LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
PERJODOHAN



"pagi pa ma " sapa ku pada mama dan papa yang sedang menikmati sarapannya


" hei pagi sayang" balas papa


" pagi juga sayang, tumben bangunnya pagi kan udah nggak kuliah lagi" tanya mama heran. wajar lah soalnya setiap mau kuliah mama yang selalu bertugas membangunkan ku itu sebabnya aku tidak pernah mengunci pintu kamarku. " ah mama, fifi kan ingin menikmati surya pagi juga"


ntah kenapa pagi ini aku sangat ingin menikmati sinar mentari yang sudah lama ku abaikan selain senja.


"ehm, mumpung kamu disini papa mau membicarakan hal penting sama kamu" timpal papa yang terlihat serius aku juga jadi dibuat penasaran sama omongan papa, hem kalau bisa aku tebak sepertinya papa ingin membicaran perihal pekerjaan ku. "hahaha akhirnya aku jadi dokter beneran juga" gumam batin ku karna aku yakin tebakan ku pasti benar.


" serius banget pa, sepertinya penting sangatlah ni?" ucap ku dengan logat melayu maklum namanya juga udah kebiasaan mana bisa dibuang hehehe. sekilas melirik papa aku langsung mencomot roti yang sudah ku olesi dengan selai strowberry favorite ku.


"papa akan menjodohkan mu"


seketika roti yang baru saja masuk ke mulutku tiba tiba nyangkut ditenggorokan dan membuatku batuk. dengan sigap mama langsung memberikan susu dari gelasnya padaku


"APA? hah papa bercandakan? pasti papa mau kasi kejutan buat fifikan? balasku setelah roti sudah berada dilambungku. aku masih tak memepercayai ucapan papa sampai ia berkata padaku dengan mimik wajah yang sangat serius


"papa serius" tegas papa " sore nanti calon suami mu akan datang kerumah untuk membicarakan hal ini lebih lanjut" sambungnya membuat nafasku terasa berhenti aku tidak habis fikir bagaimana orang yang palin aku sayang membuat keputusan seperti ini


" pa ini bukan jaman siti nurbaya pa, fifi bisa pilih sendiri pasangan hidup fifi"


"nak papa tidak mau kamu sampai salah pilih pasangan, papa tidak mau melihat gadis bungsu papa ini hidup dengan orang yang salah"


" tapi caranya nggak kayak gini pa, kenapa papa baru ngasi tau fifif sekarang"


" dan sekarang papa juga akan membuat senyum fifi hilang" tukas ku lalu pergi meninggalkan meja makan dan menuju kamarku yang ada diatas. didalam kamar aku menangis mengingat perkataan papa yang akan menikahkan ku dengan orang tidak aku kenal bahkan tidak pernah ku bayangkan sebelumnya. kuraih bobo yang duduk di meja belajarku. tak lama mama datang dengan membawa napan berisi roti dan susu yang baru karena tadi aku hanya menggigit pinghi roti mungkin itu sebabnya mama membawakan lagi sarapanku tapi yang baru.


mama duduk disampingku dan membelai rambutku aku langsung memeluknya yang tersenyum ramah padaku " makan dulu ya" ujar mama dan melepas pelukannya


aku menurut saja pada mama hingga makanan ku habis baru lah ia berbicara padaku


" fifi masih ingat tidak dengan anaknya om rama fatner papa kerja waktu fifi berusia tujuh belas tahun?" tanya mama mengingatkan ku pada tia anaknya om rama yang baru dua sebulan menikah langsung cerai, perceraianya terjadi karena suaminya KDRT pada tia, tia diperlakukan secara tidak manusiawi oleh suaminya sendiri


aku masih terdiam sambil memandang bobo, boneka kayu yang berada ditanganku


"mama sama papa itu sangat menyayangi fifi. kami tidak mau jika suatu saat kami tiada fifi tidak bahagia dengan pilihan hati fifi"


" ma fifi udah dewasa ma, fifi tau mana yang salah mana yang benar, kenapa sih mama sama papa tidak percaya sama fifi"


" kami bukanya tidak percaya sayang, kami cuma takut jika suatu saat kamu menderita tanpa kami disisi mu"


" tapi ma......"


" sayang percayalah tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya sengsara, mereka selalu memberikan yang terbaik bagi putra putri mereka jika perlu nyawa pun akan mereka pertaruhkan" sambung mama memotong ucapan ku. mama membelai lembut rambut ku dan mencium keningku lalu membawa napan dan pergi meninggalkan kamarku.


😘semoga kalian terhibur ya maaf kalau awal ceritanya ngebosenin💕terima kasih banyak buat yang udah mau menyempatkan diri membaca hasil karya saya😘