
Hampir 30 menit aku didalam kamar dengan wajah kesal aduh si fahriza kok bilangnya dadakan gini sih ngomong kek dari pagi tadi kalau mau pergi ke acara pernikahan anak rekan kerjanya kalau kayak gini kan aku bingung mau pakai baju apa
" fi udah belom, bentar lagi acaranya dimulai " ujar fahriza yang baru saja masuk ke dalam kamar dan melihatku belum siap siap
" duh sabar, lagian kenapa baru bilang sih kan akunya bingung mau pakai baju apa salah siapa coba "
" ya udah keluarin baju baju yang menurut kamu bagus trus biar saya pilihkan "
" aku nggak percaya pilihan kamu bagus " ujarku sambil memicingkan mata karena fahriza tidak pernah mengomentari apapun yang ku pakai dan sekarang ia bilang ingin memilihkan baju untuk ku rasanya kurang yakin aja pilihannya bagus
tanpa menunggu perintah dariku dia membuka lemari baju dan memilihkan salah satu baju untukku
dan tak menunggu lama dia mengambil dress panjang berwarna caramel dengan brukat glitter berfuring dan rok tilenya lebih panjang dari lapisan baloteli dalamnya yang menurutku agak terlalu berlebihan ditubuhku yang kurus ini
aku mengambil baju itu dari tangan fahriza dan melihatnya dengan heran gimana nggak ini adalah baju hantaran pernikahan dari fahriza dan tidak pernah ku pake
" kamu beneran nyuruh aku pakai baju ini? "
" iya, kenapa? "
" aku nggak suka warnanya lagian modelnya aku nggak suka "
" pakai aja dulu saya yakin kamu pasti suka pas makainya nanti "
" ya udah deh, kamu keluar dulu sana aku mau ganti baju " ujarku pada fahriza dia tersenyum lalu keluar dari kamar
setelah memakaikan baju pilihan fahriza dibadanku aku kembali menatap kaca besar didepanku polesan make up yang natural dan gaya jilbab yang biasa
aku tersenyum melihat diriku dicermin aku benar benar nggak tau bagaimana bisa pilihan fahriza begitu cantik ditubuhku menurutku fahriza itu bagus jadi kritikus aja apapun yang dikritiknya pasti bener dan apapun yang dipilihnya pasti berkualitas walaupun sederhana
yah aku udah siap segera kuambil dompet yang dengan sedikit bordiran di pinggirnya merek tidak terlalu terkenal sih
aku bukannya meredah tapi aku memang tidak suka pakai barang barang branded menurutku mau mahal kek mau terkenal kek kalau produsennya masih manusia sama aja masih bisa rusak mendingan pakai barang sederhana dan nyaman dikita nggak usah ngikutin stayle orang kalau kitanya nggak nyaman
kalau kalian tanya apa aku nggak malu pake barang murah aku akan jawab nggak ngapain malu toh kita beli bukan nyuri
dengan perlahan aku menuruni anak tangga takut ntar bajunya keinjek nanti bakalan turunya jadi guling guling sayang dong udah rapi begini ku dekati fahriza yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya
aku salut banget sama dia mau pakai baju apapun dengan stayle apapun selalu cocok di badannya ditambah lagi rupa yang menawan dah jadi nilai plus plus tuh.
udah ah nggak usah balas fahriza ntar kalian suka lagi sama dia nanti aku nya cemburu hehehe....
