LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
YOU ARE MY DEAR



" hufftt akhirnya pulaang " ujarku sambil memakai helm ketika sudah disamping queen badanku rasanya pegal banget pengen rebahan dikasur


hem si fahriza udah pulang belom ya seketika aku teringat padanya buru buru aku mengeluarkan ponsel dan menelfonnya tak perlu menunggu lama fahriza langsung mengangkat telfon dariku


" abang zaaaaa " teriaku ketika sudah memberi salam padanya


" ih kenapa kok gembira banget kedengerannya " ujarnya disebrang sana


" rinduu.... " balasku manja.


" hem, kok bisa tiba tiba rindu jadi penasaran ada apa " ucapnya membuat senyum dibibirku menghilang


" ck, issh nggak percaya banget udah ah bikin kesel aja "


terdengar dia sedang tertawa disana


" haha.... ya udah bentar lagi saya pulang kamu masih dirumah sakit? "


" iya tapi udah mau balik kerumah "


" ya udah hati hati assalammualaikum "


" waalaikumsalam "


setelah menutup telfon dari fahriza aku menghidupkan queen dan keluar dari parkiran rumah sakit ketika lewat di sebuah kedai kopi aku teringat cappuccino latte yang sudah lama tidak ku cicipi


hem pasti enak banget sore sore gini minum cappuccino latte segera kulajukan queen menuju kedai kopi favorit ku dan tania


oohh ya ngomong ngomong soal tania dia sekarang juga sudah bekerja di rumah sakit dijakarta lumayan jauh dari rumah sakit tempat ku bekerja dan dia juga nggak kalah sibuk dariku jangankan untuk bertemu telfonan saja hanya bisa beberapa menit karena jadwalnya yang begitu padat


pernah kemaren siang waktu aku istirahat nelfon dia cuma 4 menit doang dia udah dipanggil lagi huh benar benar padat jadwal tuh anak dulu ngatain aku yang nggak punya waktu sekarang malahan dia yang nggak ada waktu bahkan untuk dirinya sendiri istirahat


tanpa terasa kini motorku sudah memasuki parkiran kedai coffie mini tempat tongkorangan anak mudalah aku salut banget sama kedai ini walaupun tempatnya mini alias kecil tapi pengunjungnya rame juga rata rata sih anak muda maklumlah jiwa muda suka tempat yang nyaman buat sendiri maupun berdua


waktu kuliah dulu aku sama tania sering banget kesini baik mau nikmatin suasana sore ataupun mau ngerjain tugas walapun mini tempatnya nyaman banget


" eh lufita " ujar wawan barista kedai ini ketika aku tiba di meja pemesanan


" kemane aje lo nggak nongkrong disini wuiihh penampilannya juga makin cantik pake jilbab pula duh kalo kayak gini sih gue jadi naksir ama elo ntar " sambungnya


wawan emang udah kenal banget sama aku maklum pengunjung setia. dia tuh dulu suka sama tania sampai sampai dia pernah minta comblangin sama aku tapi ya akunya nggak mau enak aja aku jadi mak comblang ogah banget lagian si tania juga nggak mau pacaran jadi percuma aja


" hehehe kerjalah emang kamu aja yang bisa kerja aku juga kalee " ucapku sambil duduk di bangku depan meja barista berhadapan denganya


" gimana kabarnya sekarang? "


" seperti yang kamu liat "


" eh gue denger katanya lo udah merried "


" iya " jawabku datar sambil mencomot brownis yang tertata manis di piring atas meja


" wah kelewatan lu kagak ngundang gue "


" bukannya nggak mau ngundang masalahnya semua urusan pernikahan aku serahin ke keluarga waktu itu aku males banget buat ngurus semuanya "


" kok malas pernikahan sendiri malah malas "


" yah gimana nggak malas orang akunya dijodohin "


" hahahaha...... jiah ini jaman apa neng maen jodoh jodohin haduh ada ada aja orang tua lo trus gimana sekarang lo akur kagak ama laki lo kalo nggak gue mau kok jadi pendamping hidup selanjutnya buat lo" seketika aku menjitak kepalanya dan wawan hanya meringis kesakitan


" nih " ucapku sambil menunjukkan cincin pernikahan yang melingkar dijari manisku


aku memakainya kemaren setelah aku menyatakan perasaanku pada fahriza


" kalo aku nggak cinta sama dia nggak mungkin aku pake nih cincin"


