LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
LAUHUL MAHFUDZ



" detik menit kita jejaki bersama "


" lalu? "


" rasanya aku ingin marah "


" siapa yang mau kamu marahi? "


" waktu "


" punya alasan? "


" kenapa tidak dari lahir saja aku bertemu denganmu kenapa harus menunggu aku benci dulu baru datangnya cinta"


" siapa yang mengajarimu menggombal? "


" kamu "


" kapan? "


" setiap hari "


" seingat saya.. saya tidak pernah mengajarimu menggombal apalagi menjadi wanita yang agresif "


buk


sebuh pukulan mendarat mulus di dada fahriza dengan tidak manusiawi


" singkirkan otak kotormu itu " tawa fahriza terdengar setelah mendengar ucapan tajam istrinya itu


hening beberapa saat, pikiran mereka saat ini sedang diliputi sekelabat memory masalalu dengan dipenuhi suka duka alur kehidupan dan rumah tangga.


berbagai guncangan yang menyesakkan berhasil mereka lewati dengan penuh ketegangan dan air mata entahlah hari esoknya, hanya tuhan yang tau dan mereka yang mengalami.


harapan mereka saat ini hanya satu yaitu kedamaian untuk rumah tangga dan keluarga kecil mereka.


" bang "


" ya? "


" kamu tau nggak apa yang paling membuatku bahagia? " mata mereka masih menatap kedepan dengan fikiran yang sudah terpecah akibat tebakan dari lufita


" uang bulan dari saya " jawab fahriza mantap


" em... salah satunya. tapi masih salah "


" nafkah batin yang setiap malam saya berikan " sebuah pukulan lebih keras kali ini mendarat lagi dilengan fahriza membuat si empunya terkekeh. sekeras apapun pukulan lufita tak akan memberikan efek apapun pada tubuh fahriza yang lebih kuat darinya.


" aku jait ya mulut kamu " ancam lufita disertai tatapan tajamnya yang dianggap fahriza hanya sebuah lelucon.


baginya membuat lufita kesal setiap malam itu hal yang menyenangkan, mainan baru selain anak-anaknya.


" baiklah-baiklah. jadi apa yang membuatmu bahagia? " tanya fahriza ketika tawanya mulai mereda.


perlahan kedua tangan wanita itu berpindah tempat yang semula memegang pagar balkon beralih melingkar dipinggang pria yang berada disampingnya itu.


matanya menatap dalam kearah manik mata pria yang menjabat sebagai suaminya itu.


" Kamu. melihatmu masih berada disampingku dengan mata terpejam setiap paginya membuatku merasa wanita yang paling bahagia. " jelasnya dengan senyim yang terbit dibibir kecil yang menggoda itu.


tak ingin kalah fahriza juga mengulurkan tangannya untuk merengkuh pinggang lufita agar jarak diantara mereka makin terkikis.


" jika mengulang waktu kala itu rasanya kamu berniat menghianatiku. dan fakta selanjutnya mendatangiku tapi waktunya sudah terlepas, aku mengetahui semuanya ketika semuanya sudah terjadi "


" abang tau? nyawaku juga ikut tiada waktu mengatahui abang kritis " lanjutnya lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


hal yang paling dia sukai dari suaminya yaitu aroma tubuhnya, aroma tubuh fahriza benar-benar khas hingga membuatnya merasa damai ketika menghirup aroma lembut dari suaminya itu.


suasananya saat ini benar-benar mendukung karena penerangan yang diberikan oleh cahaya dari sang purnama yang menghiasi malam dibumi kali ini.


apalagi dua insan yang selalu diliputi cinta itu sedang mencurahkan rasa dengan iringan angin malam yang membuat rambut fahriza dan jilbab instan lufita melambai mengikuti belaian angin.


tenang saja 80% bisa dipastikan tak ada yang melihat mereka karena posisi balkon yang hanya menampakkan suasana sunyi juga sepi ditambah lagi ini sudah jam 12 malam dimana semua orang sedang terbuai oleh mimpi kecuali dua insan yang masih setia memadu kasih diteras balkon kamar mereka.


catat hanya delapan puluh persen karena dua puluh persannya tidak begitu meyakinkan siapa tau ada seseorang yang berjalan disekitar komplek apalagi balkon kamar mereka langsung menampilkan penampakan lokasi lingkungan perkomplekan.


