LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
RAHASIA



seperti biasa setiap pagi hingga sore aku melakukan aktivitas rutinku berangkat ke RS sendiri menggunakan queen


 sudah beberapa kali fahriza menawarkan tumpangan untuk ikut bersamanya tapi selalu ku tolak alasannya tetap sama aku lebih suka berkendara dengan melihat sekeliling kota tanpa ada penghalang pengelihatan


nah kalo pakai mobil kan pemandangannya terbatas. kalo kalian tanya nanti pas musim hujan gimana gampang jas hujanku selalu siap sedia di dalam jok motor


dan bedanya dari hari hari kemaren sekarang fahriza sering menelfonku ketika jam istirahat . dia bilang kalau nggak denger mulutku nyerocos ada yang kurang


dasar bilang aja rindu susah banget


 


belum lama aku menduduk bokong di kursi ruang kerja ku ponselku pun berdering dilayar tertera tulisan IMAMKU, yah siapa lagi kalau bukan fahriza aku sudah mengganti namanya kemarin.


 


"hallo assalammualaikum" sapaku padanya setelah menerima panggilan nya


"waalaikumsalam, udah makan belum?" tanyanya disebrang sana


"belum baru aja masuk ruangan eh kamu udah maen nelpon aja"


 


"mau dengerin suara mercon soalnya" tuh kan bilang aja rindu susah banget


"huh bilang aja rindu, ngomong kek i miss you my wife" ejekku sambil mengecillan suara seperti menirukan suara sesorang yang sedang rindu


tergedangar dia sedang tertawa disana, "ih kepedean"ejeknya yang masih terkikik


"udah ah males ngomong sama kamu"


"uluh -uluh, jangan ngambek dong"


 


" iya iya i miss you my wife " ujarnya


sepertinya sekarang dia serius karena tawanya sudah tidak terdengar lagi tapi gaya bicaranya menirukan suaraku tadi


 


"hahaha..... lucu banget sih suaranya" tawaku meledak ketika mendengar ucapannya benar benar lucu


 


 "udah puas?"tanya nya dengan nada kesal sepertinya


" iya. udah "


"nanti sore kita pulang ke rumah ayah aja ya"


"kenapa? apa ayah sakit?" tanyaku bingung soalnya ini pertama kalinya ia mengajak ku untuk pulang kerumah mertuaku


"nggak ada yang sakit,"


"trus?"


"emang mengunjungi orang tua harus nunggu mereka sakit dulu"


 


"bukannya gitu, cuma aku heran aja tiba tiba bang za ngajak kerumah ibu sama ayah"


"kita udah lama nggak jenguk mereka, kangen juga sama mereka"


 


"ya udah jemput aja nanti, eh tapi queen gimana?"


 


"ntar suruh orang kantor aja buat nganterin kerumah"


 


" oke ditunggu kedatangannya "


 


" iya udah kalau gitu lanjut nanti lagi"


"oke"


"tapi dikamar" sambungnya sambil terkikik


 


"ih mesum, udah ah assalammualaikum" balasku kesal dengan goadaannya


"waalaikumsalam" jawabnya yang masih terkikik


semenjak mengakui perasaan kami masing masing kemarin aku sudah tidak canggung lagi untuk berbicara dengannya. bicara dengan fahriza itu susah susah gampang


kadang suka diem buat suasana hening kadang datar banget kadang juga suka ngegombal haduh susah ditebak tapi yang aku belom pernah liat sifat dia cuma satu yaitu marah.


 


aku nggak pernah liat fahriza marah didepanku ntahlah kalau dikantor


 


"cieeee yang baru telfonan sama suaminya" goda dokter nayra yang baru saja datang ntah dari mana asalnya tiba tiba langsung aja nongol


aku hanya tersenyum menanggapinya


"eh dok sekali sekali kenalin dong suaminya ke saya. penasaran tau siapa sih pendamping dokter paling muda dirumah sakit ini"


bukannya sombong tapi dokter yang usianya paling muda ya cuma aku dokter nayra lebih tua 4 tahun dariku dia sepantaran dengan dokter dimas


"iya nanti kalau ada waktu saya kenalin" balasku sambil maletakkan ponsel di meja


"eh dok punya fotonya nggak sih, saya beneran penasaran"


duh susah kalau ngomong sama orang kepo kayak dokter nayra semuanya perlu bukti biar dia nggak penasaran


 


aku membuka ponselku dan menujukkan wallpaper ponselku yang ku pasang fotoku dengan fahriza yang sedang tersenyum bahagia tanpa memandang kamera. seolah olah hanya ada kami berdua. padahal didasana ada keluarga juga tapi fokusnya cuma ke kita berdua aja


