
sudah setengah jam fahriza duduk dikursi tunggu depan ruangan ICU ini namun belum ada satupun perawat atau dokter yang keluar.
pikirannya semakin kacau ketika tadi matanya tak sengaja menangkap bagian bawah gamis berwarna peach milik lufita yang basah akan cairan berwarna merah.
apakah lufita hamil?
pertanyaan itu terus muncul dalam benaknya,
tapi bagaimana mungkin?
mungkin saja fahriza kamu kan suaminya
tapi selama ini tak ada tanda-tanda jika dia hamil seperti kehamilan-kehamilan dia sebelumnya.
hatinya kembali meringis saat mendengar teriakan fairuz yang ingin ikut kerumah sakit tapi sebisa mungkin dia memberikan pengertiaan pada putri semata wayangnya itu jika dia harus bersekolah dan bundanya akan baik baik saja.
ceklek
seketika tubuhnya langsung berdiri begitu mendengar suara pintu terbuka.
" kondisi pasien masih lemah " ujar dokter wanita yang menangani lufita tadi yang kini sudah berhadapan dengan fahriza
" apa dia banyak melakukan aktivitas berat? " dokter itu mengajukan pertanyaan yang membuat fahriza ragu
dikatan iya mungkin juga tidak. dikatakan tidak mungkin juga iya.
pasalnya dia menghabiskan waktu bersama istrinya itu ketika pulang dari kantor jadi selama dia dikantor dia hanya mengetahui kegiatan istrinya lewat telfon.
tapi setahunya selama ini lufita tak pernah melakukan aktivitas yang berat.
" setahu saya istri saya tidak pernah melakukan aktivitas yang berat dokter " jawabnya
" sebelumnya saya minta maaf karena tidak bisa menyelamatkan janin yang sedang dikandung istri anda "
" maksud dokter... istri saya hamil? " dia tidak percaya jika tebakannya benar. jadi selama ini lufita hamil tapi kenapa tidak memiliki tanda-tanda
" iya pak. usia kandungannya baru dua minggu. aktivitas fisik yang berat dan terlalu banyak fikiran membuat janinnya tidak kuat. usia kandungannya yang terbilang muda itu memang rentan akan keguguran apalagi jika tidak memperhatikan aktivitas dan pola makan " jelasnya
" tapi.. kenapa kehamilannya kali ini tidak memiliki tanda-tanda seperti kehamilan dia sebelumnya? "
" definis kehamilan itu banyak pak, tidak memiliki tanda-tanda jika seorang wanita itu sedang hamil merupakan hal yang normal dan tandanya akan datang pada usia kandungan yang tertentu. tapi inilah resikonya karena dia tidak tau jika dia sedang hamil maka akan berdampak buruk juga bagi janin. apalagi yang memiliki kandungan yang lemah seperti ibu lufita. "
" lalu keadaan istri saya sekarang bagaimana? "
" pasien masih belum sadar. kondisinya juga masih sangat lemah "
" apa saya boleh melihatnya? "
" kita pindahkan dulu keruang perawatan ya pak baru bisa dikunjungi "
" baiklah, terima kasih "
" sama-sama kalau gitu saya permisi dulu "
setelah percakapan panjang dengan doker tadi disinilah dia berada sekarang.
di ruang rawat istrinya yang baru saja dipindahkan. dia mengambil tempat duduk disamping brankar lufita yang belum membuka matanya.
dengan perlahan dia membelai lembut kepala istrinya yang tertutup oleh hijab. sejak kecelakaan yang dialami istrinya 9 tahun yang lalu, daya tahan tubuh lufita menjadi lemah. dia tidak memiliki sistem kekebalan tubuh seperti dulu, jika lelah sedikit saja kadang akan langsung deman. jadi wajar jika kandungan juga lemah. waktu dulu dia juga hampir kehilangan si kembar pada usia kandungan lufita 3 bulan, dia mengalami pendarahan tiba-tiba tapi alhamdulillah bisa diatasi. sekarang dia harus kehilangan lagi buah hatinya bahkan yang masih belum terbentuk sempurna.
