
selama diperjalanan kami terus diam tanpa sepatah katapun. hanya deru motor yang terdengar disepanjang jalan
hingga sampai dirumah fahriza tetap diam dia membukakan pintu rumah untukku
aku benar benar tidak mengerti dengan sikapnya yang suka berubah ubah kayak bunglon itu.
setelah masuk kedalam aku langsung menuju kamar atas ku lihat cahaya senja menyinari ruang kamar, buru buru ku buka tirai kamar dan pintu balkon
setelah sekian lama beraktivitas aku sampai lupa bahwa senja selalu menemaniku. ku pejamkan mataku kurasakan kedamaian masuk menelurusi jiwaku. terpaan sinar senja benar benar membuatku tenang
aku sangat berterima kasih kepada sang pencipta langit dan bumi karena telah menghadirkan senja sebagai kedamaian
sekian lama aku menutup mataku, aku merasakan kedatangan seseorang disini
saat aku membuka mata ku lihat fahriza juga melakukan hal yang sama denganku. dia menutup matanya merasakan keindahan sang surya sore dengan mata tertutup.
wajahnya yang mulus terlihat sangat menawan saat terkena paparan cahaya senja
dug,dug,dug
tiba tiba jantungku berdegup sangat kencang darah ku tiba tiba mengalir begitu cepat dan kurasakan pipiku panas
"apakah ini waktu yang tepat untuk ku menungkapkan semuanya?" ujar batinku dengan diiringi suara jantung yang terdengar dengan jelas
" ya Allah semoga telinganya tidak mendengar suara jantungku, Amiiin" doaku dalam hati
aku menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan
"zz..za" panggilku gugup
duh kalo kayak gini gimana cara ngomongnya
"hem" jawabnya tanpa bergeming ataupun menatapku dia masih asik menikmati sengatan senja dengan mata tertutup
"boleh, saya ngomong ss..sesuatu sama kamu"
aargghh calm down lufita tenang nggak usah gugup santai - santai dia nggak akan makan kamu kok
"bicaralah" ujarnya dengan posisi masih sama
huft huft huft.......
"za aku sayang kan kau" pekiku dengan bahasa melayu karena terlalu gugup aku tak sempat memikirkan kata kata yang harus kugunakan dan karena aku memekik aku meninggalkan naungan suara ku disana dengan kata kata yang sama
aku masih menutup mataku saat aku mengatakan itu mata ku tertutup hingga perlahan aku membukanya ku lihat fahriza masih tak bergeming tapi bibirnya menyunggingkan senyuman
bukannya dia kaget, tapi dia malah membuatku bingung duh udah kepalang tanggung mau mundur malu mau maju belom ada kepastian
sesaat kemudian dia membuka matanya dan menatapku. tatapan tajam itu membuatku semakin gugup
" saya tau" ujarnya tiba tiba sambil tersenyum sangat manis
aku mengernyitkan dahi, aku benar benar sangat bingung sekarang
pertama sikap yang suka berubah ubah kedua menjadi dingin tanpa sebab, ketiga dia bilang dia tau kalau aku memiliki perasaan padanya.
aku benar benar tidak mengerti sekarang apakah dia benar benar paranormal
melihat kebingungan diwajahku dia langsung mengambil sesuatu dari saku celananya ternyata dia mengambil ponselnya
setelah mengutak atik ponselnya dia menunjukkan sebuah vidio padaku yang membuat mataku terbelalak
"*ya Allah jika hari ini aku harus pergi, tolong jagakan fahriza selalu beri dia kesehatan"
"ya Allah aku mulai mencintainya, jika nanti dia menikah lagi berikanlah dia istri yang lebih baik dariku*"
ucap seorang wanita di dalam lift dengan teduduk lesu dan menangis dengan keras
dia mengucapkannya begitu lantang
ya wanita itu adalah diriku
seketika pipiku panas dengan cepat aku merebut ponselnya dan menghapus vidio itu arghh aku benar benar malu
bagaimana bisa dia mendapatkan vidio itu mana volumenya dibesarin lagi sepertinya dia sengaja melakukan itu dan membuatku malu
setelah menghapus vidio itu aku mengembalikan ponselnya ternyata tanpa kusadari dari tadi dia terus menatapku bukannya mengambil ponselnya dari tanganku
dia malah mendekatiku hingga membuatku mendur beberapa langkah kebelakang dia terus mendekatiku dan menatapku lekat
hingga akhirnya aku terjebak dengan tersandar di tembok balkon
duh apa dia marah karena aku menghapus vidio itu
glek
aku menelan ludah jantungku kembali beraktivitas diluar batas
"maafin saya, saya terlalu takut mengakui semuanya" ucapnya ketika berada sangat dekat didepanku tubuhnya yang lebih tinggi dari ku membuatnya harus sedikit menunduk untuk melihatku
"saya juga memiliki perasaan yang sama terhadapmu, tapi saya terlalu pengecut untuk jujur padamu saya takut kalau ternyata saya hanya mencintai sepihak"
" namun setelah melihat vidio itu saya rasa saya tak akan melepaskanmu, sudah saatnya saya mengungkapkan semuanya padamu " ujarnya
sedangkan aku hanya terdiam terpaku mendengar pengakuannya, aku tidak tau apa yang harus kulakukan sekarang, yang aku bisa sekarang hanya menitikkan air mata sambil tersenyum
fahriza langsung memelukku sangat erat begitu juga denganku aku membalas pelukannya sangat erat
dia melepas pelukkannya dan menghapus air mataku dengan jarinya "saya tidak suka melihatmu menangis" ucapnya lembut aku hanya tersenyum mendengarnya begitu juga dengan fahriza dia juga tersenyum sangat manis hingga ginsulnya kelihatan
aku tidak menyangka aku bisa menikahi manusia kutub sedingin es tapi manis mengalahkan madu
nggak apa apa kalian menganggapku lebay yang penting aku sangat bahagia sekarang.