" aku nggak tau gimana hidup aku kedepannya jika pemilik tulang rusuk ini meninggalkanku " lanjutnya sambil menusuk pelan pipi fahriza dengan telunjuknya


" huuuffftt..... takdir emang suka bermain hingga akhirnya aku dijatuhkan pada kebahagiaan tapi dengan cara melintasi kepahitan "


perlahan tangan fahriza bergerak menyentuh pipi yang sudah tak setirus dulu milik wanita dihadapannya ini


" pada dasarnya garis takdir kamu dan saya sudah tertulis jauh sebelum kita melihat dunia " kali ini fahriza yang bersuara menyambung kalimat istrinya.


" Lauhul Mahfudz. tempat ditulisnya alur takdir kita selama hidup didunia. Dan nama saya sudah tercantum dilembaran hidup kamu dengan catatan pena takdir. walau sebanyak apapun lelaki yang kamu temui, tetap berakhir kembali kepada jodoh kamu yang sudah tergores dilembaran tersebut, begitu juga dengan saya "


" katanya jodoh itu cerminan diri. tapi kenapa sifat kamu 360 derajat beda banget sama aku? "


" jodoh memang cerminan diri tapi jangan lupakan bahwa jodoh juga pelengkap kekurangan dalam diri dengan kelebihan yang dia miliki "


senyum manis kembali hadir dibibir lufita. seluruh wanita didunia ini dibuatnya iri dengan dirinya yang dipilih sang pencipta untuk memeliki pasangan yang mampu membuatnya memperbaiki hidup dan Akhlaknya.


" aku berterima kasih banget sama papa yang paksa aku nikah sama kamu "


" saya juga berterima kasih pada Rija yang membuat saya harus menepati janji untuk mempersunting kamu "


" pada akhirnya Allah yang sudah memilihkan, hingga tulang rusuk yang bengkok ini berhasil menyempurnakan 12 tulang rusukmu itu "


perlahan tangannya menangkup wajah fahriza dengan jari yang mengelus pelan rahang tegas suaminya


" jangan coba luruskan aku dengan keras karena aku bisa patah. jangan memaksaku untuk simetris karena itu bisa menyakitiku. pahami aku dalam jiwaku maka aku akan lurus dan menyatu dengan sendirinya "


" sayang "


" hem? "


" kamu nyontek dari mana kata-kata puitis kayak gini? "


" dari mbah " jawabnya asal.


susaha payah otaknya berputar mencari kata-kata yang tepat untuk melengkapi suasana romantis saat ini eeeh... malah dibikin hilang oleh pria menyebalkan itu.


haaah... benar-benar menyebalkan untung sayang kalo nggak udah jadi umpan lele dia. Astaghfirullah dia suamimu lufita mau jadi jamu (janda muda).


tidaaaaaaakkk.


gelak tawa kembali terdengar setelah lufita menjawab pertanyaan godaan dari fahriza. Namun detik berikutnya fahriza kembali menegakkan tubuhnya mengubah posisi awal yang mendekap lufita menjadi menatap dalam istrinya itu dengan tangan yang masih melingkar dipinggang lufita.


dia berdehem untuk menetralkan suaranya membuat lufita mengangkat alisnya heran dengan sikap suaminya ini. tak lama kemudian dia melepas cincin pernikahan yang melingkar dijari manis lufita membuat siempunya makin bingung.


" Lufita Khairunissa Hermansyah " panggil fahriza dengan intonasi yang serius


" ya "


" bersediakah kamu menemani saya baik susah maupun senang, baik suka maupun duka, baik sakit maupun sehat hingga hari tua saya sampai salah satu dari kita dipanggil menghadap sang pencipta? "


" aku bersedia " tanpa ragu dia menjawabnya dengan tenang dan lugas.


selanjutnya cincin dengan permata berlian putih dilengkapi inisial nama depan pasangan di antara permatanya itu kembali tersemat indah di jari manis lufita


dia juga melakukan hal yang sama yaitu mencabut cincin yang semirip dengannya dari jari manis fahriza membuat fahriza terkekeh.