" biasa aja kali neng "


" lagian ngomong tuh asal nyerocos aja "


" nah kamu kapan nyusul? " lanjutku padanya yang sedang mengelap cangkir kopi


" hehehe bentar lagi undangan pernikahan gue juga bakalan nyebar tunggu aja "


" emang pendamping kamu siapa? "


" lagi nyari "


" cih kalo lagi nyari kapan undangannya kesebar wawan seklek "


" eh jodoh kagak ada yang tau siapa tau besok atau lusa gue ketemu jodoh gue dan minggu depannya kita nikah nah lo "


" hedeh ngayal mulu kerjaanya udah buatin aku yang biasa dua gelas bawa pulang "


" ehm semenjak udah kawin pesanan yang biasanya satu berubah jadi dua ya "


" hehehe buat suami akoh juga gitu lo "


" iya deh iya yang lagi kasmaran tapi ngomong ngomong pesanan lu yang biasa apa ya gue lupa "


" kebiasaan belum tua udah pikun "


" bukannya pikun tapi kesukaan lu disini ada tiga jadi gua juga bingung mau bikinin yang mana "


" cappuccino latte " ucap ku berbarengan dengan seorang pria disampingku yang baru saja datang karena penasaran aku menoleh pria tersebut dan yah pria ini berhasil membuatku kaget begitu juga dengannya


" fita " ujar laki laki itu kaget


dan yang kulakukan sekarang hanya bisa menundukkan pandangan


mendengar pesananku wawan langsung membuatkannya begitu juga dengan pesanan orang yang disampingku yang tidak lain adalah vino


ketika cappuccino latte ku sudah jadi buru buru aku mengambilnya lalu pergi keluar karena tadi sudah kubayar jadi aku bisa langsung nyelonong aja


tapi saat aku ingin membuka pintu untuk keluar tiba tiba sebuah tangan menahan tanganku dengan cepat aku menarik kembali tanganku dan saat aku menoleh lagi lagi vino yang melakukannya


" fita boleh minta waktumu sebentar aku ingin bicara denganmu "


" aku lagi buru buru "


" sebentar aja "


" maaf aku harus cepat " ujarku mencoba membuka pintunya dan vino kembali menahan nya tapi kali ini dia tidak menyentuh tanganku


" please give me five minutes " pintanya memelas


" oke cepetan aku nggak punya banyak waktu "


" duduk dulu fit kita nggak mungkin bicara didepan pintu kayak gini "


bener juga sih ntar ngehalangin orang masuk mau nggak mau aku menuruti perintah vino dan duduk di kursi dekat pintu masuk


" aku mau minta maaf sama kamu karena dulu pernah nyakitin hati kamu " ujarnya lirih


" aku udah lama maafin kamu "


" thanks dan kemaren waktu ketemu diapartemen sebenernya aku pengen ngajak kamu ngobrol tapi malah pergi"


"kamu banyak berubah sekarang jauh lebih baik dari fita yang aku kenal yang selalu ngomong ceplas ceplos dan tatapan kamu juga berubah nggak tajam kayak dulu lagi


" oke udah selesai aku mau pulang "


" tunggu dulu fit, aku mau minta balikan sama kamu aku mau kita kayak dulu lagi " ucapnya sembari ingin meraih jemariku namun ku hindari kini aku menatapnya dengan kesal karena sudah membuang waktuku cuma buat ngomong gini doang


" hengh, maaf vin aku nggak bisa "


" kenapa fit, aku udah minta maaf dan juga udah berubah nggak kayak dulu lagi selama ini aku memilih menjauhi wanita yang mencoba mendekatiku hanya untuk kamu "


aku menarik nafasku dan menghembuskannya perlahan lalu menunjukkan cincin dijari manisku " aku udah nikah " ucapku dan membuatnya membulatkan mata


" maaf vin mulai sekarang dan selamanya aku cuma mencintai suamiku " ucapku membuatnya menatapku tanpa berkedip tatapannya teduh tapi serasa menusuk


" assalammualaikum " lanjutku lalu berdiri dan meninggalkan vino yang masih mematung mendengar ucapanku


aku nggak tau kenapa dunia ini begitu kecil hingga aku harus kembali bertemu dengan vino membuat moodku berantakan


