
" gimana keadaan kantor bang? " tanyaku membuka pembicaraan diantara kami yang dimulai dengan keheningan.
" alhamdulillah baik " air mataku rasanya ingin segera terjun begitu saja jika tak segera kutahan. akhir-akhir ini jangan memulai pembicaraan dengan ku menjawab pertanyaanku saja hanya sekedarnya. tidak seperti dulu, pembicaraan kami yang dipenuhi canda dan tawa.
" tadi wanita itu kekantor kamu lagi? "
dia menghentikan gerakan sendok yang akan masuk kedalam mulutnya untuk beberapa saat, setelah itu dia melanjutkan acara makannya lagi tanpa mau menjawab pertanyaanku bahkan menolehku pun tidak.
setidak mau itukah dia mengusik perempuan yang baru saja masuk kedalam kehidupan kami.
" habiskan makananmu " titahnya datar setelah itu berlalu dari hadapanku.
jika saja aku tidak mencintainya mungkin rasanya tak akan seperih ini.
apa ini karma untukku karena dulu membencinya bahkan aku pernah memakinya karena hadir dihidupku. tapi itu dulu berbanding terbalik dengan sekarang dimana aku bahkan rela menyerahkan seluruh hidupku untuknya.
dibantu bik nini dan bik wari aku membersihkan meja makan lalu mencuci piring. setelah selesai aku kembali kekamar.
kosong.
mungkin dia di ruang kerjanya.
kuputar kursi rodaku menuju ruang kerjanya, sampai disana ku lihat dia berkutat di depan komputernya hingga tak menyadari kehadiranku.
" bang "
" hem " tanpa menoleh
" sholat dulu, udah masuk waktu isya "
mendengar ucapanku di melirik jam yang tergantung didinding ruang kerjanya itu.
dia berjalan kearahku lalu mengambil alih kursi roda yang ku duduki ini, mendorongnya masuk kekamar " kamu wudhu dulu " ujarnya ketika kita sudah berada didalam kamar, sedangkan dia memainkan ponselnya disofa.
dengan sedikit menarik nafas aku kekamar mandi untuk wudhu terlebih dahulu semoga hatiku bisa tenang setelah sholat nanti.
ketika aku sedang mengenakan mukena sebuah notif chat masuk di ponselnya fahriza, aku yakin pasti pesan dari perempuan itu. dengan ragu aku mengambil ponselnya aku mau tau sudah sejauh mana hubungannya dengan perempuan itu.
dugaanku benar nomor tanpa nama itu mengirimkan chat mesranya, rasanya sedikit menyesal karena telah membacanya bahkan air mataku mengalir begitu saja hingga suara terbukanya pintu kamar mandi membuyarkan lamunanku.
buru-buru aku menghapus air mataku dengan kasar lalu menoleh kearah fahriza yang sedang memperhatikanku posisinya masih diambang pintu kamar mandi.
" tadi chat masuk di ponselmu. maaf aku lancang " ucapku menjawab pertanyaan ekspresi dinginnya
setelah mendengar ucapanku di berjalan meraih pecinya lalu menggelar sajadah di depanku " itu hak kamu " tukasnya lalu berdiri didepanku.
apa maksud ucapannya tadi? kenapa semuanya dibuat menjadi rumit seperti ini, jika dia memang memiliki hubungan dengan wanita itu tolong beri aku sebuah kepastian. kalau dia seperti ini sama saja dia membuatku bingung. membuatku mati secara perlahan dengan rasa bingung ditimpa rasa penasaran.
deraian air mata mengiringi doa ku disaat kami sudah memberi salam, hanya satu yang aku inginkan ya Allah, buatlah semuanya menjadi jelas.
bantu hamba memecahkan teka teki darimu.
sedikit kelegaan menyelimuti diriku, setelah 4 rakaat kulakukan bersama imamku. imam? akankah gelar itu akan berlanjut untuknya bagiku. entahlah biarkan kekalutan ini pergi dulu sejenak, aku mohon janganlah datang dulu akhir-akhir ini air mataku terlalu banyak terkuras aku juga lelah.
" maaf, " satu kata yang baru saja terlontar dari bibirnya dan berhasil membuat air mata kembali lolos.
aku menangis tanpa suara disampingnya, posisiku yang memunggunginya membuat ku mempunyai kesempatan untuk menumpahkan sakit hatiku lewat air mata
ck. air mata lagi aku benci diriku yang cengeng, tidak bisakah aku melawan takdir. banyak lika liku kehidupan dengan penuh kepahitan yang harus aku telan seperti obat yang setiap hari harus aku minum.
kenapa bahagia itu cuma diteorikan seperti senja tidak bisakah bahagia diteorikan seperti langit yang tak pernah hilang, yang tak pernah berjanji, tapi selalu menemani.
apa artinya semua janji yang dia ucapkan selama ini untukku, apa? jika aku tidak ingat ini malam hari, waktu dimana semua orang beristirahat ingin rasanya aku berteriak saat ini juga.
apakah kalimat janji yang diutarakan setiap lelaki itu hanya bullshit. dari almarhum bang ija yang berjanji akan kembali untukku, namun apa? bahkan aku tak sempat melihatnya untuk yang terakhir kali.
vino? hengh, bahkan permintaanya yang ingin buang air kecil saja sulit ku percaya. dan sekarang fahriza.
