
sudah seminggu sejak kepergian mama dan papa. kami juga sudah pulang ke kerumah kami minggu kemarin dan kak lufian juga udah pindah ke jakarta, jadi membuatku lebih tenang.
dan pagi ini aku sudah siap dengan pakaian dokterku, dan fahriza sudah berangkat ke kantor lima menit yang lalu, sebenarnya dia menawarkan diri untuk berangkat bersama.
tapi aku menolaknya karena aku lebih suka menggunakan queen. aku lebih nyaman aja mau pulang jam berapa pun nggak perlu nunggu jemputan.
20 menit menggunakan queen akhirnya aku tiba di rumah sakit. kulihat disekeliling parkiran masih belum ramai. setelah memarkirkan motor dan masuk menuju ruangan ku. disana dokter dimas dan dokter nayra sudah datang lebih dulu mereka sedang berbincang bincang. melihat kedatanganku dokter nayra tersenyum.
"morning" sapaku pada mereka
" hehehe pagi juga dokter fifi" balas dokter nayra sambil nyengir kuda. sedangkan dokter dimas pamit keluar tanpa membalas sapaanku. dia meninggalkan ruangan begitu saja tanpa melihat ku.
aku tidak tau apa yang terjadi dengannya, positif thinking aja mungkin dia buru buru ada urusan kali.
saat aku duduk di kursi ku tiba tiba suara ponsel berdering dari dalam tas ku. sontak aku kaget, itu bukan suara ponsel ku ringtone nya beda.
buru buru aku mengambilnya dan benar saja ini bukan ponselku tapi ponsel fahriza. sepertinya tertukar waktu dia ngambilnya di meja kamar. ponsel kami tadi sama sama sedang dicharger.
" hp baru ya dok?" tanya dokter nayra melihat ku memegang ponsel yang baru saja ku ambil dari dalam tas.
"ha, ah bukan dok kayaknya ini ponsel suami saya." jawabku
sontak ia kaget dan menolehku aku juga kaget melihat reaksinya. "jadi dokter fifi udah nikah?" tanya nya tak percaya.
ah aku lupa kalau aku tak pernah membicarakan statusku pada mereka. jadi wajar kalau dia kaget. "iya dok saya sudah menikah tiga bulan yang lalu" ujarku ragu karena aku juga lupa sudah berapa bulan aku menjadi seorang istri.
" kok nggak pernah cerita" tanya nya penasaran.
"ini saya sudah cerita" balasku
sepertinya dia masih ingin mengajukan pertanyaan padaku. tapi keburu aku permisi keluar duluan aku mau nelfon fahriza dulu nyuruh dia ambil ponselnya.
tapi setelah berkali kali ku calling ponselku nggak aktif sepertinya dia masih diruang rapat makanya ponselku belum dia aktifkan.
dia tadi bilang kalau pagi ini ada rapat bersama para klien makanya sampe salah ambil ponsel. bikin repot aja tuh orang. "ya udahlah siang nanti aku ambil sendiri aja ke kantornya" gumamku lalu berjalan kembali masuk ke ruangan.
saat aku kembali keruanganku benar saja dokter nayra langsung menyerangku dengan berbagai pertanyaan. selama aku bekerja disini dia terkenal dengan julukan dokter penasaran. apa apa di kepoin sama dia.
mau tidak mau aku menjawab pertanyaan dokter nayra dengan lesu.
••••••••••
sebenarnya sih sekarang belum siang bahkan bisa disebut masih pagi. tapi karena aku cuma duduk sambil nyelesain beberapa pekerjaan yang bisa ditangani nanti, makanya aku minta izin keluar sama dokter Rika kepala rumah sakit disini.
aku izin untuk mengambil ponselku. aku benar benar tidak tahan pisah dari ponselku. dari tadi aku gelisah memikirkannya. aku bukannya takut ponsel ku dicek sama fahriza masalahnya disana banyak data data berharga yang belom aku pindahin kelaptop ntar kalau dimainin sama dia ilang lagi data datanya.
jarak antara rumah sakit dan kantor fahriza cukup jauh jadi aku harus sabar menelusuri jalanan yang penuh dan sesak ini aku bahkan beberapa kali terjebak kemacetan. haduh rasanya aku mau ngamuk disana.
setelah sekian lama dijalan akhirnya sampai juga di kantor fahriza. huh keringat dimana mana baju ku juga udah bau polusi, buat nyampe kesini doang penuh perjuangan banget.
aku jadi risih diperhatikan kayak gitu, mana mimiknya judes lagi. "maaf ibu ada perlu apa?" tanya nya ketus. "what's your problem" umpat batinku. aku nggak tau apa masalahnya denganku sampe dijudesin kayak gitu. "saya mau ambil ponsel saya dengan fahriza"
" sudah buat janji?"
