
fahriza
》》》》》
beberapa kali aku melirik ponselku sudah hampir pukul 4 sore kenapa lufita tidak menelponku seperti biasa ya
biasanya sebelum jam 4 dia sudah menelfonku dengan rentetan daftar makanan yang akan dia pesan aku jadi gelisah karena sampai saat ini dia belum kunjung menelfonku
setelah menyelesaikan pekerjaanku aku segera turun kebawah meninggalkan kantor, para karyawan yang juga sudah mulai kembali kerumah mereka masing masing
aku menambah kecepatan berkendaraku aku takut terjadi sesuatu padanya karena saat ku telfon tadi ponselnya tidak aktif berulang kali kutelfon masih tetap tidak aktif
ketika aku menelfon nayra dia bilang fifi udah pulang duluan bahkan sebelum para dokter yang ada dirumah sakit itu pulang dia bilang kalau fifi meminta izin karena tidak enak badan
pikiranku penuh dengan bayangan fifi aku takut terjadi sesuatu padanya setelah mobil sudah tiba digarasi rumahku aku segera turun untuk menemui lufita rumah terlihat sepi seperti tidak ada orang tapi digarasi motor lufita sudah terparkir
aku mencoba memeriksa dapur, kamar mandi bawah ruang tamu, kamar tamu ruang keluarga bahkan ruang kerja ku juga tidak ada biasanya rumah tidak pernah sesepi ini kalau dia ada setidaknya gelak tawanya terdengar didapur atau panggilannya menyambutku pulang
sekarang tinggal kamar kami aja yang belum ku periksa disana juga tidak terdengar apapun
kletek
suara pintu terbuka ku lirik kesegala sudut ruangan juga tidak ada kasur juga masih tertata rapi dikamar mandi juga tidak ada
perasaan khawatir semakin menyelimutiku kemana dia sekali lagi aku ingin menelfonnya tapi mataku melihat nakas disamping kasur terlihat ponsel milik fifi sedang di charger berarti dia dirumah sekarang tapi dimana
aku melirik kearah balkon kamar cuma disana saja yang belum aku cek saat ku periksa benar saja lufita berdiri membelakangiku dengan tangan yang memegang pagar besi yang melingkar
kuhampiri dia dan langsung memeluk tubuhnya bisa kurasakan dia kaget dengan kehadaran ku yang tiba tiba mendekapnya
" abang za kapan pulangnya? kok nggak kedengeran suara mobil bang za " ucapnya kaget aku tau pikirannya pasti sedang kalut ntah apa yang membuat perasaanya gundah
" kamu aja yang ngelamun dari tadi, kamu tau gak saya khawatir banget karena kamu nggak nelfon saya trus pas dicariin dirumah nggak ada untung saya belum telfon polisi " ujarku sambil mencubit pelan pipinya
" hehe... maaf fifi cuma mau nikmatin senja dari sini " ucapnya lembut
aku membenamkan wajahku di lehernya tanganku masih melingkar di perutnya memeluknya dari belakang
" kamu kenapa? "
" ha? "
" kalau kamu punya masalah kamu cerita aja sama saya nggak usah takut saya ini suamimu dan saya juga tempat berbagi dalam hidupmu "
" janji ya nggak akan marah "
" iya "
" tadi aku ketemu dokter dimas "
kalimatnya terhenti memberi jeda
" trus dia bilang dia akan melanjutkan s2 nya di belanda "
" jadi itu yang buat kamu sedih dan gelisah kayak gini "
" ii ih bukan itu dengerin dulu tadi dokter dimas bilang dia mau mengatakan sesuatu sebelum pergi "
" kalau dia.... dia... "
" suka sama kamu " serobotku mendengar kalimatnya tergantung
dia membalikkan badannya menatapku bingung
" kamu tau " ucapnya penasaran
kuerat pelukanku padanya membuatnya juga melingkarkan tanganya di pinggangku
" ketika laki laki menatap perempuan sangat lama bahkan hanya lebih dari 5 detik saja itu artinya bukan tatapan biasa tapi tatapan penuh makna "
" dan saya melihat dimas melakukan itu padamu waktu dia mengantar kita pulang dari villa milik vino kemaren saya tak sengaja beberapa kali melihat dia melirik kearah kamu yang sedang menangis dari tatapannya bisa digambarkan kalau dia juga ikut merasakan kesedihan dan bimbang untukmu "
" kenapa abang nggak cerita sama aku? "
" saya tau kamu itu tipe perempuan yang selalu memikirkan apapun perkataan orang padamu oleh karena itu saya diam saya nggak mau kamu terus memikirkan hal yang membuatmu merasa bersalah "
" abang za nggak marah? " tanyanya sambil mendongakkan kepala untuk menatapku
sebenarnya tinggi badannya dengan ku tidak jauh beda hanya saja tubuhku lebih tinggi sedikit darinya
