LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
NIGHT TO



fahriza


》》》》》


" iya sayang, ini saya mau meeting dulu abis itu baru bisa pulang " sudah hampir sepuluh menit aku menunda meeting dengan dewan direksi untuk membujuk lufita agar mau menutup telfonnya.


entah kenapa kehamilan keduanya ini membuat dia lebih posesif, selalu menuduhku melakukan hal yang tidak-tidak dibelakangnya. kepalaku terasa berdenyut menghadapi sikap lufita yang mudah berubah-ubah ini. aku masih senang dengan dia ngidam yang aneh-aneh atau membangunkanku ditengah malam seperti dulu dari pada dia harus menelfonku dua puluh menit sekali ketika aku sedang bekerja.


jangan mencoba mengabaikan telfon darinya karena fikirannya akan berkelana aneh aneh.


" aku nggak mau tau pokoknya kamu harus pulang sekarang! " teriaknya disebrang sana, aku sampai harus sedikit menjauhkan ponsel dari telingaku agar gendang telingaku masih bisa bekerja dengan normal dalam menghantar getaran suara ke telinga tengahku


" iya iya.. haah... saya pulang tapi setelah selesai meeting ya. ayolah fi udah hampir sepuluh menit saya menunda meeting. tolong ngertiin saya ya " aku sudah hampir frustasi meladeninya kalau tidak ingat keadanya yang sedang mengandung buah hatiku mungkin aku sudah mematikan panggilan dengannya dari tadi


" hiks.. hiks.. kamu bohong, kamu pasti sama selingkuhan kamu kan? kamu pasti lagi berduaankan sama selingkuhan kamu? iya kan? nggak usah ngelak lagi hiks... kamu pasti lagi mesraan sama selingkuhan kamu " lirihnya dengan isakan.


rasanya sekarang aku sedang serba salah mau mengikuti keinginan lufita tapi aku juga punya tanggung jawab pada perusahaan tapi jika mengabaikan dia aku yakin pasti susah banget berhetiin tangisnya ini


" ya Allah sayang.. ini saya dikantor, saya lagi mau meeting. tolong ngertiin posisi saya sebentar aja, setelah semuanya selesai saya pasti pulang. saya janji "


" kamu pasti lagi sama vara kan? ngakuk aja kamu. kamu pasti lagi berduaan kan sama dia. aku tau aku udah jelek makanya kamu cari perempuan lagi. seharusnya kamu sadar aku gendut kayak gini itu gara-gara siapa? " desaknya panjang lebar


aku kembali menghela nafas mendengar tudingannya yang tak mendasar itu. sumpah jika tidak ada hal penting lain mungkin aku sudah pulang kerumah saat ini walaupun belum masuk jam istirahat kantor.


pasti nama vara lagi yang akan dibawa bawanya ketika dia mencurigaiku. sedikit cerita perihal lufita yang selalu menuduhku berduaan dengan vara itu berawal ketika ardi yang menceritakan kondisi vara padaku tiga bulan yang lalu ketika dia siuman. karena merasa iba akan vara yang tidak memiliki sanak saudara disini makanya aku menyempatkan diri untuk mengunjunginya kerumah sakit pas pulang dari kantor.


tapi siapa sangka itu malah jadi senjata lufita untuk mencurigaiku mengingat kondisinya yang sedang hamil, membuat emosinya kadang tidak stabil. hari itu aku pulang telat, jadi aku ceritakan saja aku dari mana saat dia bertanya keterlambatan pulangku. ku fikir setelah menceritakan semuanya dia akan memaklumi ternyata malah sebaliknya, dia marah padaku mengatakan bahwa aku memiliki perasaan pada varalah, sudah menikah dengan vara lah, anak yang dikandung vara waktu itu pasti anak ku lah hingga aku mau mengunjungi vara padahal dia sudah tau kebenarannya.


aku mengunjungi vara bukan karena aku memiliki rasa padanya atau apa melainkan karena aku juga merasa bersalah akibat diriku dia harus mengalami cedera pada otaknya. vara yang sekarang tidak seperti vara yang dulu, sekarang dia sudah lebih bisa menerima kenyataan. bahkan dia tidak menyalahkanku atas kejadian itu justru dia meminta maaf karena dia hampir membuat lufita celaka.


