
waktu masih menunjukkan pukul 3.15 masih terlalu subuh untuk bangun. aku terbangun dari tidurku karena ingin buang air kecil
semulanya setelah dari kamar mandi aku berniat melanjutkan tidurku tapi kenapa aku tidak sholat tahajud saja sambil menunggu azan subuh berkumandang
semenjak aku menikah dengan fahriza aku mulai terbiasa sholat lima waktu yah awalnya susah banget sampai sampai di awal pernikahan fahriza pernah memercikkan air diwajahku karena dia tidak berhasil membangungkanku untuk sholat subuh waktu itu aku kesal banget tapi pada akhirnya aku mulai terbiasa
aku merasa jika aku sholat aku mendapatkan ketenangan batin kurasakan jiwaku sangat damai apalagi setelah kepergian mama sama papa aku makin belajar untuk terbiasa sholat aku ingin mendoakan kedua orang tuaku disana sebenarnya sih berdoa itu bisa kapan saja tapi menurut ku waktu yang pas saat berdoa itu adalah ketika kita sholat karena kita bisa berkomunikasi secara langsung dengan sang maha pencipta
ketika aku membangunkan fahriza untuk mengajaknya sholat bersama tiba tiba dia langsung menarikku dan membuatku jatuh diatas tubuhnya pasti dari tadi dia sudah bangun
" bang za bangun kita sholat "
tanpa menghiraukanku dia makin memelukku
kutatap wajahnya itu matanya masih terpejam tapi bibirnya tersenyum dasar ambil kesempatan dalam kesempitan
" ish "
bugh
" awww " teriaknya lebay
aku memukul dadanya dengan kesal lalu berdiri " kalau nggak mau ya udah jangan ambil kesempatan ya... " tukas ku padanya lalu pergi berwudhu
akhirnya dia bangun lalu menuju kamar mandi
selesai sholat fahriza memilih mengaji sambil menunggu azan subuh suaranya memang tidak begitu merdu tapi entah kenapa aku sangat senang mendengar dia mengaji lantunan ayat suci al-qur'an yang keluar dari mulutnya membuatku merasa damai tak ingin mengganggunya aku memilih untuk kedapur
membersihkan piring yang belum sempat aku cuci malam tadi entah sudah berapa lama aku berada didapur hingga aku tersadar saat azan subuh berkumandang
entah karena apa ketika didapur aku sering lupa waktu buru buru aku kembali kekamar
kulihat fahriza sedang menggelar sajadah dia tersenyum melihatku
dengan khusyuk kami melaksanakan sholat tenggelam dalam setiap gerakan dan hening dalam setiap lantunan
setelah banyak beraktivitas sejak subuh tadi aku cukup kelelahan juga dan sekarang sudah mau jalan kerumah sakit karena tadi dokter nayra sudah menelfonku katanya akan dilakukan operasi sekitar 30 menit lagi dan katanya keluarga pasien sudah menyetujui untuk dilakukan tindakan operasi pada pasien
pengidap kanker itu
setengah berlari aku menuruni anak tangga tapi langkah ku terhenti ketika melihat ruang kerja fahriza terbuka kulangkahkan kaki ku menuju ruangan itu dan dengan mata tertutup dia menyenderkan kepalanya dikursi kerjanya perlahan kudekati dia
" abang za "
dia membuka matanya melihatku wajahnya terlihat pucat
" kamu udah mau berangkat? " tanya nya lirih
" kamu sakit? " tanyaku tanpa menjawab pertanyaanya
" no. i'm oke " jawabnya sambil tersenyum sepertinya dia berbohong ku sentuh keningnya lalu lehernya sangat panas seperti sedang di perapian aku menatapnya kesal ku letakkan tas ku dimeja kerjanya lalu pergi mengambil paracetamol di kotak obat
" sakit kok dirahasiain mbok ya kalau mau punya ingunan itu ya kucing atau apalah ini malah penyakit " ucapku kesal sambil memberikan paracetamol dan air padanya tanpa menunggu perintahku lagi dia langsung meminum obat itu.
