
" badan ku pegel banget sekian lama berkeliling memeriksa keadaan pasien " gumamku sambil membuka tutup botol mineral water
kutenggak isinya hingga sedikit lagi akan habis aku menyenderkan kepalaku dikursi taman ini rasanya segara sekali duduk menikmati taman rumah sakit ini
sejuk segar dan nyaman selama aku menjadi dokter disini taman ini menjadi tempat favoritku saat beristirahat aku lebih menikmatinya disaat aku sendiri
eh sebenarnya tadi fahriza melarangku pergi sendiri pakak queen tapi akunya nolak dia bahkan menyuruhku untuk cuti dulu beberapa hari tapi yah bukan lufita namanya kalau nggak bisa meluluhkan hati fahriza beribu alasan ku pakai untuk membuat nya percaya kalau aku bisa melakukannya sendiri
mau tidak mau akhirnya dia ngalah juga hehehe
ketika aku sedang memejamkan mataku dan bersandar dikursi ini tiba tiba seseorang datang dan duduk disampingku aku membuka mataku dan...
betapa kagetnya aku bahwa dokter dimas yang sudah beberapa bulan ini menghindariku dan mencuekan ku duduk disampingku sambil tersenyum ramah
" gimana kabarnya? " tanya lembut membuyarkan lamunanku
" alhamdulillah baik dok, dokter dimas sendiri? "
" alhamdulillah saya juga baik "
" gimana kabar keponakan saya? " lanjutnya sambil menunjuk kearah perutku dengan matanya
" alhamdulillah sehat juga om " ucapku dengan menirukan suara seperti suara anak kecil dan disambut tawa oleh dokter dimas
kabar kehamilanku sudah menyebar ke seantreo rumah sakit dan ini ulah dokter nayra yang suka bicara blak blakan huh padahal aku uda bicara sepelan mungkin karena aku tidak mau diistimewakan disini karena kondisi ku yang berbadan dua eh dokter nayra dengan entengnya membeberkan semuanya dan pada akhirnya seperti yang kalian ketahui aku tidak boleh capek bahkan dokter rika kepala rumah sakit disini sering beberapa kali mengunjungiku dalam seminggu biasanya tidak pernah begitu
" ehm, kok selama seminggu ini nggak masuk emang kemana? " tanyaku memberanikan diri pada dokter dimas yang mulai kembali dingin
" saya lagi ngurus s2 saya di belanda makanya jarang masuk "
" loh dokter dimas mau kuliah lagi kok baru bilang sekarang trus kapan berangkat nya? " tanyaku tanpa jeda iklan membuat dia terus menatapku
aku yang ditatap dingin oleh dokter dimas langsung menundukkan pandangan jadi gemetaran karena sikapnya
" besok saya sudah harus berangkat, maaf ya kalau saya baru bilang sekarang "
" eh nggak apa apa dok maaf saya lancang "
" nggak pa pa "
kulirik dari ekor mataku dia juga tersenyum sambil menenggak jus buah ditangannya
dia kembali melirikku dan menyodorkan biskuit coklat didepanku ah kalau sudah berurusan dengan coklat aku jadi merasa lemah dan nurut ingin melahapnya
aku mengambil beberapa biskuit coklat yang baru saja disodorkan dokter dimas padaku
" saya kesini mau pamit sama kamu, maaf kalau selama ini saya cuek dan nggak peduli sama kamu "
" haha.... nggak pa pa dok dokter dimas baik kok sama aku dan semoga saat disana suasana hatinya tenang dan selalu diberi kesehatan "
" amiiin makasih buat doanya "
" oh ya satu lagi semoga disana dokter dimas bertemu pujaan hati yang soleha dan membuat dokter dimas melepas masa lajangnya "
" hahaha...... emang tampang saya udah tua ya " ujarnya yang masih terbahak
" hehe... nggak juga kok tapi usia dokter kayaknya udah siap deh buat jadi imam dan pemimpin "
" sotoi lah " ujarnya kembali terkikik ntah apa yang membuatny tak berhenti tertawa aku juga bingung
" kayak kamu " jawabnya dengan menatapku
Deg
loh kok bicaranya serius gitu ya duh jadi canggung nih
" eh , becanda aja dari tadi aku seirus tau "
" saya serius dokter lufita " tegasnya menatapku serasa matanya berbicara kalau dia sedang tidak berbohong
aku kembali mengalihkan pandanganku mengalihkan suasana yang canggung ini
" ehm, s saya permisi dulu ya dok " ujarnku kemudian berdiri berniat ingin pergi meninggalkan suasana dingin ini
