
fahriza
》》》》》
sudah seminggu sejak kejadian lufita kemaren aku selalu pulang lebih cepat dari biasanya otak ku selalu tertuju padanya apalagi akhir akhir ini sikapnya yang cerewet, bawel, posesif, ah banyak lagi yang lain hingga membuatku setengah frustasi
tapi keras kepalanya itu nggak ilang udah berulang kali aku mengajaknya pergi kerja bareng tapi dia masih tetap ngotok menggunakan motor kesangannya itu hingga beribu alasan ia pakai untuk meyakinkanku dan pada akhirnya aku yang ngalah nggak mau buat keributan
seperti biasa ketika mau pulang dia nelfon dulu minta dibeliin ini dibeliin itu kalo nggak jangan harap ditegor sama dia kayak sekarang ini udah hampir 15 menit dia nelfon
" abang za, jangan lupa ya pesenannya "
" iya "
" awas kalo lupa, fifi tunggu dirumah oh ya bang za mau dimasakin apa? "
" ehm, buatin semur tahu dong "
" kayaknya nggak enak deh ganti aja yang lain "
" ya udah sup sayur aja kayak biasa "
" ih nggak ah terlalu simpel, gimana kalau opor ayam aja "
ya Allah kalau udah punya pilihan sendiri ngapain nanya haduh pusing jadinya
" terserah kamu aja "
" kok jawabnya pendek gitu kenapa? kamu marah? "
Ya Allah kuatkanlah imanku tambahkanlah kesabaranku jawab pendek salah jawab panjang salah jawab singkat dibilang marah
kuusap wajahku dengan kasar menghadapi sifat lufita yang kekanak kanakan ini
" nggak fifi, ya udah ya saya mau ngelanjutin kerjaan saya dulu kamu juga udah mau pulangkan? "
" iya, ya udah kalau gitu sampai ketemu dirumah suamiku assalammualaikum "
" waalaikumsalam "
setelah memutus sambungan telfon dengan fifi aku beralih menuju sofa duduk disana sambil menyandarkan kepalaku sambil memikirkan perubahan sikap fifi seperti itu
aku benar benar nggak habis fikir aja kutarik nafasku dan membuangnya secara perlahan terdengar ketukan pintu diluar ternyata dara yang memberitahukan kalau makanan yang ku pesan tadi sudah datang aku menyuruhnya untuk memasukkan kedalam mobil
ketika dara sudah keluar aku mencoba memejamkan mataku untuk menenangkan hati dan pikiranku yang lagi berkecamuk cukup lama aku memejamkan mata hingga pintu ruanganku kembali diketuk " masuk "
mendengar perintahku terlihat dara masuk tapi dia bersama seorang perempuan lalu tersenyum padaku aku kaget melihatnya tersenyum lalu mendekatiku siapa lagi kalau bukan lufita aku kaget bukan karena tidak suka tapi ada apa dia datang kekantorku saat sore begini
setelah mengantarkan lufita dara permisi keluar dan sekarang tinggal aku dan dia yang berdiri di jendela besar dekat sofa yang kududuki
" abang za kita pulang kerumah ibu ya " pintanya lembut sambil terus menatap senja yang sebentar lagi akan pergi
" ada apa? apa terjadi sesuatu disana? " tanyaku menyelidiki karena permintaan lufita yang tiba tiba ingin pulang ke rumah ayah
" nggak ada apa apa kengen aja sama ayah sama ibu "
" kamu dari rumah sakit langsung kesini? "
" iya abang za kenapa sih banyak tanya gitu nggak suka kalau aku datang kesini " hardiknya
" nggak bukan gitu cuma saya bingung aja kenapa tiba tiba kamu kesini dijam segini trus bilang mau kerumah ibu "
" em fifi kangen sama bang za, sama ibu sama ayah "
tuh kan tingkah kenak kanakannya mulai lagi aku benar benar nggak tau gimana cara menghadapinya dan sekarang dia duduk disampingkh memelukku dengan erat aku hanya bisa menghembuskan nafas panjang dengan sikapnya ini
" apa masih lama? "
" apanya? "
" ya kerjaan bang za lah masih lama apa enggak "
" nggak kok ya udah kita pulang sekarang " sebenarnya sih kerjaanku banyak banget tapi kalau aku bilang gini yang ada dia malah ngambek trus pulang dengan keadaan kesal dari pada seperti itu lebih baik aku ngalah aku nggak mau sampai terjadi sesuatu lagi padanya
dengan senang dia melepas pelukkannya lalu berjalan mendahuluiku tapi langkahnya terhengi ketika ingin membuka pintu " pesenan fifi? "
" di mobil "
dia kembali tersenyum lalu menggandeng tanganku seperti biasa saat naik lift dia bakalan memegang lengan bajuku dengan mata terpejam aku nggak tau bagaimana nasib dara tadi saat membawanya naik ke lift bisa jadi dara dipeluk sampe susah nafas sama fifi
saat dimobil dia asik dengan memakan sup buah, cake coklat, onde onde dan masih banyak lagi lainnya tapi yang aku heran cuma coklat aja yang habis selain itu hanya dimakan sedikit yah mau tidak mau aku yang jadi korban ngabisinnya
waktu kemaren aja aku pernah menyuruhnya buang saja makanan yang tidak dia habiskan karena aku juga nggak suka makananya tapi dia malah nangis dia bilang sayang mubazir kasian makananya
yah kalau kasian ngapain beli banyak trus aku yang disalahkan lalu terpojokkan haduh sabar aja mungkin dia lagi datang tamu bulanan
" bang za " panggilnya memelas
" ya udah nanti simpen aja nanti saya abisin ini saya lagi nyetir nggak bisa makan " aku aja sampai hafal panggilan memelasnya itu tanda kalau aku yang harus abisin semua makanannya
