
ku tatap wajah damai yang masih terpejam ini, sudah sepagi ini fahriza masih belum membuka matanya.
ya Allah sudah terlalu banyak dosaku pada fahriza, pria yang terlihat lembut namun menyimpan banyak beban ini tak mau sedikit pun berbagi cerita beratnya denganku untuk meringankan pikulannya. alasanya hanya tak ingin membuatku khawatir. aku tak tau lagi sudah seberapa besar perlindungan yang dia berikan untukku.
setelah mendengar permintaanku subuh tadi kak lufian langsung membawaku ke rumah sakit. rasanya tubuhku tak berdaya saat masuk keruang perawatan fahriza dan melihatnya terbaring lemah dengan cervical collar yang melekat dilehernya, ditambah lagi tangan kananya yang dipasang gips karena retak akibat benturan keras.
air matapun tak pernah absen menemaniku untuk mendekati fahriza dalam balutan wajah tenangnya, imamku yang pernah aku ragukan akan kesetiaanya. kepala keluarga yang pernah aku maki karena kebisuannya akan pertanyaanku yang tak kunjung dijawab dan ternyata itu dia lakukan karena dia hanya ingin aku tau kalau dia akan selalu membahagiakanku. bukan menyeretku ikut menerima masalahnya.
kata ' menyelesaikan ' yang selalu diucapkannya ketika aku menangis perlu jawabannya ternyata hal yang membuatku menangisi dosaku akan teriakanku untuk fahriza.
sebanyak apapun aku memujinya sekarang, itu akan selalu membuatku selalu menangisi kesalahanku yang selalu berprasangka buruk padanya.
perlahan aku mengusap wajah yang dulu selalu mulus nan bersih ini. berbeda dengan sekarang dimana lebam tertera dibeberapa titik disana, ujung bibir yang sobek, kepala yang di liliti oleh perban untuk menutupi luka benturan disana. membuatku tak mampu lagi mengingat dugaan buruk apa saja yang pernah aku fikirkan saat dia tak menyauti pertanyaanku, saat dia meninggalkanku demi memecahkan masalahnya.
demi melindungi ku, demi menjaga nama baik perusahaan, demi nama banyak orang ramai dia harus terbaring tak berdaya dibrangkar ini. dia mengorbankan dirinya demi aku, dia menjadikan dirinya umpan demi mengalihkan perhatian musuh dariku. apa ini adil?
tidak.
ini tidak adil ya Allah, bukan dia yang membuat vino gangguan jiwa, itu semua dia lakukan demi aku. dia menuntut keadilan untukku hingga menyeret pelakunya ke penjara. dia hanya ingin keadilan untukku. tapi kenapa sekarang malah dia yang mengalami ketidak adilan.
aku menggerakkan jariku untuk menyentuh bibir kering yang sedikit terbuka ini karena mulutnya tertempel ventilator untuk membantunya bernafas. bibir ini yang selalu tersenyum ketika memanggilku, bibir ini yang selalu tersenyum ketika menasehatiku, bibir ini yang selalu tersenyum menenangkan amarahku.
" hiks, bangonlah bang. fifi mintak maaf kon. abang boleh berunyak merepek ke fifi ye tapi fifi mohon bangon bang. ya Allah...... hiks... " bibirku bergetar ketika melirihkan ini. aku seakan tak mampu memanggil namanya karena tuduhan yang selalu aku lontarkan padanya.
saat ini hanya ada aku dan fahriza yang ada dalam ruangan ini semua keluarga menunggu diluar. mereka memberiku privasi untuk berdua dengan fahriza yang aku tak tau kapan dia akan membuka matanya.
aku sudah mengetahui semuanya. semua yang ditutupi fahriza dari ku karena tak ingin aku ikut terlibat didalamnya.
sampai pada vara yang terjebak dengan perasaanya untuk fahriza karena permainan yang dia buat dengan ayahnya itu.
