LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
PERASAAN YANG SAMA



fahriza


》》》》》


sejak pemakaman papa dan mama kemarin tak ada lagi senyum dan tingkah konyol dari lufita. dia benar benar menjadi orang yang berbeda sekarang, aku merasakan kehilangan sosok lufita yang ku kenal.


 


dia tidak beranjak dari kamarnya, dia benar benar terpuruk. sudah berapa kali kak rere, tania, maupun lufian menenangkannya.


 


namun setiap kali mereka mencoba berbicara dengan lufita, dia selalu menangis.


melihat keadaannya yang kurang baik, aku memilih mengikutinya untuk tinggal di rumah almarhum papa. saat berada di kantor pun aku masih gelisah, pikiranku terus melayang ke lufita. hatiku bimbang untuk meninggalkannya. aku tau dirumah dia tidak sendirian, tapi entah kenapa pikiran ku tetus melayang ke dia.


akhirnya hari ini ku putuskan untuk pulang lebih awal. sebelum pulang aku menelpon ibu untuk menemui lufita dirumah. aku takut terjadi sesuatu padanya.


 


saat sedang menyetir pun aku tidak bisa fokus ke jalan, aku terus memikirkan lufita. aku menambah kecepatan mobil.


 


saat tiba dirumah ku lihat mobil ayah sudah terparkir di depan rumah papa. buru buru aku masuk kedalam ku lihat rumah terlihat sepi.


"bu, orang rumah mana?" tanyaku pada ibu saat aku menemuinya duduk di kursi meja makan. kulihat ibu memegang piring berisi nasi dan yang lainnya.


"lutfi sedang pergi ke kantor mertua mu bekerja, istrinya baru saja pergi ke pasar malam inikan akan diadakan tahlilan untuk almarhum mertuamu dan lufian keluar sebentar" ujarnya lembut sambil memamerkan senyum hangatnya.


"lalu lufita?" tanyaku


dia menarik nafas sebentar lalu menghembuskannya perlahan kemudian menyodorkan piring yang ia pegang pada ku.l


"temui istrimu, dia benar benar terpukul za. ibu kasihan padanya. jangankan makan, bajunya pun tidak ia ganti. dia masih memakai baju yang masih berlumur darah orang tuanya" ujar ibu sedih.


"bujuk ia agar dia mau makan." lanjutnya


mendengar ucapan ibu aku langsung pergi ke kamar lufita, kamarnya berada diatas. dengan cepat aku menyusuri anak tangga.


saat tiba di depan pintu kamarnya aku langsung membukanya tanpa mengetuk terlebih dahulu, pintunya tidak terkunci.


ku lihat lufita duduk bersandar di dinding kasurnya menatap ke arah pintu balkon kamarnya. perlahan aku mendekat dan duduk disampingnya dia menoleh kearahku sebentar dengan matanya yang masih sembab, lalu kembali menatap pintu balkon kamar.


"ehem, saya tau kehilangan itu merupakan mimpi yang buruk. saya juga pernah di posisimu kehilangan orang yang paling saya sayang." tutur ku memulai pembicaraan


"kalau dipikir saya juga ingin ikut pergi ketika saya melihat orang yang saya sayang terbujur kaku"


"tapi perlu kamu ketahui satu hal, jika kamu terus meratapi mama sama papa seperti ini percayalah, mereka juga tersiksa disana"


dia menatap kearahku dengan mata yang kembali berkaca kaca. kemudian memelukku, aku membalas pelukannya dengan erat. rasanya aku juga tersiksa melihatnya seperti itu. dia menangis didada ku hingga kurasakan kemeja ku basah.


"ini semua salahku, jika saja aku tidak memaksa mereka untuk datang kerumah. semua ini tidak akan terjadi" ucapnya sambil terisak


" ini semua bukan salahmu fi, ini semua sudah jadi takdir, semuanya sudah tertulis di lauhul mahfudz. Allah lebih menyayangi mama dan papa"


" tapi akulah penyebabnya, aku juga tidak becus sebagai seorang dokter. aku bahkan tidak bisa menyelamatkan nyawa mereka"


aku melepas pelukannya secara perlahan. ku hapus air mata yang mengalir dipipinya dengan tanganku. " dengarkan saya. kecelakaan itu sudah diatur oleh Allah semua itu hanya dijadikan sebuah sebab. tanpa kamu memaksa mama sama papa untuk kesini pun mereka akan tetap pergi menghadap Allah dengan cara yang lain yang sudah Dia tetap kan"


"dan dokter hanyalah perantara penyembuhan, kesembuhan yang sebenarnya datang atas izin Allah."


