LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
NEED YOU



waktu maghrib telah berlalu sekarang berganti dengan waktu isya. tapi fahriza masih belum pulang dia juga belum memberiku kabar.


tiga bulan setelah kejadian ditaman hari itu fahriza menyulap dihalaman depan rumah kami menjadi sebuah taman berbagai jenis tanaman tertata dengan indah disana. dia bilang biar aku nggak bosen dirumah.


kamar kami juga sudah pindah kekamar bawah fahriza melakukan itu semua supaya memudah aktivitasku jika ingin bolak balik kamar tanpa perlu bantuan. perlahan aku juga mulai membiasakan akvitasku seperti dulu walau mengalami banyak tentangan dari para ART ku dirumah mereka khawatir akan kondisiku tapi yah aku juga tidak bisa berdiam diri seperti itu, mungkin karena aku sudah terbiasa bekerja jadi ketika berhenti rasanya semua tulangku lemah karena kekurangan aktivitas.


yah aku berhenti bekerja dirumah sakit karena kondisiku. aku tak ingin merepotkan semua orang disana jadi aku putuskan untuk resign. sebenarnya fahriza tidak setuju karena keputusan yang ku ambil tapi pendirian ku sudah mantap aku tak ingin dipandang dengan tatapan kasihan oleh orang yang melihatku jadi aku lebih menutup diri untuk sekarang.


aku masih belum berniat untuk melihat dunia luar seperti dulu, aku takut membuat fahriza malu walau berulang kali dia meyakinkanku bahwa rasa malu untuk memiliki orang yang mempunyai kekurangan seperti ku tidak pernah ada dalam kamus hidupnya.


namun seribu kalipun dia mengatakannya kepadaku, prinsip kita berbeda dia memiliki kepercayaan diri yang tinggi sedangkan aku? aku masih takut dihadapkan dengan orang yang memandangku rendah.


cup


sebuah kecupan singgah dipucuk kepalaku yang tertutup oleh jilbab. kulihat pelakunya sudah melepas jasnya dan sekarang berjongkok didepanku mensejajarkan tinggiku seraya mengendurkan simpulan dasinya.


" kenapa masih diluar neng? " suara bariton dengan intonasinya yang lembut itu mulai menyapaku


" neng? " sejak kapan namaku berubah jadi neneng


dia tersenyum kearahku lalu mengulurkan tangan kanannya mencupit gemas pipi kiriku


" kenapa masih diluar sayang ini udah malem jangan terlalu banyak makan angin "


aku meraih tangan kanannya yang tadi dia gunakan untuk mencubit pipiku, lalu perlahan ku kecup punggung tangannya itu.


" nungguin kamu "


" kenapa nggak nungguin didalam aja? "


" aku nungguin kamu sambil ngelirik purnama " ujarku seraya menunjuk langit dengan dihiasi sinar rembulan.


dia mengikuti arah telunjukku sedetik kemudian dia kembali menatapku


" indahkan? " aku kembali menengadahkan kepalaku untuk melihat sinar puranama yang perlahan mulai memudar karena awan.


" keindahan wajah sang bulan tak akan bisa mengalahkan keindahan wajah bidadari dihadapan saya ini " ujarnya membuatku kembali menatap lelaki dengan netra coklat itu


sebuah senyuman hadir diwajahku mendengar gombalannya entah kenapa akhir-akhir ini dia senang memberikan rayuan untukku.


" udah ah gombal terus, yuk makan dulu "


" kamu belum makan " dia mulai berdiri sambil medorong kursi rodaku jas dan tasnya ku letakkan diatas pangkuanku. aroma parfum khasnya yang masih melekat di jas kerjanya menyeruak masuk kedalam indra penciumanku.


tenang dan damai ketika aku mencium aroma khas tubuhnya.


" belum "


" ck jangan bilang kamu nungguin saya? " tebaknya membawaku kearah meja makan


" saya kan udah bilang kalo saya pulang malam jangan nungguin saya, kamu harus makan tepat waktu lalu minum obat " celotehnya yang mulai duduk dikursi meja makan


sedangkan bik wari dan bik nini mulai sibuk memanaskan sayur dan menghidangkannya dimeja makan


aku memang melarang bik wari untuk menghidangkan makanan tadi karena pasti akan dingin jika fahriza pulang telat jadi kuputuskan untuk menunggunya saja baru dihidangkan.