••••••••••


sedari tadi mataku terus menatap fahriza yang lagi mencicipi masakanku aku takut kalau ada yang kurang dalam rasanya


makan malam kami aku masak bubur pedas makanan khas kegemaran masyarakat kalimantan barat yah termasuk aku juga almarhum papa


aku suka banget sama bubur pedas karena didalamnya banyak mengandung berbagai sayuran ditambah lagi beras yang harus disangrai terlebih dahulu sebelum dimasak


" gimana? " tanyaku memastikannya


" enak, saya suka banyak sayuran didalamnya rasanya juga unik " ucap fahriza seperti seorang chef yang menilai masakan para finalis lomba memasak


aku tersenyum lebar mendengar penuturannya lalu juga ikut menyendok bubur pedas kemangkuk ku


" saya beruntung banget tau nggak " ucapnya tiba tiba ketika aku menyendok buburnya kedalam mulutku


" beruntung kenapa? " tanyaku bingung


" beruntung punya istri pinter masak kayak kamu "


" ih gombal "


" beneran, untung saya cepat menikahimu "


" kalau nggak udah derebut CR7 deh " ejekku sambil menyendokkan bubur kemulutku


dia terkekeh mendengar ucapanku lalu melanjutkan makannya


setelah selesai makan dan mencuci piring aku pergi ke sofa untuk beristirahat rasanya badanku sangat pegal


hari ini cukup melelahkan untukku


kini kusenderkan kepalaku dibahu fahriza yang baru saja duduk disampingku


" bang za " panggilku ketika dia sedang memainkan ponselnya dia menoleh kearahku


" aku boleh tanya sesuatu nggak? " lanjutku


" mau tanya apa? " tanya nya datar


" tapi jangan marah ya "


mendengar ucapanku dia mengernyitkan dahi menatapku penasaran


" huufftt, kalau boleh tau orang tua kandungnya abang kemana? " tanyaku ragu ragu takut melukai perasaanya


dia makin menatapku tajam duh bikin takut aja tatapannya itu


" gini loh aku kan sekarang istrinya bang za apa aku nggak boleh tau masalalu kamu? "


terlihat dia menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan lalu menatap kedepan


" saya ditelantarkan orang tua saya sejak saya lahir kedunia saya juga tidak pernah melihat wajah mereka dan saya nggak tau salah saya apa " ucapnya tanpa memperhatikanku matanya menatap kosong kearah kaca jendela


" mungkin kehadiran saya tidak mereka inginkan, "


" tapi Allah maha penolong, dia mengirimkan seorang perempuan tua bak malaikat untuk mengasuh saya, ibu angkat saya seorang buruh cuci pakaian. dia hanya seorang diri dirumahnya suaminya meninggal ketika setahun setelah mereka menikah dan dia juga tidak memiliki anak "


" dia menemukan saya di sebuah meja dibawah pohon besar dekat rumahnya ketika dia baru pulang mengantar cucian tetangga"


" dia senang benget karena dia menemukan saya dialah yang mengasuh saya dan membesarkan saya tanpa meminta apapun dari saya dengan tulusnya dia mengangkat saya menjadi anaknya "


" orang tua yang mengasuh bang za dari kecil itu kemana sekarang? " tanyaku penasaran


" dia meninggal ketika saya berumur 7 tahun, saat itu saya masih begitu kecil namun sudah bisa memaknai kata meninggal saya merasa terpuruk waktu itu " ucap fahriza sambil mengeluarkan mutiara bening dari pelupuk matanya dia masih tidak menoleh pada ku


" saya nggak tau harus bagaimana lagi saya benar benar sendiri tanpa seorang kerabat pun dikota yang besar ini saya makan makanan sisa kadang saya juga....." kata katanya terhenti dia mulai terisak seketika aku menggenggam jemarinya dan juga meneteskan air mata melihat kepedihan yang selama ini ia simpan


" saya juga mencuri makanan orang hanya untuk menahan lapar pada perut saya hingga Allah berbaik hati kepada saya dengan mendatangkan malaikat kecil yang membuat saya menjadi adiknya dan menjadi seperti sekarang "


" dia Rahmat Nurija Jaelani seorang lelaki kecil berhati malaikat " ujarnya sambil menatapku


" sejak saat itu saya berjanji akan selalu menjaga dan menemaninya apapun yang terjadi. ayah maupun ibu selalu baik pada saya sekalipun saya anak angkat mereka tapi mereka tak pernah sedikit pun membedakan saya dengan Rija mereka memperlakukan saya layaknya anak kandung mereka "


setelah dia menceritakan masalalunya aku langsung mendekapnya dalam pelukan ku aku juga merasa sedih mendengarkan masalalu suamiku yang begitu suram dan jelas jauh berbeda denganku