dia hanya tersenyum melihat ku mengomel kayak emak emak
" udah lanjutin nanti lagi ngomelnya, kasian para pasienmu dirumah sakit nunggu dokter cantiknya belum juga datang " ujarnya menghentikan ku berkoar koar didepannya
" nanti kalau panasnya belum turun segera telfon aku, setelah operasinya selesai aku langsung pulang "
" iya sayang " balasnya lembut dan berhasil membuat senyum terukir dibibirku bagaimana tidak untuk pertama kalinya dia memanggilku dengan sebutan sayang seketika hatiku rasanya berbunga bunga.
" mau dipanggil sayang lagi? " tanyanya membuyarkan lamunanku
" paan sih " ujarku pura pura kesal padahal pengen banget jual mahal dong malu lah kalau ngebet kepengen
" udah ah aku mau berangkat dulu ntar telat lagi " ujarku lalu mencium punggung tangannya dan yang lebih membuat hatiku kegirangan dia balas mencium kening dan pipi kananku
kurasakan pipiku panas haduh kayaknya pipiku merah sekarang dengan cepat aku membalikkan tubuhku dan keluar dari ruangannya duh jantung berenti dong loncat loncatnya dasar fahriza bisa banget bikin jantungku marathon terus
dengan masih dag dig dug aku melajukan queen senyumku terus mengembang disepanjang jalan hingga aku tiba dirumah sakit sebuah notif wa masuk dengan cepat aku memeriksanya ternyata dari fahriza
" potoin wajah kamu yang sekarang dong, mau liat wajahmu yang memerah itu "
dasar suka banget bikin aku malu
" nggak usah sok tau deh tak merah poon "(nggak merah kok ) balasku ketus
tak lama dia bales lagi dengan emoji ketawa yang keluar air matanya awas aja aku pulang nanti bakalan ku bales
tanpa membalas wa dari fahriza lagi aku langsung menuju ruang dokter meletakkan tasku lalu pergi keruang operasi karena operasi sebentar lagi akan dilakukan
••••••••••
cukup lama berkutat diruang operasi akhirnya selesai juga. operasinya juga berjalan dengan lancar tanpa kesulitan apapun
selesai melakukan tugasku dirumah sakit aku langsung mengemasi barang barangku untuk pulang aku sangat khawatir karena fahriza tidak menelpon ataupun mengirimkan pesan padaku
setibanya dirumah aku langsung memarkirkan motor di garasi dan masuk aku langsung kekamar tapi saat sudah dikamar fahriza tidak ada disana aku semakin khawatir takut kalau dia pergi kekantor dalam keadaan sakit kayak gitu
eh tapi mobilnya di garasi berarti dia ada dirumah tapi kemana kok gak ada dikamar
buru buru aku turun lagi kebawah untuk ngecek keruang kerjanya ketika aku lewat didepan ruang keluarga kulihat dia tertidur di sofa dengan laptop yang masih nyala
ku percercepat langkahku mendekatinya keningnya berkeringat setelah kuperiksa panasnya belum juga turun kayaknya dia nggak minum obatnya lagi
dengan cemas aku kembali kedapur mengambil baskom kecil dan mengisinya dengan air lalu kembali lagi ke sofa dengan pelan ku kompres keningnya dasar suka banget bikin aku mau ngomel
kan kalo gini aku jadi khawatir mana panasnya belum turun juga sambil menunggu fahriza bangun aku balik lagi kedapur untuk membuatkan dia bubur pasti dari tadi hanya kerja aja yang ada dipikirannya sampai sampai nggak ada piring kotor satu pun artinya dia belum makan
sekian lama membuatkan fahriza bubur dan yang lainnya aku kembali menemuinya lagi dengan membawa samangkuk bubur dan segelas air putih hangat yang ku taruh diatas nampan