jika bisa menyesal mungkin dia sudah menyesal karena semuanya berawal dari keteledorannya, tapi apa mau dikata ditangisi pun semua tak akan kembali.
perlahan kelopak mata lufita bergerak, dia melihat kesekelilingnya dan pandangannya terhenti pada sosok pria berkepala tiga yang sedang tersenyum padanya
" anak... anak... mana? " pertanyaan yang pertama kali muncul
" mereka sekolah "
" gimana perasaan kamu? ada yang sakit? " lanjut fahriza yang masih menelisik wajah istrinya
" udah nggak pa pa, cuma.. perut aja masih.. terasa nyeri " jawabnya diiringi dengan ringisan kecil saat dia membetulkan posisi kepalanya agar sedikit bergeser pindah kesisi kiri hingga sisi kanannya terlihat muat satu orang lagi.
puk puk
dua buah tepukan pada sisi kanan brankar menyuruh fahriza agar berbaring disampingnya.
sesuai intruksi, fahriza melepaskan jas nya lalu disampirkan dikursi yang dudukinya tadi kemudian berbaring disamping wanita yang menjabat sebagai istrinya itu.
pandangannya tak lepas dari wajah pucat sang istri
" mereka pergi sekolahnya sama siapa? " dengan suara lemahnya dia kembali bertanya.
" saya udah minta bik wari buat temenin mereka, setelah pak muis ngantar kita kesini dia langsung nganterin anak-anak. saya juga udah telpon ibu agar bisa jemput mereka pulang sekolah nanti. " ujarnya
lufita yang semula menatapnya kini kembali menggerakkan kepalanya untuk menatap plafon ruang rawatnya
" maafin saya yang nggak bisa selalu bersama mu setiap saat. saya hanya bisa bantu kamu ngurusin semuanya ketika saya memiliki waktu luang saja "
" maaf.... kamu harus kembali terbaring disini lagi "
dia menggerakkan tangannya menyentuh rahang tegas suaminya yang masih terlihat tampan walau usianya sudah 37 tahun. " ini bukan salah kamu, ngurusin pekerjaan rumah tangga itu udah jadi kewajiban aku. selama ini... kamu udah ngasi yang terbaik buat aku... juga anak-anak " serunya
" haaah.... tapi saya nggak bisa terus terusan liat kamu seperti ini. bolak balik rumah sakit, di infus " lugas fahriza menggamit tangan lufita yang masih mengusap halus pipinya.
" menyesal bukan hal yang tepat untuk diambil "
perlahan dia mendaratkan tangannya di kening fahriza merapikan rambut suaminya yang menutupi kening suaminya. dia tak ingin tampilan manly milik suaminya rusak.
" semuanya udah terjadi nggak ada yang harus kita ungkit " lanjutnya menatap manik coklat milik fahriza
" kita harus kembali kehilangan dia " sahut fahriza sambil mengusap perut lufita yang ramping.
" semuanya udah diatur " lirih lufita tapi masih dapat didengar oleh fahriza.
sebuah kecupan hangat mampir di pucuk kepala lufita, setiap kali fahriza memperlakukannya dengan lembut seperti ini, selalu ada desiran halus didadanya membuat sedikit perasaan bahagia hadir menjadi penerang hatinya.
perlahan dia melingkarkan tangannya dipinggang fahriza lalu menenggelamkan kepalanya didada bidang suaminya hingga perlahan matanya kembali terpejam sempurna
▪︎▪︎▪︎
" oma? " panggil seorang bocah laki-laki tepat disamping seorang wanita paruh baya yang sedang mengobrol dengan seorang guru wanita
" eh udh pulang yah, bang it sama kak fai mana? " tanya sang nenek ketika menyadari kehadiran salah satu cucu laki-lakinya itu.
" tuh " tunjuknya pada dua saudara kembarnya yang berjalan paling belakang darinya.
" omaaa... hiks " isak fairus lalu memeluk pinggang wanita paruh baya yang berstatus neneknya itu.