"hemh, mbak maaf ya saya ada keperluan penting dengan fahriza jadi saya mohon untuk tau ruangan dia di lantai berapa" ujarku halus aku harus mengatur emosiku huh susah banget sih ketemu sama fahriza, dia pikir aku nggak ada kerjaan apa, nggak liat aku pakai pakaian dokter gini
" maaf ya buk, pak fahriza lagi ada diruang meeting jadi untuk sekarang masih belum bisa diganggu" tutur salah satu wanita yang baru saja datang. dengan ramah dia tersenyum pada ku.
"duh, mbak saya harus ambil ponsel saya sama dia, saya juga buru buru" balasku
"sekali lagi maaf buk, kalau ibuk belum buat janji kami tidak bisa memberitahu bapak sekarang." ujarnya lembut
"ya udah telpon sekertarisnya sekarang, trus bilang istri atasannya mau ambil ponsel dia" balasku ketus aku benar benar tidak tahan lagi disini, pekerjaanku juga banyak. huh tinggal ambil trus ditukar banyak rentetan banget sih pake disuruh buat janji segala. nyebelin.
"maksud ibu, ibu istrinya pak fahriza?" tanya kaget
ternyata mereka berdua kaget mendengar penuturanku tadi, secara fahriza tak pernah meperkenalkan ku ke rekan kerja ataupun karyawannya kayak difilm film gitu.jangankan buat kenal rekan kerja yang lain sekertarisnya saja aku tidak tau.
" ya udah buk, mari saya antar"tawar wanita yang judes padaku tadi hengh cari muka aja nih orang. "nggak usah, bilang aja ruangan rapatnya di lantai berapa" balasku halus. untung aku manusia baik jadi bisa meredam emosiku dengan cepat.
" lantai 20 buk, ibu naik saja nanti saya yang akan telfonkan dara sekertaris bapak" ucapnya salting. gimana nggak salting orang dari tadi udah judesin istri bos. belom pernah liat singa ngamuk kali dia.
tapi tunggu dia bilang nama sekertarisnya fahriza itu dara berarti perempuan dong kok aku jadi nggak suka gitu ya.
" sebentar, apa sekertaris fahriza perempuan?" selidikku memastikan dan diwajah kedua wanita itu terlihat bingung
"i..iya buk" jawabnya ragu ragu.
"oke, saya permisi" tukasku lalu pergi masuk ke dalam lift.
"hati hati buk" balas wanita yang judes itu saat aku ingin memasuki lift. " dasar suka cari muka" gumamku.
lantai 20 lumayan juga nih nunggu. ah fahriza, kenapa kamu pake sekertaris perempuan sih, aku kan nggak suka. eh tapi tunggu kenapa aku nggak suka terserah dia dong aku kan nggak cinta sama dia.
arrghh... kenapa aku jadi jealous gini sih, dan kenapa aku nggak suruh aja karyawannya tadi malah milih ngerepotin diri sendiri. "apa bener aku mulai mencintai fahriza" ujar batinku.
"tapi bagaimana kalau dia nggak cinta sama aku ntar aku malah mati rasa lagi,"sambung batinku lagi. ah bodo pokoknya ntar kalo ponselku udah dapat, dianya nggak usah ditegor diemin aja.
sepanjang dalam lift aku terus saja memikirkan tentang fahriza sampai sampai aku nggak sadar lift berhenti dilantai 7. ku pikir akan ada yang masuk tapi setelah bermenit menit aku nunggu pintunya nggak juga kebuka. malahan lampunya hidup mati hidup mati nggak jelas.
aku mulai panik, aku takut liftnya macet trus tiba tiba jatuh kebawah dengan cepat aku terus menekan tombol entah tombol apa saja yang ku pencet. sampai suara ku ingin habis karena terus teriak teriak meminta bantuan.
aku sangat kelelahan tenggorokkanku terasa perih suara ku juga mulai parau. sekarang aku benar benar putus asa ponsel fahriza pun tak memiliki sinyal disini air mataku mulai turun makin lama makin deras " ya Allah jika hari ini aku harus pergi, tolong jaga kan fahriza, selalu berikan ia kesehatan" tuturku sambil menangis.
" ya Allah aku mulai mencintainya, jika nanti dia menikah lagi berikanlah dia istri yang lebih baik dariku." tambahku dengan lantang, aku tidak takut ada yang mendengarnya karena aku yakin mereka pasti tidak tau kalau liftnya macet dan didalam ada aku.
readers? menurut kalian lufita selamat nggak ya, trus fahriza tau nggak ya kalau lufita dalam bahaya🤔terus tunggu kelanjutanya ya💕💕see you