aku masih setia menggenggam jari-jari pucat yang lebih besar dari jari-jariku ini. masih terngiang ditelingaku akan perkataan dokter yang menangani fahriza tadi bahwa kondisi yang dialami fahriza saat ini sangat kritis dia kehilangan banyak darahnya belum lagi tulang rusuknya yang retak akibat sebuah pukulan didadanya.
otakku seakan tak mampu mencerna semua pernyataan saat ini, aku tak mau mengingat semua itu tapi semakin aku menjauhi kenyataan semakin aku didekatkan dengan realita sebenarnya. ini semua berawal dari aku hingga fahriza ikut masuk kedalamnya.
" bang za..... "
" sampai bilelah abang tidok diam cam ni. tak nak berunyak dengan fifi ke? " aku seperti orang bodoh yang sudah tau jawabannya tapi masih aku pertanyakan soalnya.
" abang selalu cakap, nak tengok fifi bise jalan agik kan? cepatlah bangon, buka mate abang tu, tengok fifi nah dah dapat berlari dah. hiks hiks...... "
" semue perkataan abang yang asek cakap kalo ' fifi pasti bise jalan agik ' benarlah bang. abang selalu kate ' percaye same doe, percaye dengan kuase Allah ' sekarang abang haros buktikan agik kalo ape yang abang ucapkan tu kenyataan. "
" hiks... hiks.. ape fifi haros balek lumpuh agik ke baru abang bangon? "
tak ada jawaban apapun yang aku dapatkan hanya kesunyian yang mendera diantara kami sampai pada akhirnya sebuah usapan lembut dibahuku membuatku menoleh kearah pelaku.
sebuah senyum hadir dikedua sudut bibirnya, telapak tangannya masih mengusap lembut bahuku. " kamu nggak kerja tan? "
" kerja, inikan udah jam istirahat. "
nggak usah bingung kenapa dijam istirahatnya tania bisa ada diruangan ini, karena tempat kecelakaan fahriza terjadi itu dekat dengan rumah sakit tempat tania bekerja jadi dia langsung dibawa kesini
" kata mas lufian dari pagi kamu belum makan? " lanjutnya sembari menarik kursi disebelahku
hanya anggukan kecil yang kulakukan untuk menjawab pertanyaan tania rasanya tenagaku sudah habis akibat tangis yang tak henti keluar dari mataku.
" huh, aku yakin kalo sikap kamu kayak gini bang iza nggak bakalan mau bangun " Tuturnya membuatku mengalihkan atensiku untuk menatapnya
" kamu boleh bersedih fi, tapi kamu juga harus jaga kesehatan kamu. kamu taukan teori kesehatan yang sudah dipelajari oleh seorang dokter? " sambungnya
" kamu nggak akan tau seperti apa perasaanku tan ketika orang yang kamu cintai terbaring tak berdaya karena menyelamatkanmu. "
terdengar tania menghela nafasnya
" setidaknya jangan biarkan diri kamu juga sakit fi. bukannya kamu baru sembuh kan? "
" mengatakannya emang mudah tan, praktekinnya yang susah. jangankan makan bergerak saja aku tak bernafsu. "
" ayolah fi.... jangan siksa diri kamu kayak gini dia juga pasti marah kalo kamu kayak gini. "
" sedetik tak menatapnya membuatku takut tan. aku takut ketika aku meninggalkannya nanti aku tak bisa melihatnya lagi hiks.... hiks.... aku tan, aku takut ketika aku bergerak aku tak lagi memiliki kesempatan menggenggam jemarinya. hiks... aku takut jika memulihkan tenagaku aku malah kehilangan kebersamaanku denganya hiks... aku takut tan..... "
" syuut.... jangan berfikiran kayak gitu fi, " ujar tania sembari menarikku dalam pelukkannya
" kamu harus yakin bahwa suamimu pasti bisa ngelewatin masa kritisnya. " lirihnya dibelakangku.
lagi lagi hanya anggukan yang ku lakukan untuk membalas ucapan tania.