" secepatnya kamu akan tau " lirihnya dibelakangnku sembari meninggalkan kecupan diceruk leherku.
apa maksudnya? apakah secepatnya aku akan tau bahwa perempuan itu calon istri keduanya. tidak usah kau beri tahu pun aku sudah tau fahriza.
.
.
.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
tok tok tok
ini sulitnya jika ditinggal sama bik nini dan bik wari. karena seminggu kedepan fahriza akan stay dirumah jadi aku memberi mereka libur. walaupun mereka tidak pernah berkeluh merindukan keluarga mereka didepanku. tapi aku manusia yang juga memiliki rasa rindu jadi aku juga bisa merasakan jika mereka butuh pulang untuk melepas rindu dengan keluarga.
tok tok tok
" iya sebentar, astaga tidak sabaran sekali. " tidak taukah dia bahwa aku tidak bisa berlari dengan kursi roda, huh kegiatan menata makanan dimeja makan harus terhenti sejenak. mau menyuruh fahriza orangnya lagi mandi.
ceklek
" cari siapa? " tanyaku setelah melihat seorang wanita muda berdiri didepanku dengan menenteng sebuah amplop coklat ditangannya. ditemani mini dress yang sedikit membentuk lekuk tubuhnya
" eh,,, " alis sebelah kanannya sedikit menukik dengan raut sadis. namun beberapa saat kemudian sebuah smirk muncul dibibirnya.
" aku cari fahriza " kalimatnya berhasil membuatku mematung, tidak salah lagi dia pasti wanita itu. kok wajahnya familiar ya
" fahriza lagi mandi " balasku sembari kembali menutup pintu rumah
terlihat dia sedikit memajukan bibirnya dengan pipi yang dia gelembungkan. dia cantik, aku akui wanita ini memang cantik tapi sayang tidak punya sopan santun sama sekali bahkan kalau dilihat dari wajahnya sepertinya lebih muda dariku. bisa-bisanya fahriza kepincut sama dia " heh ngapain kamu disitu, tamu datang itu dibuatin minuman. " tuh kan baru saja aku berucap sudah keluar lagi sifat aslinya itu.
" siapa fi? " tanya fahriza yang keluar dari kamar sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.
" HONEY...... " teriak wanita itu menggema keseluruh penjuru ruangan setelah melihat fahriza. dengan berlari kecil dia menghampiri fahriza yang tertegun didepan pintu kamar. tanpa membuang waktu wanita itu langsung menghambur memeluk fahriza.
" lepasin " ucap fahriza datar bisa kulihat raut tidak suka dari wajahnya dengan hadirnya perempuan itu.
" ah... maaf, aku lupa kalau kamu nggak suka wanita yang agresif " ujarnya manja setelah melepas pelukannya pada fahriza.
" ngapain kamu kesini? " tanya fahriza ketus. kok dia kayak benci gitu ya bukannya seharusnya dia seneng karena didatengi selingkuhannya kan biar bisa kangen-kangenan.
nggak usah tanya kenapa aku nggak marah. aku cuma mau liatan seperti apa kelakuan mereka jika didepanku, aku sengaja jadi penonton disini agar bisa melihat ekspresi yang dapat kutangkap dari keduanya, dengan begitu aku bisa tau siapa yang menggoda dan siapa yang tergoda
" ih, ketus banget sih hon " ujarnya manja rasanya aku ingin muntah mendengar nada bicaranya yang sangat centil itu.
berbeda denganku fahriza malah keliatan dingin banget, seakan menunjukkan siapa yang memulai semuanya diantara mereka.
" ih kamu ganteng banget sih kalau habis mandi. apalagi rambut kamu yang basah itu bikin sexy tau nggak " makin menjadi nih wanita berbisa.
" CEPAT " bentak fahriza pada perempuan itu hingga membuat kami berdua terjingkat kaget. ini pertama kalinya aku melihat fahriza marah hingga membentak didepanku. saking tidak percayanya aku sampai mengerjapkan mata beberapa kali.
" i.. ih, jangan bentak, kasar deh. aku cuma mau ngasi ini ke kamu " ujar wanita itu lirih campur manja. astaga ni perempuan terbuat dari apa sih hingga masih berani menggoda fahriza, aku aja kalau dinasehatin sama fahriza nangis apalagi dibentak. lah dia santai-santai aja.
alis fahriza berkerut setelah membaca isi dari surat dalam amplop itu. " apa ini? " tanya nya dengan intonasi tidak suka
" ih, kamu gimana sih hon. masa nggak bisa baca disana kan tertera nama aku VARADANIKA POSITIF HAMIL " ujarnya menekankan kata kata terakhirnya
jantungku rasanya berhenti berdetak mendengar ucapan wanita itu, nggak aku pasti salah dengar " k-kamu bilang a- apa tadi? " ucapku dengan bergetar tenggorokan ku rasanya sudah dililit oleh sebuah tali hingga sulit mengucapkan kata kata itu.
