
lufita
》》》》》
sebuah kecupan mampir di pipiku
seketika aku mengerjapkan mata mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk dalam mataku.
" selamat ulang tahun pernikahan sayang " ucap fahriza membuatku bingung
ulang tahun pernikahan?
hari ini....
astaghfirullah
aku membulatkan mataku seusai mencerna perkataan fahriza.
" kamu siapin ini semua? " tanyaku melihat kue tart ditangan kananya yang berdiri sebuah lilin bertuliskan angka 2
dan sebuket bunga ditangan kirinya
" satu tahun pernikahan kita yang kemaren kita banyak ngalamin berbagai rintangan. jadi ditahun kedua pernikahan kita ini saya mau mengawalinya dengan suasana harmonis tanpa air mata " jelasnya
aku langsung melingkarkan tanganku dilehernya hingga membuat fahriza buru buru memindahkan kue beserta bunganya ke atas nakas
" maaf aku lupa " aku sangat merasa bersalah karena melupakan hari bersejarah dalam hidup kami. seakan dari awal pernikahan aku tak perlu mengingat hari yang membawa kebahagiaan dalam hidupku saat ini
" maafin aku bang za " ku pererat pelukanku pada lehernye yang dibalas fahriza dengan mengusap punggungku
" kamu nggak perlu minta maaf, justru saya yang harus berterima kasih buat kadonya " jawabnya membuatku melepaskan pelukan
kado?
gimana aku mau ngasi kado hari ini saja aku sampai melupakannya.
mengerti akan kebingungan diwajahku fahriza mengarahkan pandangannya menatap box bayi di samping kami
" makasih udah bersabar selama sembilan bulan dan udah berani berjuang menghadirkan mereka dalam kehidupan saya. mereka kado terindah yang kamu berikan buat saya " jelasnya lalu mendaratkan kecupan dipucuk kepalaku.
" tiup lilinnya nanti meleleh kena kue " titahya menyodorkan kue tart didepanku
" kamu mau kado nggak? " tanya nya setelah aku memadamkan api pada lilin ulang tahun ini
dia ikhlas nggak sih ngasi kadonya. dimana-mana orang kalo mau ngasi kado itu ya langsung kasi aja nggak perlu nanya kayak gini. ya walaupun aku sebenarnya tidak memerlukan itu karena apa yang dilakukannya sekarang sudah membuatku merasa tersanjung.
tapi aku masih nggak habis fikir ngasi kado aja ditanya mau apa enggak?
astaga...
" kalo ikhlas mau kalo nggak ada nggak pa pa kok aku udah bahagia banget kamu kasi surprise kayak gini "
" faith maulana jaelani, fairuz humaira jaelani, faizal adnan jaelani " ucapnya membuatku tercengang
ini maksudnya nama anak-anak yang seminggu ini belum dikasi tau fahriza?
" itu nama... "
" nama anak-anak kita adalah kado buat kamu karena seminggu ini kamu pasti penasaran dengan nama mereka yang sudah saya siapkan " sahutnya
" namanya bagus. fifi suka " aku melempar pandangan pada ketiga anakku yang masih terlelap karena ini masih jam 12 malam jadi tak mungkin mereka bangun kecuali lapar atau popoknya penuh.
sejak kepulangan ku dari rumah sakit lima hari yang lalu fahriza masih enggan memberitahuku nama yang dia siapkan untuk si kembar entahlah apa alasannya sampai ketika keluarga lainnya bertannya dia hanya tersenyum menjawab pertannyaan mereka.
sekarang aku tau alasannya menyembunyikan nama yang diberikannya itu sebagai kado. menurut orang pasti ini sederhana tidak ada apa apanya tapi bagiku ini hadiah terindah darinya, yang berhasil membuatku penasaran setengah mati hingga ngambek padanya dan sekarang dia berikan dimalam romantis ini
" maaf kalau saya tidak mengadakan pesta besar atau sejenisnya seperti orang lain. dihari kebahagiaan kita saya hanya mau kemesraan dan keharmonisan rumah tangga kita cukup kita aja yang tau dan merasakannya orang lain tak perlu masuk " ujarnya seraya menyelipkan rambut yang menutupi wajahku kebelakang telinga
" makasih buat semuanya. aku bahagia menikah denganmu " balasku seraya menatap manik tajamnya.
