LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
SIAP KOMANDAN



" sayang.... "


" sayaaaanggg... "


duh si fahriza semenjak keluar dari rumah sakit nggak bisa aku tinggal bentar langsung dah nyariin dan kalo nggak ketemu kayak gini nih treak treak nggak sekalin aja minjem toa.


huh rempong


" iya baangg... kenape? " tanyaku malas setelah berdiri dihadapannya


" kamu kemana aja sih, ini acaranya bentar lagi mulai nanti kita telat " dah emak emak rempuong amat dah.


" bentar dulu napa sih bang, liat nih lipstik aku belom kelar " ujarku seraya memonyongkan bibir kedepan


terlihat dia bingung dengan ucapan ku


" eh itu yang kamu pake dimata kamu apa? " dia menatap tajam kearah mataku mencoba melihat lebih dalam apa yang aku pakai pada mataku.


" oh, ini softlen " ujarku datar sembari memoleskan kembali lipcream dibibirku dengan bantuan kamera ponsel


" ha? " ucapannya membuatku menoleh dan mendapati fahriza dengan ekspresi cengo yang alis sebelah kanannya sedikit terangkat


" why? "


" sejak kapan kamu suka pake beginian. lagiankan biasanya make up kamu santai aja mau kemana pun termasuk pergi ke pesta pernikahan rekan bisnis saya waktu lalu " celotehnya mengomentari make up ku yang glowing kekinian hehehe


" hiss... ini tuh hari seepesiaaall sahabat sama kakak aku jadi aku harus ekstra cuantik dong bang. aduh kamu gimana sih " tukasku dengan memanjakan kata spesial


" haah... ya udah deh, yuk bentar lagi acaranya dimulai nanti lufian mencak mencak sama kita "


dia menggamit tanganku dan menuntunku untuk masuk kedalam mobil.


" eh rumah udah dikunci semua belum pintu sama jendelanya? " aku kembali mengingatkannya untuk memastikan pintu dan jendelanya dikunci karena aku masih trauma dengan kejadian waktu itu.


" udah sayang "


saat ini hanya ada aku dan fahriza yang sedang fokus nyetir mobil menuju hotel resepsi pernikahan tania dan kak lufian. dua hari yang lalu ijab kabulnya dilaksanakan dibandung dirumah tania dan hari ini resepsi pernikahannya diadakan di hotel. repot dah


kemauannya kak lufian, pingin ngadain acara di hotel segala.


katanya pernikahan itu hanya dilakukan sekali seumur hidup jadi dia mau membuat kesan yang tak terlupakan seumur hidupnya dengan tania.


heudeh.... gitu tuh kalo hidup udah ngebucin semuanya serasa diisi dengan bunga aja.


mereka sengaja menunda resepsinya selama dua hari untuk mempersiapkan semuanya.


jadi rumah udah sepi nggak ada orang bik nini sama bik wari pergi sama pak maman pake mobil ibu semula susah banget mujuk mereka buat ikut alasannya malulah.


aku juga nggak mungkin nggak ajak mereka dihari bahagia keluarga kami. dengan segala pujuk rayuan mautku akhirnya bik nini sama bik wari nyerah dan milih pergi ikut sama kita walau beda mobil.


soal baju buat mereka?


udah diberesin sama ibu yang beliin hehehe...


dan ibu perginya sama ayah pake mobil ayah yang biasa dibawa kekantor.


tiga bulan yang lalu, tepat dimana keharmonisan rumah tanggaku dan fahriza mendapat ujian hingga sampai hampir diambang perpisahan berhasil kami lewati bersama.


gips dan cervical colla yang melekat ditangan dan leher fahriza juga udah dilepas yah walaupun masih tetap harus melakukan kontrol kerumah sakit untuk memeriksa kesehatan tulangnya


berbagai persoalan dan tantangan kami jangkau dengan suasana menegangkan bak film action dan pada akhirnya berhasil membimbing kami untuk menjadi lebih mengerti pasangan masing masing, lebih membuat kami memahami arti dari sebuah hubungan. and mungkin aku juga harus berterima kasih lebih banyak lagi pada sang pencipta langit dan bumi yang membuat aku dan fahriza berdiri bersisian dengan saling menautkan jari menuju puncak kebahagian.


sampai kami tiba dihari ini, menghadiri hari kebahagiaan kakak ku juga sahabatku rasanya tak ada kebahagiaan lain dalam benakku selain bisa selalu bersama fahriza.


