LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
AKIBAT DOKTER AUSTIN



" fi udah belom.... " teriak fahriza diluar


saat ini aku sedang berkutat memakai hoodie didalam kamar. setelah sholat subuh tadi fahriza mengajak ku jalan pagi ke taman deket perkomplekan rumah kami.


jika weekend gini taman itu sudah ramai dikunjungi mulai dari pagi. entah mereka berolahraga atau hanya sekedar menikmati sunrise.


karena aku pikir cuma sekedar jalan-jalan biasa jadi pilihan bajuku jatuh pada kaos berlengan panjang berwarna navi ditutupi hoodie berwarna peach. dan bawahanya rok simple biasa berwarna mocca yang panjangnya sampe nutupin mata kaki, plus sandal jepit yang paling hits dinegri ini hehehe....


perlahan aku menggerakkan kursi rodaku dan keluar dari kamar


" loh bang kok hoodienya warna itu juga? " tanyaku saat sudah berada dibelakangnya yang duduk di pinggir sofa ruang keluarga


dia menoleh kearahku setelah mendengar suaraku dibelakangnya


" wah berarti kita sehati dong " ujarnya sambil tersenyum.


dia juga mengenakan hoodie yang warnanya sama dengan yang aku pakai, ditambah celana pendek selutut plus sepatu olahraga simple, benar benar santai nih suamiku beda banget stayle formal kekantor atau ke pertemuan penting dengan stayle casual yang kelihatan kayak remaja.


" dah jangan liatin terus stayle kayak gini nggak akan buat kadar ketampanan saya turun. " ucapnya membuyarkan lamunanku


" narsis amat sih " sinis ku seraya menerima ponsel yang diulurkannya padaku


dia mulai mendorong kursi rodaku " trus kenapa liatin kayak tadi? " tukasnya terdengar memberikan ejekan padaku


" kamu sengaja ya berpenampilan kayak gitu, biar bisa dilirik sama perempuan lain " selidikku tidak suka dengan penampilannya yang bisa menarik perhatian wanita lain


mulutku masih sedikit terbuka menunggu jawabannya tapi sudah ada seorang wanita yang tersenyum padanya saat kami baru keluar dari rumah. aku bilang juga apa dia tampil kusut aja masih dilirik apa lagi tampil kayak gini.


" iya, saya sengaja tampil kayak gini biar terus dikagumin sama istri saya yang lagi saya dorong ini " jawabnya membuat sudut bibir sebelah kiriku sedikit terangkat. tapi buru buru aku mengubah ekspresi tidak suka diwajah ku


" awas ya kalo kamu balas senyum mereka " ancamku sembari mendongakkan kepala untuk menatapnya


" kamu makin hari makin pencemburu ya " godanya mengusap kepalaku


" pagi mbak fifi, pagi mas fahriza..... " sapa tiga orang perempuan berpakaian olahraga yang sangat ketat hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang baru saja melewati kami. pandangan matanya menelisik fahriza detik berikutnya memberikan senyuman manisnya pada fahriza.


" pagi " balas fahriza singkat sambil terus mendorong kursi rodaku


aku kembali mendongakkan kepalaku untuk melihat ekspresi fahriza


dia hanya membalas sapaan mereka tanpa embel embel senyum


hehehe.... dia nurut gengs maaf ya sayang


" hahaha.... kaku banget " ejekku melihat ekspresi yang sangat kaku itu


" tadi katanya jangan balas senyum ke orang yang senyumin saya "


" serius banget deh, aku cuma ngetes doang sayang. haha... nurut banget ya.. my best hubby " balasku sambil cekikikan


" cih " tanggapan yang sangat jarang dia keluarkan kecuali benar benar dalam perasaan jengkel


" ih judes banget jawabanya "


" biarin "


" ohh.... ceritanya ngambek, mau dipujuk nggak nih " aku semakin menggoda pria dibelakangku ini


" nggak usah " jawabnya ketus


" dih, ketus baaanget. ya udah honey maafin your wife ya, tadi your wife khilaf "


" jangan ngambek dong " lanjutku


" nggak ngambek "


" kalo nggak ngambek senyum dulu dong "


dia menghetikan langkahnya yang otomatis membuat dorongan kursi rodaku juga berhenti. dia berjalan mengubah posisinya yang tadi dibelakangku sekarang didepanku kemudian berjongkok. sedetik kemudian dia mengecup pipi kananku dan sudut bibir kananku.


perlakuannya membuatku mematung, aku bahkan mengerjapkan mata beberapa kali untung jalan diujung komplek ini nggak ada orang kalo nggak malu setengah diri aku.