Ceklek...
" assalammulaikum...... "
" waalaikumsalam " hanya suara tania yang terdengar sedangkan suaraku tenggelam oleh isakan yang masih belum selesai
" eh tania lagi jam istirahat ya? " tanya ibu yang menenteng sebuah paper bag
" iya tante. tante sendirian aja "
" iya. om rully nya nanti nyusul " jawab ibu
dia berjalan mendekati kami dan berhenti tepat disamping fahriza lalu atensinya beralih padaku senyum lembut yang selalu hadir dikedua sudut bibirnya kini ditemani oleh guratan halus. senyum yang sama yang dimiliki Rija.
" fifi tau nggak kalo fahriza itu merupakan lelaki yang kuat. dibalik kelembutannya tersimpan sosok yang tangguh. dia bukan tipe lelaki yang menyerah pada keadaan, dia percaya takdir tapi dia lebih percaya pada ucapan sang pencipta. " ujarnya tanpa menoleh kearahku bisa kulihat setitik air mata jatuh dari pelupuk mata kirinya.
" ibu mungkin bukan perempuan yang melahirkan fahriza tapi selama 20 tahun ibu merawatnya ibu tak pernah melihatnya mengeluh pada keadaan. fifi tau waktu dia berusia tujuh tahun pertama kali dibawa rija kerumah apa yang dia katakan? "
aku hanya menggeleng sembari menatap wanita paruh baya itu yang juga mulai menatapku dengan mata basahnya
" dia bilang.... dia akan menjaga ibu sampai dia tidak lagi berada didunia ini, dia menyanyangi ibu, ayah, juga rija. "
" waktu rija dirawat di st thomas dia juga pernah bilang. kekuatan laki-laki itu terletak pada mata wanita yang dicintainya, ketika mata itu menangis maka titik kelemahan lelaki akan mudah diserang. oleh karena itu setiap ibu akan bertemu dengan rija didalam ruangan ibu akan menumpahkan air mata ibu di bahu fahriza terlebih dahulu diluar. "
" bagi ibu fahriza adalah anak kandung ibu setelah almarhum rija. walau dalam tubuh kami tidak dialiri darah yang sama. "
" ibu menceritakan ini pada fifi agar fifi bisa percaya pada fahriza bahwa dia akan segera sadar dari tidurnya ini. kita sama-sama perempuan yang dicintainya jangan biarkan titik kelemahanya dikalahkan oleh keadaan karena ratapan yang kita berikan. dia akan lemah jika fifi terus menangisinya seperti ini, bantu dia melawan masa kritisnya. "
" berikan dia doa untuk kekuatannya. fifi bisa kan? " ucapnya sembari mengusap kedua bahuku.
" fifi bisa bu " ujarku lemah meski pada dasarnya sulit kulakukan karena air mataku tak ingin berhenti keluar seakan menunjukkan pada dunia bahwa titik kekuatanku sedang runtuh.
" kalau gitu fifi makan dulu gih, ibu bawain perkedel tapi buatan bik imah nggak pa pa kan? "
" nggak pa pa bu, ya udah fifi makan dulu ya. "
tania yang sedari tadi diam juga ikut larut akan cerita ibu kini terlihat terlibat obrolan dengan ibu. posisi ibu yang duduk di kursi yang tadi juga kududuki itu mempermudahnya berbicara santai dengan tania.
entah apa yang mereka bicarakan aku tidak tau karena fokus ku sekarang hanya tertuju pada fahriza yang belum juga membuka matanya.
gerahamku mengunyah lemah makanan yang baru saja masuk kemulutku, mataku tertuju pada fahriza tapi tatapanku kosong, pikiranku buntu entah apa yang harus kulakukan agar dia segera sadar, hatiku meringis setiap mendengar suara bedside moniter yang terdengar sangat memilukan itu. kesedihan ku lengkap bukan?
