LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
BERLALUNYA 8 TAHUN



8 tahun berlalu.....


" ayaaaaahh.... " teriak seorang gadis kecil seraya menaiki undakan tangga dengan susah payah akibat kakinya yang pendek sedikit menyulitkannya untuk berlarian pada anak tangga lantai dua rumahnya itu.


" ayaaahh... hiks ayaaaahh.. " teriaknya semakin menjadi kala tak mendapat jawaban dari sang ayah


" astaga fai, kenapa lari-lari nak nanti jatoh " seru seorang wanita yang hampir berkepala tiga yang baru saja keluar dari kamar ketika mendengar suara cempreng anak gadisnya


" hiks.. aiz jahat bunda huaaaa... aiz ngatain fai bukan anak ayah za " adunya sambil memeluk perut sang bunda


terlihat perempuan itu menghela nafas lelahnya akibat perlakuan dua orang anak kembarnya yang tak pernah akur. membuat kepalanya sedikit pening, apalagi suara cempreng anak gadisnya setiap saat selalu berteriak ketika sang adik menjahilinya.


" aiz cuma bercanda sayang, dia cuma godain fai doang " ucapnya sambil menenangkan gadis kecil itu yang masih berurai air mata.


" ayah mana? " tanya nya ketika hujan dari mata kucingnya itu reda


" ayah lagi mandi, fai udah mandi belum? "


" belum. fai mau mandi sama ayah " rajuknya kemudian berlalu memasuki kamar sang bunda


sedangkan wanita yang berstatus ibu dari tiga anak kembar itu hanya bisa menggelengkan kepala seraya berlalu kebawah menuju dapur tempat kerjanya para wanita.


" bunda " panggil bocah laki-laki seusia gadis kecil tadi sambil menjilati eskrim yang sedang digenggam oleh tangan mungilnya.


" ya sayang... haduh aiz bunda bilang jangan makan eskrim dulu kan, kamu lagi batuk nak ya ampun " celoteh sang bunda yang dibalas cengiran dari bocah yang dipanggil aiz itu.


" habis enak bunda, oh iya kak pirus mana? " dia menggeledahkan pandangannya keseluruh penjuru rumah mencari kakak mungil yang asik dijahilinya itu


sang bunda yang tak lain lufita hanya bisa memijit pangkal hidungnya mendengar panggilan si bungsu untuk anak tengahnya.


" di kamar bunda " sahut lufita seraya mengambil tisu yang tergeletak diatas meja ruang keluarga lalu kembali mendekati faiz membersihkan sisa eskrim yang menempel di bibir juga tangan bocah mungil itu.


" ya udah, kalau gitu aiz ke kamar bunda dulu ya mau ngejekin kakak pirus " celotehnya lalu berlalu meninggalkan bundanya yang sudah kesal atas sikap anak bungsunya yang susah diatur


" mandi dulu faiiizzz.... "


" nanti bunda " jawab faiz saat berada di pertengahan anak tangga


" jangan godain kakak kamu lagi ya Allah " teriakan sang bunda kali ini hanya dijawab faiz dengan mengacungkan jempol kananya


" ataghfirullah, sabar lufita. kenapa si faiz sama fairuz nggak ngambil watak fahriza aja sih kayak si faith haduh.. lama-lama aku bisa kena strok ngadepin dua bocah itu " gumamnya sambil berlalu menuju dapur.


" it.. kok ngegambarnya di meja dapur? " tanya lufita ketika mendapati anak sulungnya sedang mencoret coret buku gambarnya di meja dapur.


" it lagi gambar panci bunda " jawabnya dingin dengan sesekali menoleh kearah panci yang bertengger di meja kompor.


hobi faith yang menggambar membuatnya jarang berinteraksi dengan sekitar baik itu dengan kembarannya sendiri. dia lebih suka menghabiskan waktunya sendiri ditemani buku gambar dan krayon di tangannya. entah apa saja yang dia gambar melalui buku gambarnya itu hingga sudah setumpuk buku gambar yang penuh dengan karyanya di kamar.


dia juga sudah beberapa kali meraih gelar juara tingkat SD dalam lomba menggambar baik itu antar kelas maupun tingkat nasional.


kemampuanya dalam memainkan pensil dan cat warna diatas kertas sudah tidak diragukan lagi karena dari umur tiga tahun pun dia sudah mahir mencoret coret dinding kamarnya.