" loh fai kenapa sayang? " dia mengusap surai hitam milik cucunya yang di kuncir dua oleh ayahnya pagi tadi
" bunda omaa.. hiks bunda sakit.. trus fai belum jenguk bunda hiks.. sekarang fai nggak tau keadaan bunda gimana... " lirihnya membuat sang nenek manampilkan senyum hangatnya lalu menghapus jejak air mata dikedua pipi cucu perempuannya itu.
" bunda pasti baik-baik aja sayang. kalau fai nangis nanti bunda fifi jadi sedih, fai mau liat bundanya sedih? "
gadis kecil itu menggelengkan kepalanya ketika mendapat pertanyaan itu dari neneknya. dia tak mungkin mau melihat sang bunda ikut sedih.
" fai mau liat bunda oma... " rengeknya sembari mengusap butiran bening dari mata kucingnya itu.
" baiklah, kita langsung kesana aja ya " penuturan sang nenek diangguki mantap oleh gadis kecil itu. berbeda dengan dua kembarannya yang sudah melesat duluan kedalam mobil
mereka bukannya tidak sopan dengan meninggalkan neneknya yang masih menenangkan fai, tapi dua laki-laki kembar itu terlalu malas untuk melihat gadis kembaran mereka yang terlalu cengeng dan banyak drama.
setelah berbagai rengekan yang dilakukan fai disekolah tadi kini mereka sudah berjalan dilorong rumah sakit dengan posisi sang nenek diapit oleh kedua cucu rempongnya.
berbeda dengan faith yang memilih berjalan sendiri dibelakang mereka.
" didalam nanti kalian nggak boleh ribut ya. " peringat sang nenek pada kedua cucu yang sedang menggandeng tangannya. dia sudah hafal akan sifat keduanya yang tak pernah akur jadi diperingati terlebih dahulu sebelum terjadi.
" iya oma " jawab kedunya serempak membuat oma mereka menyunggingkan senyum ramahnya. kalau diperhatikan saat mereka diam tanpa percekcokan begini mereka terlihat menggemaskan.
belum lagi wajah fai yang terlihat lucu dengan manik hitam pekat seperti kucing namun jika memandang ketika marah bak leser yang siap merobek mata lawannya.
" assa... " ucapan mereka terhenti ketika membuka pintu ruangan ini.
saking bingungnya mereka hanya bisa saling tatap satu sama lain saat melihat ayah dan bunda nya sedang tidur dengan posisi saling memeluk.
" oma? " panggil faiz memecah keheningan mereka yang masih diambang pintu
" ee... kita pulang ganti baju dulu gimana? " ujar sang oma seraya menutup pintu ruangan tanpa menimbulkan suara.
dia tau anak dan menantunya pasti butuh privasi apalagi posisi tidur mereka yang sulit untuk diganggu.
" yah kok pulang sih oma, padahalkan fai udah kangen bunda " rengek fai yang sedari selalu aktif
" nggak pa pa oma, kita balik aja dulu kayaknya ayah sama bunda butuh istirahat jadi jangan diganggu dulu " sebuah kemajuan ketika cucu sulungnya itu memberikan sebuah pendapat dengan mulut mungilnya yang selalu tertutup rapat dan jarang bersuara itu.
" bang it bener, ya udah yuk kita pulang dulu nanti kesini lagi. oke? "
" yah... tapi nanti setelah ganti baju janji ya oma kita langsung kesini " seru fairuz yang tak rela harus pulang tanpa bertemu sang bunda yang sudah dirindukannya
" iya sayang, ya udah yuk "
♡♡♡♡♡
sorry guys nggak nge up beberapa minggu ini.
author cuma mau ngasi tau kita udah hampir sampai di penghujung cerita.
kok kesannya sedih ya harus pisah sama fahriza dengan lufita belum lagi triple f yang bikin pusing sama tingkahnya.
segini dulu
nanti sapa sapaanya diakhii cerita aja.
by by
see you