perlahan dia memiringkan kepalanya, bibirnya mencoba menjangkau bibirku. detik berikutnya bibir kami sudah bertautan, ku pejamkan mataku menikmati sentuhan yang diberikan fahriza. aku nggak akan takut kebablasan karena fahriza itu lelaki bisa dipercaya jadi dia tau aku tak mungkin melayaninya dan bisa kupastikan dia tak akan melakukan hal lebih.
ketika dia akan ******* bibir bawahku, tangisan fairuz berhasil membuatku mendorongnya. dengan segera aku mengambil fairuz dari box bayi membawanya ke pangkuanku.
terdengar helaan nafas dari fahriza karena acaranya dirusak sama anaknya sendiri.
aku terkekeh melihat ekspresinya yang terlihat lucu. akhirnya dia mendekat kearahku memperhatikan wajah fairuz yang sedang menyusu.
" saya fikir anak kita laki-laki semua setelah liat faith lahir. ternyata Allah ngasi yang lengkap ke kita " celetuknya sambil menyentuh wajah fairuz didadaku yang masih asik menyusu.
" aku juga nggak nyangka bang, anak kedua kita perempuan padahal kalau dilihat dari selera makanku waktu hamil itu semua tanda-tanda anak laki laki "
" tapi saya nggak heran sih sayang, soalnya kan waktu hamil kamu suka dandan, pencemburu, suka cerewet jadi nggak aneh juga sih kalau seandainya anak kita perempuan semua " sambung fahriza membuatku tersenyum kecut karena dia menyinggung sifat burukku saat hamil.
" cih, aku pencemburu buat jaga-jaga, kamu kan lunglai jadi dirayu dikit sama perempuan lain pasti meleleh " cetusku menatap sebal kearahnya
" dih, siapa bilang saya lunglai buktinya anak yang kamu kandung bukan satu melainkan tiga. dan itu bukti kalo saya kuat " sanggahnya membuatku jengah
plak
" kalo ngomong tuh yang berbobot " ucapku setelah menampol lengannya
" ya kamu yang mulai "
lama-lama sikembar bisa bangung denger perdebatan orang tuanya cuma gara-gara hal kecil
" nggak mau ngalah banget sih " sinisku
dia tertawa sembari menutup mulutnya dengan telapak tangannya karena takut membangunkan sikembar
" kamu tuh kalo lagi kesal ngegemesin " dia mencubit kedua pipiku.
" ih jangan di cubit bang za nanti pipi aku makin lebar " aku menepis kedua tangannya yang memainkan kedua pipiku
" stop hahaha.... bang za.. " tawaku berderai akibat ciuman yang diberikan fahriza pada pipiku membuat ku geli tak dapat menahan tawa.
" saya sayang kamu " ucapnya sembari membawaku dalam dekapannya
" teruslah bahagia jangan pernah menangis lagi karna saya, itu menyakitkan buat saya "
ku lingkarkan tanganku di pinggangnnya, dapat ku rasakan detakan dari jantung fahriza yang terdengar di gendang telingaku.
▪︎▪︎▪︎
" faiz sama oma yuk " ajak ibu menjulurkan tangannya ingin mengambil faiz yang sedang berbaring disamping fairuz
tak lama ibu memanggil faiz suara tangisan fairuz menggema dipenjuru ruangan membuat aku yang sedang mengenakan jilbab langsung ngacir menenangkan anak perempuan ku yang paling cengeng.
ternyata rambut tebal fairuz ditarik sama faiz waktu omanya mau menggendong faiz sontak saja dia kaget.
" iya sayang, sakit ya nak ya. sini bunda usapin " bujukku menenangkan jeritan fairuz kukecup bibirnya yang bergetar sambil terus mengusap kepalanya yang sakit akibat tarikan yang diberikan faiz pada rambutnya
setelah berhasil membuat tangisan fairuz berhenti barulah aku turun untuk bergabung bersama yang lainnya diikuti ibu yang membawa faiz dalam gendongannya. kalau faith udah dibawa fahriza turun duluan karena dia yang paling cepet selasai pake bajunya. beda sama fairuz dengan faiz yang super aktif jadi agak sulit memakaikan pakaian mereka
di usia mereka yang dua bulan ini membuat mereka lebih aktif terlebih faiz dan fairuz yang paling cekatan dibanding faith kakaknya.
faith kalau diliat liat anaknya kalem banget kalau nangis ya paling minta susu atau popoknya penuh.
nah kalau adeknya yang berdua itu sering banget nangis ntah itu faiz atau fairuz yang tangannya tertindihlah atau tangan faiz nampol muka si fairuz dan banyak lagi yang lain.
hari ini ceritanya kita kumpul keluarga dirumah. mereka pada mau nengokin si kembar. jadi aku sekalian ngundang temen temen aja kebetulan dokter dimas baru pulang dari dari belanda jadi sekalian reunian aja.
