
tempat yang semulanya ramai akan kerabat dan beberapa keluarga kini mulai sepi satu persatu dari mereka mulai berpamitan padaku.
" za " panggil ayah sambil mengusap pelan bahuku
" saya masih mau disini yah " aku tau ayah ingin mengajakku pulang tapi hatiku masih ingin bersamanya
" ya udah ayah duluan ya za " lanjutnya yang kubalas dengan anggukan kecil
sekarang hanya tinggal aku sendirian disini. kuusap lembut batu nisan didepanku buliran kecil mulai turun dari pelupuk mataku namun segera ku hapus, seandainya aku datang lebih cepat waktu itu, mungkin semua ini tidak akan terjadi. tujuh bulan lamanya kami menunggu kehadiranmu tapi Allah berkehendak lain, sepertinya Dia lebih sayang padamu.
ayah sama bunda sayang sama kamu nak, semoga kamu bahagia disana.
kuusap gundukan tanah basah yang ditaburi bunga didepanku, batu nisan berwarna putih berdiri sempurna menandakan bahwa baru saja ada yang baru berpulang karena panggilan-Nya.
ayah akan selalu datang mengunjungimu dan doain bunda ya supaya cepat sembuh agar bisa mengunjungimu juga.
flashback
.
.
" kondisi pasien sangat kritis jika dipaksakan harapan hidup keduanya sangat kecil "
" maksudnya? "
dokter perempuan yang entah siapa namanya itu memejamkan matanya sesaat lalu kembali membukanya
" jika kita memaksakan menyelamatkan keduanya maka kemungkinan besar keduanya tidak akan selamat jadi saya minta bapak untuk memilih salah satu dari istri atau anak bapak untuk kita selamatkan "
aku harus bagaimana sekarang fikiranku buntu kalimat lufita yang menyuruhku untuk menyelamatkan anak kami terus berputar dikepalaku
" dok kondisi pasien makin kritis " ujar seorang suster yang baru saja masuk
dokter perempuan itu melirik kearahku menanti jawaban tatapan matanya memintaku untuk segera memilih.
ku pejamkan mataku " selamatkan yang memang bisa diselamatkan " ujarku dengan menahan sesak didada
saat mengatakan itu rasanya seperti ada hantaman mengenai dadaku.
ku basuh wajahku, tangan, telinga, kaki dan yang lainnya. kulangkahkan kaki untuk bertemu dengan-Nya.
aku terlalu mencintai hamba-Nya hingga tanpa sadar aku membuat-Nya cemburu.
ya Rabb, hamba hanya manusia biasa yang hanya bisa menengadahkan telapak tangan padamu, meminta pertolongan dari mu.
ya Rahman, Engkau yang maha tau segalanya Engkau tau apa yang terbaik untuk hambamu, ringankanlah hati hamba untuk menerima kenyataan apa yang akan hamba dapat dari keputusan hamba
berikan hamba ketabahan dalam mengikhlaskannya.
setelah selesai sholat aku kembali menemui keluargaku di ruang tunggu depan ruang opersi lufita. aku bisa melihat wajah sedih dan khawatir dari mereka. tak lama aku duduk dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah sendu dia memperhatikan kami.
sedikit kelegaan menghampiriku ketika dia mengatakan bahwa lufita telah melewati masa kritisnya namun hanya sesaat. tak lama dia melanjutkan kalimatnya jika anakku tak bisa terselamatkan, apakah di balik berita bahagia akan selalu hadir berita duka.
air mataku kembali turun kurasakan ayah memelukku memberikan ketenangan untukku " tabahkan hatimu za " setidaknya hanya kalimat itu yang bisa kudengar dari ayah, selebihnya aku hanya bisa menutup mataku untuk menenangkan hatiku agar aku bisa ikhlas.
dia tampan.
wajahnya sangat mendominasi wajah lufita mulai dari mata hingga bibir, hanya hidungnya yang mengambil bentuk hidungku. bayi laki laki dalam gendonganku ini sungguh tampan aku merasa jika dia hanya tertidur.
ku rasa sifatnya lebih mendominasi sifat lufita juga yang cerewet. nak ayah sayang kamu, bahagialah disana.
putra ayah anak yang kuat dan tangguh, ayah cuma bisa mendoakanmu
flashback off
drrtt.. drrtt..
