
huh kakiku pegel pegel padahal seharian ini aku nggak ngapa ngapain cuma masak doang dan rumah kami juga udah dibersihin sama dibik wari dan bik nini ART baru yang dicariin sama ibu buat bantu aku ngurus rumah
sebenarnya sebelum cari ART aku sempat debat juga sama fahriza ntah kenapa aku lebih suka suasana sepi tanpa banyak orang dirumah lagi pula aku nggak gampang percaya sama orang apalagi kemaren aku dapet info kalau rumah tetanggaku dirampok sama ART nya sendiri dan tetanggaku dibekap hingga pingsan akibat kejadian itu dia mengalami trauma berat untung suaminya yang lagi kekantor cepat pulang. waktu kejadian itu dia masih tidur anaknya yang masih tk udah berangkat sama suaminya jadilah dia sendiri kekurangan tenaga karena ART nya lumayan lebih besar dari dia
nah setelah kejadian itu aku makin nggak mau ada ART dirumahku
tapi setelah ibu datang kerumah ngebujuk aku yah mau nggak mau aku terima itu pun dengan catatan ibu yang aku percaya cari ART nya buat dirumahku
bang za kemana sih lama banget beli sup buahnya mana kaki makin pegel lagi karena merasa bosan aku menghidupkan televisi sambil nunggu fahriza pulang
dia tadi aku suruh beli sup buah deket rumah sakit tempatku bekerja hehehe maklum yah kan ibu hamil pengen yang macem-macem tapi udah hampir satu jam kok belom balik apa dia sesat kali ya tapi mustahil lah orang tempatnya nggak jauh kok dari rumah sakit
" misi non maaf mengganggu apa non butuh sesuatu " bibi nini yang baru saja masuk kedalam rumah mendekatiku mungkin melihatku gelisah
" nggak ada bik "
" ya udah kalau gitu saya kembali kedapur dulu non "
" iya "
" permisi " karena tak mendapat perintah apapun dariku bik nini kembali kedapur melanjutkan pekerjaanya
sedangkan aku memilih turun dari sofa dan duduk dikarpet sambil memijit mijit kakiku yang masih pegal entah karna apa
aku membuka ponselku dan googling tentang cara mengatasi pegal pegal dikedua kaki ku ini
" assalammualaikum " sebuah suara membuatku mengehentikan kegiatan bermain ponsel dan melihat kearah sumber suara yang kini berjalan mendekatiku sambil menenteng sebuah tas kecil ntah berisi apa
" waalaikumsalam, bang za lama banget sih fifi udah ngiler dari tadi kepikiran terus " celotehku karena lelah menunggu fahriza
" maaf ya, nih...udah pengen makan banget ya? " dia duduk disampingku sambil mengeluarkan sup buah dari tas kecil itu loh kok tempatnya bagus banget kayak dari rumahan aja bukan beli di toko
" ini beli dimana bang? kok wadah sup buahnya bagus banget? " tanyaku heran
" ini beli dirumah ibu "
" ha? sejak kapan ibu jualan sup buah kok aku nggak tau? " lah perasaan kehidupan ibu baik baik aja dan berkecukupan kenapa ibu jualan sup buah
bukannya menjawab pertanyaanku dia malah tertawa sambil mencubit halus kedua pipiku perasaan kata kata ku nggak ada yang lucu kok dia malah tertawa
" fifi, fifi haha... polos banget sih dibecandain gitu aja langsung yakin haha...... " ucapnya masih dengan nada tertawa
" lah tadi kata bang za..... "
" iya emang sup buahnya dari rumah ibu tapi ibu nggak jualan sup buah beneran kok fi... hahaha.... kamu itu terlalu cepat percaya omongan orang tau nggak haha.... " masih aja ketawa gemes banget
brugh
aku memukul paha fahriza dengan bantal sofa yang tadi disamping ku kesel banget bukannya minta maaf malah makin ngerjain aku
" hehehe... iya iya maaf ya sayang saya salah " tau kalau aku makin kesel dia segera meredakannya sambil memelukku lalu mencuim pucuk kepalaku
" tadi waktu saya mau beli sup buah di tempat langganan kamu itu tiba tiba ibu telfon nanya saya lagi dimana karna ibu buatin sup buah buat kamu. pas banget jadi saya disuruh ibu ngambil sup buahnya, ibu nggak bisa nganterin soalnya tante rika mau main kerumah ibu "
" pantesan lama, emang ada acara apa dokter rika kerumah ibu? "
" nggak ada acara apa apa, cuma pengen jalan aja dan ibu buat sup buah dirumah untuk makan bareng tante nanti, trus ibu keinget kamu makanya dia bikin banyak "
" duh ngerepotin pinjem ponsel dong? " aku mengulurkan tanganku meminjam ponsel fahriza
" buat apa? " tanya nya tapi tetap memberikan ponselnya padaku
" mau telfon ibu mau bilang makasih "
dia mengusap kepalaku sedangkan aku melakukan panggilan melalu telfon dengan ibu
sesekali aku melirik sup buah didepanku