hingga pada suapan kelima kunyahan ku terhenti saat mendengar suara pintu yang terbuka dan disana berdiri sosok lelaki paruh baya yang masih dengan setelan kantornya. setelah memberikan salam, dia mendekati ibu lalu mengecup pucuk kepala wanita paruh baya itu dan dibalas ibu dengan mencium punggung tangannya.
aku tersenyum melihat pemandangan itu hal yang biasa dilakukan fahriza padaku ketika dia pulang dari kantor. walau sudah berkepala lima tak mengurangi keharmonisan rumah tangga kedua sejoli paruh baya itu. bahkan mereka tak canggung melakukannya didepan kami yang masih berada satu ruangan dengan mereka.
aku juga mendengar ayah yang menggoda tania agar segera menikah, aku tak begitu memperdulikan mereka karena aku harus menghabiskan makananku agar tak membuat ibu sedih lagi.
" nah begini lebih baik dari pada pagi tadi. " ujar ayah yang berjalan dan duduk disofa yang sama denganku
" kamu juga harus punya tenaga untuk menjaga fahriza bukan? " tukasnya
" iya. " balasku sembari tersenyum padanya
" kamu harus yakin bahwa fahriza pasti bisa ngelewatin masa kritisnya "
aku kembali mengangguk menjawab ucapannya karena atensiku masih belum beralih dari fahriza
" huh akhirnya makan juga kamu " sambung sebuah suara bariton
loh kak lufian sejak kapan dia disini, kok aku nggak nyadar ya.
" kak lufian sejak kapan ada disini? "
" ck. sedih mah sedih aja fi tapi nggak harus mengabaikan keberadaan kakak mu juga " ujarnya seraya memberikan paper bag padaku
" kamu nggak nyadar fi lufian masuk setelah beberapa saat ayah didalam tadi? " tanya ibu yang masih duduk dikursi samping berankar fahriza itu
" nggak " jujurku dengan gelengan lemah
terdengar dengusan dari kak lufian melihat reaksiku.
" sana mandi tuh kakak beliin baju, dari pagi belum mandi mau jadi pekasam kamu? "
" paansih. nanti aja "
" his, kebiasaan jorok kamu tuh tinggalan dulu deh. kasian fahriza kalo bangun nanti nyium istrinya bau karena belum mandi " sarkasnya membuatku berjalan dengan kesal kearah kamar mandi aku tak lagi menghiraukan tawa dari mereka yang mendengar pertengkaranku dengan kak lufian.
▪︎▪︎▪︎
ketika aku sedang memakai jilbabku didepan cermin, terdengar suara gaduh derapan langkah kaki diluar ditambah lagi suara pembicaraan para perawat pada dokter. dengan cepat aku memasukkan pakaian kotorku yang masih tergantung kedalam paper bag lalu melangkah keluar.
pemandangan pertama yang kudapatkan adalah raut panik para suster dan dokter yang sedang mengecek keadaan fahriza, pandanganku beralih pada ibu yang sudah terisak dalam dekapan ayah dan kak lufian yang menutup wajahnya dan aku tak menemukan keberadaan tania mungkin sudah kembali bertugas.
ku letakkan sembarang arah paper bag yang ku genggam di tangan kananku lalu belari kearah brangkar fahriza. aku tau situasi ini yang menandakan pasien dalam keadaan darurat.
aku mendesak ingin mengambil posisi disamping dokter yang sedang menempelkan lead pada dada fahriza namun seorang suster menghalangiku, karena aku tidak boleh mengganggu dokter yang sedang menyelamatkan pasien yang sedang dalam keadaan darurat.
" SAYA HARUS MENYELAMATKAN SUAMI SAYA " bentakku pada suster yang menghalangiku itu. aku sudah tidak tahan karena dia terus menerus menghalangiku
" maaf buk, mohon untuk pengertiannya. dokter sedang berusaha menyelamatkan suami ibu " ujarnya lembut
" KAMU.... "
" fi.... udah biarkan mereka menangani fahriza. " ujar kak lufian seraya memelukku entah kapan dia sudah berdiri menengahi percakapan emosiku dengan suster itu.
