LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
PERLAHAN PERHATIAN



waktu sudah menunjukkan pukul 14.45 yah dari kejadian siang tadi aku masih enggan untuk keluar. aku masih merasa malu dengan kejadian siang tadi.


setelah ku pastikan rumah benar benar sepi aku mencoa untuk keluar kamar, karena sayuran yang tadi ku bawa ke kamar sudah mulai terlihat layu. aku menyusuri anak tangga secara perlahan. hingga tidak membuat suara apapun.


saat sudah sampai di bawah ku lihat pintu ruang kerja fahriza terbuka sedikit, untuk memastikan apakah dia ada di dalam atau tidak aku memberanikan diri untuk melihat kedalam


saat sudah berada disamping pintu ku lihat ruang kerjanya kosong. aku menghela nafas lega mungkin dia sedang keluar rumah. syukur lah jadi aku bisa masak dengan leluasa didapur tanpa beban perasaan.


ketika sudah tiba di dapur, aku langsung meletakkan bahan bahan masakan dan yang lainnya pada tempat nya. ku teliti satu persatu bahan bahan yang ku masukkan ke kulkas dan lemari penyimpanan bumbu bumbu masakan. "ehem"


"astaghfirullah" sepontan aku kaget mendengar seseorang ya baru saja berdehem di belakang ku. aku mengelus dadaku yang tiba tiba terasa mau copot dari tempatnya.


aku memejamkan mataku mencoba untuk tetap tenang, duh kenapa jantungku terus saja loncat loncat. yah jantungku kembali melakukan aktivitas rutin yang melampaui batas saat berada di dekat orang yang menciumku tadi.


"fi?" panggilnya padaku sedangkan aku masih terus mencoba menenangkan jatungku yang tidak berhenti lari marathon. perlahan aku membalikkan tubuhku menghadap fahriza yang baru saja memangggil ku. "huuhh tenang tenang, anggap saja tidak pernah terjadi apapun" ujar batinku.


"i..iya," jawabku tergagap


fahriza memandanku heran sambil melirik ke dalam kulkas yang terbuka disampingku.


"kamu lagi ngapain?"


"a.. itu lagi nyimpen belanjaan yang tadi di beli ke dalam kulkas"


"kamu dari mana?"lanjutku bertanya pada fahriza


"kamar mandi"jawabnya singkat.


duh kok jantungku nggak berenti loncat loncat ya, aduh.


"saya mau bilang kalo besok ibu sama ayah mau kesini" ucapnya datar.


"kok kamu tau aku disini?"tanya ku bingung,


" saya tadi mau minum, kebetulan kamu disini ya udah sekalian aja saya bilang"


"oohh baiklah," ujarku yang sudah menenangkan sang jantung hati.


drriitt driiitt....... ponselku tiba tiba berdering dilayar tertera tulisan MAMA ehm kayaknya mama udah mau on the way ke sini deh. "mama" ujarku pada fahriza yang hanya mengangguk dan mencomot sebutir apel di dalam kulkas yang sudah ku bersihkan tadi.


" assalammualaiku ma," sapa ku pada mama di sebrang sana


" waalaikumsalam, fi kayaknya mama sama papa kerumah kamu besok aja ya, soalnya papa sore ini mau ketemu sama klien kantor" ucap mama to the poin


" loh kok bisa ma, hari ini kan hari sabtu, masa iya papa nggak dapet libur?" tanyaku


"hem, sayang namanya juga kerja kayak kamu juga, kalo ada pasien jam berapa pun kamu harus siap. gitu juga papa, dia harus bisa profesional dengan kerjanya." jelas mama lembut


"ya udah deh, tapi janji ya besok kesini" ujar ku manja pada mama


"iya sayang mama janji besok mama sama papa pasti kerumab kamu kita sekalian nginep disana."


" iya, fifi tunggu besok."


" udah dulu ya, assalammualaikum" ucap mama mengakhiri panggilan telpon kami


" waalaikum salam" jawabku datar


"hari ini mama nggak jadi kerumah" ujarku pada fahriza setelah menutup telpon dari mama.


"kenapa?" tanya nya singkat yah seperti biasa sikap dinginnya kembali menerpa.


"katanya nanti sore papa ada urusan mendadak di kantor, jadi besok mereka baru kesini" tuturku lemah, aku nggak habis fikir kenapa papa terlalu sibuk bekerja, padahal kalau dipikir pikir nih ya dia cuma tinggal berdua sama mama jadi ngga perlu kerja kayak dulu lagi waktu masih menanggung hidupku.