" heh, kalian berdua udah kayak tamu agung aja datang paling belakangan dari keluarga yang lain " cetus kak lufian saat aku berdiri didepan mereka dipelaminan. ya kami telat acaranya telah dimulai lima menit yang lalu tapi belum terlalu lama juga lagian ini juga resepsinya dimana sang raja dan ratu sehari itu hanya bertugas menyalami para tamu undangan belum masuk sesi foto keluarga.


jadi bagiku kami belum melewatkan apapun, karena yang paling penting itu adalah foto keluarga yang mana aku juga harus mengabadikan moment disana hehehe.....


" mau gimana lagi yan, nungguin perempuan dandan harus ekstra sabar " jawab fahriza disampingku


" eh iya ya. nih anak tumbenan dandan kek begini, pake soflens lagi ada badai apa buk? " balas tania yang sudah seperti permaisuri dengan mahkota yang menghiasi kepalanya yang tertutup oleh jilbab.


nih anak kalo orang nggak tau bakalan disangka anggun banget liat aja gaun pengantinnya tertutup gitu malah mirip ratu di negri dongen yang anggunnya luar biasa.


padahal kalo sama aku nggak ada sopan santunnya sama sekali, pas acara ngegibahin aku sama kak lufian atau fahriza blak blakan banget lah sekarang ngomentarin make up aku lagi hisss pen nampol


" kalian pada tuh ya seharusnya seneng liat aku rapi plus cantik kayak gini, ini malah dikomentarin ck nyebelin banget sih "


seketika kak lufian meraih tubuhku dalam dekapannya " ulu ulu... jangan nangis nanti make upnya rusak " dia menepuk pelan puggungku


" bodo "


setelah melepas pelukannya aku beralih ke tania lalu memeluk erat dirinya


memberikan ucapan selamat padanya


" cepet beri aku ponakan ya " goda ku berbisik disampingnya


dapat kulihat wajah malu tania saat sudah melepas pelukan darinya tak lama aku dihadiahi nya cubitan kecil diperutku hingga membuatku tak dapat menahan tawa karena berhasil menggodanya


wanita pemalu kayak dia mah lebih cocok kalo diginiin biar dia salah tingkah


" wawan... " gumamku ketika melihat seorang laki laki yang belum mendapatkan tulang rusuknya itu sedang menyantap sepotong cake ditangannya.


puk


" eh, oy lufita " sapanya setelah melihat aku yang menepuk bahunya


" sanggup juga kamu ya datang ke pernikahan mantan orang yang disukai " ejekku seraya mencomot es krim yang baru diambilkan fahriza karena perintahku


" hai wan " sapa fahriza yang kini duduk disampingku


" hai mas " balasnya lalu menatap malas kearahku


" eh unyil asal lo tau ye hati gue tuh terbuat dari baja jadi nggak ada yang namanya lemah dalam diri gue. apa lagi ini cuma datang kepernikahan mantan orang yang disukai, hengh sorry dory mory story ye gue nggak bakalan yang namanya melow melow drama ngerti! " kilahnya panjang lebar melemparkan tatapan sinis kearahku dengan dilengkapi gaya bicara sok artis


rasanya aku ingin terbahak liat ekspresi kesalnya itu sudah kupastikan kalau hatinya lagi retak saat ini. bagaimana tidak, aku sangat mengetahiu bahwa wawan begitu menyukai tania tapi dia masih menghargai tania yang selalu menolak untuk diajaknya berpacaran.


aku kasih tau satu hal. tania itu wanita yang tidak neko neko dalam memilih pasangan, makanya wawan coba pedekatean sama dia eh ternyata ditolak. ya iyalah orang dia ngajak pacaran mana mau tania yang tertutup kayak gitu.


