LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
WAKE UP HONEY



sudah tiga minggu lufita masih setia dengan tidurnya, selama itu pula aku jarang kekantor.


tapi tidak dengan hari ini.


pagi ini aku terpaksa pergi kekantor karena ada meeting yang tidak bisa digantikan, sebenarnya berat banget buat ninggalin lufita, tapi mau bagaimana lagi ini juga tanggung jawabku.


dengan lesu aku menitipkan lufita pada ibu dan kak rere kebetulan tiga minggu ini kak rere masih setia mengunjungi lufita kerumah sakit walau harus bolak balik dari rumah almarhum papa karena acil dia titipkan dengan pengasuhnya disana, sedangkan kak lutfi udah pulang duluan ke bandung setiap hari libur dia akan kembali kesini untuk melihat keadaan lufita yang masih belum ada perkembangannya


semenjak mendengar berita kecelakaan lufita dia sama kak lutfi langsung kesini walaupun nggak sempat mengantarkan almarhum putraku ke pemakaman.


kepalaku rasanya berdenyut, mungkin kurang istirahat bahkan saat diruang meeting pun aku tidak bisa fokus


ku pijit pelan pangkal hidungku untuk menetralkan rasa pusing dikepalaku


perkataan dokter Tara tentang kondisi lufita masih teringiang ditelingaku ku pejamkan mataku memutar kembali ingatan tentang penuturan dokter tara


.


.


" *berdasarkan hasil pemeriksaan kemaren ibu lufita mengalami patah tulang dibagian tumit, pergelangan kaki, dan retak tulang belakang sehingga merusak sumsum tulang belakangnya "


" maaf.... kemungkinan besar ibu lufita akan mengalami kelumpuhan seumur hidup*"


penjelasan dokter tara benar benar menohokku, dadaku seperti menghantam benda keras.


setiap mengingat itu rasanya hatiku sakit, apa yang akan terjadi pada lufita kedepannya?, bagaimana jika dia tidak terima dengan kenyataan ini?


pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus bergelayut dikepalaku.


ya Allah berikanlah aku kekuatan dalam menghadapi hadiah darimu


tabahkanlah hati lufita ketika dia mengetahuinya nanti


karena urusan kantor telah selesai jadi aku memutuskan untuk pulang menemani istriku yang masih merajuk.


" assalammualaikum " sapaku pada seorang wanita yang sedang mengajak istriku bicara


" waalaikumsalam "


" udah selesai za? " tanya kak rere yang masih setia duduk disisi ranjang lufita


" udah " ku letakkan tas kerjaku di sofa lalu berjalan kearah ranjang lufita


diikuti kak rere yang juga berdiri sepertinya bersiap untuk pulang


" karena kamu udah disini jadi aku mau pulang dulu, kasian acil ditinggal dari tadi "


" makasih ya, ibu mana? " oh ya aku baru menyadari ketidakhadiran ibu disini


" tante teh pulang duluan, katanya mau masakin makan malam buat kamu "


" kalau gitu saya pulang dulu assalammualaikm "


" waalaikumsalam "


setelah pulangnya kak rere kini hanya tinggal aku dan lufita. aku sedikit mengendurkan dasiku lalu mencium dahinya


" bagaimana kabarmu hari ini? hari ini hari yang melelahkan, saya harus kekantor meninggalakanmu dan itu sangat melelahkan "


hanya suara bedside monitor yang menjawab pertanyaanku, kugenggam jemari kecilnya " saya rindu gigi kelincimu, biasanya setiap pulang kerja kamu menyambut saya dengan senyum manismu "


rasa lelah menghampiri tubuhku, rasanya aku tidak berdaya dengan semua ini, kapan kamu sadar sayang, saya rindu kamu. hanya itu yang selalu kuucapkan melihatnya yang masih tak mau menjawab pertanyaanku


Ceklek


suara terbukanya pintu membuatku menoleh dan tersenyum saat melihat wanita paruh baya yang selalu setia menemaniku menunggui lufita dirumah sakit. padahal aku sudah pernah bilang padanya kalau aku tidak apa apa menunggui lufita sendirian tapi dia tetap kekeuh akan menemaniku,membuatkan aku sarapan, makan siang, juga makan malam. dia yang menggantikan peran lufita selama hampir sebulan ini.


kadang aku juga merasa kasihan padanya yang selalu merasa bersalah karena tak bisa menjaga lufita. tapi kita tak dapat menjauhi takdir itulah yang selalu kukatakan padanya jika dia mulai menyalahkan dirinya.


" kapan pulangnya za? " tanya ibu setelah aku mencium punggung tanganya


dia meletakkan paper bag yang dipegangnya ke meja dekat sofa


" baru aja bu "


" ibu sendirian? "


" sama ayah, dia masih didepan terima telfon "


" makan dulu za, ibu masakin opor ayam " dia menepuk pelan bahuku sambil tersenyum ramah guratan-guratan halus menghiasi senyumnya


" nanti aja bu "


tak lama berbincang dengan ibu terdengar suara pintu kembali dibuka


baru saja dibicarakan ayah masuk keruangan lufita tapi tidak sendiri ada lufian, tania juga nayra dibelakangnya


aku menghembuskan nafas lelah lalu beralih menatap lufita seraya tersenyum tipis " belum ada perubahan nay "


" maaf ya bang tania nggak bisa sering jengukin lufita " ujar tania di sisi kiri ranjang lufita lalu menggenggam tangannya


" nggak pa pa. kalian bisa nyempetin diri buat kesini aja saya sudah berterima kasih "