karena sudah tidak tahan melihat sup buah yang menggiurkan itu aku buru buru mengisyartakan fahriza untuk menyuapiku dia hanya tersenyum dan mengikuti perintahku haaah fahriza nurut aja dia hahaha.... maaf ya suami ku selalu ngerepotin
" kamu nggak mau? " aku menawarkan sup buah pada fahriza setelah menutup telfon dari ibu dari tadi dia hanya terus menyuapiku tanpa mencicipi sedikit pun sup buahnya
" kamu aja yang makan saya udah kenyang nggak mampu lagi nampung sup buah dilambung saya " ujarnya membuatku terkekeh emangnya lambung dia kecil banget ya sampe nggak mampu nampung makanan lagi
setelah sup buahnya habis dia lalu merebahkan dirinya dengan berbantalkan pahaku tangan kananya terus mengusap perutku sambil beberapa kali mencium perutku
aku cekikan sendiri melihat tingkahnya ada apa dengannya hari ini manja banget kayak dia aja yang hamil
" bang za jangan gini dong malu kalo dilihat sama bik nini dan bik wari " ujarku mencoba membuatnya bangun soalnya kalo sampe diliatin ART dirumahku aku sama fahriza mesraan kayak gini kan malu
" bentar aja fi, pijitin kepala saya dong tiba tiba pusing " ujarnya lirih
" loh kamu sakit " buru buru aku memiriksa keningnya merasakan suhu badannya tapi baik baik aja nggak panas suhu badanya stabil apa dia mencoba mengerjaiku
" abang za bohong ya? " aku memicingkan mataku melihatnya yang dilihat hanya tersenyum
" pusing dikit " ujarnya memelas melihatnya seperti itu kasian juga mungkin dia lagi pengen dimanja hari ini aku memijit kepalanya pelan membantu mengurangi pusing dikepalanya
" anak ayah gimana kabarnya hari ini jangan minta yang macem macem ya sayang kasian ibu " ujarnya didepan perutku
" kok ibu sih panggilanya " tukasku tidak mau dipanggil ibu terlalu sederhana menurutku
" trus maunya dipanggil apa hem? "
" bunda lah kamu aja panggilannya ayah "
dia hanya manggut manggut menanggapi kalimatku
" aww " pekikku ketika sesuatu didalam perutku seperti menendang membuat orang yang lagi tiduran enak di pahaku bangun dengan panik
" kenapa fi? apanya yang sakit? kaki kamu sakit ya gara gara saya " tanya fahriza panik sambil memeriksa badanku dia menatapku khawatir sorot mata tajam itu membuatku sedikit risih duh aku dianugrahkan suami yang tampan tapi juga dilengkapi tatapan tajam yang menakutkan
fahriza mengangkat alisnya lalu tersenyum sedetik kemudia dia menunduk dan berbicara didepan perutku
" sayang coba sekali lagi ayah mau liat tendangan kamu " ucapnya
cukup lama menunggu namun bayiku belum juga merespon kulirik fahriza
yang masih setia menunggui bayiku menendang dia masih terus mengusap lembut perutku " kayaknya dia capek kali bang butuh istirahat " ujarku membuat fahriza menoleh dia mendekatkan wajahnya keperutku lalu menciumnya
dughh
sekali lagi bayiku menendang membuat fahriza tersenyum lebar menatapku " kalau laki laki kayaknya bakal jadi pesepak bola nih " tuturnya tanpa melihatku
" emang maunya anak cowok? "
" kan tadi saya bilang kalau "
" iya iya lagian USG kemaren kenapa dirahasiain sih jenis kelaminnya kan jadi penasaran "
" biar jadi kejutan buat kita "
" oh iya tadi lufian chat saya, dia bilang nanti malem mau kerumah ada yang mau dibicarain sama kita " sambungnya sambil berdiri dan berlalu kedapur
kok kak lufian nggak bilang langsung ke aku, ada apa ya hah udahlah aku nggak boleh banyak pikiran nanti jugakan dia kerumah
••••••••••
" HAH? " sepontan saja aku menganga tak percaya dengan maksud kedatangan kak tengah ku ini kerumah ucapannya sukses membuatku membulatkan mata
bagaimana tidak, dia bilang dia ingin melamar tania wanita yang tidak pernah berdekatan dengan lelaki kecuali kerabatnya, wanita yang paling pemalu, susah diajak keluar dan lebih hebatnya ada badai apa yang membutnya ingin melamar sahabatku yang kudet itu
" kak kamu serius? " tanyaku masih tak percaya dengan ungkapan kak lufian lelaki yang paling anti perempuan trus tiba tiba bilang mau ngelamar seorang wanita yang belum lama ini ia kenal
dia hanya mengangguk pelan mendengar pertanyaanku
" bentar, tania udah tau niat kakak? " tanyaku masih dengan nada syok
" itu dia masalahnya fi, kakak belum punya banyak keberanian buat bilang ke tania makanya kakak kesini mau minta bantuan kamu " terdengar helaan nafas berat dari kak lufian sepertinya dia sangat serius dengan niatnya
fahriza yang sedari tadi disampingku hanya diam membiarkan aku berbicara dengan kakak iparnya yang sekarang dilanda gundah gulana karena seorang wanita yang susah konek kalo soal laki laki