" it udah mandi? " sang bunda kembali bertanya sambil meraih beberapa potong sayur dan daging dari dalam lemari pendingin


" udah " anak sulungnya ini benar-benar jiplakan fahriza baik wajah maupun watak. sikapnya yang dingin dan jarang tersenyum itu membuat lufita sering tersenyum memperhatikan tingkah faith yang susaaah buka mulut buat bicara.


nah kalaupun ngomong paling seadanya aja atau kalau nggak lagi belajar sama fahriza itu juga udah bisa buat lufita bersyukur mendengar suara dari sang anak yang mirip kanebo kering. dataaarrr.


Di dalam kamar...


" ayaaaahh.... " lagi-lagi gadis kecil itu berteriak membuat kamar sang ayah yang kedap suara tertinggal oleh naungan suara cemprengnya


" kenapa sayang? " tanya sang ayah yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kemudian berjongkok di depan putri kecilnya yang sedang mencebik.


" loh rapunsel nya ayah kenapa nangis hem? " rapunsel tokoh kartun kesayangan anak gadisnya oleh karena itulah dia selalu memanggik gadis kecil yang manja itu dengan sebutan rapunsel.


" huaaa... aiz bilang ayah za bukan ayahnya fai " adunya dengan tangis yang menggema diseluruh penjuru kamar.


" emang. kak pirus kan anaknya pak muis " sanggah sang bocah laki-laki yang baru saja masuk kedalam kamar.


sontak saja perkataannya membuat sang kakak semakin mengencangkan tangisnya.


" ayaaaahhhh... aiz jahat huaaaa... ayah za itu ayahnya fai. kamu yang anaknya pak muis " protesnya tak terima dengan tudingan sang adik


" udah jangan saling ngejek kayak gitu. ayah za tetep ayahnya bang it, ayahnya kak fai, ayahnya aiz juga. " sambung fahriza menenangkan dua bocah dengan wajah serupa dengan dengannya.


fairuz semakin mengencangkan pegangan tanganganya di leher fahriza ketika mendengar sang ayah bersuara.


tak mau kalah dengan sang kakak, aiz juga berlari memeluk sang ayah hingga membuat fahriza sedikit kewalahan mengimbangi berat badan kedua anaknya yang bertambah besar itu.


" singkirkan tangan mu dari badan ayahku " sarkas fairuz menatap nyalang adiknya yang juga ikut memeluk fahriza.


" wlueekk... kak pirus tuh jauh-jauh sana kan bawa virus. namanya aja pirus " balas sang adik membuat keduanya makin mempererat pelukan mereka dibadan fahriza satu dileher, satu di punggung.


ironis bukan


" namaku fairuz, bukan pirus. huaaa... ayaaaahh " beginilah nasib fahriza ketika kedua anaknya yang setiap hari selalu adu mulut membuatnya harus ekstra sabar menghadapi watak lufita yang tidak mau mengalah melekat sempurna pada kedua anaknya itu.


▪︎▪︎▪︎


ceklek.


" mereka udah tidur? " tanya fahriza ketika istrinya masuk kedalam kamar.


dia menutup laptopnya karena memang pekerjaannya sudah selesai.


" faiz berantem sama faith " adunya mendapatkan wajah tak percaya dari sang suami. bagaimana tidak, anak sulungnya yang hampir setiap hari dapat dihitung kalo bicara berantem sama adiknya? rasanya mustahil


" faith mau tidur, eh si faiz ngusilin dia alhasil dia marahin adeknya trus turun dan tidur di kamar tamu dibawah. "


" dulu aku selalu iri liat muka mereka yang copy paste muka kamu bang. tapi sekarang aku nyadar setelah fairuz dan faiz besar ternyata wataknya mengenaskan seperti watakku. haaahh... puyeng ngadepin mereka berdua "


"coba aja sikap mereka kayak faith yang ikut watak kamu yang kalem, cuek, dingin fiuuhh... setidaknya mengurangi kemungkinan kerusakan selaput telingaku " adunya membuat fahriza tertawa mendengar keluh kesah istrinya dalam mengurus ketiga buah hati mereka yang membuat seisi rumah gempar saat menenangkan sikap jahil mereka.