 


" tapi sekarang aku sudah tidak memiliki siapapun" ujarnya dengan terus terisak


 


"kamu tidak sendirian fi, kamu masih punya ibu, ayah, kak lutfi, kak rere, lufian, tania dan..."


"saya"


lufita menoleh kearahku setelah aku menggantung kalimat terakhir dan melanjutkannya. " saya tidak akan meninggalkan mu fi, saya harus memimpin makmum saya yaitu kamu, saya akan menjagamu dan bersamamu sampai Allah mengambil salah satu dari kita suatu saat nanti" ucapku mantap. entah dari mana aku mendapat keberanian untuk mengatakan semua itu.


"sekarang kamu makan dulu ya, saya tidak mau melihat kamu sakit, dan nanti malam juga akan ada tahlilan disini jadi setelah ini kamu bersihkan dirimu"


aku mulai menyendokkan nasi serta lauknya kedalam mulut fifi, dia masih belum mau membuka mulutnya, aku mengetukkan sendok ke bibir bawahnya menyuruh untuk membuka mulut. dengan perlahan dia menggerakkan bibir mungilnya yang kering itu, lalu memasukan sendok kemulutnya. dia mengunyah dengan lemah lauk dan nasi dimulutnya.


 


aku terus memandangi wajah haru itu, beberapa bulir air matanya kembali terjun. tanpa perintah darinya aku menghapus air mata itu. dia menolehku, dan memegang jariku yang menghapus air matanya hingga membuatku berhenti menghapus air matanya. " boleh aku minta sesuatu padamu?" tanya nya lirih.


 


"katakan saja"ujarku kemudian menggenggam jemarinya.


" ku mohon tetaplah bersamaku, tetaplah disampingku, jadilah imamku sampai aku tiada" pintanya lembut. tatapan matanya yang begitu teduh, membuatku sedikit bergetar. aku kembali memeluknya. rasanya aku benar benar tidak ingin kehilangan wanita cerewet dan pemarah ini. aku tidak tau apakah aku mulai mencintainya, yang aku tau sekarang aku sangat menyayanginya dan tak mau kehilangannya. "ja, jika kau melihat kami sekarang, aku mohon restu dari mu" ujar batinku.


••••••••••


acara tahlilan sudah selesai 1 jam yang lalu, dan rumah juga sudah mulai sepi, hanya keluarga dan kerabat yang masih bercengkrama di ruang tamu. aku menemui ayah yang sedang berbicara dengan kak lutfi dan juga lufian. sedangkan lufita, dia sudah mulai bisa menerima kenyataan, sekarang dia juga sudah mau berbicara dengan tania dan yang lainnya.


 


"za besok saya dan rere akan pulang ke bandung kasian acil udah dua hari kami tinggal" ujar kak lutfi padaku


" saya titip fifi, jaga dia baik baik dia itu anak nya susah dibilangin" lanjutnya sambil tersenyum


 


"loh kamu besok juga harus pulang yan" tanyaku pada lufian. umurku dan lufian tidak beda jauh makanya aku hanya memanggilnya dengan nama saja.


sedangkan kak lutfi umur kami terpaut 4 tahun jadi aku harus lebih sopan padanya.


 


"nggak lama kok za paling tiga hari disana aku udah balik kesini lagi" ujarnya membuatku mengernyitkan dahi.


" aku pulang ke sana cuma mau ngurus pemindahan tugas saja. kemaren aku sudah telfon atasan ku untuk dipindah tugaskan"


"yah dia nyuruh aku balik kesana dulu buat ngurus semuanya."


"trus kamu bakalan pindah kemana?"


 


" kesini, soalnya aku nggak mungkin biarin rumah ini kosong nggak berpenghuni, mau nyuruh kamu sama fifi kalian udah punya rumah sendiri" tuturnya.


 


" ayah pulangnya besok pagi kan?" tanyaku pada ayah yang asik mendengarkan obrolan ku dengan lufian. sedang kan kak lutfi sudah izin ke kamar dia harus tidur. karena besok subuh dia sudah harus kembali ke bandung.


 


" ayah malam ini harus pulang za, rumah kosong, kasian" ujar papa sambil menepuk bahuku dan tersenyum. aku pun membalas senyumannya. aku lumayan mengenal ayah sejak usia 12 tahun dia tipe orang yang tidak bisa tidur dirumah orang lain selain dirumahnya sendiri.