aku semakin kasihan padanya ketika dia mengerang kesakitan pada kepalanya didepan mataku disaat seperti itu pun dia sempat memintaku agar sudi membawa lufita untuk bertemu dengannya karena dia mau minta maaf secara langsung.


tapi lain hal dengan tanggapan lufita dia malah nggak mah ketemu vara, karena menganggapnya mau merebutku. berbeda dengan tanggapannya waktu itu ketika membawaku keruangan vara saat aku juga masih dirumah sakit


sudahlah tidak masalah jika dia tidak mau, vara juga memakluminya perlahan kondisi wanita itu mulai membaik dan akhirnya dia meminta kakak sepupunya untuk menjemputnya kembali ke sydney menjalani pengobatan lebih lanjutnya disana. basicly keluarga besarnya banyak disana


fiuuhh... dan banyak lagi tudingan lainnya bahkan lufita pernah menuduhku yang sedang tersenyum padanya itu merupakan senyumku karena sedang mengingat wanita lain sungguh hebat sekali kecurigaanya.


setiap terlambat pulang dari kantor akibat pekerjaan yang numpuk, emosiku lagi-lagi diuji oleh lufita. entah dengan cara apalagi aku harus menjelaskannya contonya ya seperti sekarang ini


aku memijit pelipisku untuk mengurangi denyutan dikepalaku.


" fi.. kalau kamu kayak gini lebih baik saya ngundurin diri aja dan dirumah ngejagain kamu dua puluh empat jam biar kamu bisa liat saya setiap waktu " cetusku


" kamu mau saya ngundurin diri? kamu mau saya jadi pengangguran iya? "


" enggak... " lirihnya


" maka dari itu tolong ngertiin saya sebentar ya saya.... "


tok tok tok


" permisi, maaf pak mengganggu saya mau menyampaikan bahwa semuanya telah berkumpul diruang meeting tinggal menunggu anda " ujar ardi yang tadi mengetuk pintu ruanganku


" baiklah, saya akan segera kesana " putusku seraya menarik nafas sebentar untuk mengurangi fikiranku yang lagi berkecamuk


" fi, saya tutup dulu telfonnya, saya harus meeting sekarang " ucapanku tak mendapat tanggapan darinya di sebrang sana malahan suara segukan yang masih terdengar sangat kecil


" assalammualaikum " aku memutus sambungan telfon dengannya karena diamnya kuanggap menyetujui perkataanku. dan mirisnya dia sama sekali tidak menjawab salamku.


biarlah dulu perihal tentangnya karena setelah ini aku akan segera pulang


setelah menyelesaikan urusanku dengan lufita, aku berjalan sedikit tergesa mengingat aku sudah sangat terlambat.


namun seketika aku menghentikan langkahku mendengar suara terkikik dari pria disampingku, aku tau dia pasti menertawakanku karena susah membujuk lufita.


ardi langsung mengatupkan mulutnya setelah mendapatkan tatapan tajam dariku.


" kalau bosan menjadi sekertaris saya bicara saja " aku langsung membuka pintu ruang rapat setelah membuat ardi bergumam tidak jelas mendengar saranku


▪︎▪︎▪︎


" assalammualaikum bu " aku menggamit jemari ibu seraya mencium punggung tangannya


" waalaikumsalam za, ah kebetulan kamu udah pulang " aku menautkan alisku mendengar nada bicara ibu yang terdengar khawatir.


selama kehamilan kedua lufita ini ibu jadi lebih sensitif mengingat peristiwa pada kehamilan pertama wanita itu dia merasa bersalah makanya setiap siang dia memang selalu disini untuk menemani lufita, itu kemaunya sendiri yang ingin selalu memantau lufita ketika aku tidak berada dirumah. aku jadi bersyukur ibu mau menemani lufita yang moodnya selalu berubah ubah seperti cuaca itu.


setidaknya aku bisa sedikit tenang dalam bekerja mengingat lufita itu perempuan yang ceroboh.