" kamu masih menyimpan bobo yang diberikan Rija padamu " ujarnya sambil menatapku setelah aku melepas pelukan ku darinya


aku hanya mengangguk sembari tersenyum dan menyeka air matanya yang masih tersisa di pipi mulusnya itu


" itu buatan saya waktu itu saya membuat dua buah boneka kayu satunya saya berikan kedia ketika saya tanya bonekanya kemana saat saya tidak melihat boneka itu diranselnya dia hanya menggelengkan kepalanya "


" lalu kok abang tau kalau boneka itu ada di aku? "


" saya mengikutinya waktu pertemuan terakhir kalian di taman itu ternyata dia menyimpan boneka itu untukmu "


sesaat kemudian dia mengecup pucuk kepalaku yang tidak tertutup oleh jilbab


" maaf jika saya terlalu banyak menyimpan rahasia darimu saya bukannya tidak mau menceritakan semuanya padamu saya hanya takut kamu jadi membenci saya karena masalalu saya yang begitu buruk "


" bang za dengerin aku, aku mencintai bang za tulus dari hatiku tanpa harus peduli seburuk apapun masalalu bang za aku menerima bang za sebagai imamku untuk menuntunku pada masa depan bukan masalalu " ucapku sembari menatapnya lekat begitu juga dengan fahriza yang terus menatapku seketika dia mendekat dan mengecup kedua pelupuk mataku


" terima kasih, karena sudah memberi kepercayaan pada saya insya Allah saya akan terus memegang kepercayaan darimu " ujarnya lembut dengan membelai pipiku


" Bang za sebenarnya waktu aku bilang nggak perawan lagi saat itu...."


" saya tau kamu berbohong pada saya waktu itu karena kamu ingin saya membatalkan perjodohan itu "


" loh kamu tau dari mana? " tanyaku kaget karena dia mengetahui aku berbohong padanya


" kamu itu wanita yang tidak pintar berbohong fifi, jangankan orang kamu saja tidak bisa membobongi dirimu sendiri ketika kamu mulai menyukai dan cemburu pada saya " ucapnya sambil tertawa kecil


" hem iya deh kamu menang " sambil memanyunkan bibirku karena kesal fahriza mengetahui semua tentang aku ketika aku ingin bertanya lagi dengan cepat fahriza melahap bibirku dan melumatnya lalu yang kulakukan hanya diam membiarkan dia menguasai bibirku dengan mata terpejam


" dasar curang main sosor sosor aja tanpa memberitahu " umpatku kesal ketika dia sudah melapaskan bibirku


" abisnya kamu cerewet banyak tanya " ujarnya tersenyum jahil


" tapi jangan nyosor juga kali bikin kesel aja "


" kenapa mau lagi? " tanya nya tersenyum mengejek


" dasar mesum " ujarku lalu berdiri meninggalkannya yang masih menertawai ku dengan pipi yang memerah dasar suka banget bikin aku malu


ketika aku sudah dikamar tiba tiba fahriza memelukku dari belakang dan melingkarkan tangannya diperutku ternyata dia juga mengikutiku yah mulai lagi nggak tau apa pipiku masih merah


" makasih buat semuanya " ujarnya dibelakang


mendengar ucapannya aku membalikkan tubuhku dan menatapny tanganya masih diposisi melingkar tapi kini dipinggangku wajahnya kini sangat dekat dengan wajahku


" aku juga berterima kasih karena kamu selalu sabar menghadapi sikapku yang kadang kadang masih kekanak kanakan " ucapku lembut


" you're the miracle of my life " ujarnya lembut


" and you are my dear " sambungku


dia tersenyum dan menempelkan hidung mancungnya itu di hidungku aku sangat menyukai ini kehangatan yang selalu membuatku merasa damai semoga tak ada mengganggu bahtera rumah tanggaku dan fahriza karena aku tak bisa kebilangannya


haii readers maaf up nya lama masih sibuk soalnya dan makasih banyak buat yang udah baca dan like emm jangan lupa komentarnya ya supaya saya makin semangat lanjutinnya dan buat yang udah kasi masukan makasih sekali lagi


and see you💕💕