
" tanteeee....... " teriak seorang anak kecil dibelakangku membuatku terpaksa menoleh dengan bersusah payah
" eh caca? " lirihku mengamati gadis kecil yang berlari mendekatiku
" hah hah hah.... tanthe.. hah " ujarnya terengah engah ketika tiba didepanku
" caca kenapa lari lari nanti jatuh "
" caca ngejar tante abis tante diteriakin dari tadi nggak noleh noleh " sahutnya masih dengan mengatur nafas
sudut bibirku sedikit terangkat ketika melihat wajah caca yang terlihat menggemaskan waktu dia menarik dan menghembuskan nafasnya.
" hehe.. maaf ya tante nggak denger "
" om fahriza mana? " tanya nya ketika nafasnya sudah kembali teratur
" om fahriza lagi beli minuman. caca kesini sama siapa? "
" sendiri "
" loh kok sendiri mama caca mana? " aku tak habis fikir kenapa dia ketaman ini sendiri tanpa pengawasan orang tua lagi nanti kalau dia kenapa napa nanti siapa yang akan mengetahuinya
" caca lagi ngambek sama mama " sahutnya kesal terlihat kalau perasaannya saat ini kurang senang
" kalau tante boleh tau kenapa caca ngambek sama mama caca "
" mama nggak ngebolehin caca ketemu papa padahal caca tadi liat papa diteras rumah tapi mama ngelarang caca buat ketemu papa. caca kan rindu papa "
aku sedikit mengernyitkan dahi mendengar penuturan caca maksudnya dia dilarang hanifa ketemu papanya itu apa? apa hanifa berpisah dengan suaminya ah nggak nggak kok pikiran aku jauh banget sih ngurusin kehidupan orang
" ca seharusnya caca nggak boleh gitu sama mama caca nanti kalau mama caca nyariin caca gimana. mama caca pasti punya alasan kenapa ngalarang caca buat ketemu papa caca "
" lagi pula kesel dengan orang tua itu nggak baik sayang apalagi sama mama orang yang bikin kita bisa liat dunia. caca nggak kasian sama mama caca yang nyariin caca, pasti sekarang mamanya caca khawatir sama caca "
aku mencoba menenangkan hati gadis kecik didepanku ini rautnya yang semula kesal berubah sedih entah apa yang sedang ada dipikirannya sekarang.
tak berapa lama dia menatapku kini dia menundukkan kepalanya terdengar isakan kecik darinya
kurengkuh tubuh kecilnya mencoba menenangkan hatinya yang sedang gundah
" kenapa sih mama sama papa harus pisah hiks hiks.. "
deg
jadi benar dugaanku kalau hanifa dan suaminya pisah
penuturan caca membuat hatiku sedikit tersentuh anak sekecil dia harus merasakan akibat dari keputusan orang tuanya
" sabar ya sayang, caca itu anak yang kuat "
" makasih ya tante " ujarnya setelah melepas pelukanku
" caca nggak boleh sedih lagi, inget caca itu anak yang kuat anak yang tangguh jadi nggak boleh cengeng "
dia tersenyum mendengar penuturanku
" kalo caca sedih caca berdoa minta sama Allah buat ketenangan hati caca juga mama papa caca ya "
" siap tante. " tukasnya seraya menggangkat tanganya seperti orang memberi hormat
aku hanya tersenyum melihat tingkahnya
" disini ternyata " ujar sebuah suara disampingku mengalihkan atensiku dan caca
" caca dari mana? mama caca nyariin caca dari tadi " lanjutnya seraya berjongkok disamping caca
" trus mamanya sekarang kemana? " tanyaku membuat fahriza menoleh kearahku
belum sempat fahriza menjawab pertanyaanku seorang wanita memeluk caca dengan erat tubuhnya kelihatan gemetar mungkin efek takut dan khawatir
" ca....... ya Allah nak kamu kemana aja mama khawatir sayang tolong jangan marah sama mama kayak gini mama takut " ucapnya dengan iringan isakan gemetar. ketakutan terlihat jelas dari wajahnya
" mama juga minta maaf udah bikin caca marah, caca boleh ngambek sama mama tapi jangan tinggalin mama nak "
" maafin caca ya ma, caca nakal caca bikin mama khawatir " sahutnya lirih seraya mengusap lembut pipi mamanya lalu meninggalkan kecupan dikedua kelopak mata wanita yang berahadapan dengannya itu
" iya sayang "
" makasih ya mbak sekali lagi mbak jagain putri saya " ujarnya menatapku
aku hanya tersenyum menanggapi ucapan dari hanifa
raut khawatir dan takut masih mengukir diwajahnya namun sekelabat senyum sudah mulai terpancar dari bibirnya
.