" ada apa bu? "


" istrimu belum makan siang za ini sudah hampir sore loh, ibu takut terjadi apa apa sama dia apalagi tadi dia nangis sampai ketiduran " ujarnya


tidak berubah.


kalau aku bisa memindahkan kantor mungkin sudah ku pindahkan kedalam rumahku agar wanita hamil itu bisa memantauku semaunya.


ceklek


pemandangan pertama yang kudapatkan adalah seorang wanita yang terbaring dikasur sembari menatap ponselnya dengan tangan kananya mengusap perutnya yang membuncit


dia menoleh kearahku kemudian membuang pandangannya kesembarang arah. jika sudah begini aku harus ekstra sabar


aku meletakan napan yang berisi nasi dengan lauknya dan air minum diatas nakas, aku meletakkan tasku diatas sofa lalu menyusul jasku hingga menyisakan kemeja abu-abu yang masih melekat menutupi tubuhku dengan lengannya yang sedikit ku gulung


" sayang... " dia masih enggan menoleh kearahku


" haaah... saya minta maaf, saya tidak bermaksud... "


" tidak bermaksud apa ha? " inilah yang aku maksud dengan ekstra sabar


aku menyugar rambutku yang sedikit memanjang karena sudah lama tidak aku rapikan ke barbershop.


" saya harus lakuin apa agar kamu percaya bahwa saya tadi itu sedang buru buru karena saya selaku pemimpin rapat sudah terlambat menghadiri pertemuan. "


" bohong, bilang aja kamu nggak mau diganggu dengan selingkuhan mu " dia mendelik mentapku


" astaghfirullah.. ya udah terserah kamu ajalah yang penting sekarang makan dulu ya " aku mengambil piring yang ku letakkan diatas nakas tadi lalu menganyun sendok yang sudah berisi nasi ke mulutnya lufita.


sedetik..


dua detik..


tiga detik..


sendok masih menggantung di bibir bawahnya tanpa adanya pergerakan dari mulutnya untuk melahap makanan yang masih diabaikannya itu.


" fi, setidaknya kamu jangan menyiksa mereka yang ada dalam perut kamu. kamu tidak membawa kesehatan atas diri kamu sendiri lo fi, melainkan tiga nyawa yang ada dalam perut kamu juga ikut andil atas asupan yang kamu berikan " aku mulai tidak tahan dengan sikapnya yang keras kepala ini.


" ooohh jadi kalau aku nggak hamil kamu bakal biarin aku mau makan atau nggak gitu? kamu bakalan nggak peduli sama aku lagi? iya gitu ya? " sinisnya menatapku tajam


bahkan disaat seperti ini pun dia masih membuat opini yang bukan bukan.


ya Allah berikanlah hamba kesabaran yang lebih


amiin..


" nggak gitu juga fi.. ck gini aja deh kamu mau saya suapin secara normal atau tidak normal? " dia mendelik mendengar pertanyaaku


" oke kalau kamu diam berarti saya yang pilihkan dan pilihan saya jatuh pada yang tidak normal " karena tak mendapat respon darinya jadi aku membuat kesimpulan sendiri


dia melengos mendengar jawabanku


tanpa tunggu lagi aku menyuapkan sesondok nasi kedalam mulutku lalu meraih wajah lufita agar menatapku sedetik kemudian makanan yang ada dalam mulutku sudah berpindah masuk kemulut lufita.


terlihat dia kaget bahkan membelalakan matanya


aku hampir saja meledakan tawa melihat ekspresi kagetnya, salah sendiri disuruh makan aja susah jadi tanggung akibatnya. bisa kulihat dengan susah payah dia mengunyah makanannya bahkan pipinya terlihat merona. ini sangat lucu untuk kuabaikan.


kadang dibalik emosinya itu dia selalu berhasil membuatku melengkungkan bibir membentuk sebuah senyuman akibat tingkahnya


aku kembali memasukkan makanan kedalam mulutku


" cukup. a-aku bisa makan sendiri " tukasnya mengambil alih piring dari tanganku


kalau sudah begini tugasku hanya mengawasinya menghabiskan seluruh isi dari piring itu. aku mengunyah makanan yang sudah terlanjur masuk kedalam mulutku.


sejujurnya aku juga lapar, karena tadi aku melewatkan makan siangku demi menyelesaikan perkerjaan dikantor setelah rapat yang lumayan menguras waktu.


