LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
KEJELASAAN SEBUAH FAKTA



fahriza


》》》》》


karena taksi yang ditumpangi lufita sudah melaju aku kembali berlari kerumah dan mengeluarkan mobilku untuk mencarinya


 


kutelusuri jalanan kota yang masih ramai itu mataku terus mencari dirinya disekitaran trotoar jalan siapa tau dia sudah turun


waktu telah menunjukkan pukul 23.30 dan lufita belum juga ku temukan sudah berpuluh puluh kali aku menelfonnya namun ponselnya tetap tidak aktif kucari kerumah almarhum mertuaku disana hanya ada lufian dan ART nya


lufian juga kaget mendengarnya dia juga mencoba menghubungi beberapa teman lufita yang dia kenal namun mereka juga tidak mengetahui keberadaan lufita


sekarang aku dan lufian sedang berada di apartemennya tania untuk mencari lufita tapi dia juga tidak ada disana


 


tania juga kaget mendengarnya karena setahunya lufita tidak pernah marah dengan pergi dari rumah. semarah marahnya dia paling mengurung diri dikamar


 


" bang, gimana ini aku takut fifi kenapa kenapa " ucap tania yang gelisah


"aku juga gelisah kita juga nggak tau harus cari kemana lagi" ucap lufian pasrah


 


"fi kamu dimana?" ujar tania lirih dengan diiringi deraian air mata


 


"ini yang aku takut kan. kenapa dari awal aku nyuruh kamu buat ceritain semuanya za,"


 


" aku takut kalau dia tidak bisa menerima kenyataannya " sambung lufian sambil mengusap rambutnya


" jadi sekarang gimana? " balas tania


aku yang sedari tadi diam kini keluar dan turun kebawah dengan berlari aku menuju mobil aku tak memperdulikan lagi lufian yang memanggilku tadi yang ku ingin kan sekarang aku harus menemukan lufita bagaimanapun caranya


 


ku coba lagi untuk menelfon nomor ponsel lufita namun tetap tidak aktif tak ingin putus asa aku terus melajukan mobilku dimalam yang semakin larut ini


 


"aaarrrrgghhh..." teriakku didalam mobil sambil membanting setirnya dengan keras


 


" fi, jangan buat aku khawatir " ujarku sambil terus melajukan mobil


 


sedari tadi aku terus menelusuri setiap jalanan kota hingga beberapa kali aku turun dari mobil untuk menanyakan keberadaan lufita dengan orang orang yang sedang duduk diwarung kopi maupun para pedagang kaki lima yang belum ingin menutup dagangannya dengan cara menunjukkan fotonya namun yang ku dapat hanya gelengan kepala


dan tanpa terasa suara azan mulai terdengar di sekeliling kota dari tadi ayah terus menelfonku untuk menanyakan apakah lufita sudah kutemukan


dan seperti sekarang dia menanyakan keberadaanku yang masih duduk di kursi mobil aku tidak bisa tenang sebelum aku menemukan lufita


 


setelah menutup telfon dari ayah aku memutar mobilku menuju sebuah masjid yang tidak jauh dari tempatku berhenti


 


setelah sampai aku segera menuju kran air di masjid untuk berwudhu


aku sampai melupakan sang pencipta karena terlalu memikirkan lufita aku mencoba menenangkan hatiku ku serahkan semuanya pada Nya yang maha membolak balikkan hati manusia


ketika sudah selesai sholat aku belum ingin keluar aku mencoba berkomunikasi dulu dengan Nya ku curahkan semua keluh kesahku dalam doa


 


selesai sholat aku segera keluar dan menuju mobil tapi ketika aku ingin membuka pintu mobil tiba tiba ponselku berdering segera ku ambil dari saku jaketku kulihat nomor tidak dikenal yang menelfonku


 


dengan cepat aku mengangkat telfonnya siapa tau ada kabar tentang keberadaan lufita yang bisa ku dapat


" assalammualaikum " sapa si penelpon disebrang sana kalau didengar dari suaranya sepertinya perempuan tapi ini bukan suara lufita


"waalaikumsalam"


"apa ini benar nomornya kak fahriza?" tanyanya


bagaimana dia mengenalku aku kembali melihat ponselku mencoba mengenali nomor itu tapi aku tetap tidak tau


" iya "


"aku nayra junior kakak dulu,"


"oh, nayra iya saya ingat" ujarku pada nayra juniorku waktu kuliah dulu dan entah bagaimana dia bisa mendapatkan nomor ponselku


"aku cuma mau ngasi tau kalau dokter fifi ada di rumahku" ucapnya sambil setengah berbisik


