LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
MANUSIA KUTUB



dua bulan sudah aku menyandang status sebagai seorang istri. aku sangat merasa bosan disetiap hariku bagaimana tidak, yang kulakukan hanyalah berberes rumah dan makan lalu tidur.


sebenarnya aku juga pengen jalan jalan tapi yah pergi sama siapa tania tidak ada di Jakarta sedangkan rumah ku dan rumah orang tua ku jaraknya cukup jauh nggak mungkin kan aku jalan kaki ke rumah papa yang ada sampai di sana tulang tulang kaki ku bisa rontok. mau ngajak kak rere dia juga udah pulang ke bandung. hufftt aku benar benar suntuk tidak ada yang bisa diajak bicara atau pun jalan jalan.


beberapa hari belakangan ini ku lihat fahriza cukup sibuk dengan urusan kantornya, jadi aku selalu sendiri hingga larut malam. untunglah mama maupun papa sering menelpon ku walaupun tidak setiap saat.


mereka selalu menanyakan kabarku, apa yang aku lakukan dan seperti sekarang ini mama sedang menelpon ku.


"ma?" panggilku pada mama disebrang sana terdengar bahwa dia lagi bersama papa


"iya sayang" sahut mama


"mama nggak pengen gitu jengukin fifi atau tidur disini sama fifi" ujarku pada mama


" hemh yah pengen dong, nanti ya kalau papa dapet cuti kita bakalan tidur dirumah kamu"


" yah kenapa mesti nunggu cuti sih ma?" tanyaku kesal


" papa juga lagi sibuk nak, urusan kantor tiba tiba numpuk" jawab papa terdengar halus mungkin mama yang pegangin ponselnya jadi suara papa agak terdengar halus.


"huufftt ya udah deh," balas ku kesal


" yah jangan marah dong sayang papa janji kalau nanti dapet cuti kita langsung kerumah kamu ya" ujar papa meyakinkan ku.


hem tiba tiba saja aku teringat rasa bosanku jadi aku coba saja meminta restu dari papa supaya diperbolehkan untuk bekerja.


"fi?" panggi papa disebrang sana kali ini suaranya sudah terdengar dengan jelas


"eh iya, pa" jawabku


"kenapa, apa ada masalah" tanya papa khawatir


" sebenarnya sih bukan masalaha pa, cuma....." aku menggantung kalimat ku ragu ragu takut papa tidak memperbolehkan ku.


" cuma apa?" tanya papa penasaran


" ehm, fifi boleh nggak pa kerja, fifi kan udah dapet gelar dokter jadi sayang kalo dianggurin, lagian fifi bosen pa dirumah terus tanpa ada aktivitas apapun" ucapku memberanikan diri


" hahaha......" papa tertawa mendengar kalimat ku


" kenapa pa?" tanyaku heran kenapa papa tiba tiba tertawa


" fifi, fifi masih aja lugu. suami kamu itu fahriza bukan papa, kenapa minta persetujuannya dari papa" ujar papa disela tawanya


" yah fifi kan minta restu dari papa dulu baru ke fahriza" jawab ku


" sekarang yang bertanggung jawab atas kamu itu suamimu bicarakan hal ini dengan dia papa yakin dia pasti mengizinkan kamu"


" tapi nanti kalo nggak diizinin gimana pa?" tanyaku dengan nada manja


" kamu ini ya nggak berubah. isi pikirannya itu lo negatif mulu, belom juga dibicarain udah mikirnya kesana" ucap papa lembut dan kembali terkekeh.


"ya udah ntar fifi omongin dengan fahriza" tuturku ngalah dengan papa dari pada berdebat. terdengar papa masih terkekeh disebrang sana


" ehm udah dulu ya pa fifi mau mandi udah sore juga nih"


" iya sayang"


" waalaikumsalam" jawab papa kemudian menutup telfonnya.


••••••••••


"za?" panggil ku pada fahriza. saat kami sedang makan malam bersama dimeja makan.


tadi sore aku sempat masak ku fikir dari pada aku bosan lebih baik aku masak buat makan malam dan kebetulan hari ini fahriza pulang lebih cepat dari biasanya jadi ini kesempatan buat ngomongin perihal kerja ku.


"hem" jawabnya tanpa menoleh kearahku dia lebih asik menikmati makannya. maklum selama kami nikah aku jarang masak apalagi dia juga pulang larut malam jadi selama ini dapat dihitunglah kita makan kayak gini paling dua atau tiga kali selebihnya makan diluar masing masing lagi.


dia juga tak memintaku untuk jadi ini itu seperti orang lain atau menyuruhku, dia sangat bersikap dingin bahkan hanya beberapa kali berbicara pada ku saat perlu saja.