dia membuka matanya ketika aku sedang meletakkan nampan diatas meja depan sofa
" loh udah balik? " tanya nya dengan suara parau khas panas dalam
" udah dari tadi malahan, kenapa belum pake makan sih trus obatnya juga nggak diminum? "
" hem, saya bukannya nggak mau makan tadi nanggung banget udah pesen lewat online kok tapi belom dateng aja, lalu soal minum obat bukannya nggak mau diminum tapi saya nggak tau obatnya diminum berapa banyak trus digabung apa nggak mau nelfon kamu kan nggak mungkin kamu juga pasti sibuk" tuturnya sambil mendudukkan dirinya dengan bantuanku dia masih sangat lemah
sambil memeriksa keningnya kembali kini panasnya sudah mulai turun
aku mengernyitkan dahi mendengar penuturanya segera kuambil bungkusan obat yang terletak di meja dekat nampan aku membulatkan mataku bagaimana bisa aku memberinya paracetamol dan obat pereda nyeri saat haid
" abang nggak minum kedua obatnya kan? " tanyaku khawatir bagaimana aku bisa begitu ceroboh sampai sampai aku salah memberikan obat padanya
" nggak "
segera ku peluk tubuhnya yang masih lemah itu aku menangis dibelakangnya aku merutuki diriku aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padanya karena kecerobohanku
" loh kenapa nangis? " tanya nya bingung
" aku salah kasi obat, karena buru buru tadi aku bawa dua obat dan salah satunya obat pereda nyeri untuk haid untung nggak kamu minum "
" udah nggak usah nangis kan obatnya nggak saya minum " ujarnya lirih sambil menghapus air mataku
" fifi minta maaf "
dia tersenyum sambil memegang kedua pipiku
" itu apa? " tanyanya melihat kearah nampan
karena terlalu cemas aku sampai melupakan bubur untuk fahriza segera kuambil bubur yang mulai dingin itu
" duh udah mulai dingin, fifi tadi buatin abang bubur trus lupa, lah sekarang udah mulai dingin " ujarku sambil menyuapinya
inilah yang aku suka darinya selalu menurut jika sudah ku pinta
" kamu udah makan " aku hanya menggelengkan kepala mendengar pertanyaanya
dia mengambil mangkok bubur yang sedang berada ditanganku " kalau kamu nggak makan nanti kamu sakit trus kalau kamu sakit yang bakalan ngurusin saya siapa " lanjutnya seraya menyuapkan aku hanya tersenyum dan melahap bubur buatanku dari suapan fahriza
" abang za "
" hem "
" katanya tadi order makanan kok belum datang datang "
" macet kali "
" lah kok bisa ini udah sore lo bentar lagi mau maghrib "
" mungkin aja "
" udah kamu mandi dulu gih udah mau azan maghrib, ntar biar saya aja yang beresin ini " tukasnya sambil membawa nampan dengan mangkuk dan gelas air putih
aku memandangnya kesal sepertinya dia boong lagi mana mungkin order makanan selama itu
karena fahriza sudah membereskan gelas dan yang lainnya jadi aku hanya menuruti perintahnya untuk mandi kalau kalian pikir kenapa aku nggak maksa buat beresin semuanya aku bakalan jawab percuma kalau fahriza udah ambil alih semuanya nggak usah kamu larang percuma nggak bakalan didengerin
••••••••••
keadaan fahriza udah lumayan sehat panasnya juga udah turun dan sekarang dia lagi ngutak atik laptopnya diatas kasur
setelah makan malam tadi dia sibuk dengan laptopnya biasa orang sibuk mah gitu sampe istri sendiri nggak diperduliin walaupun didepan mata
saat aku sedang melipat baju dikamar terdengar diluar bel rumah berbunyi siapa ya malam malam gini kerumah biasanya kalau keluarga mereka pasti telfon dulu