" jadi berangkat nggak nih? " tanyaku membuat fahriza mendongak memperhatikanku dia tersenyum dan menggamit tanganku lalu pergi menuju mobil
" inget ya sampai sana jangan senyum " tukasnya sambil membukakan pintu mobil untukku
aku mengernyitkan dahi bingung dengan ucapannya
" loh kenapa? senyum kan ibadah " ujarku ketika dia sudah didalam mobil dan menjalankannya
" nanti banyak yang naksir kamu "
aku tergelak mendengar ucapannya ternyata dia juga bisa cemburu
" ya udah kalau gitu sampai sana aku tebar tebar senyum manisku ah biar pria ganteng disana banyak yang naksir " ledekku membuatnya menoleh
" nggak pa pa sih kalau kamu ngeyel nanti kalau banyak yang deketin kamu saya nggak tanggung jawab ya "
" ih kok gitu nggak ada romantis romantisnya bilang kek kalau kamu nggak terima trus ngelindungin aku " ujarku mencibir kesal masa dia nggak cemburu trus ngapain coba ngelarang aku kayak gitu tadi
dia tersenyum memamerkan ginsulnya padaku aduh manis banget sih kalau gini aku yang meleleh bukan dia
" saya nggak perlu cemburu karena saya tau kalau kamu pasti nggak akan jauh jauh dari saya saat disana " ucapnya sambil terkekeh
" idih ge er banget sih nanti kalau gitu sampe sana aku bakalan jauh jauh dari kamu trus deketin cowok cowok ganteng yang lebih muda dari kamu " ucapku ketus
" kamu belom pernahkan liat saya cemburu? "
" emang kamu bisa cemburu? "
dia tersenyum lalu membelai lembut kepalaku
" saya percaya sama kamu " lanjutnya lalu menarik pipiku
" aduuuhh, sakit tau awas aja kalau make up ku rusak rambutmu juga ku acak " ucapku lalu mengambil cermin kecil didompetku dan melihat pipiku yang dicubit fahriza tadi lumayan sakit dasar pipiku kan nggak chubby emang menarik banget buat dicubit ih awas aja nanti ku bales dia
setelah sekian lama kami didalam mobil akhirnya sampai juga di sebuah hotel berbintang yang mewah ini fahriza memarkirkan mobilnya lalu turun dan membukakan pintu mobil untukku
dia terus saja menggenggam jemariku seakan aku benar benar akan membuat nyata ucapanku tadi padahal aku hanya bercanda sampai di lift aku masih enggan masuk kaki ku rasanya membantu fahriza menghentikan langkahnya lalu melihatku
" kamu nggak usah takut, saya disini dan saya nggak akan biarin kamu kenapa napa " ujarnya menenangkanku sambil menarik nafas aku masuk ke dalam lift dadaku masih dag dig dug aku masih trauma dengan lift
fahriza melingkarkan tangannya dipinggangku lalu mendekatkan diriku dengannya seketika tanganku menggenggam lengan bajunya aku terus memejamkan mataku hingga lift berhenti dan terbuka di sebuah ruangan besar yang penuh dengan nuansa pink putih
aku dan fahriza keluar dari lift lalu menuju ruangan resepsi benar benar mewah bak pernikahan putri raja fahriza bilang kalau ini pernikahan putri tunggal pak broto pengusaha paling tajir melintir jadi wajar saja jika resepsinya mewah seperti ini dan tamu tamu yang datang disini semuanya dari kalangan keatas rata rata sih pengusaha besar
tapi tunggu saat aku berjalan melihat sekeliling ruangan mataku terhenti pada satu sosok laki laki jakung memakai jas putih wajah bak lelaki eropa dan dia vino
haduh ngapain dia disini seketika dia juga menoleh kearahku dan kaget lalu tak lama melempar senyum khas nya itu padaku
aku menoleh ke arah fahriza yang asik berbincang bincang dengan beberapa rekan kerjanya perlahan vino berjalan kearahku dan yah sekarang sudah berada tepat dihadapanku
" hei " sapanya
aku hanya tersenyum membalas sapaannya
" cantik banget sih jadi makin cinta aku sama kamu tau nggak "
tuh kan mulai lagi aku hanya memalingkan wajahku kalau kayak gini dia bisa merubah moodku
" sendirian aja? "
" nggak kok, aku sama suamiku "
" mana? "
aku melirik kearah fahriza yang ternyata juga memperhatikanku dengan vino tak lama fahriza berjalan mendekat kearah kami
aku tersenyum sangat manis padanya aku ingin membuat vino panas dan segara pindah dari tempat kami menyebalkan