" jangan coba-coba menggoda saya, karna saya akan memberikan akibat seperti ini walaupun ditempat ramai " ancamnya sembari tersenyum manis hingga ginsulnya juga tampil dinetraku


sejak kapan dia mulai berani gerepe gerepe aku ditempat umum kayak gini selain dirumah.


jantungku masih berpacu melebihi detakan waktu, aku benar benar kaget dengan tindakannya " kaget banget " godanya kembali kebelakang dan mendorong kursi rodaku


" kamu ya bang!!! " geramku kesal bisa bisanya cium cium dipinggir jalan kayak gini. terdengar gelak tawa sang pria mesum itu dibelakangku. untung dah halal jadi nggak umbar dosa, pasti waktu masih lajang kemaren dia mesum tingkat dewa kayak gitu sama pacarnya


" saya nggak pernah pacaran " ucapnya menjawab pertanyaan yang lagi bergelut di otakku, tunggu tunggu bagaimana dia bisa tau?


" k.. kamu, gimana kamu.... " dia hanya tersenyum juga membalas tatapanku yang mendongak memperhatikan wajahnya dari bawah


" gimana kamu bisa tau apa yang lagi aku pikirin? " tanyaku penasaran, apakah kekuatan peramalnya kembali lagi setelah sekian lama menghilang.


" kamu pacar pertama saya " bukannya jawab pertanyaanku


" ha? sejak kapan kita pacaran? orang baru kenal kamu dah ngajak nikah "


" sejak kita nikah kamu udah jadi pacar saya, kekasih saya, milik saya, rindu saya. "


wajahku sedikit memanas mendengar pernyataanya duh kayaknya udah merah nih pipi


" really? trus si izumi yang dari jepang itu siapa ya???? " tanya sebuah suara dibelakang kami yang membuat senyum yang baru saja terbit dibibir ku lenyap sudah


" ck ganggu aja " gumam fahriza setelah mengetahui pemilik suara yang mengajukan pertanyaan tadi


" loh dokter austin, disini juga? " tanyaku pada pria yang sudah disamping kami ini


" hai lufita " sapanya sambil melambaikan tangan padaku


" hai dokter austin. apa kabar? "


" verry good. kamu? "


" alhamdulillah baik juga "


ah iya lupa ngenalin, dokter yang baru saja menyapa kami ini namanya Austin Smith temen fahriza yang dari inggris itu, aku udah kenal kemaren waktu dia bertamu kerumah sekalian memeriksa kondisi kakiku. berbeda fakultas tak menyudutkan mereka untuk tak saling mengenal. jangan heran ya kalo dokter austin bisa bahasa indonesia, soalnya neneknya itu asli indonesia. dia ikut orang tuanya tinggal di inggris karena daddy nya menikah dengan orang sana juga.


" eh za kamu belum jawab pertanyaan aku loh " godanya membuat fahriza melanjutkan langkahnya mendorong kursi rodaku memasuki area taman


" not interested " jawab fahriza datar


" hahaha... i love your gesture " ejeknya kembali


" eh iz.... zumi siapa? " tanyaku penasaran dengan nama perempuan yang baru saja dilontarkan dokter austin pada fahriza


" lah fi kamu nggak tau izumi? fahriza nggak ngasih tau kamu siapa dia? "


aku hanya menggeleng penasaran mendengarkan pertanyaan dari dokter austin


" what are you doing here? ganggu aja " sarkas fahriza datar


sepertinya gadis bernama izumi ini berpengaruh juga pada mood fahriza


terlihat dari bicaranya yang biasa aja jadi datar plus kesal


" hehehe... aku juga mau jalan jalan za, kan hotel ku nggak jauh dari sini eh pas banget ketemu kalian disini " jelas pria pemilik mata biru safir itu.


" pulang sana " sarkas fahriza kemudian membawa kursi rodaku ke lokas taman yang lebih rindang dengan sebuah kursi panjang pelengkapnya.