" jangan tatap aku " tukasnya membuatku menaikan sebelah alisku


" aku belum memaafkanmu, jadi jangan senang dulu " lanjutnya membuatku rasanya ingin tertawa tapi kuurungkan karena itu akan berdampak buruk pada selera makannya


" baiklah " kegerakkan tangaku untuk membelai surai hitamnya


aku merasakan pergerakan kegelisahan disebelahku, bahkan kasur bagianku juga ikut bergetar akibat tidak bisa diamnya wanita disebelahku. aku mengangkat tanganku lalu mengusap peruta lufita yang lumayan besar itu,


" kamu keganggu yah? " tanya nya ragu


aku masih menutup mataku jadi aku tidak tau ekspresinya seperti apa mungkin sedikit menyesal karena telah membuatku terbangun ditengah malam seperti ini


" kenapa belum tidur? " suaraku saja masih serak khas orang bangun tidur


aku mengerjapkan mataku lalu melirik jam yang tergantung di dinding depanku yang menunjukkan pukul 23:40 yang artinya hari sudah semakin larut


" nggak bisa tidur " rengeknya


yah seperti inilah lufita semenjak hamil tidak mengidam yang aneh-aneh memang, tapi tingkahnya yang selalu aneh.


kadang dia manja yang berlebihan padaku, kadang tanpa alasan dia tidak mau melihatku bahkan aku pernah tidur dikamar tamu dibawah karena dia muak melihatku


kadang dia memintaku cepat-cepat pulang dari kantor dan kerja dirumah saja tapi setelah aku berada dirumah dia malah tidak mau kusentuh dengan alasan cukup dirumah saja tak perlu bersentuhan dengannya.


bahkan kadang kala dia akan pengertian dan menasehatiku, ironis bukan?


kalau ditanya kesal, ya kesal memang menghadapi sikapnya. tapi tak sekalipun aku memarahinya karena menganggu aktivitasku atau membuatku jengah. aku juga kasihan melihatnya yang berjalan susah payah akibat kakinya yang bengkak di usia tua kehamilannya ini, belum lagi berat badannya yang naik dan perut lufita yang besarnya melebihi besarnya perut ibu hamil pada umumnya.


bahkan dikehamilannya yang sembilan bulan ini lufita memiliki sifat baru yaitu pemalas. mungkin bawaan berat yang ditanggungnya menjadikan dia mudah letih walau hanya kekamar mandi. makan saja kadang meminta bik nini atau bik wari yang ngantar ke kamar kalau ibu udah datang maka ibu lah yang akan mengurus soal keinginanya itu.


kalian pasti bertanya kenapa tadi aku menyebut ada tiga nyawa dalam perutnya, berdasarkan hasil USG bayi kami kembar tiga. setiap bulan aku dan lufita selalu memantau perkembangannya dengan melakukan check up.


untuk jenis kelaminnya aku sengaja merahasiakannya agar jadi kejutan saat lahiran nanti berbeda dengan lufita yang ngotot mau tau jenis kelaminnya pada akhirnya dengan berat hati dia mengikuti kemauan ku


oke back to topic, setelah mendengar rengekan lufita aku mendudukkan diriku menghadap dirinya yang berbaring. perlahan aku menyibak baju tidurnya yang super besar itu. aku selalu tertawa setiap melihat lufita memakai baju kebesarannya saat dirumah ini


" eh kamu mau ngapain? " tanyanya panik melihatku menyibakkan baju tidurnya


tanpa menjawab pertanyaanya aku mengusap lebut perutnya, menyalurkan kehangatan untuk ketiga buah hatiku disana yang mungkin ingin membuat ibunya terjaga karena seharian memarahi ayahnya. maybe?


" kamu kalo susah tidur ya nggak usah mikir mesum juga fi " ujarku tanpa melirik kearahnya karena mataku masih sedikit berat mengingat ini sudah terlalu larut


" iss.. ya kamu nggak bilang mau ngapain, main sibak baju aku aja " sanggahnya tak terima dengan ucapanku.


" bang za? " kalau udah manggil kayak gini artinya dia bakalan banyak tanya


" hem? "


" kamu kan pernah menyukai izumi yang notabennya orang jepang "


" lalu? "


" kamu pasti bisa bahasa jepang kan? " aku bilang juga apa bakalan banyak tanya dia


" bisa "


" kalau bahasa jepang saya apa? "


" watashi "


" kalo marah? "


" marah yang bagaimana? "


" ehm... kayak 'tolong berhenti' " ucapnya tegas dengan mata menyorotkan ketidak sukaan


" yamenasai " dia tertawa mendengar jawabanku


" kalau ' berisiiik ' " ucapnya dengan menekankan kata berisik


" urusai "