" dok, detak jantungnya semakin melemah " ujar seorang suster yang sedang mengecek detak jantung fahriza lewat defibrillator
aku sudah tak dapat menahan emosiku lagi.
dengan kekuatan yang entah dapat dari mana aku berontak dalam pelukan kak lufian lalu mengambil alih lead dari pegangan dokter laki-laki yang menangani fahriza itu.
tak kuhiraukan lagi amarah dokter itu karena aku mengganggu pekerjaannya.
" bangun fahriza... banguuunnn " panggilku disela sela aku menempelkan lead pada dadanya.
tak ada reaksi apapun yang dia berikan selain suara detak jantungnya yang kian melemah.
" BANGUN FAHRIZAAA... JANGAN BUAT AKU MEMBENCI TAKDIR " teriakku makin menjadi karena lagi lagi tak ada reaksi yang diberikan fahriza. dibantu dengan beberapa suster disana aku masih memainkan lead ditanganku ke dada fahriza.
sesekali aku memberikan nafasku kedalam mulutnya dengan cara menempelkan bibirku ke bibir fahriza. urat malu ku sudah putus sekarang karena lelaki ini, ayolah fahriza jangan buat aku seakan tak memiliki pasokan oksigen.
jangan buat aku kembali membenci takdir fahriza, jangan buat aku kehilangan jiwaku sekarang. aku mohon fahriza sadarlah
" MANE KATE KAU BAHWE KAU SELALU NGEDAMPINGIN AKU BRENGSEK. " nafasku memburu, mataku panas ketika garis detak jantungnya menampilkan garis datar yang sesekali deselingi gelombang kecil. detik berikutnya garis itu lurus tanpa deselingi gelombang
" fi udah fi ikhlaskan fi " ujar kak lufian dibelakangku sembari menarikku untuk menjauh dari sana. emosi ku sudah tercampur jadi satu hingga kakuatanku lebih besar dari pada kak lufian. dengan hentakan kasar aku melepaskan pegangannya pada lenganku
" BANGUN BRENGSEK....... hiks hiks... " pekikku yang masih kekeuh menempelkan lead pada dada fahriza. aku sudah seperti orang kesetanan melihat jantung fahriza berhenti berdetak
hingga pada akhirnya garis di defibrillator kembali tampil dengan diselingi gelombang frekuensi detak jantungnya.
aku terduduk lemah dilantai setelah mendengar seorang suster mengatakan bahwa jantung fahriza sudah berdetak dengan normal. tubuhku terasa tak memiliki tulang setelah apa yang barusa saja terjadi dihadapanku.
jika saja kak lufian tak membimbingku untuk keluar mungkin saat ini aku masih terududuk dilantai dingin itu seperti orang bodoh. kejadian tadi benar benar membuat nafasku juga ikut berhenti.
" fi.... "
" hiks hiks..... bilang pada dia kak, aku masih butuh dia. hiks... bilang padanya kak jangan buat aku juga berhenti bernafas " perempuan cengeng sepertiku tak akan pernah absen mengeluarkan air mata. jika saja air mata seperti uang mungkin aku akan mendapat gelar wanita yang tak pandai menghemat air mata.
ya Allah izinkan aku menikmati hidupku dengan orang yang kuncintai sampai hari tuaku dan kau akan mengabsen salah satu nama diantara kami maka aku akan ikhlas. tapi tidak untuk saat ini, aku membutuhkannya ya Allah, biarkan aku memohon maaf darinya, berikan aku izin untuk selalu mendampinginya.
♡♡♡♡♡
fyi :
berunyak : ngomel/marah
merepek : marah yang tak ade ujung, melintir aja terus sampi si pengomel letih
tengok : lihat / melihat
nanti aja baru nyapa yang baca sekarang lagi masih dalam suasana sad karena ngetik bab ini.
see you