.
.
" jadi kamu pisah sama suamimu? " tanyaku masih belum sepenuhnya percaya pada ucapannya barusan.
" sudah setahun lebih mbak " lanjutnya sambil memperhatikan danau buatan yang terbentang didepan kami
pertemuan yang beberapa kali karena ketidak sengajaan membuatku sering bertemu hanifa. wanita dengan tubuh tinggi semampai, dilengkapi dengan rambut yang panjangnya hingga pinggang yang sedikit kecoklatan dengan ujungnya yang di curly. membuatnya terlihat sangat anggun namun tak pernah terbesit olehku bahwa dia seorang single parents
" trus kenapa kamu ngelarang caca buat ketemu sama papanya " mataku yang semula menatap danau kini beralih menatap wanita disampingku ini
" maaf sebelumnya kalau aku lancang tapi aku kasian liat caca yang merindukan ayahnya " sambungku
dia menoleh kearahku dengan senyum tipis " saya masih belum bisa maafin mantan suami saya mbak mengingat kelakuan bejatnya kesaya dulu. jadi karena itu saya selalu ngelarang caca buat ketemu papanya, saya masih belum ikhlas jika putri saya berhubungan dengan pria seperti dia "
jika kalian bersamaku kalian akan melihat raut wajah terluka darinya. dia bercerita dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya tapi air muka dan tatapannya terus menggambarkan betapa ia sangat membenci mantan suaminya.
mungkin aku tak akan pernah tau akan apa yang terjadi pada rumah tangganya sebelum itu tapi sebagai perempuan aku bisa memahami kebencian dan rasa sakit yang ia derita lewat tatapan dan aksennya dalam melontarkan kata kata
" aku mungkin nggak akan ngerti akan apa yang kamu rasakan saat dengan mantan suamimu karena aku tidak diposisimu tapi sebagai perempuan aku cuma bisa ngasi saran jangan biarkan caca tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah hanya karena ego kamu "
" maaf kalau aku lancang, aku kasihan liat caca tadi nangis bilang kalau dia rindu papanya " ujarku seraya tersenyum padanya
" makasih mbak atas sarannya, insyaAllah nanti saya coba " tukasnya terdengar sedikit berat
" ehm boleh nggak jangan panggil aku mbak kayaknya tua an kamu deh dari aku " ujarku membuatnya tertawa renyah
" maaf, tapi kalo nggak panggil mbak saya harus panggil apa? "
" lufita atau fifi aja "
" fifi aja? " ujarnya kemudian terkekeh
aku hanya tersenyum kikuk mendengar pertanyaannya
" kamu nikah muda ya? " lanjutku penasaran
aku bisa menebak umurnya pasti kisaran dua puluh lima an terlihat dari raut wajahnya ditunjang lagi dengan penampilan yang modis layaknya wanita sosialita
" iya, usia 19 tahun itu juga dijodohin dalam barter bisnis " tuturnya membuatku terperangah bagaimana bisa nasib pernikahannya sama seperti nasib pernikahan ku yang terjadi karena perjodohan
apakah perjodohan untuk mengikat kedua insan kedalam pernikahan menjadi trend saat ini? apalagi untuk ditukarkan dengan bisnis aku tak habis fikir bagaimana bisa pernikahan dijadikan ajang pertukaran bisnis
okelah kalau kedua insan itu belum memiliki perasaan tapi aku yakin lambat laun cinta pasti akan hadir diantara mereka karena aku merasakannya tapi bagaimana jika pernikahan itu terjadi karena tuntutan bisnis orang tua? menurutku itu sedikit memaksakan.
