LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
LULUS



satu.. dua.. tiga....


aaaaaaaaaaaaaaa...........


teriak ku dan tania ketika kami sudah berada di taman sambil memegang penghargaan masing masing. aku benar benar tidak menyangka bahwa hari ini aku akan memakai toga, memegang beberapa penghargaan dan hadiah dari beberapa senior dan juniorku, juga ucapan dan pelukan hangat dari kedua orang tua ku, ya hari ini aku benar benar bahagia apalagi sahabatku tania yang masih tersenyum bahagia juga wisuda bersamaku.


" nggak ya tan kita sekarang sudah akan memulai haluan masing masing"ujar ku memulai pembicaraan pada tania yang terus saja memamerkan lesung pipinya.


"iya fi,aku bakalan kangeeeeennn banget sama kamu setelah ini" balasny seraya merangkul bahuku tinggi kita yang tidak jauh beda sehingga membuatnya mudah menggapai bahuku.


kuraih badan tania lalu ku peluk erat, bagiku tania bukan sekedar sahabat tapi saudara. banyak yang bilang kalau kami ini bersaudara karna kemanapun kami pergi salah satu diantara kami tidak boleh ada yang tinggal itulah kesepakatan kami kecuali liburan atau hal lainnya yang mengharuskan kami untuk berpisah sementara waktu.


"aduh fi aku susah nafas nih"


" hahaha... aku terlalu bahagia tan karna sekarang aku bisa maraih gelar dokterku di usiaku yang 20 tahun dan aku juga dapat julukan dokter termuda,rasanya bahagia plus plus gitu tan" ucap fifi


ya siapa yang tidak kenal fifi gadis cantik bak model dengan postur tubuh yang ideal, mata yang bulat tajam seperti elang ditambah lagi otak yang cerdas membuat lelaki manapun tak ingin berpaling. tapi sayangnya fifi tak punya pacar ia memutuskan untuk menjomblo ketika ia dikhianati pacarnya didepan matanya sendiri ia terlalu menutup diri kalau soal hati.


"iya domut" balas tania kesal


"paan tuh?" tanya fifi tak mengerti dengan perkataan tania


" dokter muda" jelas tania " seharusnya kamu itu panggil aku kakak, karna usia ku lebih tua dari kamu" ujar tania memanyunkan bibirnya


" oohh jadi selama ini kamu pingin aku panggil kakak" balas ku tergelak mendengar perkataan tania


"ya bukan gitu maksudnya, tapi biar lebih akrab gitu lo fi ah kamu"


" ya elah tan, cuma beda tiga taon doang kok lagian ya kalo aku panggil kamu kakak ntar orang banyak ngira aku adikmu lagi"


"hemh nggak mau aku punya kakak kayak kamu ntar ketularan pemalunya"


" iya trus ngikutin kayak kamu yang nggak tau malu karna urat malu nya udah pada putus"


aku kembali tergelak mendengar ucapan tania yang kesal. melihatnya membuatku semakin ingin mecubit pipi chubby tania


ini lah perbedaan ku dan tania, tania lebih dewas, anggun dan pemalu kalo sama orang baru apalagi dia seorang hijaber ya otomatis itu akan membatasi dia untuk berkenalan dengan orang yang bukan mahram nya


sedangkan aku judes, cerewet, suka nyelonong, tampil dengan pakaian yang terbuka, ditambah lagi cara ku berbicara juga kadang nggak punya rem asal keluar dari mulutku tanpa peduli perasaan orang lain.


"iya kakaku sayang" ujar ku sembari mencium pipi chubby tania


" heh dasar mesum," umpatnya pura pura kesal padaku


" eh fi, kamu masih ingat kan sama janji kamu yang kemaren" tuturnya menghentikan tawaku


" hah, janji apaan? traktir kamu makan?" tanyaku bingung


"ya ampun fifi belom tua udah punya penyakit pikun. itu lo janji kalau kamu yang bakalan mulai pake hijab kalau kamu nikah nanti"


"ya elah tan baru juga lulus udah maen ngingetin nikah aja calon aja belom punya"


" ya kan siapa tau duluan kamu dari aku,cuma mau ngingetin aja, supaya kamu nggak lupa"


"udah ah dari pada kamu jadi peramal mending kita gabung sama orang tua kita" ujarku mengajak tania untuk ikut bergabung dengan orang tua ku sama orang tuanya yang masih di dalam kampus.


tanpa persetujuan darinya aku langsung menggandeng tangan tania dan berlenggang meninggalkan taman.