
fahriza
》》》》》
rapat sudah mulai sejak beberapa jam yang lalu kenapa aku tiba tiba gelisah. aku benar benar tidak bisa fokus melihat persentasi klienku sekarang.
brugh
pintu dibuka dengan keras hingga membuat semua yang ada diruang meeting menoleh. tenyata dara sekertarisku, nafasnya terengah engah. sepertinya habis berlari
" maaf pak.... saya mengganggu..... tapi ada..."
" oke kamu atur dulu nafasmu" potong ku melihatnya susah mengatur nafas ntah ada apa dengannya
"pak, istri bapak terjebak di lift di lantai tujuh"
"APA..." kurasakan jantungku memompa lebih cepat. tanpa memperdulikan orang orang disana lagi, aku berlari dari ruang meeting menuju lift. tapi saat tiba di lift ternyata ada orang disana dan masih di lantai atas. "aarrgghh" teriakku kemudian memilih berlari menuruni tangga darurat.
pikiranku benar benar kacau, bagaimana bisa lufita berada disini dan sekarang sedang terjebak di lift. "Ya Allah selamatkan istriku" gumam batinku. sekuat tenaga aku menuruni anak tangga aku nggak mau sesuatu terjadi dengan lufita.
saat sudah dilantai 7 aku segera menuju lift dan benar saja karyawanku sudah ramai disana dan juga sudah ada petugas teknis disana aku berlari menuju lift. " bagaimana, apa pintunya sudah bisa dibuka" tanyaku dengan nafas yang masih memburu aku semakin cemas melihat petugas tersebut masih mengotak atik pintunya.
" sebentar lagi pak temen saya juga masih berusaha membuka dari mesinnya yang diatas." ujarnya
tak lama ia berbicara, pintu lift pun terbuka.
terlihat disana seorang perempuan muda berjongkok disudut lift sambil memegangi kedua lututnya dengan menunduk. aku segera masuk menghampirinya."lufita" panggilku dengan nafas yang masih memburu.
lufita menoleh dan menatapku kaget matanya sudah merah karena menangis. dengan cepat aku menariknya keluar. saat sudah diluar lift dia langsung memelukku dengan erat sampai sampai aku harus mundur selangkah dia menangis dibahuku
"aku takut za" tuturnya sambil terbata bata sepertinya dia masih syok. " iya kamu tenang ya, saya sudah disini" ujarku sambil membalas pelukannya.
"kita keruangan ku saja"
tak ada sahutan darinya dia masih menangis tanpa menunggu jawabannya, aku langsung menggendongnya menuju ruanganku. aku tak memperdulikan semua karyawan yang menatap kami tadi.
saat sampai diruanganku, aku mendudukannya di sofa. tubuhnya masih gemetar. aku mangambikannya air dan memberikannya pada lufita. aku harus membantunya mengangkat gelas dan meminumkannya.
" za apa aku masih hidup? " tanyanya tiba tiba, sepertinya dia masih belum sadar sepenuhnya.
aku hanya membalasnya dengan tersenyum sambil membelai wajahnya. "kita pulang sekarang ya" balasku lalu menggendongnya menuju mobil.
aku menggendongnya bukan karena cari kesempatan tapi tubuhnya masih gemetar, untuk berdiri saja masih perlu bantuan ku, dia masih sangat syok.
"za, motor ku gimana?" tanya setelah sadar kalau motornya masih di parkiran kantor
"nanti suruh orang kantor aja yang anterin kerumah"
"kamu kenapa bisa kejebak di lift?" sambungku penasaran bagaimana dia bisa berada di kantor dan terjebak di lift
"tadi aku mau ambil ponselku sama kamu, ponsel kita ketuker. tapi pas di lift tiba tiba liftnya macet" ujarnya menatapku mendengar ucapannya aku langsung memeriksa ponsel yang berada di kantong celanaku.
benar saja bukan ponsel ku yang ku ambil melainkan ponsel lufita. aku merutuki diriku bagaimana bisa aku membuatnya dalam bahaya. "maafin aku fi, ini semua salahku" tutur ku tanpa jawaban darinya sepertinya dia marah padaku.
ya, dia memang pantas marah padaku, sebab aku hampir saja mencelakainnya.
setelah lama berdiam di dalam mobil, akhirnya kami memasuki pekarangan rumah. aku membukakan pintu mobil untuknya
dengan cepat dia keluar dan masuk kedalam rumah. ada apa dengannya, aku juga bingung segera ku susul dia kedalam rumah dan mencarinya tapi tidak ada "kemana dia" gumamku. dengan cemas aku menyusuri anak tangga memastikannya kalau dia ada dikamar. saat dikamar pun dia tidak ada, ketika aku ingin keluar dari kamar, terdengar suara gemercik air di kamar mandi " fi kamu kenapa,?" tanyaku ketika sudah berada di pintu kamar mandi.
"nggak apa apa ja"
DEG
apa tadi dia memanggilku ja, apa dia masih memiliki rasa dengan rija. kenapa aku jadi nggak suka gini.
segera ku tinggalkan kamar dan turun menuju ruang kerjaku. sampai disana ku pandangi poto rija yang menjadi wallpaper laptopku "maafin aku ja, tapi aku juga nggak bisa ngebohongin perasaanku".
••••••••••
lufita
》》》》》
selama di mobil tadi perutku tiba tiba mulas banget makanya aku tidak banyak bicara dan saat sampai dirumah aku langsung lari kekamar mandi terdengar diluar fahriza memanggilku. mungkin dia khawatir melihat tingkahku.
saat sudah mengatakan kalau aku baik baik saja, aku baru sadar kalau aku memanggilnya dengan sebutan ja bukan za seperti biasa. buru buru aku menuntaskan aktivitasku di kamar mandi lalu keluar menemui fahriza.
kulihat dia bersandar dikursi kerjanya dengan mata tertutup, sepertinya dia sedang terlelap. dengan ragu aku mendekatinya laptopnya masih menyala dengan layar yang dipenuhi e\-mail masuk. "za" panggilku.
dia membuka matanya lalu meliriku.
"boleh aku bicara sebentar"
dia hanya menaikan alisnya, pertanda kalau dia mempersilahkan ku untuk berbicara. hem susah banget sih bicara sama manusia kutub pas lagi ngambek.
aku menarik nafasku sebentar lalu menghembuskannya secara perlahan. "huftt.. maaf ya za kalau aku panggil kamu ja tadi, aku masih belum bisa lupain dia yang dulu pernah ada dihidupku." ujarku dengan dibalas tatapan tajam dari fahriza. aku nggak tau apa yang terjadi denganku hingga mengatakan hal yang tidak seharusnya aku katakan. setelah mengatakan itu aku langsung kembali ke kamar.
"apa yang baru saja ku lakukan" gumamku
"dia pasti kecewa denganku"
readers.menurut kalian fahriza sama lufita beneran jatuh cinta atau hanya perasaan sesaat saja. hubungan mereka bakalan bertahan nggak ya?🤔 terus tunggu kelanjutannya.💕