tania tuh pernah suka sama senior dikampus yang maaf nih ya tampangnya jauh dari nilai standar bahkan aku pernah mengejeknya karena menyukai pria seperti itu apalagi jauh dari kata kaya.


waktu kuliah dulu aku lumayan mata duitan gimana enggak orang apa yang aku minta selalu diturutin almarhum papa, apalagi rata-rata waktu itu pria yang mendekati ku selalu sesuai standar atau kriteria pria populer dan jauh dari kata ' memiliki akhlak yang baik ' bahkan waktu aku semester tiga aku pernah hampir diajak ke club malam sama raymond kalo nggak salah namanya. anaknya jangan diragukan lagi aku mencoba pendekatan dengan dia dan dia malah ngajak aku buat ke club untung ketemu tania di persimpangan jalan dia balik dari toko buku pas liat aku keluar dari cafe langsung diseret tanpa ngomong lagi.


ternyata dia tau raymond dari temen satu organisasinya.


berbeda dengan aku, tania yang berwajah ayu khas orang sunda yang kalo bicara sama orang selain aku tuh pemalu na'uzubilah terutama cowok.


nah kalian tau pria yang disukainya itu cuma anak beasiswa sederhana dan kalo pergi kekampus naik angkot.


tapi walaupun anaknya sederhana pake banget, dia nggak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang muslim selain itu dia juga ramah banget bahkan aku sama tania pernah nemuin dia makan dipinggir jalan sema seorang pengemis, mereka terlihat berbincang begitu akrab. tania juga pernah cerita, pernah ketemu dia lagi sholat duha waktu dia lari menemuiku ke pinggir taman dan nggak sengaja liat cowok yang ditaksirnya itu lagi sholat sunnah.


pas aku tanya kok dia bisa gitu naksir sama cowok yang jauh dari daftar cowok tampan atau cowok kaya.


dengan santainya dia menjawab ' aku itu nyari imam yang bisa membantuku memperbaiki akhlak dan membimbingku menuju jannah-Nya bukan cari pria yang cuma bisa ngehidupin aku dengan duitnya dan memikatku dengan ketampanannya. itu semua nggak berguna jika sudah di padang mahsyar '


aku salut sama dia yang memilih pasanganan hanya dengan kriteria kemapanan dalam segi akhlak dan bertanggung jawab dalam agama, nggak ribet kayak aku yang harus tampan dulu, banyak duit dan masih banyak lagi.


dia juga bilang jika niat kita menikah karena mengharapkan pahala dan ridho dari Nya maka pasti akan dikasi jalan, nggak usah takut nggak bakalan makan karena nikah sama orang yang sederhana karena rezeki setelah kita menikah sudah diatur yang diatas.


' setiap orang belum tentu punya gaji,


tapi setiap orang sudah pasti punya rezeki ' aku masih ingat kata kata ini di otakku kala membahas perihal jodoh dengan tania


dan sampailah dia menemui imamnya hari ini dan itu kakakku. hem, jodoh memang tidak ada yang tau semua rahasia Allah.


" santai aja kali bung, aku kan cuma nanya sinis amat jawabannya. kalo nggak sakit ati nggak usah gitu juga kali nada bicaramu kayak orang maok ngajak berantem "


" iye gue mau berantem ame lu, bikin emosi aja lagian ngapain lu duduk disini meja yang lain kan banyak? " dia kembali mencomot cake yang masih tersisa dipiringnya


" hehehe.... sengaja mang " jawabku santai seraya menarik tangan fahriza yang sedang fokus pada ponselnya kemudian menyatukan jari jemariku dengan jari jemarinya.


dia mengalihkan atensinya kemudian menatapku dengan tanya aku hanya membalasnya dengan cengiran dan dia kembali menatap ponselnya di ikuti gelengan kecil melihat tingka


" kampret lu ye pamer kemesraan depan gue yang jomblo "


" Allahu akbar " fahriza sampe terjingkat kaget akibat tepukan keras yang kulayangkan dipahanya karena aku sudah tidak tahan lagi untuk tidak tertawa keras mendengar kekesalan yang berlipat lipat dari wawan karena godaan yang kuberikan


" sensi amat sih mas hahaha... aduh bang za " aku memegangi perutku yang terasa nyeri akibat banyak tertawa


entah kenapa melihat raut wawan yang memiliki kekesalan berlipat seperti itu benar benar membuat hatiku tergelitik.