belum lagi jika dia mempermainkan kita karna barter bisnis yang ia jalankan dengan orang tua kita membuatnya semakin leluasa berbuat semaunya
itu menurut pendapatku
jadi kalian bisa menilai sendiri karena setiap pemikiran didalam otak manusia itu berbeda dan didalam otakku berpendapat seperti itu.
tapi yah balik lagi ke garis takdir kita yang telah tertulis
" kalo kamu sama fahriza gimana? kalo aku liat usia kalian kayak terpaut jauh juga? "
" kami nikah juga karena perjodohan, dia tua tujuh tahun dariku "
dia tersenyum lalu menatap kembali danau didepan kami
" kalo saya lihat dia sayang banget sama kamu fi, sampai waktu papasan sama saya dirumah sakit waktu kamu koma, cuma ngobrol bentar dia langsung balik lagi keruangan kamu. "
aku hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan hanifa, ya semoga akan selamanya begitu
" beruntung kamu dijodohin sama dia, tidak seperti nasib saya yang kandas ditengah jalan." lanjutnya
" suatu saat kamu pasti menemukan laki laki yang benar benar mencintaimu bukan karena kelebihanmu melainkan kekuaranganmu dan memimpinmu menuju jannah Nya "
" dan yang pasti menyayangi caca seperti putrinya sendiri " lanjutku membuat kekehan kecil keluar dari mulutnya
" aaaa..... tante om fahriza curang " teriak caca disamping kami yang sedari tadi bermain dengan fahriza entah permainan apa yang mereka mainkan hingga tak menghiraukan aku dan hanifa
" bang..." panggilku memperingatkan fahriza yang masih menggelitik perut caca
yang dipanggil hanya membalasku dengan senyuman kemudian menggendong caca yang semula berbaring dirumput mendekati kami
" tante om fahriza curang masa caca menang dia bilang caca kalah " celotehnya mengadukan perbuatan curang fahriza padaku
" nanti tante marahin om fahriza nya" tukasku membuatnya menjulurkan lidah kearah fahriza
aksinya itu mengundang tawa fahriza, dengan gemas dia mencubit pipi gembul caca
" wah pah liat deh kedua istrinya rukun banget ya " samar samar terdengar ucapan seorang wanita dewasa yang kelihatanya sudah kepala tiga yang duduk dikursi disamping kami pada suaminya
baru saja duduk datang kesini sudah bisa membuat dadaku terasa sesak
" dua duanya cantik lagi pa, tapi sayang yang pake jilbab kayaknya nyusahin suaminya deh liat aja nggak bisa jalan. trus liat deh yang rambutnya digerai itu kayaknya dia yang paling cekatan ngurus suami kelihatan dari body language " tambahnya membuat dadaku makin terasa sesak
" saya minta maaf untuk istri saya " ujar suami wanita tadi pada kami yang kubalas dengan senyum hambar dadaku terasa ditusuk tusuk mendengar ucapan istrinya tadi
" syuut ma, mama apa apaan sih kita kesini mau santai-santai bukan mau gunjingin orang nanti kalo mereka sakit hati gimana? " balas suaminya dengan sedikit berbisik namun masih tetap terdengar
entahlah itu jenis berbisik seperti apa hingga aku juga masih bisa mendengarnya.