sedikit berlari aku menuruni anak tangga karena tak ingin membuat tamu diluar sana menunggu
saat pintu sudah dibuka terlihat perempuan muda berdiri sambil membelakangi ku
" assalammualaikum " sapaku pada perempuan itu dan membuatnya menoleh dan tersenyum
" eh waalaikumsalam maaf buk " balasnya lembut ku teliti perempuan itu dari atas kebawah dia menggunakan dress selutu berwarna putih dengan rambut panjangnya bergelombang yang degerai wajah yang bak wanita korea itu kulit yang putih bersih dan berbandik terbalik dengan kulitku yang berwarna kuning langsat
" maaf siapa ya? " tanyaku pada perempuan itu
" oh, saya dara buk sekertaris pak fahriza "
aku hanya menganggutkan kepala dan tersenyum tipis
" emangnya ada apa ya? "
" ini buk saya mau ngantarin berkas yang perlu bapak tanda tangani karna harus dikirim malam ini juga " tuturnya lembut
" eh dar ada apa? " tanya fahriza yang baru saja datang dari dalam
" ini pak saya ngantarin berkas yang perlu bapak tanda tangani " ucapnya pada fahriza
" masuk dulu dar " ujar fahriza ramah
" nggak usah pak saya tunggu disini aja lagian setelah ini saya masih ada urusan "
" ya udah sini berkasnya biar saya tanda tangan dulu " tukas fahriza lalu mengambil map yang berisi berkas dipegangan dara
dan dara hanya tersenyum sambil mengulurkan berkasnya entah kenapa aku tidak suka melihat keakraban mereka
setelah selesai menandatanginya fahriza kembali lagi dan kembali menyerahkan berkas itu pada dara " kenapa nggak suruh ardi aja yang kerumah " ucap fahriza
" nggak apa apa pak lagian saya ada urusan sama seaeorang didaerah sini "
" ya udah kalau gitu saya permisi dulu pak assalammualaikum "
" waalaikumsalam " jawab fahriza sedangkam aku hanya menjawab dalam hati
setelah fahriza menutup pintu aku menatapnya sinis dia hanya menatapku penuh tanya
" kamu kok nggak cerita sih kalo pake sekertaris perempuan "
" kamu nggak nanya "
" akreb banget " balasku sinis
" dia udah kerja sama saya hampir 2 tahun "
" ngeles aja terus "
" saya suka banget liat kamu cemburu " ujarnya tersenyum
" siapa juga yang cemburu urus aja sana kerjaan mu dan sekertarismu itu " ucapku sambil berlalu meninggalkannya tapi baru satu anak tangga yang kunaiki tiba tiba fahriza mengangkat tubuh ku dengan cepat aku melingkarkan tanganku dilehernya takut nanti dia kehilangan keseimbangan dan jatuh
ntar aku juga ikut jatoh patah semua nanti tulangku gara gara jatoh dari anak tangga pertama ini nggak lucu banget
" kamu ngapain sih "
" nggak ngapa ngapain cuma mau menggendong istri saya aja "
aku hanya memilih diam percuma kalau minta diturunin ataupun kembali berdebat yang ada dia bakalan macem macem sama aku
setelah sampai dikamar dia mendudukkan ku dipinggir kasur kemudian dia juga duduk disampingku lalu menatapku sedangkan aku membalas menatapnya malas lalu naik keatas kasur menarik selimut dan memejamkan mata untuk tidur
" kamu nggak perlu cemburu karena hati saya sepenuhnya sudah kamu kuasai " ujarnya dibelakangku
" nggak usah ngegombal sana kerja cari duit "
" ya udah saya cari duit dulu " ujarnya kemudian pergi meninggalkan kamar
loh kok di beneran pergi duh apa dia marah ya tapi kenapa jadi dia yang marah padahalkan yang salah dia ah bodo amatlah biarin aja mending aku tidur