" za bisa bicara berdua sebentar " pinta lufian tiba tiba dengan wajah serius aku hanya mengangguk tanda mengikuti permintaanya


" kita udah nemuin pelakunya " ucapnya saat kami sudah diluar ruangan, aku menatapnya tajam, darahku rasanya berdesir mengetahui orang yang tega membuat lufita tak berdaya didalam sana.


kalau tidak ingat bahwa lufita lebih membutuhkanku ingin rasanya saat itu juga aku memberikan hukuman pada orang yang tidak bertanggung jawab itu karena telah membuat aku kehilangan anakku dan membuat lufita koma


" tapi sayangnya dia masih bungkam "


" maksudnya? " aku mengernyitkan dahi mendengarkan penjelasannya


" dia dibayar za untuk melenyapkan lufita, tapi kami masih belum bisa menemukan motifnya apa dan siapa yang menyuruhnya " lanjutnya membuat rahangku mengeras


" apa mau dia, ku rasa lufita tak mempunyai musuh "


" itulah yang masih kami selidiki, bersabarlah secepatnya pasti akan terungkap. "


aku harus sabar sampai menemukan pelaku sebenarnya, apa maunya dia


••••••••••


.


.


aku hanyut dalam lantunan surah pendek yang kubacakan di rakaat keduaku, setiap gerakan tubuhku aku selalu berdoa agar fifi segara memanggil namaku. tapi seperti biasa jika sudah selesai aku hanya selalu mendapati wajah tenangnya yang masih enggan untuk bangun.


setelah menyelesaikan sholat isya aku kembali menemani putri tidur ini, ah seperti dikisah dongeng saja. berbagai alat penunjang kehidupan menempel sempurna di tubuhnya rasanya air mataku ingin keluar jika melihatnya tak berdaya begini. harusnya dia tidak perlu seperti ini.


ck air mataku kembali lolos tanpa bisa dicegah, tidak bisa dipungkiri bahwa hatiku terasa pilu saat menatap wajah teduh itu " bangun sayang, saya tidak tahan melihatmu seperti ini " ya Allah jika aku bisa menggantikan posisinya lebih baik aku saja. ku tundukan kepalaku mencoba menetralkan perasaanku untuk tetap kuat.


" bersabarlah dia pasti akan segera sadar " ujar sebuah suara di belakangku. aku tau itu suara ayah, dia memilih duduk di sofa tadi mereka pulang sebentar untuk mandi dan bergantian pakaian.


" dia pasti segera sadar za " tambah ibu disampingku seraya mengusap lembut pipi lufita,


" sampai kapan dia akan seperti ini bu? "


" kamu harus yakin za, secepatnya dia pasti sadar percayalah " balasnya lembut tanpa menolehku


" saya sudah banyak kehilangan orang yang saya cintai bu, kali ini saya nggak mau ditinggalkan lagi " perlahan air mata mengalir membasahi kembali pipiku


" istirahatlah dulu kamu pasti lelah " kali ini ayah yang bersuara sambil menepuk nepuk pelan pundakku " kamu percayakan semuanya sama Allah, kamu harus ingat dia pasti memberikan yang terbaik untuk umatnya. "


.


.


mungkin akibat lelah aku tertidur disamping lufita dengan posisi duduk dengan kepalaku berbantalkan tangan kiriku sedangkan tangan kananku melingkar diperut lufita hingga kurasakan sebuah tangan mengusap lembut rambutku.


merasakan ada yang membangunkanku aku mengerjapkan mata mungkin ada seseorang yang baru saja masuk, aku memutar tubuhku untuk melihat siapa yang mengusap rambutku tadi tapi tak ada siapa siapa.


kuusap pelan mataku, mungkin efek lelah membuatku selalu berhalusinasi.


namun saat aku memutar tubuhku untuk melihat lufita, air mataku kembali lolos, wanita cerewet itu tampak seperti tersenyum samar, matanya menatapku sayu. tanpa pikir panjang aku langsung merengkuh tubuh kurusnya itu.


apakah ini nyata? aku tidak sedang bermimpi bukan? aku mohon jadikan ini nyata aku tidak mau bermimpi yang memberiku harapan.


aku menangis di leher wanita ini, kutumpahkan segala kerinduanku disana.


" maafkan saya " hanya ini yang bisa ku ucapkan selebihnya aku hanya bisa menangis rasanya tak ada kebahagiaan yang bisa ku dapatkan selain melihatnya membuka mata dan tersenyum padaku


" a... bang... z za " lirihnya


" iya sayang, ada yang sakit? sebentar saya panggilkan dokter "


baru saja aku ingin bergerak tiba tiba aku terlonjak kaget saat sebuah tangan menepuk pelan pundakku. " sudah pagi tidak kekantor? " ujar ibu disampingku, buru buru kulirik lufita apakah semua itu hanya mimpi tapi kenapa terasa nyata


" bu lufita sudah bangun? "


dia tersenyum


" bersabarlah nak " ucapnya singkat selanjutnya berlalu membuka tirai gorden


ya Allah ternyata hanya mimpi tapi kenapa semuanya terasa nyata, kembali kulirik lufita disampingku kuusap pelan wajahku mencoba mengumpulkan puing puing nyawa, pinggangku rasanya sakit karena tidur dalam keadaan duduk.


tapi saat aku ingin berdiri, ku rasakan sebuah pergerakan di telapak tangan kananku yang masih menggenggam jemari lufita


" za..... " panggilan ibu terhenti saat melihatku