" makasih ya bik " ujarku ketika bik wari mulai meletakkan nasi dan yang lainnya didepanku dan fahriza


" sama sama non "


" bik wari sama bik nini udah makan? " tanyaku pada bik wari dengan bik nini yang sibuk menghidangkan lauk dimeja makan


" belum non "


" ya udah duduk disini makan bareng kita "


" nanti saja non, kita mau kebelakang dulu " tolaknya halus mungkin masih sungkan dengan kami


" lanjut besok aja bik lagian udah malem kita makan dulu " kali ini fahriza yang mengajak mereka


" nggak pa pa den biar cepet selesai. nggak baik nunda-nunda pekerjaan "


" ya udah kalau gitu, jangan sampe telat makan ya bik " lanjut fahriza


" iya den, maaf kita permisi dulu "


aku dan fahriza hanya tersenyum membalas ucapan bik wari dan bik nini


" ini kamu yang masak? " tanya fahriza setelah menyendokkan nasi beserta lauknya kedalam mulut. matanya mentapku yang masih sibuk mengambil sayur asem hingga satu anggukan kecil dari kepalaku membuatnya memegang kedua pipiku berhasil membuatku menoleh membalas tatapannya


" nggak enak ya? " tanyaku ragu membuatku menggigit kecil bibir bawahku menghilangkan rasa gugup akan tatapan intimidasi darinya


helaan nafas yang baru saja dia keluarkan mengenai permukaan kulit wajahku karena dia yang mulai mengikis jarak diantara kami. tatapan tajamnya membuat nyaliku sedikit menciut mungkin rasa masakanku aneh karena lama tidak pernah berkecimpung di dapur


" masakan kamu enak, bahkan enak banget. "


" kamu tau selama ini saya rindu masakan kamu tapi saya berusaha untuk bersabar, tidak meminta kamu memasak mengingat kondisi kamu. "


" saya melakukan itu karena tidak ingin kamu terluka, kamu berkecimpung didapur dengan berbagai alat sederhana yang kita lihat tapi bisa membahayakan, saya selalu menghawatirkan kamu itulah kenapa saya melarang kamu bekerja dirumah contohnya memasak. "


" gimana kalo kamu kecipratan air panas? "


aku menundukkan kepalaku mendengar nasehatnya


" bik nini sama bik wari bantu kamu? "


aku hanya menggeleng kecil menjawab pertanyaannya


" sudah saya duga pasti kamu larang mereka buat bantu kamu. kamu nggak boleh egois maksain diri kamu buat selalu bisa "


" dengan bik wari sama bik nini bantu kamu bukan berarti mereka jadi kaki tangan kamu mereka hanya menolong kamu "


dia menarikku untuk masuk dalam pelukkannya sesekali dia mengecup bahuku


" oke saya ijinin kamu beraktivitas kayak biasa dirumah tapi dengan catatan harus mau dibantu sama bik nini dengan bik wari yah " dia masih mengusap pelan punggung ku


" maaf " hanya kata ini yang mampu keluar dari mulutku


" saya nggak marah sama kamu, saya hanya takut terjadi sesuatu ke kamu yang bisa membuat saya menyesal lagi. " lanjutnya


" dah lanjutin makannya setelah itu minum obat " titahnya membuat kedua sudut bibirku sedikit terangkat


tingkat kekhwatiran laki laki ini sangat tinggi padaku bahkan setiap jam istirahat kantornya dia selalu melakukan panggilan vidio denganku mengecek kondisiku dirumah.


.


.


.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


detakan jarum jam terus bergema memecah kesunyian malam, aku yang sudah duduk diatas kasur merapikan bantal bersiap untuk terjun kedunia mimpi.


perlahan dia sedikit menaikkan daster tidurku membuat aku bingung akan sikapnya.


dengan hati hati dia mengangkat kaki ku membawa keatas kepangkuannya, dengan lembut dia mulai memijat pelan kaki ku sambil sesekali memperhatikan buku kecil yang dia letakkan disampingnya.


" kamu ngapain? " akhirnya kalimat itu terlontar juga dari mulutku karena pernasaran atas perlakuan fahriza


" saya dikasi buku tentang step step pengobatan pada tulang yang bermasalah." sambil memijit pelan pergelangan kakiku.