" ck ini lagi perempuan lumpuh, kamu tuli? "
" VARA... " teriak fahriza didepan wajahnya " jaga ucapan kamu " cerca fahriza tajam dengan sorot mata yang menyala
" kamu kenapa sih hon, teriak-teriak mulu. aku nggak tuli tauk ntar anak kamu yang disini jantungan dengar suara daddy nya kayak singa " celotehnya tanpa tau malu mengusap perutnya yang datar.
lagi dan lagi aku hanya menitikkan air mata dengan tidak percaya, entah siapa yang bisa kupercaya sekarang
" ikut saya " sarkas fahriza tajam seraya menarik kasar lengan perempuan itu. dia membuang asal handuk dan kertas itu sembarang arah. mereka keluar dari rumah tanpa berpamitan padaku yang hanya menjadi patung setelah mendengar penuturan menyakitkan dari perempuan tadi.
bagaimana bisa ya Allah, bagaimana mungkin fahriza melakukan itu. itu pasti bukan anak fahriza tapi jika bukan fahriza ayahnya kenapa wanita itu menuntut fahriza. dan kenapa fahriza tidak menyanggah pernyataan itu seakan akan dia mengakui bahwa anak yang ada diperut wanita itu adalah anaknya. bahkan dia tidak sedikitpun mencoba menjelaskannya padaku.
dengan pelan aku menggerakkan kursi rodaku memungut kertas yang dibuang fahriza tadi, kertas hasil USG itu menunjukkan jika perempuan bernama varadanika ristan itu sedang mengandung dengan usia kandungan masih 5 minggu.
hahaha..... aku menertawakan kebodohanku, jadi selama aku sakit fahriza bermain dibelakangku pantas dia begitu perhatian padaku kemarin ternyata realitanya takut aku ketahui. aku begitu bodoh hingga tak mencium aroma mencurigakan darinya hahaha.... bodoh kau lufita bodoh.
" Aaarghhhhh..... " aku berteriak sekuatku
terserah tetangga akan mendengarnya terserah aku tidak peduli hatiku sakit menerima kenyataan ini.
" ya Allah fi kamu kenapa jadi begini " teriak sebuah suara dari arah pintu utama aku mengalihkan atensiku untuk mengetahui siapa yang baru saja melihatku hancur sekarang.
" tan hiks hiks.... dia jahat tan hiks... dia ngehianatin aku " aduku seraya memeluk tania yang segera menghampiriku.
" kamu tenangin diri kamu dulu, kamu nggak boleh sterss oke, jangan jadiin beban dulu " arah pembicaraannya seakan tau apa yang terjadi padaku
" selama ini hiks... aku kira dia tulus tan... hiks.. hiks.. ternyata.... "
" syuutt.... udah tenangin diri kamu dulu baru cerita " ujar tania masih mendekapku, jas dokternya basah oleh air mataku
aku menyodorkan hasil usg itu pada tania membuat dia bingung setelah membacanya. " anak fahriza dengan selingkuhannya " matanya terbelalak mendengar penjelasanku dia sampai menutup mulutnya dengan tangannya.
" kamu serius fi? kok aku kayak nggak percaya ya " sanggahnya tidak percaya
" aku nggak akan percaya jika nggak ada bukti tapi sekarang lihatlah hasilnya positif tan hiks... "
" emang kamu yakin itu anaknya bang iza, aku nggak percaya deh fi. bisa aja itu anak orang lain trus wanita itu minta pertanggung jawaban fahriza. mengingat siapa fahriza dan jabatannya, tentu banyak yang menggilainya. "
" aku bakalan percaya sama fahriza kalau aja dia ngejelasin ke aku tadi hiks hiks.... tapi apa tan bahkan dia nggak usaha sama sekali untuk menjelaskannya ke aku dan parahnya dia ninggalin aku sendiri tan hiks..... hiks... " aku kembali mengingat sikap fahriza yang bahkan seolah disana aku tidak ada
" tapi yang nyuruh aku kesini dia fi. " aku meneliti wajah tania terlihat raut kejujuran disana
" kalau dia nggak peduli sama kamu mana mungkin dia nyuruh aku kesini yang bahkan bisa buat kedok dia ketauan "
" ntahlah tan, aku tidak tau siapa yang bisa aku percaya sekarang " air mata terus merembes dari pelupuk mataku seakan genangan ditelaga sana tidak pernah kering.
ya Allah apa ini akhir kisah rumah tanggaku
.
.
.
.
♡♡♡♡♡
jangan marahin author yak
darah tinggi buat episode ini tuh.