" Ahmad Fahriza Jaelani " panggilnya tenang


" saya "


" i love you " tawa kecil semakin terdengar dari fahriza melihat tingkah istrinya itu.


" okey... i love you so bad " balas fahriza diirngi melingkarnya kembali cincin pernikahan miliknya dijari manis kirinya itu.


detik berikutnya bibirnya memangut bibir kecil nan ranum milik lufita menyalurkan semua rasa yang membuncah dalam dada mereka.


tapi aktivitas mereka saat ini harus terhenti ketika pintu kamar mereka dibuka hingga membuat lufita mendorong kuat dada fahriza sampai si empunya hampir terjengkang.


lufita menetralkan detak jantungnya karena kepergok oleh putra sulungnya sedang bermesraan dengan sang suami sedangkan fahriza mengusap kasar wajahnya karena kegiatannya terganggu..


dia tidak habis fikir bagaimana bisa anaknya belum tidur dijam segini


sebenarnya faith bisa saja tidak melihat mereka jika pintu balkon tertutup dan tirainya juga menutupi seluruh kaca pintu balkon. tapi apa mau dikata karena kecerobohan mereka lufita harus menanggung malu dihadapan anak sulungnya itu berbeda dengan fahriza yang B aja


laki-laki mah kalo hal beginian nggak pernah tuh gugup ato malunya keliatan pinter banget nyembunyiinnya. hairan lah


" maaf bunda faith nyelonong masuk faith kira bunda sama ayah nggak dikamar karena dari tadi faith ketok pintunya nggak ada yang nyaut " tutur faith datar ketika orang tuanya menghampirnya. baginya melihat orang tuanya bermesraan adalah hal yang biasa walau tak dipungkiri bocah delapan tahun itu sempat tertegun ketika melihat kearah luar balkon yang mantapnya pintu kamar orang tuanya satu garis lurus dengan arah balkon. alhasil matanya suci bocah itu sudah ternodai oleh kecerobohan lufita dan fahriza


yang dilakukan lufita saat ini adalah mengutuk dirinya karena terlalu terhanyut oleh kelembutan yang diberikan suaminya sampai-sampai anaknya melihat mereka berciuman.


ingin rasanya dia menenggelamkan dirinya didasar laut


" e.. enggak pa pa it. m.. maaf bunda nggak denger tadi " jelas lufita gugup


" it mau ngambil buku gambar yang bunda beliin kemaren " ucapnya santai dengan raut yang masih datar seperti biasa.


" kenapa nggak dari kemaren aja sih buku gambarnya aku kasiin jadikan nggak perlu malu kayak gini aarrrgghh.. malu banget kepergok sama anak sendiri " batin lufita mengutuk kecerobohannya.


" sebentar ya sayang bunda ambilin dulu " ujarnya berlalu kearah meja riasnya untuk mengambil buku gambar faith yang ia simpan didalam laci


jangan tanyakan fahriza. setelah menutup pintu balkon dia duduk dipinggir ranjang dengan melempar tatapan dingin miliknya pada faith yang mengganggu kegiatanya. kalian tau reaksi anak sulungnya itu.


sebuah smirk mengejek yang tertera dibibir faith. sadis bukan


fahriza sampai dibuat kesal ternyata sifat mengejek lufita juga ikut nempel dalam diri faith.


setelah menerima buku gambar dari tangan bundanya faith segera keluar dari kamar orang tuanya tanpa mengucapkan sepatah katapun diikuti fahriza dibelakangnya yang mengunci pintu kamar.


buk


" apa sih sayang... kenapa mukul saya " tadi anaknya sekarang emaknya yang membuat fahriza jengkel


" aku malu tau nggak kepergok sama faith. kamu sih nggak nyadar kalo dia ngetok pintu tadi " celoteh lufita membuat fahriza menghela nafasnya lalu beranjak naik kekasur kemudian menutup kelopak matanya.


kelopak matanya kembali terbuka saat dia merasakan sebuah tangan melingkar diperutnya dan tangan kirinya yang dijadikan bantalan oleh lufita


" jangan nak merajok ye, dah tue awak tu " ( jangan mau ngambek deh, kamu itu udah tua )


cup


sebuah senyuman terbit dibibir fahriza mendengar bahasa yang digunakan istrinya lalu dia mendaratkan kecupan di kening wanitanya itu.


