
Lufita
》》》》》
apa takdir menyukaiku dalam kepedihan?
apa takdir suka liat aku nangis?
apa takdir bahagia liat aku menderita?
apa kebahagiaan dalam hidupkan ditakdirkan hanya sekedar singgah?
belum cukupkah semua kehilangan yang aku alami hingga aku juga diharuskan kehilangan kekuatanku?
Ya Allah jika memang takdirku harus selalu buruk kenapa bukan aku saja yang kau panggil
kenapa harus putraku, aku ikhlas jika memang harus aku yang menghadapmu dari pada aku masih disini tapi menyiksa orang lain.
sekarang jangankan pergi keluar berdiri saja aku tidak bisa, bagaimana nasib suamiku.
seharusnya aku melayaninya membuatkannya sarapan mempersiapkan keperluan kerjanya tapi sekarang dia yang melayaniku
" fi.. makan dulu ya setelah itu minum obat " ujar wanita paruh baya disampingku sambil mengusap pelan punggung tanganku
aku masih tak bergeming dari tatapan kosongku ke jendela besar disebelah kiriku yang jaraknya dekat namun sekarang aku harus menjangkaunya dengan kursi roda
" nak kamu belum makan dari pagi tadi, kamu harus jaga kesehatan kamu sayang "
jangankan makan berbicara saja aku sudah tak bernafsu yang kuinginkan sekarang pergi dari kepedihan ini aku ingin lari dari kenyataan ini, aku ingin bersama mama, papa juga putraku.
apa yang aku bisa sekarang, ke kamar mandi saja perlu bantuan.
aku tidak suka tatapan kasihan dari mereka yang seakan membuatku benar benar terlihat menyedihkan
" ibu tau kamu sangat terpukul, tapi kamu juga harus bangkit dari keterpurukan ini, kamu harus bangkitkan kembali semangatmu. jangan pernah menyerah sayang, kami semua disini selalu membantumu " lanjutnya memberikan aliran semangat padaku
ceklek
suara pintu yang terbuka pun bagiku seperti sebuah ejekan yang akan hadir disetiap aku menoleh untuk melihat siapa yang masuk keruangan yang menyedihkan ini
" assalmmualaikum "
" waalaikumsalam " hanya ibu yang menjawab salam dari fahriza
ya yang masuk keruangan ini barusan fahriza terdengar suaranya serak entah habis menangis atau lagi flu aku tidak tau.
" masih belum mau makan? " tanya nya pada ibu
keheningan menyapa suasana entahlah ibu menjawab pertanyaan fahriza dengan apa hingga akhirnya terdengar geseran kursi disamping kananku yang menandakan kalau ibu yang duduk barusan pergi meninggalkanku
sebuah kecupan hangat mendarat dipucuk kepalaku membuatku menoleh kearah pelaku hingga akhirnya aku sadar bahwa ibu memilih duduk disofa membiarkan fahriza yang menggantikannya.
tapi tunggu dulu ada apa dengan wajahnya, kenapa ada lebam disudut bibirnya. apa dia berkelahi tapi dengan siapa setahuku dia tidak pernah punya musuh. sebuah sayatan serasa menggores hatiku disaat dia terluka bahkan aku tidak bisa mengobatinya atau hanya mengompresi lebamnya dengan air hangat aku sungguh tidak mampu melakukan itu sendiri sekarang
" eh kok nangis? " tanya nya saat sebulir air mata jatuh dari pelupuk mataku
kuusap pelan sudut bibirnya yang lebam itu.
bukannya meringis dia malah menarik kedua sudut bibirnya menciptakan kehangatan diwajahnya
" nggak sakit kok. ini cuma nggak sengaja jatuh tadi " mengerti akan tatapanku dia menjawab dengan entengnya
aku tau lebam itu bukan akibat jatuh melainkan bekas pukulan
" hiks.. hiks bahkan aku nggak bisa obatin luka diwajah kamu "
" nggak pa pa nanti saya bisa obatin sendiri. udah jangan nangis lagi kalo kamu nangis hati saya pedih liatnya " ujarnya sambil mengusap pipiku menghilangkan jejak air mata yang perlahan masih mengalir disana
" sekarang aku nggak berguna, aku cuma bisa nyusahin kamu hiks hiks aku..... "
" syuuuttt... saya nggak mau denger kalimat nggak jelas seperti itu. " tuturnya membawaku dalam dekapannya
setelah sekian lama akhirnya dia berhasil membujukku untuk makan
dia yang dulu irit dalam berbicara, selalu bersikap dingin sekarang berbeda 180°.