 


PG nya bang lufian, poto itu diambil diam diam olehnya saat kami sedang duduk dimeja makan dirumah almarhum papa. setelah dia ngambil foto itu dia langsung mengirimkannya padaku. waktu itu aku belum suka sama fahriza jadi ku cuekkan saja


 


"loh inikan kak fahriza" ujarnya kaget


 


"kamu kenal sama fahriza?" tanya ku bingung bagaimana dia mengenal suamiku


 


"kenal lah dok, orang kita satu kampus waktu di london"


 


"ha kalian kuliah di london"


"iya, jadi dia seniorku cuma beda fakultas karena dia juga orang indonesia jadi kami cukup kenal"


entah kenapa tiba tiba kuping ku panas mendengar kalo dokter nayra kenal dekat dengan fahriza. mendadak mood ku berantakan


arrghh kok fahriza nggak pernah cerita sama aku


••••••••••


sekitar 30 menit aku menunggu di lobi rumah sakit akhirnya fahriza datang juga.


 


motorku sudah 3 jam yang lalu diantarkan kerumah sama salah satu OB dikantor fahriza


"lama banget sih" ujarku kesal setelah fahriza mendekati ku dia benar benar membuatku menunggu lama


 


"maaf fi, tadi kejebak macet"


"alesan" balasku lalu pergi mendahuluinya


sampai di mobil aku tak memperdulikannya bahkan hingga mobil melaju menembus jalanan kota yang tak pernah sepi itu aku tetap diam


"fi, kamu kenapa" tanya nya heran karena ekspresiku terlihat kesal sekarang


"tadak" yah seperti biasa ketika kesal aku lebih suka menggunakan bahasa melayu


 


"hem, aku kan udah minta maaf masa iya kamu masih kesal. ya udah sekali lagi aku minta maaf ya" ucapnya lembut


 


"kamu kenal sama dokter nayra?" tanyaku ketus


"nayra siapa?" tanyanya bingung


"ihh, junior kamu waktu kuliah"


"ooohh nayra puspita, kenal."


"kok kamu tiba tiba nanyain dia?" sambungnya bingung


"kamu deket sama dia?" tanyaku masih dalam nada ketus


bukannya menjawab atau pun memberi alasan tiba tiba dia ketawa mendengar pertanyaanku


"ih kenapa?"


"jadi dari tadi kamu kesal itu gara gara cemburu sama dia?"


"sok tau kamu" ucapku ketus


" kenal dekat itu bukan berarti pacaran, saya dekat dengan dia itu karena dia juga dari negara yang sama dengan saya"


"masa sih, biasanya kalau perempuan sama laki laki deket itu nggak mungkin salah satunya nggak nyimpen rasa" sindirku


"hemh, kamu benar saya memiliki perasaan terhadap seorang wanita"


"tuh kan bener....."


"dan wanita itu kamu" ucapnya sambil memandangku sedangkan aku hanya diam tanpa membalas ucapannya lagi


"saya mungkin tidak tau masalalu mu tapi yang saya inginkan sekarang menelusuri masa depan bersamamu saya mencintaimu karena Allah"


ucapannya benar benar membuatku diam seribu bahasa hati ku bergetar ketika dia mengucapkan kalimat itu


 


sekarang tidak ada alasan lagi untukku marah padanya aku tidak tau sejak kapan aku punya sifat cemburu aku cuma takut jika fahriza tergoda dengan wanita lain dan meninggalkanku


 


sekian lama berdebat dengan fahriza didalam mobil akhirnya kami sampai juga dirumah orang tuanya fahriza yah orang tuaku juga sekarang


seperti biasa fahriza membukakan pintu mobil untuk ku sambil tersenyum lalu menggenggam jemariku aku sangat menyukai kehangatan dari nya semarah apapun aku dia selalu saja berhasil meluluhkan hatiku


 


 


"assalammualaikum" ucap fahriza sambil membuka pintu rumah terlihat ibu lagi duduk diruang tamu sambil menjahit kain entah apa itu


"waalaikumsalam" jawabnya halus


"eh, kapan nyampe kesini?" tanya sambil berjalan mendekati kami


"tadi bu" jawab fahriza sambil mencium tangan ibu begitu juga denganku dan setelah aku mencium tangannya dia langsung memelukku "ibu kangen banget sama kamu" ujarnya lembut aku hanya tersenyum kaku dibelakangnya kulirik fahriza yang juga memperhatikan kami dengan tersenyum


 


aku bingung bukannya memeluk fahriza terlebih dahulu ibu malah milih memelukku duluan


 