" assalammualaikum bu "
" za lufita za " lirih wanita setengah baya disebrang sana diiringi isakan tanpa memberi salam lagi aku menutup telfon secara sepihak
setelah berpamitan dengan anakku aku langsung berlari menuju mobil
aku terus memacu mobilku dengan kecepatan tinggi, aku tidak perduli dengan klakson beberapa mobil yang hampir kutabrak atau yang hampir menabrakku. air mataku kembali mengalir membasahi pipiku
ya Allah aku mohon........
sampai di parkiran rumah sakit aku segera keluar dari mobil berlari pun rasanya aku tak mampu lagi. rasanya kakiku sudah tak kuat untuk berjalan apalagi berlari hari ini aku sudah kehilangan salah satu orang yang paling kucintai. aku tak mau kehilangan satunya lagi
" za " lirih ibu menyadari kehadiranku
nafasku masih terengah engah karena terus berlari
" ada apa dengan lufita? "
" za..... hiks hiks " tangis ibu pecah sembari memeluk ayah yang ternyata sudah ada disana
" tadi saat ibumu sedang menemaninya tiba tiba tubuhnya kejang jantungnya juga berdetak dengan cepat " jelas ayah seraya menenangkan ibu
ya Allah kuatkan istriku aku hanya bisa meminta hanya padamu
tak lama dokter keluar dari ruangan lufita dengan wajah yang sulit ditebak
" maaf " ujarnya menatapku
tidak tidak
" saya sudah berusaha....." lanjutnya
tubuhku bergetar melihat perawat yang mulai melepaskan beberapa alat medis yang menempel ditubuh lufita, tapi segera kuhentikan. mereka yang mengerti dengan isyarat akan tanganku beranjak mundur, memberikan aku ruang disisi ranjang lufita
" sayang, ini saya tolong jangan buat saya khawatir. kamu juga tidak suka melihat saya khawatir bukan? jadi saya mohon bangun "
" kamu marah ya sama karena saya meninggalkanmu tiga hari kemarin? baiklah saya tidak akan mengulanginya lagi. tapi saya mohon buka matamu. saya mohon jangan tinggalin saya, kamu sayangkan sama saya? "
aku tidak bisa lagi menahan air mataku yang sudah menggenang dari tadi perlahan kudekatkan wajahku dengannya hingga dahiku menempel di dahi lufita
rasanya aku sudah tidak bisa lagi menahan sesak yang sudah menumpuk di dadaku ku kecup keningnya sangat lama. jika dia harus pergi sekarang maka aku harus ikhlas aku tidak mungkin membebaninya dengan tangis dan ketidak ikhlasan ku. jika hari ini aku juga harus kehilangannya aku mohon biarkan aku mengecup dahinya untuk yang terakhir kalinya.
tit....tit....tit.... tit....
suara detak jantung lufita kembali terdengar dengan cepat dokter mengambil alih lufita dariku dia memeriksanya
•••••••••
.
.
.
.