"oh iya fi, jantung kamu tenangin dulu kasian loncat loncat mulu dari tadi" ujarnya sambil terkikik sedangkan aku langsung ngacir masuk ke dalam kamar "ah malunya?" ujarku
••••••••••
sore ini aku sedang mandi rasanya segar banget ketika tubuh sedang kelelahan trus diguyur dengan air sekarang aku jadi lebih fresh
"Aaaaaaaaaaaaaaaa" teriakku ketika aku keluar dari kamar mandi dan melihat fahriza sedang mengambil baju dari dalam lemari
" ada apa?" tanya nya khawatir.
"kamu ngapain disini?" bukannya menjawab pertanyaan fahriza, aku malah balik bertanya dengan kesal bagaimana tidak saat ini aku hanya pakai handuk yang menutup badanku sedangkan dari bahu keatas dan lutut ke bawah semuanya terbuka.
" ambil bajulah, saya juga mau mandi fifi"
" bukan itu, maksudku kamu ngapain masih disini keluar cepat aku mau ganti baju " ucapku kesal
bukannya keluar fahriza malah tersenyum dan memperhatikan ku dari atas kebawah
"apa liat liat" sergah ku
glek
aku menelan ludah
"kamu malu?" ejeknya sambil tersenyum jahil
"keluar nggak" ucap ku tegas sambil menatapnya tajam
bukannya keluar dia malah mendekati ku
"za jangan macem macem ya, kalau ngga aku bakalan teriak" ancamku tegas bukannya mundur dia malah maju
" macem macem sama istri sendiri nggak apa apa kali malahan pahala" godanya sambil mengerlingkan sebelah mata
" za keluar nggak, kalau nggak aku nggak akan mau bicara sama kamu lagi "
"emang kamu sanggup nggak bicara sama saya, saya diemin tiga hari aja kemaren kamu cari cara buat saya mau bicara sama kamu" godanya.
"aku serius fahriza jaelani" teriaku tegas
"saya juga serius lufita hermansyah" ujarnya lembut
saat sudah dekat pintu kamar mandi secepat kilat aku masuk kedalam dan menguncinya. "dasar mesum" teriakku dari dalam
dan terdengar gelak tawa darinya diluar sana
awas aja kalau aku udah keluar nggak bakalan aku tegur dia
••••••••••
sekarang sudah pukul 19.55 kita juga udah sholat isya, sejak kejadian tadi aku tidak memperdulikan fahriza bahkan setelah makan pun aku membiarkan dia yang mencuci piring dan membereskan semuanya
"masih marah ya?" tanyanya lembut
"tadak"(nggak) ucapku ketus sekarang giliran dia yang bingung mendengar bahasa ku
"hem, jangan marah lagi dong, saya minta maaf" bujuknya sambil memegang tanganku
buru buru aku menepisnya dan naik kekasur lalu membelakanginya
tiba tiba sebuah tangan melingkar diperutku
ya fahriza memelukku dari belakang sebenarnya aku ingin marah tapi ku urungkan karena aku juga menyukai sikapnya seperti ini jadi ku biarkan saja tanpa menggubriskannya biar dia merasa bersalah
" saya nggak akan nyentuh kamu tanpa persetujuan dari kamu sendiri " ucapnya lalu melepas pelukannya dan kini aku yang merasa bersalah buru buru aku menahan tanganya dan melingkarkannya diperutku
"makanya kalo nggak mau di diemin jangan diemin orang sembarangan nggak enak kan di posisi kayak gitu" ujarku tanpa berbalik menatapnya
aku tau dia pasti tersenyum sekarang"iya" balasnya lirih
aku masih penasaran bagaimana cara dia dapetin vidio tadi ku balikkan badanku dan menatapnya dengan kedua tangan kujadikan bantal
"za"
"hem"
"kok kamu bisa sih dapetin vidio tadi"
dia menarik nafasnya dan menghembuskannya secara perlahan, hingga terpaan nafasnya mengenai wajahku.
