LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
GET WELL SOON



saat aku ingin berdiri, kurasakan sebuah pergerakan di telapak tangan kananku yang masih menggenggam jemari lufita.


" za..... " panggilan ibu terhenti saat melihatku memantung disisi ranjang lufita


jari jemari lufita masih bergerak membuatku hanya menatap lurus kearahnya, saat tersadar akan perkembangan dari lufita aku makin mendekatinya dadaku serasa bergemuruh seketika senyum menghiasi wajahku. " fi.... " aku tidak dapat menutup kebahagiaanku saat perlahan kelopak mata lufita bergerak, dengan gerakan lemah kelopak mata lufita terbuka ya Allah inikah hadiah dari doaku selama ini.


nafasku menderu senang, setitik air mata jatuh dari pelupuk mataku ya Allah terima kasih


" sayang..... " panggil ibu pelan pada lufita.


ketika matanya sudah benar benar terbuka, kulihat ibu terisak didepanku sambil mencium kening lufita.


" bang..... z za " ucapnya pelan namun masih terdengar, sebuah senyum terlukis diwajah pucatnya tak ada kegembiraan dihatiku selama ini, namun setelah mendengarnya memanggil namaku dan tersenyum rasanya beribu ribu kebahagiaan datang bersamaan.


aku mendaratkan ciuman diseluruh wajah lufita tanpa terlewatkan aku tak dapat mengendalikan rasa senangku saat ini selain dengan mencium wajahnya dan menitikkan air mata


ya Allah terima kasih,


ya Rabb hadiah mu indah, sungguh indah


ya Rahman Engkau memberikan kembali kebahagianku


ya Rahim syukran katsiiran


" ib.. bu " lirihnya


" iya sayang, ini ibu mana yang sakit nak. ibu panggilin dokter ya? "


dia menggeleng lemah menjawab pertanyaan ibu. senyum lembut kembali terlukis dibirnya. " fif.. fi... rin... du " lirihnya kembali seraya mengangkat tangan kanannya perlahan ingin menyentuh wajahku.


mengerti akan keinginannya aku menggenggam jemari kananya itu lalu membawanya menyentuh wajahku. " saya juga sayang "


" ma af " lanjutnya


" no, i'm the one who should apologize honey " potongku seraya mengusap pipinya


.


.


.


.


.


" alhamdulillah, kondisinya mulai membaik " ujar dokter tara setelah melepas stetoskop yang dari tadi dia tempelkan pada dada lufita untuk memeriksa detak jantung dan pernafasannya. aku menghela nafas lega setelah mendengar penuturan dokter tara


" jangan terlalu banyak bergerak dulu dokter fifi, harus banyak-banyak istirahat oke. " tukasnya yang dibalas lufita dengan senyuman kecil dari bibir keringnya. dokter tara memang mengenal lufita walaupun mereka bekerja dirumah sakit yang berbeda namun mereka pernah beberapa kali bertemu entah itu untuk melakukan operasi atau ngobrol biasa.


dokter tara pernah cerita ke aku makanya aku tau bahwa dia juga senior lufita waktu masih kuliah


" oh iya dok?.... " dia mengatur nafasnya sebentar


" anak saya mana? dia... ekhem dia selamatkan? " tanya nya antusias walau masih tersendat


hening


tak ada yang menjawab pertanyaan lufita barusan, tak ada yang membuka mulut, semuanya bungkam termasuk aku. aku tak tau kata kata seperti apa yang akan kurangkai untuk menjawab pertanyaannya.


" bang za? "


" kok pertanyaan fifi nggak dijawab? ekhem, anak fifi baik baik aja kan? "


" bu? an... anak fifi selamatkan? "


hanya buliran air mata yang turun dari kelopak mata ibu, lalu mendekap lufita dalam pelukannya


" maaf dokter lufita, kami tidak bisa menyelamatkan bayi anda " tukas dokter perempuan yang menangani lufita.


sebulir air mata terjun bebas dari matanya setelah mendengar pernyataan dari dokter tara, rasanya aku tak mampu lagi melihatnya menangis. sudah cukup penderitaan yang dia alami belum lagi saat dia tau nanti, bahwa dia arrgghhh....