aku masih terus menggenggam jemari lemah itu, aku masih setia menatapnya beberapa kali ayah atau ibu menyuruhku untuk istirahat namun kutolak. aku ingin menemaninya hari ini
jantungku rasanya tadi juga ikut berhenti berdetak saat mendengar dokter yang menangani lufita mengatakan bahwa dia tidak bisa menyelamatkan lufita. aku tau mungkin aku terlalu berlebihan dalam mencintainya
tapi itulah aku, jika sudah menetapkan hati maka aku akan selalu mencintainya bahkan melebihi diriku sendiri
" dia masih setia sama istirahatnya ya? " tanya sebuah suara yang baru saja masuk tapi sedikit pun tak membuatku bergeming, aku masih setia menatap seorang wanita yang terbaring lemah didepanku ini
" kamu harus sabar aku yakin dia akan marah melihatmu seperti ini " ujarnya menepuk nepuk pelan bahuku
" makan dulu za sejak kemaren kamu belum mengisi perutmu " lanjutnya
" nanti saja "
" setidaknya kamu harus punya tenaga untuk menungguinya sadar "
karena tak berhasil membujukku akhirnya lufian menyerah dia memilih duduk di kursi depanku di sisi ranjang lufita
" dia wanita yang ceria dan cengeng " ucapnya memecah keheninga yang beberapa saat yang lalu menghampiri kami karena sibuk dengan fikiran masing masing
" tapi dia juga memiliki sisi yang tangguh, aku bangga memiliki adik sepertinya, jika boleh menyesal maka aku katakan selama 20 tahun aku tak menghiraukannya, bahkan semenjak kehadiranya aku sama sekali tak menginginkanya "
aku menoleh kearah lufian yang juga sedang memandang lufita,
" kamu tau dulu aku sangat dimanja oleh mama sama papa,tapi semenjak kehadirannya perlahan aku merasa tersingkirkan, mungkin dia satu satunya anak perempuan oleh karena itulah perhatian mereka lebih tertuju padanya. mulai dari itu, aku mengacuhkannya karena aku merasa dia telah merebut orang tuaku. "
" tapi sedikitpun dia tak membenciku dia sering berbicara padaku meminta pendapatku menanyakan kabarku tapi selalu kuabaikan. dia tak pernah lelah membuatku agar bisa melirik kehadirannya . namun kebencianku padanya terlalu dalam hingga tak mudah di lenturkan "
" tapi ketika aku mendengar kabar jika dia akan menikah entah kenapa aku merasa akan kehilangannya, kehilangan wanita pantang menyerah ini, kehilangan gadis periang ini dan artinya adikku akan meninggalkanku. "
" dari situlah aku sadar bahwa sikapku selama ini padanya itu salah tidak seharusnya aku mengacuhkannya. selama tujuh tahun menyandang sebagai anak bungsu membuatku manja "
" lalu kak lutfi? "
dia menoleh kearahku lalu tersenyum samar bisa kurasakan raut wajah penyesalan menghampirinya
" kak lutfi udah terbiasa sebagai abang, dia tak pernah merasa di duakan atau tersingkirkan baginya jika almarhum papa sama almarhumah mama lebih perhatian keadik adik nya itu hal yang wajar, dia harus mengerti karena adiknya lebih butuh kasih sayang orang tua dari pada dia "
" jika diperhatikan lagi mama sama papa nggak pernah ngebedain kami tapi semenjak hadirnya lufita aku jarang dimanja. oleh karena itu aku mulai memebencinya, "
dia kembali fokus dengan wajah pucat lufita tak lama dia mendekatkan wajahnya dan mengecup dahi lufita
" aku akan mengurus kasus kecelakaannya, aku akan mencari orang yang tidak mau bertanggung jawab itu "
" aku serahkan semuanya ke kamu "
setelah lufian keluar dari ruangan kini aku hanya berdua dengannya dalam keheningan, aku dekat dengannya bahkan sangat dekat tapi kenapa ada dinding besar diantara kita.
hanya suara bedside monitor yang menemani sunyiku, entah sampai kapan wanita didepanku ini berbicara lagi padaku, " saya rindu rengekanmu, saya rindu tawamu. kapan kamu berhenti ngambek ke saya hem? " aku tau dia tak akan menjawab pertanyaanku tapi aku yakin dia bisa mendengarkanku
.
.
.
.
♡♡♡♡♡♡
maaf buat yang nunggu kelanjutannya, maaf banget ngebuat korang semue menunggu, sebenarnya kemaren udah mau ngelanjutin, but ade sedikit halangan, ditambah lagi kepergian salah satu teman saye yang menghadap sang Ilahi ngebuat saye berhenti nge up sementara waktu.
and once more, i am sorry, jike up nye sedikit
karena pikiran saya lagi buntu banget, insya Allah jike mood saye dah balek bakalan cepet di up lagi.
see you the next time♡
janganlah marah, semoge terhibur.
satu lagi buat semuanya jaga kesehatan, semoga selalu dalam lindungan-Nya Amiiin