" kamu kenapa sih bang, kan dokter austin pengen gabung sama kita. nggak boleh gitu "


" nah istri kamu aja ngerti za, ih jadi tempramen deh " ejek dokter austin yang memunculkan gelak tawa dariku dan wajah fahriza makin tambah datar plus kesel


" oh iya, gimana perkembangan kaki kamu fi? " tanya dokter austin setelah asik menggoda fahriza


" masih belum ada perubahan dokter austin "


" jangan patah semangat fi, saya yakin kamu pasti bisa berjalan lagi. gimana kalau kalian lakukan fisioterapi di london. aku kasih saran kesana karena teman teman dokter ortopedi ku lebih mendalami hal ini apalagi paraplegia yang dialami lufita ini sudah pernah disembuhkan disana. " tuturnya seraya menatapku dan fahriza bergantian


" i can't be sure, ini akan berjalan dengan hasil seperti apa. apakah memuaskan atau membutuhkan waktu yang lama. basicly we doctors will give the best we can and the healing will come if God allows. aku nyaranin ini siapa tau kesembuhan kamu datang disana. " ujarnya menatapku serius


" and today, i will to go home " lanjutnya membuat fahriza menatapnya


" sebenernya sih besok, because i miss my girlfriend so.... aku ambil penerbangan hari ini " jawabnya sumringah


" dasar bucin. " seloroh fahriza kemudian menggamit tanganku menautkan jari jemari kami.


" dih, kayaknya kamu perlu kaca " ejek dokter austin yang melirik tautan jariku dan fahriza


aku hanya tergelak mendengar ejekan yang keluar dari dua mulut pria di depanku ini.


" oh iya, pertanyaan aku tadi belum dijawab loh " ujarku membuat mereka menatapku bingung


" pertanyaan apa fi? " tanya dokter austin antusias sedangkan fahriza mulai membuka tutup botol air mineral yang dia bawa dari rumah tadi


" ck itu loh.... em siapa... e.. ah iya izumi itu siapanya fahriza? "


" uhuk uhuk uhuk... " air yang baru saja melintas ditenggorakan fahriza membuatnya tercekat disana entahlah apa penyebabnya


" ah.. hahaha..... izumi yah? " goda dokter austin sembari mengedipkan sebelah matanya pada fahriza membuat si empunya kesal


" temen " jawab fahriza acuh


" emang temen za? bukanya kamu pernah hampir lamar dia? " ujar dokter austin membuat fahriza mendelik kesal.


loh tunggu apa tadi dia bilang? fahriza hampir ngelamar izumi? lah bukannya dia punya janji sama bang ija ya buat nikahin aku


ah dia mau main api ya?


" sana pulang kamu, apa perlu saya tendang biar nyampe UK " sakartis banget nih si abang za.


aku mendelik menatap tajam fahriza didepanku membuatnya melengos menghindari tatapanku


" lufita kayaknya aku harus pulang sekarang deh, 2 jam lagi bakalan take off mau packing dulu " pamit dokter austin padaku


" iya makasih ya dokter austin " balasku sembari tersenyum padanya


" iya sama-sama. nanti jelasin ke lufita ya.... aku pulang dulu jangan kangen yah.... selamat bersenang-senang see you " pamit dokter austin pada fahriza sembari berlari kecil meninggalkan aku dan fahriza.


setelah bayangan dokter austin tidak terlihat lagi fahriza menatapku dengan lembut sambil menghembuskan nafasnya


.


.


.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


helaan angin malam membuat beberapa ujung ranting sebuah pohon kokoh didepan rumah kami terlihat melambai. aku masih bergeming di teras balkon merasakan resapan angin malam yang membelai lembut pipiku dan membuat jilbab instanku juga ikut melambai.


hingga aku terjingkat kaget dengan kehadiran sepasang tangan kokoh yang melingkar di dadaku. pemilik tangan itu mulai mengecup pucuk kepalaku. ah seharian ini aku mendiaminya karena dia tak mau menceritakan siapa izumi yang dimaksud sama dokter austin tadi pagi, padahal aku hanya ingin mengetahuinya tidak meminta lebih apakah sesulit itu menceritakan masa lalunya.


" kenapa masih disini udah malem " ucapnya lembut


" yang ngatain siang siapa " ujarku sinis


terdengar kekehan kecil dari mulutnya, tanpa perintah dariku dia mendorong kursi rodaku membawaku masuk kedalam kamar.


setelah mengunci pintu balkonnya dia menggendongku untuk berbaring dikasur lalu menyangga kepalaku dengan bantal kemudian menyelimutiku.


detik berikutnya dia juga ikut masuk kedalam selimut yang sama denganku bahkan dapat kurasakan dia juga berbaring sebantal denganku.


tangannya mulai melingkar diperutku.