" pulang yuk udah sore banget " ujar fahriza mencairkan suasana canggung diantara kami
" kalian naik apa? " tanya fahriza pada hanifa saat dia mendorong kursi rodaku menuju mobil
" kita jalan kaki mas soalnya rumah kita deket kok " balas hanifa
" sama kita aja biar kita anterin "
" nggak usah mas wong dari sini lurus dikit mentok kiri udah " lanjutnya
" pantesan si caca berani kesini sendiri orang deket rumahnya "
aku sedari tadi hanya diam mendengarkan fahriza dan hanifa berbicara entah kenapa sejak mendengarkan ucapan wanita tadi hatiku terasa ngilu ditambah lagi obrolan mereka yang teras akrab membuat hatiku seperti diiris
" beneran nih nggak mau kita antar? " ulang fahriza pada hanifa saat kami sudah tiba disamping mobil
" nggak usah mas makasih. kalian hati hati ya "
" dada om, dada tante nanti main lagi ya " ujar caca disamping hanifa dengan menautkan jarinya pada mamanya
aku hanya membalasnya dengan senyuman
" semoga cepat sembuh ya fi " ujar hanifa kemudian
lagi lagi hanya kubalas dengan senyuman
~
" abang tadi ketemu hanifa dimana? " tanyaku saat mobil kami mulai membelah jalan raya
" di depan toko yang depan taman tadi, saya nggak sengaja liat dia lari lari kecil kayak nyari sesuatu "
" trus abang yang samperin? "
" nggak, pas saya mau nyebrang jalan dia lihat saya juga trus nanyain caca makanya saya bantu cari "
" trus abang lupa sama istri abang sendiri? " tanyaku mulai tersulut emosi entah kenapa suasana hatiku berantakan sekarang
dia meraih tanganku lalu menggenggamnya sedetik kemudian punggung tanganku sudah mendapatkan kecupan bertubi tubi darinya hingga akhirnya dia menggenggamnya erat seakan akau akan hilang detik itu juga
" jangan pernah dengerin omongan orang lain dan jangan buat perkataan orang yang tidak tau apa apa tentang kehidupan kita memporak porandakan kepercayaan dan kehangatan dirumah tangga kita " ucapnya dengan mata yang sesekali melihatku
••••••••••
" bang? " panggilku pada fahriza yang sedang merebahkan dirinya disampingku
" hem? "
" besok siang ibu ngajak pergi kepengajian di masjid deket jalan rumahnya itu katanya ada tausiyah. khusus perempuan aja sih "
" kamu mau ikut? "
" kalo abang ngizinin kenapa enggak "
" ya udah nanti barengan sama saya kekantor aja saya anter kerumah ibu "
" nanti fifi ajak bik nini sama bik wari yah? "
" iya " balasnya pelan kemudian mengecup keningku tak lama dia mulai memejamkan matanya
ku pehatikan wajahnya yang mulai terlelap dengan tanganku yang mulai mengusap pelan wajahnya
walau hanya diterangi lampu tidur aku bisa melihat wajah lelahnya tertera di netraku
guratan guratan halus yang menandakan bahwa ia semakin dewasa mulai tampil di area sekitar matanya
namun tak mengurangi kadar ketampanannya
" bang? "
" hem? "
" kalo seandainya suatu saat nanti ada perempuan lain dalam hidup kamu yang bisa ngerawat kamu dengan baik gimana? "
" gimana apanya? " tanyanya masih dengan mata terpejam
" apa abang bakal ninggalin fifi? "
" nggak akan " balasnya cepat
" bagaimana jika nanti fifi abang madu? "
" nggak akan pernah terjadi " ucapnya seraya membuka kedua kelopak matanya
mata tajamnya itu langsung menangkap manik mataku yang didepannya
perlahan dia melingkarkan tangannya ditubuhku dia mendekapku dengan erat, kehangatan langsung mengalir ketubuhku karena pelukannya detik berikutnya dia menuntun tanganku untuk berada dipinggangnya
" jangan penah berfikir jika saya akan meninggalkanmu karena posisi kamu dihati saya nggak akan pernah bisa digantikan " lanjutnya membuat setetes cairan bening yang terasa asin itu jatuh dari pelupuk mataku
.
.
.
.
.
.
♡♡♡♡♡♡♡♡
😁lame tak jumpe e
say hallo dululah
jan lupa like share and subscribe
jiah udah kayak yutub ae
hehehehe maaf lah ye lame up
buat yang udah setia nunggu makasih banget semoga Allah selalu memberikan kalian kesehatan dan murah rizki untuk readers kuh
okeh buat yang ikhlas nyumbang vote sama likenya bolehlah
hehehe
jan lupa komentar positifnya
tak tunggu e