" aku nggak abis fikir mas sama kamu bisa dapet jodoh kek dia " ujar wawan sambil menenggak minumannya


wawan kalo bicara sama fahriza emang agak sedikit formal entah dia segan sama fahriza atau apa aku juga nggak terlalu memperdulikan yang penting mereka nyaman aja dalam berkomunikasi


" saya juga nggak tau wan, kok bisa ya? "


wah mau tidur diluar kali nih si fahriza malah ikut ikutan ngemihak wawan


" eh wan aku mau kasi petuah buat kamu sebelum naik kepelaminan nanti buat nyalamin mereka " aku menunjuk kearah tania dan kak lufian dengan daguku, mereka yang memancarkan raut kebahagiaan sedang menyalami para tamu undangan


" nggak perlu, amanat dari lu itu nggak ada mutunya sama sekali "


" haiss.... aku cuma mau ngingetin mending kamu ke toilet dulu deh " saranku


" ngapain? "


" ya kamu nangis bombay dulu disana sebelum mengucapkan kata ' selamat ' pada kak lufian dan tania "


" lama lama gue lempar ke empang lu ye " sarkasanya sekali lagi berhasil membuat tawaku pecah karena berhasil menggoda wawan


" kamu kok jadi jahil kayak gini sih " ucap fahriza membuatku mengalihkan pandangan dari wawan


" suruh tidur diluar aja dia mas " usul wawan nimbrung


" huuu... provokator " ejekku dengan sisa tawa yang mulai memudar


karena terlalu asik menggoda wawan akhirnya aku tertarik sama cake yang dimakannya tadi hingga membuatku pergi mengambil beberapa potong cake di meja yang tak jauh dari tempatku duduk


" mau? " tawarku pada fahriza yang menatapku tanpa berkedip


dia menggeleng menjawab pertanyaanku


" aku tau aku itu cantik jadi nggak usah kamu pelototin kayak gitu "


mendengar ucapanku membuat fahriza membuang nafas beratnya


" saya itu heran, kamu ngambil cake banyak-banyak kayak gini emang sanggup ngabisinnya? "


" kamu tenang aja, ini semua bakalan abis tak bersisa dan nggak bakalan jadi mubazir kok " ucapku santai


" biarin aja mas biar dia gemuk baru tau rasa " celetuk wawan


" nimbrung aja "


" bodo, eh mas duluan ya udah hampir jam delapan " ujar wawan berpamitan pada fahriza


" cepet banget wan "


" aku udah dari tadi mas, lagian mau mampir kerumah temen dulu bentar " balasnya seraya menjabat tangan fahriza


" eh jangan nangis yak " ejekku sebelum dia benar benar meninggalkan meja kami dan dibalas wawan dengan lambaian.


eh tunggu kok tiba tiba perut aku ngebeludak kayak gini yak. kayak gunung merapi mau ngeluarin magma nya. cakenya aja masih setengah


" huek " eranganku kali ini berhasil membuat fahriza panik, dia mengusap pelan punggungku.


seketika aku berlari mencari toilet karena tak tahan dengan isi perutku yang minta dikeluarkan.


" hueeeekkk.... " keluar sudah semua isi perutku yang baru saja masuk kelambung di wastafel


" hueeeekk.... " sumpah rasanya pengen kerokin sendiri didalam perut dari pada tersiksa kayak gini


" tuh kan, saya bilang juga apa kamu tuh perut masih kosong diisi sama makanan dengan lemak banyak kayak cake tadi. yang udah pasti pake telor, susu, mentega " omelnya sambil memijit pelan tengkukku


" aduh bang za hah, hah.. jangan ngomel dulu dong aku.. hueeekk.. "


" kita kerumah sakit sekarang! " titahnya setelah aku berhasil mengeluarkan lagi isi perutku