"gimana kabarnya sayang?" tanyanya lembut sambil melepas pelukannya dari ku


"alhamdulillah bu sehat" jawabku


"ayah mana bu?" tanya fahriza kemudian


"ada, lagi kekamar mandi"


" kalian pasti capek mending istirahat dulu ibu mau masak buat makan malam kita nanti" ujarnya lembut


"ya udah kita ke kamar dulu bu" ucap fahriza yang dibalas ibu dengan anggukan kemudian kami pergi menuju kamar fahriza


 


kamarnya berada dibawah dekat sebuah ruangan besar sepertinya itu ruang kerja ayah


 


untuk pertama kalinya aku masuk kekamar fahriza yang lumayan besar dengan desain klasik tapi tak mengurangi unsur religiusnya


contohnya tulisan kaligrafi yang terpampang besar didinding kamarnya dan beberapa foto tokoh ulama besar eh tapi tunggu ada satu foto yang membuatku memicingkan mata dan mendekatinya


"ini bukannya mesut ozil" ujarku pada fahriza sambil menunjuk sebuah foto pesepak bola asal jerman itu


fahriza yang mengambil pakaiannya dari dalam lemari menoleh kearah yang kutunjuk


"iya, kamu juga suka bola?"


"suka,tapi pemain favoritku CRC7"


"kamu penggemar Real madrid juga"


"dulu sebelum CRC7 ditransfer ke juventus dan sekarang aku berpihak pada juventus"


"kok gitu?"


"iyalah, dimana ada crc7 disitulah lufita berteriak abis ganteng banget sih " ucapku manis sambil mengerlingkan sebelah mata


 


"itu namanya kamu suka orangnya karena rupanya bukan skill para pemain dari klubnya"


"eh tapi beneran aku juga suka bola dulu aku sering nonton bareng papa kita taruhan klub siapa yang kalah nanti masakin makanan kesukaan yang menang" ucapku sembari tersenyum mengingat kenangan bersama papa


melihatku mulai murung fahriza mendekati ku dan melingkarkan tangan kanannya dipinggang ku


"ya udah nanti kita duel bareng klub siapa yang menang yang kalah harus masakin makanan favorit yang menang" ucapnya tersenyum padaku


 


aku hanya tersenyum mendengarnya dan fahriza sudah pergi kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya


"pa ma fifi rindu" gumamku diiringin sebulir air bening turun dari pelupuk mataku


••••••••••


setelah selesai makan dan membantu ibu membereskan dapur aku pergi mengambil ponselku dikamar lalu ingin balik lagi kedapur


 


tapi ketika lewat didepan kamar ibu kulihat pintunya terbuka dan ibu lagi membereskan tempat tidurnya


 


"apa lufita boleh masuk?" tanyaku saat berada di depan pintu kamar yang terbuka itu


"eh lufita, sini nak" ucapnya menyurhku duduk disampingnya


 


" ibu lagi ngapain? "


 


"lagi beresin kasur biasalah kalau mau tidurkan kasurnya harus bersih" ujarnya tersenyum memamerkan gerutan gerutan yang ada diwajahnya


 


" ehm ini apa bu? " tanyaku pada ibu sambil memegang sebuah buku tebal yang terletak di meja riasnya


"itu album berisi kenangan masa lalu yang tertangkap dengan kamera"


 


kata kata ibu mantep banget kalau aku masih labil udah ku jadiin quotes tuh kalimat kalimat ibu


maklum saja ibu kuliah dijurusan sastra jadi wajar kalau bahasa yang ia gunakan sangat tinggi


"ibu sering melihat lihat foto disana untuk mengobati rasa rindu dengan anak anak ibu"


 


"fifi buka ya bu" ujarku yang dibalasnya dengan anggukan


 


dibagian awalnya berisi foto pernikahan ku dengan fahriza lalu foto keluarga


foto foto disini tersimpan sangat rapi hingga foto foto lama pun terlihat seperti baru


 


aku berhenti pada halaman terakhir aku membulatkan mataku melihat foto dua orang anak kecil berusia 10 tahunan tersenyum memandangi kamera dengan masing masing tangan memegang sebuah eskrim dan seorang anak kecil berbaju coklat tersenyum memamerkan gigi kelincinya dengan tangan kiri memegang sebuah boneka kayu seperti boneka kayu milikku yah itu bobo


jantungku tiba tiba saja bergemuruh nafasku terasa sesak ku ambil foto itu dari tempatnya dan melihatnya lebih dalam apa ini bagaimana fahriza bisa bersamanya


 