" kalau..... "


" fi, ini udah tengah malem bukan waktunya kuis tanya jawab " ujarku memotong pembicaraannya


haaahh.... perempuana ini sepertinya menyalah artikan kata pepatah yang berbunyi ' perbanyaklah bertanya agar tidak sesat dijalan ' kurasa pembuat pepatah ini akan menangis jika bertemu dengan lufita yang notabennya banyak bertanya


" kalau mau lanjut tanya besok aja. sekarang kamu tidur ya "


" hehehe... maaf ya. maaf juga tadi aku nuduh-nuduh kamu. aku juga nggak tau kenapa perasaan aku selalu curiga aja kala kamu lama angkat telfon aku atau bicara buru-buru kayak tadi " ini termasuk salah satu yang aku maksud dengan sifat pengertiannya itu.


aku menatap manik teduh itu seraya mengulas senyum " kamu boleh marah sama saya tapi jangan lupa untuk memberikan gizi buat mereka " ujarku kembali mengusap perutnya


aku kembali merebahkan tubuhku berbaring disampingnya. dan tanganku sudah menjadi bantal untuk lufita, tanganku yang satunya masih sibuk mengusap perutnya agar wanita itu cepat terlelap


aku juga harus segera tidur karena besok pagi aku harus menghadiri pertemuan dengan team yang akan melancarkan bisnis baru ku yang letaknya diluar kota.


entah kenapa semenjak kehamilan lufita, aku semakin disibukkan dengan urusan perusahaan yang berkembang pesat, belum lagi beberapa tender yang berhasil kami menangkan membuatku memiliki waktu istirahat yang sedikit jadi jika ada waktu luang maka akan ku gunakan untuk istirahat melepas lelahku.


aku bahkan melupakan rambut yang memanjang bahkan jika disisir kedepan mungkin akan menjadi poni seperti oppa oppa korea yang dimaksud lufita kemaren dan kumisku yang mulai sedikit tumbuh.


dan herannya itu malah membuat para karyawan wanita dikantor menjadi aneh. beberapa kali aku memergoki dari mereka yang diam-diam menatapku sambil tersenyum malu ketika aku sedang berbincang dengan mereka.


ah sudahlah mungkin aku harus segera memangkas rambutku dan membersihkan kumisku kalau tidak bisa jadi ancaman.


cup


cup


cup


cup


" pipi saya bisa makin tirus fi " seru ku membuat lufita mendengus


perlahan aku merasakan sapuan lembut dari tangan lufita mulai dari kening, turun ke mata, turun kehidung, turun ke bibir sampai berhenti di dada.


" kamu kenapa lagi sekarang? " aku benar benar ngantuk tidak bisakah wanita ini segera tidur


sabarrrr


" nggak pa pa, cuma pengen kamu perhatiin aja " ucapnya santai, ini yang aku maksud manja overdosis


perlahan aku membuka mataku untuk menatapnya " ada lagi? " dia terkikik mendengar pertanyaanku lalu melirik kearah rambutku kemudian menekan sudut bibir sebelah kiriku


" huh, kamu nyadar nggak sih dengan penampilan kamu kayak gini kamu makin memikat perempuan diluar sana. kamu bakalan punya anak aku nggak mau denger nanti ada yang memberi kamu gelar hot daddy ya "


" besok saya rapiin. udah ya, kamu tidur gih "


" night kissnya mana? "


" night kiss? " dia mengangguk mendengar pertanyaanku


cup


" selamat malam " ujarnya riang setelah aku mengecup bibirnya


huh lelah sekali rasanya,


semoga dia benar benar tidur sekarang.


" heh, jangan berenti usapin perut aku nya "


" fiuuuhh... " ku fikir sudah tidur.


aku kembali mengusap perut buncit itu sembari menyunggingkan senyum menatap wanita cerewet ini yang memeluk posesif pinggangku seakan aku akan pergi ketika dia tidur. " nigth to baby "


" night to my twins "


♡♡♡♡♡


buat part ini jantung saye debar teross


senyum teross


ntahlah ape yang terjadi


rasenye lucu je pas ngetik bab ini


hehehe maaf ya jika ade kesalahan atau typo


2ribu 6ratus lebih guys kata katanya plis don't forget like and vote ya.. komenya juga


dah lama nggak baca komentar yang lucu lucu dari kalian


see you