" izumi itu gadis muslimah dari jepang yang melanjutkan pendidikannya dilondon. " dia menjeda kalimatnya membiarkan deruan nafasnya mengenai permukaan leherku karena setelah masuk kamar tadi aku membuka jilbabku


" satu jurusan otomatis satu kelas ngebuat kita bertemu setiap hari bahkan kita beberapa kali satu kelompok dalam mengerjakan tugas. ketaatannya terhadap agama dan menjaga pandangannya dari yang bukan mahramnya, membuat saya pernah mengaguminya. " sambungnya sembari mengusap lembut lenganku


" tapi kata dokter austin kamu hampir ngelamar dia " sebenarnya aku tidak berniat bertanya tapi jiwa ke kepoanku masih nempel


dia kembali terkekeh mendengar pertanyaanku


" saya akui saya pernah berniat untuk mengkhitbah dia tapi tidak jadi karena ternyata dia udah dilamar duluan sama kenalan ayahnya. dan itu membuat saya tersadar akan janji saya terhadap rija. "


" mungkin itu teguran dari Allah buat saya karena melupakan janji yang harus saya tepati. maka dari itu saya menunggu kamu selesai wisuda baru berniat bertemu dan memulai hubungan denganmu. saya ingin memantap hati saya untuk kamu, ya walau diawal pernikahan saya terlihat dingin sama kamu "


aku membalikkan tubuhku yang semula memunggunginya kini menjadi menatap fahriza sebenarnya agak deg degan sih soalnya pas balik badan dahiku langsung bertemu dengan dahi fahriza, ujung hidungku juga bersentuhan dengan ujung hidungnya.


" jadi itu alasan kamu dingin sama aku waktu dulu? " tanyaku sembari memberanikan diri menatap netra coklat dihadapanku ini


" saya termasuk orang yang lama dalam proses berinteraksi apalagi dengan perempuan, saya terlalu sulit menyesuaikan keadaan jika di latar baru, jadi maaf kalau diawal pernikahan kita terasa hambar " tuturnya sambil mengusap lembut pipiku


" nggak apa apa. ini yang mau aku denger dari kamu tadi. tapi kamu malah nggak mau cerita padahalkan aku cuma pengen denger doang " cibirku ku kesal karena susah sekali membuatnya mengerti


" trus berapa lama waktu kamu mulai bisa dekat sama izumi? "


" 1 tahun lebih kalo nggak salah "


" ei lamat amat bang, pantesan udah di tikung duluan. "


dia hanya terkekeh kecil mendengar tanggapan ku. " tapi saya berterima kasih sama yang nikung saya waktu itu. berkat dia saya ingat dengan janji saya dan nikahin wanita cerewet didepan saya ini " ujarnya mencubit pelan ujung hidungku kemudian mengubah posisinya menjadi terlentang


" bang "


" ya "


" em,,, kamu masih punya rasa sama izumi " aku membaranikan diri mempertanyakan perasaannya, mungkin akan membuatnya risih akan pertanyaanku


" setelah saya renungkan saya hanya memiliki perasaan cinta hanya sama satu perempuan "


aku mulai menundukan pandanganku. mungkin perasaannya terhadap wanita yang pernah memikat hatinya itu masih tersimpan.


" wanita itu kamu " aku mengangkat pandanganku. walau aku hanya bisa melihat wajahnya dari samping, tapi aku bisa dengan jelas menangkap ekspres pria didepanku ini yang sedang mengulas senyum.


" perasaan saya pada izumi tidak lebih dari rasa kagum akan akhlaknya " tuturnya kemudian menatapku


" dengan kamulah saya merasakan cinta yang sesungguhnya. " lanjutnya kemudian mencium pucuk kepalaku


aku hanya bisa tersenyum dengan rona diwajah yang mungkin sudah terbit dari tadi


" lusa kita ke london " ujarnya membuatku menyudahi aksi shy shy cat dan memunculkan ekspresi kaget


" secepat itu? " tanyaku masih tak percaya


" saya sudah pernah bilangkan sama kamu, jika saya akan bawa kamu kemanapun untuk menyembuhkan kamu. " seulas senyum kembali hadir di bibirku


" kerjaan dikantor gimana? " aku takut akibat obsesinya menyembuhkanku membuat dia melalaikan pekerjaannya


" bisa diatur "


" kamu nggak perlu mikirin kerjaan saya karen.......... "


ucapannya terhenti karena sebuah kecupan yang kuberikan di bibirnya. secepat kilat aku ngacir ke dalam selimut. aku menggigit bibir bawahku menetralkan detak jantungku


namun usahaku sia sia karena jantungku kembali marathon akibat fahriza yang menarik paksa selimutku dan ******* bibirku.


aaaaaa........ siapapun tolong aku, aku salah tadi aaaaaaa


.


.


.


♡♡♡♡♡


ehem nyempetin


maaf kalo ada kata kata yang belepotan atau typo


mohon maaf ye karena kekurang telitian saya


see you