sekarang dia lebih banyak bicara melontarkan beberapa lelucon yang membuatku beberapa kali mengangkat kedua sudut bibirku untuk tersenyum.
seperti sekarang ini lebih banyak berbicara saat menyuapiku sifat kita saat ini seperti tertukar
saat suapan terakhir masuk kelambungku pintu ruangan terbuka menampilkan sosok wanita cantik dengan tatapan lembut dan sedang menggendong seorang balita
" ucu gimana kabarnya? " tanya nya dengan menirukan suara anak kecil
membuat senyumku terlukis melihat mereka berdua eh tunggu bukan berdua tapi bertiga karena baru saja seorang pria dengan postur tegap dan wajah mirip denganku masuk keruangan
" alhamdulillah udah lebih baik " ini bukan aku yang jawab melainkan fahriza seakan aku sangat baik baik saja padahal jiwaku sangat terpuruk
" alhamdulillah kalo gitu. em kakak teh mau pamit, kita mau pulang kebandung soalnya udah hampir dua minggu kita disini " ujar kak rere
" iya, makasih udah ngejaga fifi selama fifi koma kemaren " balasku seraya tersenyum lembut
" nanti kalo ada libur kita bakalan ngunjungin fifi lagi " tukas kak lutfi lalu mencium pucuk kepalaku
sedari kecil memang kak lutfi lah yang sering membujukku jika aku merajuk dia yang sering menemaniku bermain dari pada kak lufian dia juga lebih mengenal siapa saja yang dekat denganku.
hingga dia pernah marah padaku karena aku berpacaran apalagi dengan vino. dia bilang aku masih kecil untuk mengenal yang namanya pacaran apalagi lelaki yang ku pacari adalah lelaki yang suka main perempuan.
karena kekangannya padaku membuat hubungan ku pada kak lutfi sempat renggang, tapi pada akhirnya aku sadar apa yang dikatakannya adalah fakta. aku menyaksikan sendiri dengan mata kepalaku bagaimana vino berselingkuh dibelakangku bahkan sangat.... ah sudahlah
mulai dari itulah aku menjauhi yang namanya pacaran sampai akhirnya menikah tanpa melalui proses pacaran terlebih dahulu
" iya, fifi boleh cium acil? " tanyaku pada kak lutfi. aku sungguh merindukan ponakan ku itu
" kenapa mesti nanya? kayak sama anak orang lain aja " sahut kak rere memberikan acil padaku namun ku tolak aku hanya memilih mencium pipi gembulnya itu
" kenapa? " tanya nya bingung dengan sikapku seakan tidak ingin menyentuh acil.
" fifi nggak kuat kayak dulu, fifi udah cacat nanti acil kenapa napa. fifi cuma pengen cium acil doang " ujar ku sambil berusaha mengeluarkan senyum
terdengar helaan nafas dari pria disampingku ini
" kamu harus kuat fi, kakak yakin suatu saat kamu pasti bisa jalan lagi. never give up " ujar kak rere dengan senyum manisnya
" kuncinya kamu harus yakin sama yang diatas " sambung kak lutfi
•••••••••
ku perhatikan wajah fahriza yang menghadap kearahku dengan posisi tertidur sambil duduk disamping kananku. seharian ini dia pasti lelah karena melayaniku. mulai dari membatuku kekamar mandi, membantuku duduk dikursi roda, menyuapiku makan, membawaku ketaman rumah sakit.
huh kasihan kamu bang punya istri yang nggak bisa jalan kayak aku.
oh iya sore tadi setelah kepulanganya kak lutfi sekeluarga ruanganku kembali dipenuhi oleh rekan rekan dokter dari rumah sakit tempatku bekerja. berbagai ucapan semangat mereka lontarkan untuk menarikku dari keterpurukan.
kak lufian dan tania juga datang ba'da maghrib tadi
membuat kepalaku sedikit berdenyut mendengarkan celotehan tania mengenai apa yang harus aku lakukan, makan yang harus aku konsumsi dan lainya yang nggak ada habisnya itu.
sampai setelah sholat isya juga ada dua orang tamu yang datang memberiku kejutan, kalian tau siapa?