 


kalau ayah keluar kota atau keluar negri biasanya dia bawa selimut sendiri, aneh sih tapi sudah jadi kebiasaannya.katanya kalau nggak bawa selimut nya itu dia nggak bisa tidur.


cukup lama berbincang dengan ayah dan lufian membuat kami tak sadar kalau waktu sudah menunjukkan pukul 22.45, mataku juga sudah mulai mengantuk, ayah sudah pulang 10 menit yang lalu dan lufian juga sudah masuk ke kamarnya perlahan rintik rintik hujan mulai berjatuhan dan makin lama makin deras.


aku pergi ke dapur untuk minum tenggorokkan ku terasa sangat kering akibat terlalu banyak berbicara. inilah alasan ku kenapa, aku lebih banyak diam, aku tidak suka mengeluarkan banyak kata kata yang nggak penting dan membuat tenggorokkan ku kering.


setelah minum aku langsung ke kamar fifi untuk mengecek keadaanya. tapi setelah ku lihat kasurnya kosong tidak ada siapapun disana ku cek kekamar mandi juga kosong " kemana dia" gumamku bingung


 


saat aku ingin menelfonnya ku lihat pintu balkon sedikit terbuka. aku berjalan mendekati pintu balkon dan membukannya. ternyata lufita disana berdiri ditepian dan membiarkan hujan membasahinya. dengan cepat aku menariknya untuk masuk ke dalam.


 


" kamu apa apaan sih, kamu udah gila" bentak ku pada lufita. sontak dia kaget mungkin karena ini pertama kalinya aku membentak dirinya.


"kenapa?" tanya nya heran


 


"kamu mau loncat kan?" tanyaku masih dengan nada kesal. tanpa kusangka dia tertawa dan sekarang aku yang bingung apa ada yang lucu.


"za, aku cuma mau nikmatin hujan. aku tau aku lagi sedih sekarang tapi itu tidak membuatku mencelakai diriku sendiri." ujarnya setelah tertawanya mulai reda


dan sekarang dia membuatku malu, ada apa dengan ku, kenapa aku begitu mengkhawatirkannya. sampai sampai aku salah menanggapi keinginannya tadi.


dengan perasaan malu aku meninggalkannya tapi aku baru saja memutar badanku, fifi sudah menarik tanganku membuat aku menghentikan langkahku."ada apa?" tanya ku datar menghadapnya yang sudah basah karena hujan tadi.


"bisakah kau temani aku tidur malam ini?" pintanya padaku. sejak kami disini aku memang tidak tidur dengannya,aku takut jika aku tidur dengannya nanti malah membuatnya marah secara dia menikah denganku bukan atas dasar cinta melainkan perjodohan


 


"mandilah dulu, bajumu akan saya siapkan." ujar ku padanya yang ia balas dengan senyuman.


fifi pergi kemar mandi sedangkan aku menyiapkan pakaianya. aku tidak tau sejak kapan aku biasa menawarkan bantuan seperti ini padanya.


seperti biasa jika dia ingin keluar dari kamar mandi aku akan keluar. dia hanya memakai handuk. entah karena dia malu untuk memperlihatkan bentuk tubuhnya padaku atau karena memang tak mau. aku juga tidak tau yang pasti jika itu membuatnya merasa nyaman aku akan melakukannya.


 


sambil menunggu aku turun ke bawah mengecek apakah semua pintu sudah dikunci, seperti kebiasaanku dirumah.


setelah ku pastikan semua pintu terkunci, aku kembali lagi ke kamar fifi. ku lihat dia sedang memakai jilbabnya. menyadari kedatanganku, dia berdiri dan mendekat ku.


 


"za,"panggilnya saat dia sudah di dekatku.


 


"hem" jawabku singkat


"kamu bisa nggak, bacain dongeng untukku seperti papa yang selalu menidurkan ku dengan dongeng waktu aku kecil"


deg gimana mau ceritain dongen, bicara aja aku jarang. aku cuma ingat satu cerita itu pun cerita dari ayah waktu aku kecil dulu.


" ya udah" semoga dia mau mendengar cerita ini. aku menceritakan kisah perjalanan hidup Rasulullah waktu kecil.


fifi mendengarkannya dengan antusias seperti anak TK. entah kenapa dia menjadi sangat manja seperti ini


tak butuh waktu lama fifi sudah tidur, dia tidur berbantalka lenganku dan sekarang dia melingkarkan tanganya ditubuhku. ya dia tidur dengan memelukku untuk pertama kalinya selama pernikahan kami.


perlahan ku gerakkan tanganku, aku ingin menyentuh pipinya yang tirus itu. tubuhnya makin tambah kurus semenjak peristiwa itu.


bentuk mata seperti elang tapi tatapanya teduh, huh aku tersenyum melihat wajah polosnya ini. aku semakin menyayanginnya dengan cara dan sikapnya padaku ku balas pelukan erat itu. tanpa sadar perlahan aku juga mulai menutup mataku.


maaf ya up nya agak lama. soalnya ya.... banyak yang harus dikerjakan dulu. tapi insya Allah bab 5 nya segera nyusul😁see you💕