"tadi saya suruh petugas cctv buat ngirimin rekaman kejadian kemaren, saya penasaran liftnya itu benar benar rusak atau sengaja dirusakin maklum saingan saya banyak diluar sana jadi pasti sebagian besar menginginkan posisi saya"
" trus "
" makanya dengerin dulu "
"iya iya"
"jadi setelah saya teliti, ternyata itu murni rusak sendiri dengan tiba tiba. pas saya mau close dari vidionya, eh vidio kamu muncul ya udah saya dengerin aja sekalian"
"ih jahat banget sih" ucapku sambil mengerucutkan bibir
"trus saya pindahin ke ponsel buat barang bukti nanti kalo kamu nyangkal pas saya nyatain perasaan ke kamu tapi kamu udah lebih dulu ngungkapin yah peluang besar buat saya" ucapnya senang sambil tersenyum lebar
"kok kamu bisa kefikiran kalau liftnya sengaja dirusakin?"
" fi ketika kamu diatas banyak orang yang menginginkan kamu turun bagaimana pun caranya. mereka bisa saja bermuka dua untuk meraih posisimu dan bahkan mereka tidak segan segan mencelakai keluargamu agar kamu lemah dan turun"
" saya lebih suka mereka menyakiti saya dari pada mereka mencelakaimu, saya tidak akan merelakan itu terjadi "
"jangan ngomong gitulah"
aku memandangnya sambil mengusap wajahnya. wajahnya halus banget kayak wajah perempuan
dia mendekati ku dan menempelkan hidungnya di hidungku hembusan nafasnya kini benar benar terasa menerpa wajahku
"za"
"hem"
"umur kamu berapa sih?" tanyaku setelah menjauhkan wajah darinya dan kembali menatapnya
" 27 "
"loh kamu seumuran dong dengan kak lufian"
dia mengangguk
" berarti tua an kamu 7 tahun dong dari aku"
lagi lagi dia hanya tersenyum sambil membelai kepalaku yang tertutup oleh jilbab
"jadi aku harus panggil kamu lebih sopan dong, nggak enak juga ntar didenger orang panggil za za za mulu"
"baru sekarang kepikiran" ejeknya
"ih diem"
"gimana kalau aku panggil bang za aja?" sambungku meminta pendapatnya
"terserah kamu aja mau panggil apa, mau panggil manusia kutub juga boleh" tuturnya yang membuatku membulatkan mata
" kamu tau dari mana?" ucap ku malu
"ponselmu"
"ha, kok bisa?"tanyaku bingung
"waktu kemaren ponsel kita ketuker kamu kan miscall ponsel kamu pake ponsel saya jadi setelah saya aktifkan ponsel kamu notif dilayar tertera 4 panggilan tak terjawab dengan nama manusia kutub"
mendengar penuturannya aku jadi malu dan menutup mataku tapi aku masih ingin menanyakan satu hal segera ku buka mataku dan menatapnya
"kok tadi kamu tau apartemenya tania?"
"GPS ponsel mu"
" ha kok bisa padahal aku nggak per........"
CUP sebuah kecupan mendarat dibibirku
jantungku kembali loncat loncat nafasku susah diatur sekarang
" cerewet, udah ya saya ngantuk" tuturnya sambil memelukku
dasar tidak bertanggung jawab udah bikin jantungku marathon sekarang malah tidur
" tenangin jantungmu, kasian ntar kecapean" ujarnya dengan mata terpejam
dia benar benar membuatku malu aku mendorong tubuhnya bermaksud ingin menjauh tapi dengan cepat dia menahanku dan kembali mendekapku di dada bidangnya
"diem kalo nggak mau saya cium lagi" ancamnya padaku
"dasar mesum" balasku sambil mengerucutkan bibir
terlihat dia tersenyum, tapi entah kenapa aku menyukai semua ini ku balas pelukannya dengan erat hingga aku tertidur dalam dekapannya
💕haduh saya malah baper sendiri🙃☺️ kalo kalian readers jangan lupa ikutin terus ya kelanjutannya