saat aku ingin memejamkan mataku tiba tiba lima batang coklat muncul berada tepat didepanku spontak aku langsung bangun dan menoleh pemiliknya dia hanya tersenyum melihat ku
" kok kamu tau kesukaanku " ucapku sambil merampas coklat dari tangan fahriza
" nggak cuma coklat semua tentang kamu saya tau "
" kamu nyogok aku ya "
" itu coklat yang tadi saya order udah deteng sebelum kamu nyampe rumah "
" jadi yang kamu sebut makanan itu coklat ini bisa ya kamu bohongin aku "
" saya nggak bohongin kamu coklat emang bisa dimakan kan? "
" yang aku tanya makanan itu bukan camilan kayak gini maksudku nasi kek atau bubur atau apalah yang nambah stamina kamu biar nggak down kayak tadi "
" aku cemas banget tau nggak liat kening kamu berkeringat kaya gitu belum lagi suhu badan mu nggak turun turun "
" makasih karena sudah mengkhawatirkan saya "
" aku itu istrimu masa iya aku nggak khawatir liat suami ku demam tinggi kayak tadi " ucapku sambil meletakkan coklat diatas meja rias
sengaja besok aja makannya karena tadi aku udah gosok gigi jadi nanti aja makannya
" eh abang za "
" hem "
" ehm nggak jadi ah "
" kenapa? "
" nggak apa nanti aja " ucapku lalu berniat untuk kembali merebahkan diri dikasur tapi ditahan sama fahriza haduh apaan lagi sih
" apa saya tidak boleh melihat rambutmu? " tanya nya tiba tiba
aduh dia kenapa sih kok jadi nanya nanya kayak gitu kan malu
aku emang pernah nunjukin rambut ke dia
itu juga waktu aku belom pake jilbab pas pertemuan pertama kita
nah yang kedua itu yang kemarin pas aku keluar dari kamar mandi yang hanya memakai handuk duh kok aku jadi malu gini ya
"kitakan udah halal masa masih malu sih haduh fifi fifi" gumam batinku
ini semua tuh gara gara tania yang pemalunya nggak ketolongan trus nular ke aku
dengan perasaan dag dig dug aku menatap fahriza yang juga menatapku menunggu jawaban dariku
perlahan kugerakan tanganku untuk membuka jilbab syar'i panjang yang menutupi rambutku
setelah membuka jilbab yang menutupi kepalaku aku tak berani menatapnya jantungku juga kembali marathon aduuhh kok jadi malu gini ya kurasakan dia mendekatiku sangat dekat hingga aku bisa merasakan terpaan nafasnya menyentuh keningku
" fi " panggilnya lembut
adduh kok jadi makin canggung gini sih
aku mengangkat kepalaku menatapnya wajah kami sekarang hanya berjarak sekitar 3 senti
kurasakan dia menarik ikat rambutku dan membuatnya tergerai dibelakang
walaupun aku sekarang pake hijab aku juga selalu merawat rambutku yang panjangnya nanggung seperti panjang rambut cewek cewek sosialita pada umumnya bedanya cuma di modelnya aja aku lebih suka rambut yang lurus tanpa ada ikal ikalnya
Glek
aku menelan ludah dengan susah payah karena dia makin deket hingga ku rasakan dia memainkan hidungku dengan hidungnya
aku memejamkan mataku dengan irama jantung yang tidak seimbang
CUP
CUP
CUP
tiga buah kecupan mendarat di kepala pipi dan terakhir bibir
perlahan aku membuka mataku dan matanya juga sedang menatap mataku tatapan tajamnya sangat membuatku gugup kurasakan aliran darahku berdesit cepat
perlahan dia kembali mengecup bibirku tapi kali ini dia juga melumatnya hingga jantungku rasanya ingin meledak
💕maaf kelamaan post soalnya lagi banyak tugas💕 semoga suka ya see you