"emm,," fahriza menatapku sekilas lalu berdiri pergi meninggalkanku. tapi baru dua langkah ia meninggalkan dapur, dia kembali lagi dan menatapku" yang tadi siang itu, lupain aja" tukasnya lalu pergi kembali keruang kerjanya.


Apa? kejadian tadi siang disuruh lupain, dia pikir aku pengidap alzaimer yang dengan mudah melupakan apapun. "dasar tidak bertanggung jawab" rutukku setelah dia benar benar meninggalkan dapur. ngapain sih pakai cium cium aku segala ntar kalo aku jatuh cinta beneran kan ribet Haduhhh.


••••••••••


selesai sholat maghrib berjamaah dengan fahriza, aku langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan.


malam ini aku masak perkedel jagung, asam pedas ikan, tumis buncis, sederhana sih yang penting nggak mubazir. aku lebih suka lauk kayak gini dari pada yang aneh aneh.


"itu ikan asam pedas, makanan khas pontianak. nggak aku racunin ko" ujarku sambil meneguk air putih.


dia melirik ku dan tersenyum" bukan itu maksud saya, kenapa kamu belum mengisi piringmu dengan nasi dan lainnya?" ujarnya lalu mengambil sepotong daging ikan asam pedas kedalam piringnya. ah iya karena terus memperhatikan fahriza mengambil lauk buatan ku, aku sampe lupa ngisi piring sendiri nggak mungkin dong aku cuma makan piring doang. ketika aku sudah mengisi sendokku dengan nasi dan kawan kawannya, aku tak sengaja melihat ekspresi fahriza yang sulit ditebak." duh kayaknya nggak sesuai dengan seleranya deh" ujar batinku.


"nggak enak?" tanyaku membuatnya berhenti menyendok dan menatapku.


"aku baru tau rasa ikan asam pedas itu kayak gini" ucapnya datar.


"maksudnya?"


"dulu aku penah liat di rumah makan pontianak, dideket kantor. cuma aku nggak niat buat beli"


"trus?" tanyaku penasaran bagaimana tanggapannya dengan masakanku


"enak nggak kalah enak dengan masakan diluar sana" ucapnya membuat senyum terukir di kedua sudut bibirku.


fahriza terus menyantap masakanku dengan antusias, sedangkan aku hanya senyam senyum mendengar pengakuan dari fahriza tadi.


setelah selesai makanan seperti biasa fahriza mencuci piringnya, tapi kali ini bukan hanya piring yang dia pakai untuk makan tadi tapi juga peralatan masak kotor yang lain dan juga piringku. tadi aku sudah melarangnya karena itu adalah tugasku, namun dia bersikeras dia bilang aku pasti lelah karena terlalu banyak kerja seharian. ya sudah orang dia yang maksa, jadi aku pergi ke ruang tamu duduk bersantai disana sambil mengecek media sosialku, "ah udah lama nggak buka sosmed" ujarku.


tak berapa lama aku duduk maminkan ponsel ku lihat fahriza sudah selesai mencuci piring dan sekarang dia naik ke atas. hem, ngapain ya dia keatas, fahriza nggak pernah tidur di jam segini, paling awal tu ya jam 10 malam. apa jangan jangan dia sakit kali ya karena nyuci piring.


dengan cepat aku mengikuti fahriza menaiki tangga menju kamar atas saat tiba di depan pintu kamar aku ingin masuk mengikutinya tiba-tiba dia menutup pintunya dan"awwwww......." teriakku karena keningku kejedot dengan pintu kamar seketika pintu terbuka " Lufita...." ucapnya kaget melihat ku di depan pintu kamar yang ia tutup dengan cepat tadi. " kamu nggak apa apa" ujarnya khawatir


"gila nggak liat aku kesakitan kayak gini, masih nanya gak apa apa" umat batinku


"eh, aku nggak apa apa ko," ujarku tersenyum palsu padahal ni kening sakit banget. tiba tiba sebuah cairan merah meluncur dari kening ku yang kejedot pintu tadi. sontak aku dan fahriza kaget. " fi, kening kamu berdarah" ujarnya panik dengan cepat dia menarik ku masuk ke dalam kamar. dia mendudukkan ku di pinggir ranjang.


sedangkan dia pergi mencari kotak p3k di dalam lemari obat. setelah menemukan kotak p3k dia langsung duduk di hadapanku sambil berjongkok. aku masih mematung dengan terus memegangin keningku tapi tidak di daerah yang terluka, kepalaku sedikit pusing.


dengan pelan fahriza membersihkan luka dikeningku " aww.." aku meringis kesakitan karena luka ku bertemu cairan pembersih luka yang lumayan menyakitkan.