" tapi acaranya belum selesai " rengekku tak ingin pergi karena aku baru sekali melakukan sesi foto itu juga cuma sekali jepret sama fotografer nya


" kamu mau nunggu sampe acaranya selesai trus sambil tiduran disana? lemes kayak gini juga, kita kedokter dulu periksa keadaan kamu "


" tapikan aku juga dokter bang za ini pasti cuma maag doang "


" ya udah kamu periksa aja diri kamu sendiri " sarkasnya menatapku tajam rasanya air mataku mau terjun liat tatapannya


" emm.... bang za marah? " nada bicaraku sudah seperti anak kecil yang minta ice cream


" huuuufff fiuuh..... kamu nurut sama saya ya " ujarnya lembut setelah menghembuskan nafas lelahnya


aku mengangguk kecik menjawab pertanyaannya


" kita nggak pamit dulu sama mereka? " maksudku pamit sama sang pengantin dan keluarga.


" saya udah chat lufian sama ayah " jawabnya setelah memutar stir mobil keluar dari parkiran hotel


▪︎▪︎▪︎


" masih mual? " tanya dokter perempuan setengah baya seraya tersenyum padaku


" udah nggak sih dok "


dia menjabat tangan fahriza sembari tersenyum membuat si empunya bingung tapi tetap menerima jabat tangan dari si dokter " selamat ya pak, istri anda hamil " ucapnya membuatku dan fahriza sama sama tercengang.


secepat ini?


aku benar benar nggak nyangka bakalan secepat ini dikasi kepercayaan


" apa ini kehamilan kedua? " tanya nya setelah melepas jabat tangan dengan fahriza


" i-iya " jawabku gugup


sungguh tubuhku rasanya gemetar seketika mendengar penuturan sang dokter aku nggak tau harus bersikap kayak apa mengingat hal yang pernah kualami


" tolong dijaga ya bu, soalnya usia lima minggu itu masih lemah. apalagi sepertinya ibu pernah cidera ya? "


" iya dok, saya pernah kecelakaan "


" nah itu bisa berdampak pada janin ibu kalau ibu tidak hati-hati. selalu makan makanan yang sehat ya bu "


" kalau gitu kita permisi ya dok, terima kasih banyak " ucap fahriza berdiri dari duduknya dan menjabat kembali tangan sang dokter paruh baya itu.


" sama sama pak, sekali lagi selamat ya " ujarnya yang dibalas fahriza dengan senyuman


aku tersentak dari lamunanku ketika sebuah tangan besar menggenggam erat jariku


sebuah senyum bahagia terukir dibibirnya saat mataku bertubrukan dengan matanya.


" saya nggak tau lagi mengekspresikan rasa bahagia saya seperti apa " ucapnya membuatku juga ikut tersenyum


aku masih belum percaya dengan apa yang baru saja aku dengar dari dokter itu, sungguh hari ini sepertinya bukan hari kebahagiaan tania dan kak lufian melainkan hari paling bahagiaku dan fahriza


cup


" makasih " ujarnya setelah mengecup pucuk kepalaku


aku melingkarkan tanganku dilehernya dan disambut fahriza dengan pelukan hangat " aku masih belum percaya bang " ujarku dibelakangnya


kami sudah seperti ABG yang takut ketauan orang tua akhirnya pacaran dimobil sambil pelukan. bahkan keluar dari parkiran rumah sakit aja belum, padahal tempat romantis lainnya banyak tapi milih romantisan dalam mobil di parkiran rumah sakit lagi


" kayaknya saya harus ekstra siapin tenaga juga fikiran nih " godanya setelah mengurai pelukan kami


" ini juga buat anak kamu. jangan mau enaknya doang ya susahnya dilimpahin ke aku semua, kamu juga harus ngerasain susahnya "


cup


" siap komandan " setelah mengecup bibirku sekarang bertingkah layaknya seorang prajurit pada atasannya


senyumku mengembang seketika melihat kebahagiaan yang tertera diwajah fahriza.


mungkin ini juga bagian dari rezeki yang disebut tania