"tolong share alamatmu sekarang saya akan kesana" ujarku tanpa ba bi bu lagi


setelah mematikan ponselnya nayra langsung mengirim alamatnya dengan cepat aku mengeluarkan mobilku dari parkiran masjid dan melaju menuju rumah nayra


"ya Allah terima kasih" gumamku sambil terus melajukan mobil dijalan yang masih lengang itu


untung saja masih sepi jadi aku bisa menambah kecepatanku berkendara


saat sudah tiba di rumahnya nayra aku langsung memarkirkan mobilku dan turun terlihat diterasnya nayra sedang berdiri dengan gelisah


"apa fifi masih didalam?" tanyaku setelah memberi salam tadi


"iya kak dia sedang tidur. sebenarnya dia melarangku memberi tahu siapapun tentang keberadaannya tapi aku takut kalian khawatir jika tidak ku beritahu" ucapnnya sambil sesekali memandang kedalam


"makasih ya nay, saya nggak tau harus gimana lagi kalau kamu nggak nelfon saya"


"tadi malam dia terlihat begitu sedih hingga aku kaget melihat kedatangannya kerumahku apalagi hari sudah sangat malam" ucapnya ramah


"ketika aku tanya dia tidak menjawab apapun selain meminta ku untuk merahasiakan keberadaannya"


"saya minta maaf karena merepotkanmu"


"nggak pa pa fifi sudah ku anggap seperti adik ku sendiri. ya udah kakak temui dia selesaikan masalah kalian secara baik baik" ujarnya tersenyum dan mengajakku masuk menemu lufita


ketika sudah didalam kudekati lufita yang sedang tidur disofa milik nayra


dia belum melepas mukena nya dan bacaan ayat surah Ar Rahman juga masih terdengar lewat ponselnya


 


sepertinya dia sangat kelelahan sampai sampai dia tidur disofa tanpa melepas mukenanya


 


dengan posisi miring menghadapku dia tertidur dengan pulas wajah tirus itu membuatnya lebih terlihat lugu. dengan lembut kusentuh kepalanya seketika dia membuka matanya dan kaget melihatku berada disana


"kamu ngapain disini?" ucapnya dengan ketus ketika melihatku sedang berada dihadapannya kini dirinya sudah duduk di pojok sofa menjauhiku


"fi tolong beri saya waktu buat jelasin semuanya ke kamu"


 


dia masih menjauhiku dengan membuang pandangannya ku dekatkan diriku dan duduk disampingnya


 


"saya nggak tau harus mulai dari mana" ujarku dengan memperhatikannya yang masih membuang pandangan


" Rija memang kakak saya tapi bukan kakak kandung"


seketika lufita menoleh kearah ku dengan penuh tanda tanya


"dia mungut saya dijalanan waktu saya berusia 7 tahun. saat itu saya mencuri makanannya karena lapar. ketika saya sudah mendapatkan rotinya saya langsung lari meninggalkannya"


" saat tau kalau dia mengikuti saya. saya takut kalau dia akan memukul saya tapi dugaan saya salah dia malah memperkenalkan dirinya dan mengajak saya kerumahnya"


 


" saat itu saya bingung apa yang harus saya lakukan apakah saya harus mengikutinya. tanpa persetujuan dari saya dia langsung menarik lengan saya dan pergi bersamanya "


 


"dia memperkenalkan saya pada ayah dan ibu dan seketika itu dia mengingikan saya untuk tinggal dirumahnya dan menjadi bagian dari keluarganya saya cukup kaget mendengar penuturannya yang menginginkan saya menjadi adiknya"


"yang lebih membuat saya kaget ternyata ayah dan ibu menyetujuinya ayah lalu menambahkan namanya dibelakangnya dinama belakang saya"


"saya benar benar tidak percaya melihat mereka menerima saya dengan mudah dikeluarga mereka"


 


" dia anak tunggal hanya seorang diri tanpa saudara lain, dia bilang kalau dia sangat kesepian maka dari itu dia meminta saya untuk selalu menemaninya "


 


"hingga kamu pindah kejakarta dan bertetangga dengan kami dan menjadi temannya dia sangat menyukaimu fi, bahkan ketika dia sudah sangat parah dia masih ingin melihatmu walaupun hanya lewat foto. saat dia menceritakan tentangmu dia kelihatan sangat bahagia hingga Allah memanggilnya tepat dihari ulang tahunnya yang ke 17 tahun dia menghembuskan nafas terakhirnya di st thomas hospital inggris."