" sakit ya?" tanya nya khawatir


duh ni orang gimana sih namanya luka ya sakitlah pake nanya lagi. aku masih terus meringis kesakitan. dan fahriza sudah mengolesi betadin lalu memplester luka ku. setelah selesai dia langsung meletakkan kotak p3k di meja samping tempat tidur lalu pergi kekamar mandi


setelah bermenit menit di kamar mandi dia keluar sambil mengucak ucak rambutnya dengan handuk. dia duduk disampingku yang masih memijit-mijit kepala. "masih sakit?" tanya nya dengan raut wajah yang masih khawatir. aku hanya menggelengkan kepalaku dengan cepat tanpa melepas pijatan tanganku.


tanpa perintah dari ku dia memegang kepalaku den memijatnya dengan lembut. "kamu kenapa bisa ada dibelakang saya?" tanya nya lirih, aku yang sudah menghentikan pijatan ku setelah ia mengambil alih menggeleng tanpa membalas tatapannya.


terdengar dia menghembuskan nafasnya secara perlahan hingga aku merasakan terpaan dari nafasnya, jarak kami lumayan dekat sekitar satu jengkal.


"kamu nggak pernah masuk ke kamar di jam segini, jadi aku ikutin, aku kira kamu sakit." jawabku akhirnya membuka suara karena dia juga ikut diam setelah bertanya tanpa ada jawaban.


" badan saya berkeringat setelah cuci piring tadi makanya saya kekamar untuk mandi" tuturnya lembut. kini dia sudah tidak memijit kepalaku lagi, dia naik keatas kasur dan merebahkan tubuhnya disampingku.



"kalau masih sakit bilang aja, sekarang saya sangat ngantuk" ujarnya lalu membalikan badan membelakangi ku


aku yang dari tadi diam kini juga merebahkan tubuhku ke kasur dan juga membelakangi fahriza, namun yang ku lakukan hanya mentap dinding kamar, aku tidak tau kenapa mata ku tidak ingin tidur. "apakah aku mengidap insomnia"


"tapi kurasa tidak, karena selama ini mataku selalu mengantuk selepas isya, tapi kenapa sekarang tidak ya"


malam ini aku benar benar gelisah entah apa penyebabnya aku juga tidak tau. sekarang aku membalikkan tubuhku menghadap fahriza, dan betapa kagetnya aku kalau ternyata dia juga tidur menghadap diriku.


kalau dilihat begini, wajah polosnya benar benar sangat tampan. bentuk wajah yang bagus, hidung yang mancung, bibir yang mungil, mata yang bulat dilengkapi tatapan tajam. belum lagi bulu matanya yang lentik dan tebal. sangat berbanding terbalik dengan ku. kadang aku suka iri melihah hidungnya yang mancung itu. hidungku mancung tapi kecil bahkan kalau dilihat dari jauh seperti pesek.


"loh kok aku jadi dag dig dug gini ya" ujarku pelan takut kalau membuat suara nanti aku tidak bisa menikmati keindahan wajahnya fahriza lagi mumpung orangnya udah tidur.


selama aku berbicara dengannya, aku hanya menatapnya sekilas tanpa meniliti lebih dalam setiap inci wajahnya.


tapi tunggu ada apa denganku, sejak kapan aku tertarik untuk melihat wajahnya. "apa jangan jangan......" aku menepis pikiran ku.


aku nggak mungkin jatuh cinta sama manusia kutub seperti dia, bagaimana kalau semakin dingin dan tidak mempunyai rasa terhadap manusia. yang ada aku lagi yang mati rasa entar."ah nggak nggak aku nggak boleh jatuh cinta sama fahriza". ujar ku sambil mencoba menutup mataku yang susah sekali untuk di pejamkan.


💕duh bener nggak ya, kalau persaan lufita ke fahriza adalah cinta.


buat para readers maaf banget ya kalau misalnya terdapat typo dimana mana. soalnya saya orangnya juga kurang teliti. 😊


Buat yang udah baca mohon komentarnya, saya harap kalian bisa ngasi masukan yang positif supaya saya lebih semangat lagi ngelanjutin episodenya💕 see you.......