawab, dan sekarang ditanya jawabanya hanya gelengan kepala. mikirin apa sih hem? " dia melepaskan pelukkannya dan menatapku menyelidik seakan mencari jawaban lewat mataku


aku hanya tersenyum menatap manik matanya yang menyiratkan kekhawatiran " aku nggak pa pa cuma rindu kamu aja "


" kok udah sepi ya? " melihat keadaan rumah sakit yang sudah lengang hanya ada suster dan dokter yang terkena shif yang masih berada disini


" saya rasa dari tadi kamu hanya ngelamun hingga nggak sadar semua udah pada pulang " jawabnya seraya menggamit tanganku mengajakku berdiri meninggalkan lobi dan keluar menuju parkiran


" oh ya, tadi ibu telfon katanya nanti malam mau kerumah sama tante rika juga. " ujarnya memecah keheningan didalam mobil yang terus melaju memecah jalan metropolitan


" emm... kak lufian katanya juga mau kerumah sama tania mau bicarain soal acara pernikahannya nanti " aku baru ingat kak lufian tadi telfon mau kerumah.


oh iya karena keasikan ngelamun aku sampe lupa cerita kalau sebulan yang lalu kak lufian ngelamar tania dirumah orang tuanya tania. sebenarnya waktu itu aku pengen ikut tapi dilarang sama fahriza soalnya perjalananya lumayan jauh dan takut aku kecapean. jadi dia aja yang pergi ditemenin kak lutfi sama kak rere, acil juga ayah mertuaku yang ikut diajak sama fahriza


alhasil aku menunggu kabar dirumah ditemenin ibu yang selalu setia merawatku seakan aku ini putri kandungnya.


aku salut banget sama ibu dia benar benar sayang banget sama aku apalagi fahriza aku tak melihat ibu membedakan fahriza dengan siapapun dia benar benar menganggap fahriza itu putra kandungnya. aku sangat beruntung memiliki mertua seperti ibu sinta dan ayah ruli


aku merasa seakan sosok mama dan papa tidak pernah pergi dari ku dengan kehangatan dan kedamaian yang diberikan ibu saya ayah padaku


" kita makanan dulu ya, saya laper banget " ujarnya memasukkan mobil ke parkiran sebuah rumah makan cukup besar tapi masih dengan desain sederhana


" eleuh eleuh, kemana aja atuh baru nongol " ucap seorang mbak mbak menyambut kedatanganku dan fahriza yang baru saja masuk kedalam.


" maaf saya baru berkunjung kesini " balas fahriza ramah


" ayo duduk dulu kasian si eneng teh capek kelihatannya " tukas mbak mbak tadi membawaku dan fahriza menduduki sebuah meja dekat kolam ikan hamparan tanaman buah buah menyambut mataku membuat pemandangan sangat indah


" za, pesenanya? " lanjutnya menanyakan menu makanan yang akan aku dan fahriza pilih


" yang biasa aja "


" mbaknya? "


" samain aja sama fahriza "


" sip lah tunggu bentar ya " tukasnya seraya berlalu meninggalkan aku dan fahriza yang menikmati senja disamping kami benar benar indah


" kamu sering kesini? " ucapku membuka pembicaraan karena dari tadi hanya keheningan yang menyelimuti kami


" lumayan lah, dulu sebelum kita nikah saya sering kesini kalo nggak sempat pulang, sekarang sih udah jarang kan udah ada yang selalu masakin dan menunggu saya untuk makan bersama " jawabnya membuatku tersenyum


" emang dulu ibu nggak suka masakin kamu? "


" yah kan ceritanya ngegombal malah ditanya lagi "


" kenap nggak bilang coba kan akunya nggak tau "


" dulu tuh, saya jarang pulang kerumah karena pekerjaan kantor numpuk banget. sengaja sih saya menyibukkan diri saya supaya nggak mengingatkan saya denga Rija " dia kembali mengingatkan ku pada kekhawatiranku lagi ya Allah ada apa dengan ku kenapa setiap aku mendengar tentang hal kepergian seperti itu aku merasakan sakit juga takut


pikiran ku langsung saja tertuju pada bayiku


" aku ngerti perasaan kamu " ya aku ngerti dengan perasaan fahriza tapi aku sendiri nggak ngerti dengan perasaanku semoga ini hanya perasaan kekhawatiran sesaat saja Amiiin.


" aku suka tempat ini " ujarku tanpa menoleh kearah fahriza


setelah sekian menit menunggu akhirnya pesanan nya dateng juga pelayannya mbak mbak yang tadi yang nyambut kedatangan kita direstorannya itu " ini teh udah berapa bulan neng? " tanya nya setelah meletakan makanan diatas meja kami


" masuk tujuh bulan mbak "


" semoga persalinannya lancar ya "


" amiiin "


" ya udah dinikmatin atuh makanannya saya tinggal dulu " tukasnya lalu berlalu meninggalkanku dan fahriza yang mulai menyantap makanan kami


" dia ningsih, anak pemilik rumah makan ini. "


" bang za kayaknya akreb banget sama dia "


" dia itu orangnya humble jadi cepet akrab sama siapapun "


hari ini ntah kenapa aku diliputi rasa takut dan kekhawatiran tapi setelah fahriza berada dihadapanku menggenggam tanganku dan tersenyum padaku semuanya perlahan bisa memudar.


💕tetew aja lah. hedeh maaf ye lame tak up soalnye saye ade kesibukan sikit and than thanks for korang yang masih setie nak tunggu up dari novel saya semoge tak bosan ye💕see you