" dah tidur " titahnya membuat lufita menelusupkan wajahnya didada fahriza lalu detik berikutnya dia juga menutup kelopak matanya.


ceklek, ceklek


duk duk


" bundaaaaa.. "


" ayaaaahhh.. "


suara cempreng ini merusak niat orang tuanya yang ingin tidur. tadi putra sulungnya sekarang putri kedunya nanti pasti putra ketiganya.


duk duk


" yaaaahh... " benar saja bukan, ini suara faiz.


mau tak mau lufita beranjak dari ranjang untuk membukakan kedua anaknya pintu.


" kenapa kalian belum tidur ini udah malem " seloroh lufita melihat dua anaknya yang satu memeluk guling kecilnya yang satu memegang boneka Rapunselnya berdiri didepan pintu.


" fai mau tidur sama ayah sama bunda "


" aku juga bun "


" ih ikut ikutan "


" kamu tuh yang ikut ikutan "


lufita menghela nafasnya melihat dua anaknya kembali berdebat hingga mau tak mau dia menyetujui permintaan kedua buah hatinya itu.


setelah mendapatkan izin dari sang ibu fai langsung menghambur mengambil posisi memeluk ayahnya yang dibalas fahriza mengelus surai hitam gadis kecinya itu.


berbeda dengan faiz yang lebih memilih berbaring bersisian dengan sang bunda tak lama dia memeluk gulingnya kelopak matanya pun tertutup sempurna menandakan si empunya sudah masuk kealam mimpinya


tok tok


" bunda... "


" masuk aja it "


" faiz sama..... oh kirain mereka kemana " selorohnya kemudian membalikkan badan tapi langkahnya terhenti kala mendengar suara sang bunda


" kamu nggak mau tidur disini? "


" it mau tidur dimana bunda? " tanya nya sambil melirikkan mata kearah kedua adiknya.


rasanya juga iri melihat kedua adiknya satu ranjang bersama orang tua mereka tapi dia bisa mengalah dari pada dia harus membuat adik-adiknya tidur tidak nyaman jika ditambah dirinya.


mendengar perkataan anaknya yang memiliki cercah harapan agar dia juga bisa seperti adik-adiknya membuat lufita mengulas senyum lalu menggeser posisinya agar faith bisa masuk dicelahnya yang bersisian dengan faiz.


untung kasur king size kalo nggak bisa bisa mereka tidur di lantai semua.


tak menunggu waktu lagi faith langsung menelusupkan dirinya dipelukan yang bunda, dia juga menenggelamkan wajahnya didada ibunya.


" kalian ya menatang-mentang besok libur lalu begadang kayak gini " omel fahrisa pada ketiga anaknya yang mulai terbuai oleh kantuk hingga akhirnya suasana sunyi karena ketiga buah hatinya sudah damai dialam mimpi.


perlahan lufita menjulurkan tangannya hingga berada di badan faiz dan dibalas fahriza yang juga menjulurkan tangannya lalu menggenggam tangan wanita itu.


masing-masing bibir mereka melempar senyum dengan bibir berucap tanpa suara melontarkan kata ' i love you ' hingga kantuk juga menyerang orang tua tiga anak kembar itu.


jarang-jarang sekali mereka tidur berlima seperti ini selain waktu anak-anaknya masih kecil.


ah... keluarga kecil yang idaman. semoga akan selalu seperti ini hingga hari tua mereka tiba


rintangan yang terlalu sering dilalui membuat masing-masing diri mengerti akan apa yang harus dipahami diantara mereka. apa yang harus disuarakan hingga membuat mereka merasa nyaman


semua akan indah pada waktunya ketika kita mampu melalu melewati rintangan itu dengan tabah.


akan ada bahagia dibalik luka yang saat ini kita terima jika kita mau dan mampu menerima pil pahit obatnya itu.


LAUHUL MAHFUDZ


tempat tertulisnya garis takdir hidupmu


TAMAT........


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


huaaaa selesai sudah kisah lufita dan fahriza yang diawali oleh keterasingan hingga diakhiri dengan keharmonisan.


nantikan kisan selanjutnya para readers


see you in my next novel


salam sayang saya


ANDRY