" coba liat "


dia menyodorkan buku berukuran sedang disampingnya itu padaku


" bukannya kalo menurut medis itu bahaya ya jika tulang patah dipijit? " tanyaku saat mengambil buku itu dari tangannya


" riset medis dengan riset herbal itu suka berselisih. yah terkadang banyak terjadi perbedaan paham disana tapi ujungnya juga berkhasiatkan? tujuannya sama sama mencoba menyembuhkan. seperti yang saya bilang penyembuhan sebenarnya itu datang dari Allah kita coba usaha dulu "


" suami siapa sih pinter banget " ujarku sambil memajukan bibir


" suami bidadari " jawabnya datar


hanya kekehan yang keluar dari mulutku mendengar jawabannya


" bahasa inggris semua? " aku mengernyitkan alis saat mulai membaca dan melihat tulisan tulisan yang tertera disana beserta beberapa bahasa ilmiah tentang perawatan untuk tulang yang mengalami masalah


" tadi sore temen saya waktu kuliah di london datang kekantor, dia dokter di st thomas. kebetulan dia memiliki tugas disini selama tiga hari jadi dia ngirimin pesan ke e-mail saya bilang pengen ketemu. "


" nah dia ini dokter ortopedi (dokter spesialis tulang) dan yah saya cerita tentang kondisi kamu. dan akhirnya saya dikasi buku tentang kesehatan tulang itu trus nanti dia bakalan kerumah buat liat kondisi kamu secara langsung " jelasnya membuat aku manggut manggut sambil sesekali membaca isi dari buku tersebut.


" laki laki? " dia menghentikan kegiatannya memijit kakiku kemudian melirik kearahku


" iya "


" cemburuan banget sih, sampe diintrogasi " lanjutnya mulai kembali memijat kakiku


" ih nggak gitu bang za, aku cuma nanya doang kok siapa tau kan perempuan "


" kalo perempuan emangnya kenapa? " dia mulai menyudutkanku


" ya nggak kenapa napa juga, cuma nanya aja nggak boleh? " sarkasku yang merasa tersudutkan


" hahaha.... saya tuh suka banget kalo liat kamu cemburu. pipi kamu yang tirus itu makin keliatan gemesin "


" iiih ngeselin banget sih. aku nggak cemburu bang zaaaaaa "


" iya iya kamu nggak cemburu " sambungnya masih dengan kekehan kecil


" ck ih, bang zaaa " rengekku kesal karena tuduhannya yah sebenernya emang kenyataan sih


" iya iya. "


" trus kapan dia mau kerumah? "


" belum tau sih nanti dia ngabarin lagi. "


setelah selesai memijit kaki ku kini dia merapikan dasterku yang sedikit dia naikkan tadi.


" dah tidur, jangan begadang nggak baik. " ujarnya seraya berbaring disebelahku sembari melingkarkan tangannya diperutku lalu mengusapnya pelan


" maaf ya "


dia menatapku penuh tanya akan permintaan maafku


" maaf belum bisa ngasi kamu keturunan "


" jangan bahas itu lagi. " ujarnya singkat kemudian menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku


" akan ada masa dimana kita bahagian bersama mereka " ucapnya pelan diiringi deruan nafasnya yang menyapu leherku


perlahan nafas hangatnya mulai teratur, namun aku masih bergelut dengan fikiranku entah apa saja yang masih nyangkut di otakku dan mengganjal hatiku hingga membuat mataku masih enggan terpejam.


perlahan kugerakkan tubuhku yang semula di posisi terlentang untuk miring ke kanan menghadap fahriza sembari memberikan kecup di pipinya


" i need you, so please don't leave me " ucapku pelan kemudian mulai menutup mata mencoba mengikutinya ke alam fantasi


" me too need you, so i can't leave you " bisiknya pelan ditelinga ku


mataku yang semula sudah tertutup kini kembali terbuka untuk melihat wajahnya. bukankah tadi dia sudah tidur apa dia mengigau? tapi kenapa kata katanya nyambung dengan permintaanku tadi


" kamu belum tidur? " tanyaku sembari mengerjapkan mata


" udah " tanpa membuka matanya


" kok bisa ngomong? "


" saya kan nggak bisu "


" ih bang zaaaa...... "


.


.


.


♡♡♡♡♡♡♡


yaaakkk.....


hehehe sorry jan kesal e


baru up


maaf ya baru penuhin permintaan update nya soalnya masih disibukkin sama seabrek ujian praktek


dan saya juga mau kasi tau mungkin setelah ini up nya bakal lama binggo karne menjelang UAS jadi mau fokus kesana dulu😭 bakalan raindu


tapi saya coba deh buat ngetik juga semoga nggak bentrok aja


doain ya ujian saya lancar hehehe....


maaf ya kalo ada pemaknaanya yang salah atau pengetahuan saya yang kurang saya juga masih berlajar. sekian


koment jan lupa e biar nanti saya baca


saya seneng banget baca komentar dari kalian hehehe maaf ya kalo nggak saya bales


semoga klean sehat selalu


see you on my next up 💕💕💕💕