eh nggak semua sih yang nggak abis cuma onde onde dan sup buah yang lain masih belum dia sentuh kayaknya soalnya masih ituh
••••••••••
》》》》》
sekian lama duduk didalam mobil ni akhirnya nyampe juga dirumah ibu ah rasanya pegel banget queen udah dianterin kerumah sama karyawan nya fahriza kayak biasa
setelah memberi salam terdengar teriakan untuk menyuruhku dan fahriza menunggu sebentar
" eh no fifi den za " sapa ik imah ART disini
" hehe.. iya bik ibu sama ayah ada " tanyaku sambil berjalan masuk mengikuti bik imah sedangkan fahriza lagi menerima telfon ngah dari siapa sepertinya serius sekali
" ada non " jawabnya tersenyum ramah
" eh fifi, kapan dateng kok nggak ngasi tau? " tanya ibu tiba tiba ketika melihatku dan bik imah sedang berbincang
" baru aja bu " sambil mencium punggung tangan ibu
dia mengajakku duduk di sofa
" fahriza mana? "
" ada lagi nerima telfon diluar "
" ya udah kamu pasti capek baru pulang kerja kan istirahat dulu gih dikamar "
" bu "panggilku pada ibu yang sudah berdiri
" iya sayang "
" fifi boleh minta sesuatu gak? "
" fifi minta apa? "
" ibu bisa nggak buatin fifi opor ayam? " pintaku malu malu entah apa yang mendorongku ingin dibuatkan makanan dengan mertuaku
ibu tersenyum sambil kembali duduk dan mengusap pipiku
" ya udah kamu mandi dulu ibu bakalan buatin opor ayam pesenannya " tukasnya tersenyum sangat ramah hingga membuatku spontan memeluknya
tak menunggu perintah kedua kalinya aku segera masuk kedalam kamar untuk mandi hatiku rasanya bahagia banget ketika ibu bilang dia bakalan buatin opor ayam
cukup lama berkutat dikamar mandi akhirnya selesai juga setelah berganti pakaian aku segera memekai jilbabku dan tak lama fahriza masuk dengan wajah lelahnya aku tau dia kesal padaku karena mengajaknya kerumah ibu dijam segini apalagi jaraknya yang cukup jauh membuatnya benar benar lelah tapi walaupun begitu dia tidak pernah marah padaku ataupun menunjukkan kekesalannya padaku
dia merebahkan dirinya dikasur sambil memijat pilipisnya sepertinya dia sangat lelah aku berdiri ingin mendekatinya tapi baru satu langkah tubuhku ambruk kepalaku pusing hingga kurasa ruangan ini berputar fahriza yang melihatku seperti itu langsung mendekatiku sambil memegang pipiku " fi kamu kenapa? " tanya nya khawatir
aku masih tidak bisa bicara kepalaku sangat pusing dia mengangkatku menuju kasur " fi " panggil nya masih dengan nada khawatir
" kepalaku pusing banget "
" ya udah kita kerumah sakit aja ya " tukasnya lalu menarikku berdiri
" nggak usah kayaknya bentar lagi ilang "ujarku cepat aku tak ingin kerumah sakit lagi disana bau obat nyengat banget sampai sampai setiap hari kerja aku nggak pernah lepas masker aku juga nggak tau kenapa akhir akhir ini bau obat mengganggu indra penciumanku padahal dulu aku nggak pernah keganggu dengan benda benda itu
" tapi kepala kamu kan pusing itu masa dibiarin gitu aja "
" bentar lagi juga ilang bang za "
sekian lama berdebat didalam kamar dengan fahriza terdengar diluar ibu ngetuk pintu mengajakku dan fahriza makan malam bersama
aku berjalan menggandeng tangan fahriza sambil tersenyum sedangkan fahriza mukanya menunjukkan ekspresi kesal dengan sikapku hahaha aku nggak peduli yang aku ingin sekarang makan opor ayam buatan ibu pasti enak banget
" eh kapan datangnya nih? " tanya ayah setelah aku dan fahriza duduk dimeja makan
" tadi sore yah " sambung fahriza seraya meneguk air putih didepannya
" wah pasti enak banget fifi jadi nggak sabar "
" sini ibu ambilin " ibu mengambilkan nasi dan lainnya meletakkannya di piringku
aku melahap makanan yang didepanku sampai tuntas tak perduli dengan tatapan fahriza yang aneh ya ya ya kekesalannya pasti nambah karena aku tidak melayaninya makan seperti biasa terserahlah opor ayam buatan ibu bena benar membuatku lupa segalanya
" oh iya bang za makanan yang dimobil nanti bawa masuk ya buat ngemil malam " ujarku sambil terus melahap makananku sedangkan orang yang mendengar perintahku mendengus kesal hehehe sepertinya kekesalannya makin naik level
" loh fi kamu suka ngemil malam katanya kamu takut gemuk " ucap ibu membuatku berhenti menyendok dan menatapnya
" hehe... abis enak sih " akh kembali melanjutkan aktivitas makanku
" apa kamu hamil? " tanya ibu tiba tiba membuatku tersedak dan fahriza langsung mengulurkan air didepanku dia membantu ku minum
" ha " ujarku setelah sadar dengan ucapan ibu
" menurut ibu kayaknya yang sekarang kamu ngidam soalnya nggak biasanya loh kamu minta buatin makanan sama ibu "
ibu mulai tersenyum lebar begitu juga dengan ayah yang sedari tadi diam tiba tiba melihatku dengan ekspresi tersenyum trus si fahriza menatapku aneh aku juga nggak tau arti tatapannya itu
nggak usah tanya aku karena sekarang aku lagi syok aku belum siap punya anak