" ini suami kamu " tanya vino padaku
" iya kenalin namanya fahriza " tuturku
fahriza mengulurkan tangannya pada vino sembari tersenyum begitu juga dengan vino membalas jabat tangan dari fahriza kulihat vino tersenyum namun susah diartikan
" fahriza " ucap fahriza memperkenalkan diri
" vino " balas vino
fahriza menatapku dengan ekspresi seakan bertanya dia siapa
segera ku jawab rasa penasaran fahriza tapi belom sempat aku mengatakannya vino malah nyambar duluan
" saya mantannya fita " sambungnya membuat senyum di bibir fahriza perlahan memudar
dasar nih si vino kayaknya dia mau buat fahriza cemburu ku genggam tangan fahriza membuatnya menoleh
aku menariknya menjauhi vino bisa berabe kalau masih ngumpul sama vino yang ada dia bakalan ngarang cerita dan ngebuat fahriza makin panas
aku kenal siapa vino pria dengan watak licik dia akan melakukan apapun sesukanya demi mencapai keinginannya
aku membawa fahriza ke salah satu meja yang tidak begitu ramai hanya ada beberapa orang yang duduk disana sambil memainkan ponselnya
" kita disini aja " ucapku padanya
" dia siapa? " tanya nya masih menyelidiki
" pulang kerumah nanti aku ceritain "
kami duduk sambil memperhatikan hidangan yang telah disediakan aku nggak bisa makan kalau kayak gini aku takut jika vino kembali mendekati kami dan membuat fahriza makin panas dan marah
dari tadi vino terus menatap ku dari kejauhan ni cowok kenapa sih cari masalah ya sama aku fahriza yang sedari tadi hanya menikmati air putih berdiri lalu mengajakku pulang sepertinya dia mengerti akan suasana disini
kami berdiri lalu pergi berpamitan dengan kedua mempelai yang terlihat sangat bahagia itu dan pak broto rekan kerja fahriza sekaligus ayah dari si mempelai wanita ini dia bingung kenapa kami pulang padahal acaranya baru saja dimulai
setelah berpamitan dengan pengantinnya fahriza juga pergi berpamitan dengan rekan kerjanya yang lain yang masih duduk menikmati hidangan aku hanya mengikuti saja disamping fahriza karena dari tadi dia tak melepaskan tanganku
setelah bersalaman dengan beberapa rekan kerja fahriza aku kaget melihat vino berada disampingku dan tersenyum dengan senyum datar fahriza menyalaminya
tapi tidak denganku aku tak ingin bersalaman dengannya ketika aku ingin membalikkan badan vino menarik lenganku lalu memelukku sontak aku mendorongnya menjauh
terlihat disamping fahriza menatapnya tajam sambil mengepalkan tanganya aku segera menariknya keluar dari ruangan itu
aku benar benar gugup sekarang takut kalau fahriza akan marah padaku
aku bukannya tidak mau menceritakan tentang vino padanya tapi aku lupa kalau sudah bersama fahriza aku lupa apa saja yang ingin aku katakan
duh wajah fahriza keliatan dingin banget perlakuannya padaku juga tidak sehangat tadi aku harus siap mental nih buat ngejelasin semuanya
dia terus melajukan mobilnya menembus jalanan malam suasana hening diantara kami tak ada percakapan sama sekali aku benar benar canggung sekarang sikap fahriza berubah 180 derajat
aku kalut dalam pikiranku bagaimana membuat fahriza mau mendengarkan penjelasanku hingga aku tak sadar bahwa dia memasukkan mobilnya di parkiran sebuah restoran berbintang loh kenapa dia bawa aku kesini ya
masih dengan perasaan bingung dan ragu aku turun dari mobil dan mengekor di belakang fahriza kaki ku rasanya pegel banget gara gara pakai heels ini ya nggak terlalu tinggi sih tapi lumayan bikin pegel juga
dia memilih sebuah ruangan yang sepi saat dalam restoran
tak lama waitress nya pun datang memberikan buku menu pada kami sebenarnya sih perutku lapar banget karena pas diacara tadi aku tidak makan apapun gara gara si vino itu huh kalau inget dia bikin kesel aja gara gara dia juga fahriza mendiamkanku
aku masih bingung mau pilih apa hingga waitressnya kembali bertanya menu makan malam yang aku pilih karena terlalu bingung akhirnya aku memilih makanan yang sama dengan fahriza yaitu ayam zucchini mozarella aku udah bingung banget mau pilih yang mana