" maaf kalau membuatmu merasa tidak nyaman bisakah kamu kembali duduk saya ingin menyampaikan sesuatu padamu sebelum saya pergi melanjutkan pendidikan saya "
mendengar permintaannya aku kembali duduk tapi tidak menatapnya mataku kualihkan memandang suasana ditaman ini
" dokter lufita, maaf ya kalau selama ini saya dingin sama kamu sejujurnya saya menyimpan rasa sama kamu "
mendengar penuturannya aku kembali menatapnya penuh kebingungan
" maaf maksud dokter? saya tidak mengerti " ujarku canggung aku mencoba meminta pengulangan kata katanya takut telingaku salah dengar maklum belum dibersihin tadi
" sebenarnya saya suka sama kamu ketika kamu mulai bekerja disini saya mencoba meyakinkan perasaan saya sebelum mengutarakannya tapi setelah mendengar kamu sudah menikah dan apalagi waktu itu saya tak sengaja melihat fahriza memeluk kamu disini saya makin sakit hati rasanya saya tidak terima dengan fakta ini "
" oleh karena itu saya mencoba membuang perasaan saya kepada kamu dengan bersikap dingin dan seolah olah tidak peduli padahal hati saya berontak untuk tidak melakukan itu ditambah lagi raut wajah mu saat berpapasan dengan saya seperti orang yang bersalah itu benar benar membuat perasaan saya hancur "
" maaf " ucapku lirih
" kamu tidak perlu minta maaf disini saya yang salah karena telah menyimpan perisaan pada wanita yang sudah menikah saya berharap semoga fahriza selalu membahagiakanmu "
aku menatap dokter dimas yang tersenyum getir aku tau perasaanya pasti pilu dengan fakta ini
" sebelumnya aku minta maaf, dokter dimas tidak salah karena telah menyukai aku karena dokter juga tidak pernah meminta untuk suka padaku perasaan itu datang karena atas kehendak Nya yang maha membolak balikkan hati manusia dia hanya menguji dokter bagaimana dokter menyikapinya dengan dewasa dan bijaksana "
" hem, kamu benar saya harus bisa melewatinya "
" semangat, aku yakin suatu saat nanti dokter dimas pasti menemukan wanita yang lebih baik dari aku dan yang pastinya juga mencintai dokter dimas"
" hehe... kalau bisa sih nggak usah yang aneh aneh kayak kamu aja udah cukup " ujarnya membuatku tersipu dokter dimas anda saja yang tidak tau sifatku sesungguhnya kalau anda tau mungkin kalimat memuji mu itu tidak akan muncul untukku
fahriza saja sampai beberapa kali jengah dengan sikapku tapi aku bersyukur dia tidak pernah menuntutku untuk menjadi ini menjadi itu hanya saja dia pernah meminta untukku belajar menjadi dewasa
" ya udah saya tinggal dulu ya saya harus pulang mau mengemasi barang barang saya "
" iya hati hati semoga sukses ya "
" amiiin, makasih jangan lupa jaga kesehatan dan jaga keponakan saya " tukasnya kemudian berlalu meninggalkan ku yang mematung kembali kalut dalam fikiranku
aku masih tidak mengerti bagaimana bisa selama ini aku tidak mengetahui bahwa dokter dimas memendam perasaannya padaku. aku sangat merasa bersalah padanya tapi aku juga tidak mungkin menerimanya kalau seandainya waktu itu dia menyatakan perasaanya karena aku pun sudah dalam genggaman fahriza
argh kalimat kalimatnya yang barusan dia katakan bergelayut dalam fikiranku bagaimana kalau fahriza tau apa reaksinya haruskah aku ceritakan padanya tapi bagaimana kalau dia marah eh tapikan aku nggak salah aku nggak pernah nyuruh dokter dimas buat suka sama aku atau membalas perasaanya
arghh.. pikiran ku benar benar kalut saat ini hingga akhirnya aku memutuskan untuk pulang lagi pula tugasku sudah selesai dan sebentar lagi semua dokter disini juga akan pulang
tapi walau pun aku mencoba menenangkan fikiranku rasa bersalah pada dokter dimas karena telah menyakiti perasaanya terus menerus menyiksa ku
ya Allah semoga dokter dimas segera menemukan wanitanya dan juga melupakanku
💕oke maaf sering telat up maaf banget ya dan makasih banyak buat yang udah setia nunggu kelanjutannya dan juga yang udah nge like jangan lupa tinggalkan komentar komentar positif ya biar saya tambah semangat ngelajutinnya💕see you and sehat selalu buat korang kaum readers hehehe....