" kenapa saya harus marah? "
" ya kan istri abang disukai sama pria lain biasanya laki laki itu bakalan marah kualitas tinggi kalo dia tau wanitanya di sukai sama laki laki lain " ucapnya lembut
" hem, dia kan nggak minta buat suka sama kamu lagian kamu kan juga nggak ngebales perasaan dia "
" saya percaya sama kamu " ujarku menatap manik matanya yang teduh itu
dia kembali menenenggelamkan wajahnya di dadaku pelukanya makin erat " parfumnya jangan diganti ganti ya fifi suka " ucapnya tiba tiba
sejak kapan dia menyukai wangi parfumku biasanya dia protes karena baunya nanti bisa memikat wanita lain dan sekarang dia malah menyuruhku untuk tidak ganti wangi parfumnya dasar bumil suka aneh aneh aja
" gimana kabarnya? "
" kabar apa? "
" huuftt, anak ayah ini gimana kabarnya? baik kan jangan nyuruh ibu minta yang aneh aneh ya? " ujarku sambil mengusap perutnya yang masih ramping
dia tersenyum getir terlihat guratan kurang menyenangkan diwajahnya
" fi? "
dia kembali membenamkan wajahnya didadaku dengan tangan yang masih melingkar dipinggangku " bang za maafin aku jujur sebenarnya aku belum siap buat punya anak "
" kenapa? " tanyaku melepas pelukannya dan menatapnya tajam kenapa dia bilang belum siap punya anak apa dia nggak mau punya anak
" aku takut aku tidak bisa mengurus anak ku dengan baik apalagi sikapku yang belum bisa dewasa ini aku takut bang za ......."
" kamu tidak mengurusnya sendirian kamu punya saya kita besarkan anak kita sama sama " ucapku memotong kalimatnya
dia memalingkan wajahnya dari pandanganku kuraih kedua pipinya hingga kembali menatapku kuusap lembut pipi mulusnya yang tirus itu
" saya disini sebagai pemimpin, imam, suami, juga seorang ayah apapun kesulitan yang kamu alami saya selalu ada untuk membantu menyelesaikannya ........saya kan juga pernah bilang kalau saya akan selalu disisimu dan merawat anak kita bersama hingga salah satu dari kita dipanggil sang maha pencipta "
" maafin aku karena terlalu takut untuk melewati semuanya sampai aku lupa bahwa aku punya laki laki yang kuat dan penyayang seperti mu "
air mata mulai mengalir dipipinya perlahan ku hapus dengan jemariku " bukankah saya sudah pernah bilang saya tidak suka melihatmu menangis "
dia kembali tersenyum dengan tipis menampilkan gigi kelinci miliknya
••••••••••
dengan setengah berlari aku menyusuri tangga aku sampai menjatuhkan berkas berkas diatas meja kerjaku dan kini berserakan dilantai diruang kerja karena nggak sengaja tersenggol dari tempatnya saat berlari
haduh ada apa lagi dengannya apa dia terpeleset didalam
fikiran negatif tiba tiba menelusuriku karena teriakan lufita yang keras tadi
" ada apa? " tanyaku ketika sudah membuka pintu dan mendapatinya sedang duduk di pinggir kasur
aku mengernyitkan dahi melihat dia baik baik saja dan menatapku kesal
" kamu kemana aja sih, aku mau tidur " ujarnya ketus
" saya diruang kerja "
" sini aku nggak bisa tidur kalo nggak dipeluk "
" astaghfirullah fifi saya masih ada kerjaan dan semuanya saya tinggalin berserakan dilantai kali ini kamu tidur sendiri dulu ya " ucapku menahan kekesalan karena sikapnya aku tau dia sedang hamil dan sifatnya juga tergantung mood dari hormonnya tapi aku juga masih banyak kerjaan kalau ditunda terus kapan selesainya
lagian aku nggak mungkin nyuruh dara pekerjaan dia juga banyak akibat aku ngulur ngulur waktu kemaren dan dia kena imbasnya kasian dia apalagi dia perempuan
" hiks hiks bang za marahin aku, hiks.... " tangisnya mulai merambah membuatku tak berdaya dan mendekatinya
aku mengusap tengkuk ku melihatnya menitikkan air mata rasa bersalah menyelesap masuk ke perasaanku
" udah ya nggak usah nangis, oke saya temenin dulu setelah kamu tidur baru saya selesaikan pekerjaan saya " ujarku sambil berjongkok membelai pipinya
dia mah tau aja titik kelemahanku dengan tangisan dia aja udah buat aku luluh dan nurut sama maunya dia
" dingin, AC nya matiin " ucapnya sambil melingkarkan tangan di pinggangku posisiku masih duduk seraya menepuk pundak lufita agar dia segera tidur dan aku bisa melanjutkan pekerjaanku yang tertunda