" kamu bisa jelasin ke saya sekarang siapa vino " ucapnya membuka pembicaraan
aku hanya melongo mendengar perkataannya ku pikir dia akan terusan mendiamkanku karena sikap dinginnya tadi tapi ternyata dia nggak marah sama sekali pun padaku dan hanya minta penjelasan dengan ekspresi datar
aku tau perasaannya masih terlihat kesal kelihatan dari nada bicaranya tapi yang aku salut dia mampu berusaha menahan amarahnya hingga sekarang membuka mulut dan minta penjelasan siapa vino
" kenapa? " tanya nya singkat
" kamu nggak marah sama aku? "
" sekarang saya cuma butuh penjelasan tentang siapa vino dari kamu hingga dia berani memeluk mu didepan saya "
dengan sigap aku memeluknya dan menenggelamkan kepalaku didadanya untung dia memilih duduk disampingku jadi aku nggak perlu repot mendekatinya lalu memeluknya
bisa kurasakan sekarang dia pasti bingung dengan sikapku
hingga waitress datang membawa pesanan kami tanpa kusadari
sepertinya fahriza sengaja tidak memberitahuku dan membuatku malu didepan waitress itu terlihat dia tersenyum melihatku dan fahriza
" maaf mbak mas mengganggu " tukasnya lalu pergi meninggalkan kami dengan tersenyum malu
" kenapa dilepas pelukkannya? "
" dasar kenapa nggak bilang sih kalau pelayannya datang "
" ya kamunya aja asik peluk saya "
" oke aku bakal ceritain siapa vino sampai ke akar akarnya sama kamu " ujarku menatap fahriza yang sedang menenggak minuman
" vino itu mantanku waktu kelas 2 SMA hampir dua tahun kita pacaran kita putus aku yang mutusin dia karena dia berselingkuh didepan mataku karena itu juga aku mutusin buat sendiri dan menunggu almarhum bang ija kembali sampai akhirnya ternyata kamu yang datang lebih dulu melamarku "
" vino itu tipe laki laki yang kalau apapun yang dia inginkan harus dia dapatkan setelah putus denganku dia beberapa kali memaksa ku untuk balikan dengannya tapi aku bersikukuh nggak akan pernah mau balikan dengan dia lagi dan sampai akhirnya aku tamat SMA denger kabar kalau dia pindah ke sydney "
" dan setelah sekian lama kehidupanku damai kini dia balik lagi kesini dan seperti yang kamu liat tadi dia berusaha menginginkan aku kembali padanya dia sengaja memelukku tadi agar kamu marah padaku dan membuat pernikahan kita goyah dan seperti yang aku bilang dia itu tipe manusia yang apapun yang dia inginkan harus dia dapatkan "
" trus? "
" ha? "
" saya rasa masih ada yang ingin kamu bicarakan " selidiknya padaku
" ah itu... sebenarnya aku udah beberapa kali bertemu dengannya kemaren waktu pertama kali ke apartemen tania dan waktu beli cappuccino latte "
" kenapa kamu tidak memberitahu saya "
" aku bukannya nggak mau kasi tau tapi aku lupa kamu kan tau sendiri setiap berdua dengan kamu aku sering lupa waktu lah trus lupa deh buat cerita "
" dan sebenarnya kemaren waktu aku ketemu di kedai kopi dia juga kembali memaksa ku untuk balikan dengannya ya aku nggak mau lah "
" kamu tau ketika dia langsung memelukmu tadi seketika itu juga aku ingin menghajarnya tapi kamu keburu menarikku keluar "
" tuh kan untung aja aku cepet bawa kamu keluar kalau nggak reputasi mu bakalan rusak didepan rekan rekan mu disana "
tanpa terasa makanan kami habis karena keasikan bicara kami nggak sadar kalau makanannya sudah ludes masuk ke lambung masing masing
setelah membayar makanannya kami langsung pulang kerumah
••••••••••
fahriza
》》》》》
setelah mendengar penjelasan dari lufita aku lega sekarang ku fikir dia ada hubungan dengan lelaki itu aku udah su 'udzhon sama dia
saat sudah tiba di garasi rumah aku segera membukakan pintu mobil untuk lufita tapi beberapa detik dia belum juga keluar hingga dia menoleh ku dan mengulurkan kedua tangannya " gendong " ujarnya manja
semulanya aku heran karena dia tiba tiba saja manja padaku tapi setelah dia bilang lagi kalau kakinya sakit karena pakai heels ya udah aku paham