" kenapa kakak nggak langsung bilang aja sama tanianya? "
" kakak takut ditolak fi " tuturnya lirih baru kali ini aku melihatnya benar benar gundah atau mungkin karena aku baru saja akrab dengannya hingga aku baru bisa mengenalnya
" jiah sejak kapan keberanian kakak ilang dulu aja waktu ngelamar kerja di kantor kebanggan kakak itu dengan PD nya kakak berangkat tanpa ngasi tau mama sama papa lagi "
" ya itukan beda fi, ngelamar kerja nggak sama kayak ngelamar perempuan apalagi perempuan yang sangat tertutup kayak tania " celotehnya kesal karena aku mengungkit ungkit kisah dia melamar kerja bersama temanya tanpa pamit bahkan mama sama papa aja nggak tau kalau kak lufian ngelamar kerja tiba tiba pas kak lufian pulang kerumah dia langsung packing bilang mau berangkat ke makassar siapa yang nggak kaget coba ya walaupun diterima cumakan caranya itu bikin panik keluarga
" kalau saya boleh kasi saran nih ya sebaiknya kamu bicara langsung sama tania saya yakin tania pasti kasi respon baik kok " ujar fahriza menengahi percekcokkan ku dengan kak lufian
" disaat kamu sholat nanti minta petunjuk sama Allah, minta ketenangan hati dan ketegaran jiwa agar kamu siap " sambungnya
kak lufian mengangguk pelan sambil menatapku sendu hahaha rasanya aku ingin tertawa sekarang melihat ekspresinya yang galau gitu
" kayak fahriza dong kak gentle datang langsung ke mama sama papa apalagi baru pertama ketemu udah langsung ngajak nikah aja hahaha...... " celetukku membanggakan fahriza
mengingat waktu pertama ketemu sama dia. kalau laki laki lain pasti butuh waktu dulu memikirkan matang matang menuju jenjang yang lebih serius apalagi waktu itu aku sempat bohongin dia supaya dianya batalin perjodohan eh bukannya batalin dia langsung mempercepat pernikahan kita
tapi aku bersyukur banget waktu itu dia nggak perduli dengan kebohongan ku
" eh, fahriza sama kamu itu di jodohin makanya nggak ribet nah kakak ngeliat orang tuanya tania aja nggak pernah " balasnya tak mau kalah
" hehehe... eh fifi penasaran deh kok kakak baru ngasi tau sekarang "
" kan kakak dah cakap belom ade keberanian "
" tros bile lah ade keberanian e nak minang anak orang tu, nanti di samba orang lain baru tau rase " ( trus kapan punya keberanian mau melamar dia nanti diambil orang lain baru tau rasa )
" make dari tu tolonglah abang kau ni dek " ( maka dari itu tolonglah abangmu ini dek ) rayunya mengikuti logatku
" emang sejak bile kakak ade rase ke die " ( emang sejak kapan kakak memiliki perasaan sama dia )
" sejak kakak balek kesini dan sering jumpe die " ( sejak kakak pulang kesini dan sering bertemu dengannya )
" dah dah jangan pakai bahasa ibu dulu kurang fahamlah saye " celetuk fahriza tiba tiba karena bingung dengan pembicaraanku dan kak lufian
" hahaha.... eh za kamu serumah sama fifi gimana? kan fifi kalau marah suka pake bahasa ibu " kepo kak lufian ni
" yah, saya diem aja nggak ngerti, kadang dia bicara cepet banget " jawab fahriza santai
" kalau aku jadi kamu nih ya za, aku bakalan pake bahasa ibu juga balesnya biar dia makin kesel " bisa bisanya ya dia ngasih tips kayak gitu ke adik iparnya
" nanti disuruh tidur diluar yan " tanpa dosa dia menjelekkanku astaghfirullah sabar dia suamimu
aku yang sedari tadi di gibahin laki laki yang sama usia ini hanya diam dengan wajah masam bisa bisanya mereka gibahin aku dengan terang terangan kayak gini
" suami takut istri juga kamu ya za. dah ah aku mau pulang kasian ibu hamil disebelah kamu mukanya masam kayak gitu, " ujar kak lufian berdiri diikuti juga fahriza yang mengantarnya sampe pintu depan jangan tanya aku, aku hanya duduk menanti fahriza kembali mau dikuliti dia
" iya iya maaf, becanda doang " ucapnya setelah melihat tatapan maut ku
" gendong sampe ke kamar " titahku membuat fahriza menatap tak percaya
" ya Allah saya pasti kuat " ucapnya lirih namun masih bisa terdengar oleh telinga ku
rasain makanya jangan jelek jelekin istri tanggung nih berat badan aku
aku cekikikan dalam hati mengerjai fahriza. ku tenggelamkan wajahku di dada bidangnya nyaman banget ketika berada dalam dekapannya ntahlah bagaimana ekspresinya sekarang yang menaiki anak tangga sambil menggendongku ala bridal stayle
tapi aku suka mengerjainya soalnya dia nggak pernah nolak sabar ya bang za hehehe.......