" fai tadi ngaduin faiz yang ngatain dia anaknya pak muis " kali ini fahriza yang menceritakan peristiwa pertengkaran anaknya tadi.


yang saling tuduh anaknya pak muis supir baru dirumah mereka setelah usia anak-anaknya satu tahun lebih. fahriza membeli mobil baru untuk digunakan lufita berpergian dengan anaknya.


kecelakaaan yang menimpa istrinya waktu itu membuatnya segera mencari seorang supir untuk istrinya dan si kembar berpergian jika dia tidak bisa menemani.


dia bukannya tidak percaya dengan lufita untuk menyetir sendiri tapi mengingat banyak hal yang menimpa istrinya karena sikap ceroboh yang melekat erat dengan istrinya membuat fahriza sulit membiarkan istrinya untuk keluar dari rumah tanpa pengawasan.


Dan hasil musyawarah bersama mereka kemaren akhirnya sepakat untuk


mencari supir pribadi buat lufita dan triple f. lalu ketemulah pak muis masih keluargaan dengan pak maman supir pribadinya ibu mertuanya lufita.


" nggak heran mereka berdua mah nggak pernah akur " sambung lufita


" padahal fai cuma ngingetin faiz agar jangan makan eskrim dulu eh faiz malah ngebantah akhirnya pak muis belain fairuz makanya faiz ngatain fairuz anaknya pak muis. "


" sifat kamu tuh yang nggak suka dilarang " tatapan bak leser langsung menghunus fahriza setelah menyudutkan istrinya


" hahaha..... iya iya saya salah " tatapan lufita berhasil membuat fahriza mangalah dari pada disuruh tidur di sofa kan nggak enak


▪︎▪︎▪︎


sejak bangun subuh tadi tubuh lufita terlihat kurang fit, beberapa kali dia mendudukan dirinya ketika sedang beraktivitas didapur.


entah apa yang menimpanya tapi dia merasakan tubuhnya begitu tak bertenaga kepalanya juga sedikit berdenyut belum lagi perutnya seperti bergejolak.


" kamu kenapa? " suara fahriza memecah keheningan diantara mereka ketika lufita sedang memasangkan dasi pada kerah kemejanya.


" nggak pa pa, cuma lemes aja " sahutnya dengan sesekali menggelengkan kepala berharap agar denyutan kecil dikepalanya bisa hilang


" kamu pucet banget loh fi. "


" aku nggak apa apa bang " dia tersenyum memamerkan gigi kelinci pada fahriza berharap agar sang suami tak menglhawatirkannya


" ya udah kamu istirahat aja, anak-anak biar saya yang urus " ujar fahriza


" aku nggak pa pa, tolong ikatin rambutnya fairuz ya soalnya aku mau nyiapin sarapan dulu. kalo aku ngurusin fairuz nanti keburu kalian telat " pinta lufita yang ditanggapi anggukan dari fahriza.


ah..rumah mereka terasa lempeng pagi ini, entah kenapa seperti ada yang kurang. biasanya suara lufita akan bersahutan dengan dua anaknya karena sulit diatur namun pagi ini fairuz dan faiz tak membantah apapun yang diperintah oleh bundanya. mungkin setelah melihat wajah lemas dari bundanya akhirnya mereka memilih untuk mentaati perintah dari sang bunda.