" fai kenapa sayang? " tanya fahriza ketika aku sudah bergabung bersama mereka
" aiz narik rambutnya "
aku berjalan menuju para teman dokterku yang sedang bercengkram di karpet
" aa... lucu banget " ujar nayra suaranya yang super cempreng membuat faiz menatap heran dirinya
nayra baru kali ini liat si kembar karna dia udah pindah tugas ke surabaya kampung halamannya makanya waktu aku lahiran dia nggak ada disana.
" aduh ini yang mana faith, yang mana faiz sih " cerocosnya ketika memandang faith dan faiz bergantian. karna fairuz perempuan jadi nggak susah mengenalinya
" kamu cantik banget sih sayang " kali ini dimas yang bersuara sembari mengambil fairuz dari gendonganku.
" mereka semua bener-bener jiplakannya fahriza " sambung kak rere yang sudah memangku faith.
untung acil udah besar jadi nggak susah dia jalan ke kak lutfi atau ke kak rere kalau nggak bakalan ngamuk dia liat mamanya nggak memperdulikan dia
" tau kak padahal yang hamil aku, yang ngidam aku, yang ngelahirin aku eh giliran muka malah mirip fahriza semua " sahutku
rasanya cemburu juga karna tak ada terselip sedikitpun bentuk wajahku pada sikembar semuanya ngambil bentuk wajah fahriza semua kalau diperhatikan hanya si faith yang sedikit mengambil bentuk mata milikku.
" berarti usaha fahriza nggak sia sia dong. " celetuk dimas yang kuhadiahi pukulan di bahunya
bisa bisanya dia bahas yang begituan disini.
" sayang kalau nanti dah besar jangan pecicilan kayak bundamu ya " seloroh tania pada fairuz yang sedang tertawa ulah dimas yang sedang memangkunya
" cih, semoga anak kamu mirip aku " doaku berhasil membuat kak lufian melirikku
" ih nggak mau. yang ceroboh kayak gitu " balas tania sengit
" eh ini si faith anteng banget sih, liat nih dah tidur " ujar kak rere menunjuk faith dalam dekapannya sudah damai dengan tidurnya
" dia emang suka gitu kak. asal nyaman dikit tidur nggak susah ngaturnya "
" frans nggak kesini? " tanyaku saat tak melihat kehadiran dokter frans
" bentar lagi nyampe " jawab dimas yang masih asik bermain dengan fairuz
tak beselang lama orang yang baru saja dibicarakan sudah muncul bergabung bersama kami. tapi dia tidak datang sendiri
" dia calon istriku " ucap frans menjawab rasa penasaran dari wajah ku dan nayra yang menatapnya
" wah udah bawa gandengan aja kamu frans " goda dimas seraya berdiri untuk bergabung dengan kaum adam lainnya yang hanya membahas soal bisnis
" sini duduk.... "
" ima mbak " ucapnya mendengarku menggantungkan kalimat karena tak tau namanya.
" ya ima sini, frans biar gabung sama barisan pria disana " tukas tania membimbing wanita cantik itu untuk duduk disampingnya.
" ima punya darah jepang ya? " celetuk ibu membuat kue yang baru saja masuk ke mulutku diam begitu saja hingga pipiku terlihat mengembung
" eh, iya tante. " jawabnya malu
" ibu kok bisa tau? " tanyaku setelah berhasil menelan kue yang sudah ***** dalam mulutku
" keliatan banget dari wajahnya sama aksen dia berbicara "
keberuntungan punya mertua orang sastra itu ya gini dari nada gaya bicara aja dia bisa ngenalin kamu orang mana.
keberuntungan bukan sih?
hari ini rumahku penuh dengan cerita masa lalu atau bahkan masa depan yang belum pasti sudah direncanakan. banyak cerita lelucon yang mengundang tawa hadir memenuhi suasana ruangan yang biasanya sunyi.
ditambah lagi kehadiran si kembar membuat suasana menjadi riuh akibat tangisan mereka.
kita bisa membuat rencana namun sang penguasa lah yang akan menentukan
kita boleh patus harapan dan setelah selesai bangkitlah karna kebahagiaan akan datang diwaktu yang tepat walau bagimu semua terlambat
Allah tau kapan waktunya kau merasakan apa itu bahagia, apa itu tawa.