" bang za, anak kita... hiks hiks " ucapnya bergetar karena tangis


" kalo gitu saya permisi dulu " ujar dokter tara


" makasih dok " hanya kata kata seperti ini yang mampu keluar ku lontarkan pada dokter tara saat dia pamit dari ruangan kami. melihat lufita yang masih terisak menghadapi kenyataan bahwa anak kami tak bisa diselamatkan membuat dadaku juga sesak.


" abang kenapa nyelametin fifi hiks hiks. abang udah janji bukan buat selamatin anak kita? "


" dokter udah berusaha keras fi buat nyelametin bayi kita, tapi Allah lebih sayang sama anak kita "


air matanya semakin deras keluar, melihatnya seperti ini membuatku tak berdaya. apa yang akan terjadi padanya nanti saat dia tau bahwa dia lumpuh. ya Allah kuatkan istriku.


" maaf bang za hiks hiks, maafin aku. "


" nggak, ini bukan salah kamu "


" andai waktu itu fifi nggak ngelanggar perintah bang za, pasti sekarang anak kita baik baik aja, fifi ceroboh "


" nggak sayang, jangan salahin diri kamu ini semua udah jadi takdir. istighfar"


kerengkuh tubuhnya dalam dekapanku, aku tak memperdulikan anggota keluarga yang ada didalam ruangan ini. biarlah, saat ini yang aku mau lufita bisa menerima kenyataan ini dengan ikhlas


••••••••••


air mata masih beberapa kali jatuh dari pelupuk matanya, berbagai penyesalan dia lontarkan dihadapanku. dibujuk dengan apapun tak ada yang mampu menghentikan kesedihannya.


saat ini hanya ada aku dan dia diruangan ini. anggota keluarga udah pulang mengistirahatkan diri masing masing setelah lelah beraktivitas seharian. ditambah dengan menunggui lufita beberapa minggu ini.


sekarang yang kulakukan hanya menyuapinya makan. tapi tak satupun suapan dari ku masuk kemulutnya. sudah berapa detik sendok yang berisikan bubur menggantung dibibirnya. karena tak ada reaksi darinya akhirnya kuputuskan untuk meletakkan kembali mangkok bubur yang ada ditanganku ke nakas di samping ranjang


" fi... kamu mau sampai kapan seperti ini? "


hening


aku hanya bisa menghembuskan nafas melihatnya masih tetap diam


" kamu yakin dia bisa bahagia melihat bundanya seperti ini? "


" kamu mau dia sedih dengan ketidak ikhlasanmu? "


dia menoleh kearahku cukup lama, sampai sebulir mutiara bening itu kembali jatuh.


" jangan siksa diri kamu seperti ini, ikhlaskan fi. lapangkan hatimu, kamu harus tegar. "


" maaf " lirihnya


" gara gara fifi, anak yang abang nanti nantikan harus pergi "


" berhenti nyalahin diri kamu fi, saya tidak suka. semuanya sudah jadi takdir. jika Allah udah percaya sama kita nanti, maka rizki seorang anak yang soleh maupun solehah akan datang pada kita "


dia melingkarkan tangannya di pinggangku dengan kepala yang dia sembunyikan di leherku. dapat ku dengar isakan kecil keluar dari bibirnya.


" sekarang kamu makan ya " dia menganggukan kepalanya sembari tersenyum kecil


" setahu saya istri saya itu jago makan. " ujarku sambil menyuapinya bubur dia menolehku dengan wajah bingung


" karena saya pernah keluar ditengah malam hanya untuk beliin dia makanan " dia terkekeh mendengar penuturanku


" jangan diingetin malu tau " celotenya dengan mendaratkan pukulan dilenganku membuatku juga ikut terkekeh


aku meneliti setiap inci wajahnya, karena keasikan tertawa dia baru sadar aku yang diam sembari memperhatikannya


" kenapa? " tanyanya heran


" kamu cantik kalo lagi ketawa "


" bisa bisanya ya kamu ngegombal pas di mode sedih kayak gini " serunya dengan tatapan jengkel


" tetap jaga senyum kamu "


" paan sih gom.... " kalimatnya terhenti ketika aku mencium kening dan pipinya


membuat pipinya langsung memerah " nikah udah lebih setahun masih aja blushing " ucapku lalu mendapatkan tatapan kesal sekaligus cubitan di lengan kiriku.