aku membukuk menggendong tubuh lufita dia melingkarkan tanganya dileherku entah kenapa kurasa tubuhnya berat sekarang mungkin porsi makannya nambah mungkin
" anterin sampe ke kamar " ucapnya sangat manja seperti anak kecil
tapi ketika kami baru saja masuk ke dalam rumah pintu rumah terbuka spontan aku dan lufita kaget
bagaimana tidak ternyata ayah sama ibu masuk kerumah tanpa mengetuk pintu dia juga kaget melihatku menggendong lufita
dengan cepat aku menurunkan lufita dan tersenyum kikuk didepan orang tuaku
" yah, kayaknya kita datang di waktu yang salah " ucap ibu pada ayah
" ah nggak kok buk ayo duduk dulu " balasku kikuk aku udah kayak kucing ketauan nyolong ikan kulihat wajah lufita memerah sepertinya dia malu sekarang
" maaf ya kita nggak ketuk pintu dulu soalnya pas tadi ayah mau ngetuk pintunya nggak ke kunci jadi ya kita masuk aja " ujar ayah setelah kita duduk di sofa
" em, kalau gitu fifi kedapur dulu ya mau bikinin minum " tukas fifi lalu pergi ke dapur
" kalian kok pulangnya cepet banget? " tanya ayah seraya merpikan posisi duduknya
" nggak apa apa yah pengen pulang cepet aja "
" ayah sama ibu tumben malam malam kerumah? "
" kita pulang dari rumah tante rika mu kan nggak jauh dari komplek rumah kalian jadi sekalian aja mampir eh pas banget kalian juga udah pulang "
" za, fifi gimana kabarnya udah ada tanda tanda kehamilan belom? "
" ha " pertanyaan ibu membuatku kaget gelagapan mau jawab apa
" kenapa kok kaget gitu, apa kamu belum nyentuh dia sama sekali? "
aduh ibu makin membuatku malu
" eh, nggak gitu bu cuma lagi nunggu Allah ngasi kepercayaan aja " ucapku malu malu
untung aku bisa menahan malu kalau aku jadi fifi mungkin pipiku udah merah
" semoga aja cepet ya za, ibu udah nggak sabar buat nimang cucu " ujar ibu tersenyum
tak lama fifi membawa napan berisi air kopi dan teh biasa kopi buat aku dan ayah dan teh buat dia dan ibu nggak cuma itu aja dia juga membawa beberapa camilan yang baru dibelinya pagi tadi
" duh repot repot aja fi ibu sama ayah cuma mampir bentar kok "
" enggak repot kok buk, lagian masa ibu sama ayah kerumah cuma ngobrol aja trus nggak ada minumnya " balasnya sambil nyengir
sekian lama ngobrol dengan ayah dan ibu mereka akhirnya pamit pulang katanya kasian rumah ditinggalin lama lama biasa si ayah nggak tahan di rumah orang padahal rumah anak sendiri
aku dan fifi mengatar mereka sampai mobil sebelum ibu masuk ke mobil dia mendekati fifi dan mengusap perut fifi " semoga cepat berisi ya " ujarnya lalu memeluk fifi
dan fifi hanya diam tersenyum kaku biasa lah pemalunya kembali menyergapi aku nggak tau sejak kapan dia punya sifat pemalu gitu
setelah ayah dan ibu pulang aku kembali masuk ke dalam rumah diikuti fifi dibelakangku " bang za " panggilnya membuatku menghentikan langkah dan berbalik menatapnya
" gendong kaki fifi masih pegel " ucapnya sambil menjulurkan kedua tanganya kedepan
sebenarnya sih aku juga capek tapi ya mau bagaimana lagi kalau nggak diturutin pasti dia ngambek lagi aku kembali menggendongnya menaiki anak tangga hingga ke kamar aku mendudukkannya di pinggir ranjang tapi ketika aku ingin pergi keluar tiba tiba dia menarik lenganku membuatku kehilangan keseimbangan dan jatuh diatasnya dengan wajah yang begitu dekat
" ada apa? " tanyaku datar
" temenin "
" kemana? "
" tidur "
" ya ampun fifi, saya mau ganti baju dulu saya... "
belum sempat aku melanjutkan kata kata ku dia tiba tiba saja memelukku aku benar benar bingung sekarang dengan sikapnya ini
kalau kaya gini aku bisa kepancing
" fi tolong lepasin saya dulu "
dia masih tak bergeming menghiraukanku perlahan aku melepaskan pelukannya dan mengangkat tubuhnya untuk berbaring dibantal ku dekatkan wajahku kewajahnya membuat matanya terpejam
ku sambar bibir mungilnya itu dengan lembut dia yang mulai duluan jadi jangan salahkan aku jika lepas kontrol