 


" kamu mau tau kan kenapa saya merahasiakan semuanya, karena dia yang meminta saya, ayah juga ibu untuk berjanji kalau kami tidak akan memberitahumu tentang semua ini dia tidak ingin melihatmu terpuruk melihat kenyataanya "


" apa keluargaku mengetahui semua ini? " tanyanya tiba tiba


aku melihatnya dan tersenyum akhirnya dia mau buka suara juga kupandang lekat wajahnya


 


"iya mereka semua tau, itulah kenapa papa memaksamu menikah dengan saya karena itu pesan terakhir Rija dia menginginkan saya menikahimu"


 


 


terdengar dia mulai menangis


" maafin fifi bang za " ucapnya lirih


segera ku peluk tubuhnya, aku mengerti perasaanya dilihat dari fisik mungkin dia dewasa tapi jika dilihat dari sifat fifi belum bisa menjadi wanita dewasa


 


belum bisa mengendalikan emosi, amarah masih meledak ledak, posesif, yah dia juga belum bisa mengendalikan kesedihannya hingga apapun ia lakukan padahal menurut kita itu salah tapi menurutnya itu benar.


 


" maafin fifi, fifi nggak bisa ngendaliin emosi fifi hingga fifi membentak ayah ibu juga bang za. "


 


" udah ya, jangan nangis lagi "


 


" fifi udah durhaka sama suami dan mertua fifi " ucapnya masih dalam keadaan terisak


" syuuutt, udah udah nggak perlu mikirin itu lagi sekarang fifi udah tau kan semuanya jadi fifi bisa belajar dari kesalahan fifi "


 


" tapi fifi..... "


 


" udah ya nangisnya sekarang udah pagi lebih baik kita pulang dulu " ujarku sambil menghapus air matanya yang masih mengalir di pipinya nayra yang entah kemana tadi kini menemui kami di sofa ruang keluarganya


" alhamdulillah, nay seneng banget liat yang beginian " ujarnya tersenyum memperhatikanku yang sedang menghapus air mata lufita dengan jariku


" dokter fifi, nay cuma mau bilang dengarkanlah dulu penjelasan seseorang yang ingin memberikan sebuah alasan padamu karena mungkin dari sana fakta sesungguhnya akan terjawab dari pada pemikiran yang kita buat buat tanpa tau kejadian yang sesungguhnya " ujarnya mendekati fifi dan mengusap lembut wajah fifi


" makasih dokter nay, maaf ya fifi jadi ngerepotin karena numpang nginep disini "


" hehehe nggak ngerepotin kok malahan aku seneng banget jadi ada temen cuma satu aja sih yang aku takutin takut kamu akan memakanku melihat keadaanmu semalam " ujarnya tertawa kecil diiringi juga senyum dari bibir lufita


" ya udah nay kita pulang dulu ya udah pagi soalnya " ucaku lalu berdiri begitu juga dengan fifi dan nayra


" iya. hati hati "


"assalammualaikum "


"waalaikumsalam"


••••••••••


lufita


》》》》》


"bang za" panggilku pada fahriza ketika kami sudah didalam mobil dan keluar dari pekarangan rumah dokter nayra


"ya" jawabnya sambil melihatku


" kita pulang kerumah ibu ya aku mau minta maaf sama ayah juga ibu "


dia tersenyum lalu mengusap lembut pipiku


sepanjang perjalanan dia terus menggengam tanganku seakan akan aku akan pergi meninggalkannya lagi, tanpa terasa air mataku kembali menetes batinku terus bertanya bagaimana bisa sifat kenak kanakan ku itu tidak hilang juga hingga aku membuat orang yang kini disampingku yang mencintaiku dengan tulus ini khawatir


buru buru aku menghapus air mataku takut jika fahriza melihat ku dan kembali khawatir


ketika mobil sudah masuk ke pakarangan rumah mertuaku hatiku seketika gugup aku takut mereka tidak akan memaafkanku atas sikapku kemarin


dengan dag dig dug aku masuk kerumah mertuaku setelah tadi memberi salam. fahriza membawaku kekamar ibu dia bilang ibu dikamar


benar saja tubuh wanita paruh baya itu sedang duduk di sofa kamarnya sambil memandangi cahaya sang surya yang masuk melalui jendela kamarnya


"assalammualaikum bu" ucapku lirih hatiku semakin takut jika dia akan membenciku


" waalaikumsalam..... fi..." ujarnya kemudian berdiri dan mendekatiku lalu memelukku dugaan ku ternyata salah wanita ini bukannya marah padaku atas sikapku melainkan memperlakukan ku dengan lembut dia menangis melihatku berada dihadapannya