caca sama ibunya
sikap cerewet caca dan kalimat penuh tanya nya membuatku kewalahan menjawabnya
beberapa kali hanifa ibunya caca minta maaf padaku karena baru bisa menjenguk. dia juga baru tahu aku mendapatkan musibah setelah kemaren bertemu fahriza di lobi rumah sakit saat dia membawa caca untuk periksa kesehatan gigi dan mulut. hari itu dia tidak bisa langsung kesini karena dia harus kembali kekantornya.
huh biasanya dirumah sakit aku yang melayani pasien tapi sekarang semuanya kebalik aku yang dilayani sebagai pasien.
cup
" kenapa belum tidur? " tanya fahriza disampingku setelah mencium punggung tanganku. ternyata dia sudah bangun dari tadi terlihat dari raut matanya.
" nggak bisa tidur " adu ku
" kenapa? "
aku menepuk kasur disebelahku yang memiliki ruang untuk ditempati satu orang lagi. mengerti akan maksudku dia naik kesisi ruang yang sedikit kosong itu dengan membantuku membentulkan posisi kakiku.
aku langsung melingkarkan tanganku dipinggangnya dan menenggelamkan wajahku didadanya, disusul dia yang juga menjadikan lengan kirinya sebagai bantalanku dengan diiringi elusan lembut dikepalaku yang tertutup oleh jilbab.
aku rindu suasana ini aku rindu aroma parfumnya aku rindu tatapanya aku rindu semua yang ada padanya.
" bang za "
" hem? "
" apa bang za nggak malu? "
" untuk? "
" karena punya istri yang lumpuh kayak fifi "
terdengar helaan nafas berat dari hidungnya kemudian menarik daguku agar aku menatapnya
" katakan kenapa saya harus malu punya istri lumpuh? "
aku diam tak menjawab pertanyaannya
" dengerin saya kamu harus percaya sama Allah, saya yakin suatu saat kamu pasti bisa berjalan lagi tapi tidak saat ini karena Allah sedang menguji keimanan kita sampai dimana kita mampu dalam melewatinya. "
" saya akan bawa kamu kemanapun untuk menyembuhkanmu dan saya akan lakukan apapun agar kamu kembali berjalan "
" tapi bagaimana jika semua sudah kita lakukan pada akhirnya aku tetap lumpuh? "
CUP
" kunci utama itu kamu harus yakin " ujarnya setelah mengecup keningku
" kamu yakinkan dirimu bahwa kamu pasti bisa sembuh selalu berdoa. "
" tapi jika kamu memang ditakdirkan untuk lumpuh selamanya, saya akan jadi kaki kedua untukmu sampai akhir hayat saya "
penuturannya membuat hatiku bergetar bagaimana mungkin dia akan mendampingiku sampai kami menua sedangkan aku akan terus berada dikursi roda. aku tidak bisa melayaninya seperti dulu layaknya seorang istri
" tapi fifi ini lumpuh bang, fifi nggak bisa melayani abang seperti dulu layaknya seorang istri " sarkasku dengan diiringi deraian air mata yang sedari tadi sudah menganak sungai.
" saya kan sudah bilang bahwa saya yang akan jadi sepasang kaki keduamu. dengan kamu selalu berada disisi saya sudah membuat saya bahagia tanpa kamu harus melayani saya "
" fisik aku udah nggak sempurna kayak dulu bang, aku cacat aku bakalan nyusahin hidup kamu"
cup
" nggak ada yang namanya nyusahin " ucapnya setelah mencium keningku
cup cup
" semua udah jadi kewajiban aku buat ngerawat kamu " lanjutnya setelah mencium kedua mataku
cup
" disaat aku sakit kamu yang selalu ngerawat aku, sekarang sudah saatnya aku juga harus ngerawat kamu " lanjutnya setelah mencium ujung hidungku
cup
" i'm sure you will be ok soon " ucapnya setelah mengecup pipiku
cup
" and i'll always be by your side until the end of my life " lanjutnya setelah mengecup bibirku
" i can only hope and pray " tukasku lalu menenggelamkan kembali wajahku di dada bidangnya
nyaman
damai
tentram
tiga kata yang dapat aku lontarkan jika bersamanya
♡♡♡♡♡♡♡♡
have a nice day
semoga syukak yeee
see you