"bu apa dia Rija" tanyaku dengan menunjuk foto anak kecil yang berbaju coklat itu


dengan gemetar aku memegang foto itu suara ku tercekat


" iya, dia kakaknya fahriza " jawabnya ragu ragu


bagai dihantam benda keras kurasakan jantungku tiba tiba saja berhenti berdetak rasanya aku ingin teriak mendengar pernyataan dari mertuaku itu bagaimana bisa aku tidak tau kalau ternyata suamiku adalah adik dari pria yang kutunggu selama 16 tahun ini sebelum akhirnya fahriza memiliki hatiku


" b..buk sekarang Rija ada dimana? " tanyaku dengan mata yang mulai memerah


"dia....." kalimatnya tergantung dengan ragu dan bingung dia kembali menatapku


" dia sudah tiada " ucapnya lirih sembari mengalihkan pandangan sepertinya dia menangis


 


dan nafasku memburu sekarang aku sudah tidak bisa menahan air mataku lagi aku pergi ninggalin ibu yang terduduk lesu


 


saat keluar dari kamar ibu aku tak sengaja menabrak seseorang dia menatapku tajam seraya memegang pipiku


"fi kamu kenapa?" tanya fahriza kaget melihat mataku merah dan berair


ketepis tangannya dengan kasar dari wajahku ketika aku ingin pergi dari hadapannya dengan cepat dia memegang lenganku


" LEPASIN " bentakku padanya sambil berontak


sontak dia kaget kali ini aku berhasil menepis genggamannya namun dengan cepat dia berlari mengejarku dan kembali menggenggam lenganku tatapan tajamnya serasa menusuk mataku


 


"fi kamu kenapa, apa yang terjadi denganmu" tanyanya dengan lantang tapi tetap lembut


aku melempar foto yang tadi ku genggam kejawahnya dengan cepat dia menangkap foto itu


matanya membulat begitu melihat foto itu dia menatapku dan menggenggam tanganku dengan erat hingga aku sedikit meringis namun kutahan aku tak ingin membuatnya makin menginjakku


"fi saya bisa jelasin semuanya"


" jalasin apa ha mau jelasin kalau kamu berhasil menipu wanita bodoh sepertiku "


" lufita saya mohon dengarkan penjelasan saya sebentar "


"ada apa ini?" tanya ayah yang baru saja datang dari luar


" nak, dengarin kita dulu fahriza bakalan ngasi alasannya " ujar mama sambil terisak


" korang semue tipu saye " (kalian semua menipu saya) teriakku aku sudah tak memperdulikan siapapun lagi aku tak bisa lagi mengendalikan emosiku


" dan kamu aku nggak habis fikir sama kamu aku pikir kamu juga mencintaiku hingga aku menceritakan semua tentang hidupku SEMUANYA SAMPAI KE AKAR AKARNYA padamu " aku menekan kata kataku


" kamu tau aku mencintai kakakmu kenapa kamu merahasiakan semua ini. aku ini kamu anggap apa ha batu? atau pemuas nafsumu?"


" LUFITA " bentaknya padaku


"fi, kamu tenang dulu kita akan jelaskan ini ayah mohon kamu tenangkan dirimu dulu" ucap ayah menenangkanku


aku udah terlanjur sakit hati aku sudah tidak bisa lagi menahan amarahku ketika aku mengetahui semuannya tadi


"fi, saya minta maaf saya takut fi saya takut jika saya menceritakan semuanya kamu akan membenci saya " ucap fahriza lirih


"saya mencintaimu fi jauh sebelum kamu mencintai saya. saya punya alasan kenapa saya merahasiakan ini semua dari kamu " ujarnya sambil mendekatiku


"usah dekat dekat kalau awak maseh maok liat aku bernafas esok" ( jangan mendekat kalau kamu masih ingin melihatku hidup )


"aku benci awak" pekikku


seketika fahriza menghentikan langkahnya dan ini peluang untukku pergi dengan cepat aku berlari keluar rumah


dibelakang fahriza ayah dan ibu mencoba mengejarku saat sampai dipersimpangan jalan kulihat sebuah taksi melintas dengan cepat aku menghentikannya dan masuk kedalam taksi


" cepat jalan pak " ujarku pada supirnya


disamping fahriza sudah mendekati mobil dan menepuk nepuk kacanya untuk menyuruhku turun


" cepetan pak " perintahku pada supir nya


" tapi neng itu...."


" udah nggak usah peduliin " sergahku membuat supirnya kaget dan melajukan mobilnya


" aku kecewa sama kamu fahriza " gumam batinku sambil menangis


aku meratapi kenanganku bersama fahriza yang telah menipuku dan terbersit kenanganku bersama bang ija ketika kami bermain bersama


" papa, fifi rindu....." gumamku dengan deraian air mata