"aku mau kerja za, aku bosen diem dirumah terus, aku perlu aktivitas biar nggak suntuk" ucapku ragu takut menyinggung perasaannya. maklum saja manusia seperti dia biasanya mudah tersinggung.


benar saja kataku, dia kembali dingin bahkan tak menjawab pernyataanku, arggh susah banget sih diam sama manusia kutub kayak dia. hingga selesai makan dia mencuci piringnya dan kembali keruang kerjanya lagi. tanpa memperdulikan kemauan ku


sedangkan aku hanya bisa menatap takut kalau dia marah dan pergi ninggalin rumah, wah kan berabe nggak lucu banget kalau dia pergi ngadu ke papa cuma gara gara itu.


yang bisa ku lakukan sekarang hanya pasrah menerima nasib menjadi istri dari seorang manusia kutub.


••••••••••


seperti biasa setelah sholat subuh berjamaah dengan fahriza aku kembali melanjutkan tidurku. sudah kebiasaanku kalau soal tidur tidak bisa ditunda.


dan pagi ini mentari masuk kejendela kamarku hingga membuat kesilauan. jam yang bertengger di cantik di dekat meja rias ku menunjukkan pukul 7.45 masih terlalu pagi untuk bangun.


tapi mau bagaimana lagi mata ku sudah tidak ingin tidur, ku paksakan diriku bangun menuju kamar mandi, ku basuh wajahku dengan air dan aku segera mengganti jilbabku. oh iya selama aku menikah dengan fahriza aku tidak pernah menunjukkan rambutku bahkan tidur pun aku memakai jilbab. aku benar benar tidak mau kalau dia sampai melihat salah satu keindahan dari tubuhku.


dengan langkah gontai aku menuruni anak tangga menuju dapur. tenggorokan terasa sangat haus, seperti biasa pagi pagi begini fahriza pasti sudah berangkat ke kantor dan sarapan pasti sudah terletak di atas meja makan. mungkin sudah jadi kebiasaannya kali selalu membuat sarapan secara berlebihan hingga membuatku memakannya kan sayang kalo nggak di makan jadi mubazir.


atau mungkin dia memang sengaja membuat sarapan untukku ahh bodo amat yang penting perut ku kenyang.


saat aku ingin membuka pintu kulkas aku tak sengaja melihat secarik kertas yang berisi tulisan namaku tertempel di disana. buru buru ku ambil kertas tersebut dan membacanya.


*to. Lufita khairunisaa hermansyah


hari ini kamu sudah bisa masuk kerja di rumah sakit****** pukul 8.40 nanti silahkan temui kepala rumah sakit tersebut di ruang kerjanya. saya sudah mendaftarkan mu malam tadi dan satu lagi kamu bisa berangkat menggunakan motormu yang sudah terparkir di garasi*.


Ahmad Fahriza Jaelani


tanpa ba bi bu aku langsung berlari menuju garasi dan benar saja my queen sudah terparkir cantik di garasi.


" Aaaaaaaaaaaaaaa" teriakku kegirangan sambil mengelus elus motor N**X yang merupakan hadiah dari papa saat aku menginjak usia 18 tahun. queen adalah nama yang ku berikan pada sepeda motor kesayangan ku itu.


aku benar benar tidak menyangka kalau manusia kutub itu memberiku kejutan, kalau saja dia disini bersama ku, aku akan langsung berterima kasih padanya dan meminta maaf karena sudah menuduhnya yang tidak tidak tadi malam.


saat aku masih mengelus motorku, aku teringat pesan dari fahriza tadi kalau aku harus kesana pukul delapan lewat empat puluh dan sekarang sudah pukul tujuh empat sembilan.


dengan cepat aku berjalan menaiki anak tangga dan menuju kamarku, lalu mandi. pagi ini aku benar benar senang karena akhirnya aku bisa bekerja dan meninggalkan kebosanan ku dirumah.


mandi udah make up juga udah, ponsel udh charger udh kayaknya sarapan yang belum nggak pa pa aku bisa sarapan diluar. hari ini hati ku benar benar bahagia jadi walaupun tidak sarapan daya tahan tubuhku pasti kuat.


"untuk fahriza terima kasih banyak sebab kejutan dari manusia kutub sepertimu. akan ku tunggu kejutan selanjutnya yang akan kau berikan" gumamku di depan cermin sambil menyungginkan senyuman.


💕haii readers hehehe gimana nih tanggapannya hem, maaf ya kalo kalian bacanya banyak terdapat typo atau pun kalimat yang kurang lengkap. doain ya semoga episode selanjutnya cepat meluncur, maklum lagi banyak tugas sekolah jadi belum sempat ngetik tiap hari💕love you all😘selamat membaca😘😘