"kamu nggak apa apakan?" tanya nya lembut aku hanya menangguk dan tersenyum


" ibu khawatir sama kamu nak, maafin ibu karena merahasiakan semuanya "


" ibu nggak perlu minta maaf, fifi yang harus minta maaf karena fifi udah ngebentak ibu kemarin fifi yang salah maafin fifi karena udah melukai hati ibu " ucapku sambil menghapus air matanya


dia menggelengkan kepalanya lalu memelukku " jangan pergi lagi ya sayang " ucapnya dibelakang


" iya fifi nggak akan pergi lagi fifi janji "


"oh iya ayah mana?" ujarku ketika ibu sudah melepas pelukkannya


" di taman belakang, "


" ya udah fifi mau ketemu ayah dulu " ujarku yang dibalas ibu dengan anggukan


fahriza sudah pergi entah kemana dia membiarkanku untuk menemui ayah dan ibu sendirian benar benar si fahriza ngebiarin aku buat ketemu mertuaku sendiri


ketika sudah di taman belakang kulihat ayah berdiri merasakan sengatan dari sang surya pagi ragu ragu aku mendekatinya


" ayah " panggilku seketika dia membalikan tubuhnya dan menghadapku dia tersenyum terlihat gerutan gerutan mewarnai wajah tuanya


" fifi mau minta maaf atas kelakuan fifi semalam, fifi udah ngebentak ayah "


dia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, nafas berat itu mengingatkanku pada papa


" kamu udah makan?" bukannya marah atau membentakku dia malah bertanya dengan ramah


aku hanya menggelengkan kepalaku dan dia mengajakku masuk untuk menuju dapur


" yah? " mendengarku memanggilnya dia menghentikan langkahnya dan kembali menatapku


" ayah nggak mau marah sama fifi atas sikap fifi sama ayah dan ibu "


dia mendekatiku dan membelai kepalaku yang tertutup jilbab


" bagi ayah masa lalu itu hanya kenangan sekalipun itu terjadi kemarin kesalahan yang kamu buat mungkin terbilang menyakitkan tapi bagi ayah melihatmu mengakui kesalahan mu dan menyesalinya itu sudah membuatnya membaik seperti semula "


" jika sudah meminta maaf cobalah belajar dari kesalahan itu jangan sampai kamu jatuh ke lubang yang sama " ujarnya sambil tersenyum


kalimat itu seperti kalimat papa yang menasehatiku ketika aku meminta maaf padanya seketika aku teringat papa dan merindukannya


" yah boleh fifi peluk ayah " ucapku ragu ragu


tanpa meminta lagi dia tersenyum dan mendekapku dalam pelukannya air mataku mengalir disana pelukannya mengingatkanku pada pelukan papa yang selalu hangat dan manis


"uh ibu sama fahriza nggak diajak nih masa berdua aja bahagianya " ujar ibu ternyata ada di samping kami entah sudah berapa lama dia dan fahriza sudah berada disana


aku melepas pelukan ayah dan kembali memeluk ibu kueratkan pelukannya "hemh ma pa, fifi bahagia mendapatkan mertua seperti mereka" ujar batinku


" dah belom pelukannya laper nih " ujar fahriza diikuti senyuman dari ayah dan ibu


" ganggu aja " balasku kesal sambil mengerucutkan bibir


"ih itu bibirnya kenapa minta dicium?" godanya didepan ayah dan ibu yang tersenyum sedangkan aku hanya tertunduk malu


 


"iiihhh malu tau ada ayah sama ibu" ucapku sambil meliriknya tajam karena berhasil membuatku malu didepan ayah dan ibu


 


sebelum pergi kemeja makan fahriza menyuruhku untuk mandi dulu ternyata dia yang tadi menghilang itu pergi mandi dan sekarang dia mengekoriku dari belakang menuju kamarnya


 


saat masuk kekamarnya mulutku membulat ingin berteriak namun dengan cepat kututup dengan kedua tanganku aku tidak percaya melihat penambahan poster baru didinding kamarnya


 


ya dia memajang poto cristiano ronaldo yang terpampang besar disamping poto mesut ozil tidak hanya satu tapi tiga poto CR7 yang melakukan selebrasi dengan memakai jersey MU, REAL MADRID dan terkahir JUVENTUS aku memandangnya tak percaya bagaimana dia melakukannya dengan cepat


saat ku tanya dia hanya tersenyum dengan senang aku memeluknya dengan erat dasar manusia kutub ini selalu saja berhasil membuatku luluh