aku menurut saja dengan perintahnya mengambil remot dilaci nakas disebelahku dan mematikan AC
" abang za peluk " rengeknya seperti anak kecil yang minta dibeliin eskrim
lagi lagi aku mengikuti perintahnya aku mensejajarkan tubuhku disampingnya lalu membalas pelukan lufita
" kipasin dong, panas " ujarnya enteng membuat ku kesal tapi ku tahan
oke sabar cuma sembilan bulan sepuluh hari aja fahriza kamu harus seperti ini. ini juga demi anakmu
aku kembali membuka laci nakas dan mengambil buku tipis yang terdapat disana untuk dijadiin kipas
tak lama mengipasi lufita dia sudah tidur dalam dekapan ku secara perlahan aku melepas pelukannya dan kembali keruang kerjaku memungut kertas kertas yang berserakan dilantai lalu kembali menatap layar laptop didepanku
satu persatu aku teliti setiap berkas yang harus kutanda tangani dan sesekali kembali melirik laptop melihat e mail yang masuk hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 01.05 pekerjaanku baru selesai mataku juga sudah mulai ngantuk
setelah membereskan semua berkas yang masih berserakan di meja aku kembali keatas untuk tidur
kulihat lufita sudah sangat jauh masuk dalam mimpinya kurebahkan tubuhku diatas kasur disamping nya dan mulai memejamkan mata mengikuti lufita yang telah terlelap jauh dalam mimpi
belum lama mataku terpejam aku merasa lenganku kiriku digoyangkan hingga membuatku terpaksa membuka kelopak mata dan melihat lufita yang duduk sambil terus memanggil namaku
aku mengerjapkan mata karena kantuk masih menyelimuti ku " ada apa? "
" bang za? fifi mau makan bubur pedas cariin dong " ucapnya manja
" ya Allah fi ini udah tengah malem besok aja ya " balasku lembut dan berniat melanjutkan mimpiku
tapi suara isak tangis yang pelan itu membuatku mengurungkan niat tadi untuk tidur dan kembali menatap lufita aku menghembuskan nafas kesal lalu meraih pipinya dan mengusap air matanya " ya udah saya cariin dulu " ucapku akhirnya mengalah
dia menatapku dengan tatapan berbinar seperti dapat harta karun " sekalian buah mangga ya " tambah fifi lalu menatapku dengan bahagia
aku tersenyum getir mengingat dimana aku harus mencari pesananya itu di tengah malam kayak gini dimana semua manusia sedang asiknya terbuai dengan dunia fantasi
ya Allah tabahkalah hamba mu ini
••••••••••
" hooaammmpp "
suara menguap akibat kantuk terdengar dari mulutku aku yakin pasti sekarang mataku kayak mata panda karena aku tidur udah jam setelah sholat subuh akibat siapa lagi kalau bukan lufita dan sekarang aku tidur disofa ruang keluarga takut nanti tidurku diganggu lufita lagi badanku aja rasanya pegel banget
apalagi mengingat kejadian malam tadi kekesalanku berlipat lipat bagaimana tidak aku sudah membelikan semua pesanannya trus mangga itu cuma di belah dikit doang dan bubur pedasnya cuma dimakan lima sendok laku aku yang disuruh ngabisin dia bilang bubur pedasnya nggak enak
bumbunya kurang lengkaplah inilah itulah huh panjang lebar dia nggak tau perjuanganku mencari pesananya yang super duper susah itu untung aja teknologi sekarang canggih jadi aku search aja lewat internet tempat jual bubur pedasnya
trus dia nggak bisa tidur katanya mau minum susu
setelah meminum susu ibu hamil buatanku bukannya tidur malah nonton tv mataku udah kayak lampu lima watt tiga kali aku memaksanya untuk tidur akhirnya dia nurut juga
tapi..... banyak rentetan ritual tidurnya mau sikat gigi dulu, bacain dongeng dulu, hingga sampai bertengkar kecil denganku baru akhirnya dia memejamkan mata dan setelah memastikannya untuk tidur akupun ikut memejamkan mataku
namun sayangnya baru beberapa menit aku terlelap suara azan subuh sudah berkumandang
" kamu kesel ya sama aku " tanya lufita setelah selesai solat subuh tadi
" nggak " jawabku singkat sambil melipat sajadah
" tuh kan kamu kesel aku minta maaf " ujarnya lirih
setelah melipat sajadah aku mendekatinya dan memeluknya ambil aman aja maafin dari pada ntar dia nangis lagi
" maafin fifi bang za "
" udah kamu nggak pelu minta maaf lagian itu juga bukan kemauan kamu "
" makasih ya bang za pengertian banget "
sabar fahriza