" belajar makan sayur iz "celoteh lufita ketika melihat sawi dari sandwich yang disampirkan ke pinggir piring


" nggak enak bunda, eneg " kata sibungsu yang baru saja mendapat teguran dari sang bunda


" iya makanya belajar, dikit-dikit aja dulu nanti pasti terbiasa kok " balas lufita dengan sabar memberikan penjelasan yang sudah kesekian kalinya pada anak bungsunya itu


" ih nanti kalau aiz muntah gimana? beneran eneg bunda, bikin perut aiz kayak di ubek-ubek padahal baru liat belum makan " celotehnya dengan mimik yang risih seakan menandakan jika sayur itu masuk kedalam mulutnya maka tamat sudah riwayatnya


" hih nggak usah dibilangin lagi bunda, dia kan harimau yang nggak pernah makan sayur ntar lama-lama juga bakalan kurang gizi " tukas fairuz yang masih mengunyah makanannya seraya menatap sengit faiz di depannya


" eh bagus dong harimau kan kuat. nggak kayak kamu yang mirip sama kambing sukanya dedaunan lama-lama aku kurbanin lumayan buat amal anak soleh " balas faiz tak mau kalah akan ejekan yang diberikan fairuz


" kamu... "


" udah habisin makanannya nanti kita telat " ujar fahriza membuat fairuz menghentikan ucapannya. seperti biasa setiap pertengkaran yang terjadi pada kedua anakny itu dialah yang akan jadi penengah karena kalau lufita yang melerai mereka akan semakin menjadi.


nggak usah tanya kenapa. karena sifat emaknya yang tak mau mengalah juga masih melekat utuh pada diri wanita yang hampir berkepala tiga itu. setiap dia menengahi pertengkaran anaknya dia juga akan tersulut emosi alhasil bukannya selesai malah makin bertambah.


" kotak bekalnya udah.... haaahh... " terlihat lufita menghela nafasnya kala sesuatu bergejolak seperti menonjok perutnya. dia tidak boleh terlihat lemah didepan anaknya.


apalagi mereka akan berangkat sekolah dia tidak mau membuat anak-anaknya khawatir. sebisa mungkin dia harus menahan sakitnya setidaknya sampai mereka berangkat.


" bunda kenapa? aiz perhatiin dari subuh tadi muka bunda pucet " seloroh faiz memberikan tatapan khawatir pada lufita. sebandel apapun dirinya, dia juga akan merasa khawatir ketika orang yang disayanginya tak baik-baik saja. apalagi ini sang bunda wanita yang telah membuatnya bisa melihat dunia dengan bertaruh nyawa.


lufita tersenyum mendengar nada khwatir yang terdengar dari mulut mungil milik faiz.


" bunda nggak pa pa. bekalnya jangan lupa dimakan ya, kali ini sandwichnya nggak bunda pakein sayur " ujar lufita sambil memasukkan kotak bekal kedalam tas milik faiz.


" bunda? " panggil faith dengan tatapan teduh miliknya yang menatap penuh selidik akan keadaan bundanya. anak sulungnya yang biasanya selalu cuek akan keadaan disekitarnya itu kini juga ikut khawatir kala melihat wajah pucat ibunya persis yang dikatakan oleh adiknya tadi.


" bunda baik-baik aja sayang, dah kalian harus berangkat nanti...... " dia menggigit bibir bawahnya ketika sakit pada perutnya semakin menjadi. bahkan sekarang rasanya melebihi sakit yang pertama tadi.


" fi " kali ini fahriza yang bersuara dia menelisik wajah lufita dari samping. walaupun hanya sebagian wajah lufita yang dapat dilihatnya tapi dapat ditangkapnya wajah lufita yang sedang menahan sakit.


" aku.... "


PRANGG....


gelas yang teletak disamping piring lufita tak sengaja bersenggolan dengan tangan gemetar lufita yang sudah setengah sadar. sakit pada perutnya kini tak mampu lagi dia tahan. dia mencekram lengan jas fahriza dengan kuat.


pandangannya mulai kabur, keringat dingin mulai berjatuhan dari dahinya.


" bundaaaa hiks... bundaaa.. ayah bunda kenapa? " suara fairuz kembali bergema kala melihat wajah kesakitan ibunya.


" fi.... sayang hey kamu kenapa? " panggil fahriza menepuk pelan pipi istrinya namun tak ada respon apapun dari lufita selain ringisan kecil dan pandangan yang kian meredup.